My side-job as a hoax-slayer, bahahaha …

I just can’t help myself … setiap kali muncul pesan siaran alias broadcast message di grup WA yang sifatnya meresahkan kewarasan dan logika saya, saya selalu ingin berteriak,

Cik atuh lah, periksa dulu sebelum menyebarkan berita. Don’t be such a clicking monkey!”

Clicking monkey(s) adalah istilah yang saya temukan dari sebuah tulisan, definisinya kurang lebih adalah orang yang dengan mudah menekan tombol share pada sebuah berita yang ditemukan di internet walaupun belum jelas kebenarannya alias orang yang tidak ada upaya untuk mencari tahu kebenaran berita yang akan disebarkannya. Memang, mirip seperti monyet yang gak punya pikiran, asal pijit aja tanpa dipikir. Mungkin yang dipikirkan hanya “Wow, saya baru tahu nih! Semua orang juga perlu harus tahu!” tanpa bertanya “Benarkah berita ini?”

Berita bohong (or you used to call them HOAX) yang paling saya ingat sebagai berita bohong generasi pertama yang menggelitik hati nurani saya adalah berita bohong mengenai Mars yang akan tampak seukuran Bulan di langit, berita ini mulai menyebar sejak tahun 2003 (CMIIW) dan berulang setiap tahun pada bulan Agustus. Tanpa saya sadari, berita bohong itu sudah tidak ada lagi. Ya kaleee masih ada orang yang percaya.

Orang memang lebih suka berita-berita yang bombastis, menghebohkan, life-threatening, lalalala, you name it. Zaman sekarang, berita bohong semakin menggila saja. Dari soal politik (ah, gak aneh ya itu mah), kesehatan, agama, dan seterusnya. Apalagi siaran-siaran tersebut makin mudah menyebar karena akses internet semakin mudah. Dulu, mau akses internet harus nyalain komputer atau jalan ke warnet dulu, udah gitu mahal pula biayanya. Sekarang, jangan ditanya deh, berapa orang yang setiap harinya berselancar di dunia maya atau hanya sekedar memeriksa pesan di WA? Pagi, siang, sore, malam, mau tidur, bangun tidur, pas lagi tidur?

Tadi pagi saya membaca pesan mengenai kanker payudara dan kanker rahim dengan embel-embel kalimat “Sharing Untuk Para Wanita. (bila pria yang terima, tolong diteruskan ke wanita di sekitar anda).” di grup keluarga. Itu bukan pertama kalinya sih saya membaca pesan yang persis sama seperti itu, tapi hati ini (untuk yang kesekian kalinya) tergerak untuk mencari klarifikasinya. Dan benar saja, sebagian isi pesan tersebut adalah berita bohong. Langsung saja saya kirimkan klarifikasinya ke grup tersebut dengan harapan anggota grup yang lain minimal tidak ikut meneruskan pesan tersebut di grup lain.

Klarifikasi hasil temuan Google mengenai pesan berantai terkait kanker rahim.

Saking seringnya saya menyambi pekerjaan sebagai hoax-slayer di grup-grup WA, sampai ada salah seorang anggota grup yang meminta klarifikasi mengenai kebenaran sebuah berita (yang dia peroleh dari grup lain dan sebenarnya bisa dia cari klarifikasi sendiri melalui gawainya) kepada saya. “Bener gak nih beritanya, Neng Santi?” Err … pengennya sih saya jawab “Googling aja, Ceu” tapi tampaknya tidak akan berpengaruh. Seperti biasa saya cari di Google dan klarifikasinya tidak akan terlalu jauh di bawah hasil pencarian, dan saya siarkan lagi hasil temuan saya Google itu ke grup. Di lain waktu ada juga yang menanyakan info lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran BPJS Kesehatan (as if I was working for BPJS Kesehatan. Duh!) setelah saya mengklarifikasikan berita bohong mengenai kartu BPJS lama (ASKES) yang sudah tidak berlaku lagi.

Apa susahnya sih ya nyari di Google? Mungkin mereka taunya ponsel pintar itu hanya bisa untuk WA dan medsos lainnya, tidak ada perambah. Kalau alasannya adalah sibuk, errr … I’m sorry, I can’t accept that kind of excuse. Emang sih, lebih gampang pijit tombol share daripada tombol copy lalu paste di kolom search-nya Google (or simply in your goddamn browser’s address bar).

Saya teringat sebuah kisah (yang sebenarnya saya juga tidak tahu kebenarannya, hihi …) mengenai seseorang yang menebarkan fitnah mengenai saudaranya lalu menyesal tetapi tidak dapat menarik kembali ucapannya karena seperti kutipan di awal kisah tersebut: “Fitnah itu ibarat kapas yang ditiup angin, kita tidak akan bisa mengumpulkannya lagi jika sudah tersebar jauh entah kemana.”

Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan kisah tersebut … Bener juga sih! Berita bohong telah menyebar, the least thing we can do is stop spreading them. #tumpashoax

 

*apalah ghuwe ini, nulis dengan bahasa gado-gado tanpa memperhatikan struktur kalimat yang baik dan benar*

Advertisements

Pengen ngeblog …

… tapi bingung.

Kemarin sekilas mendengar berita di TV tentang wacana BPJS Kesehatan yang akan menghapuskan tanggungan terhadap 8 penyakit. Tadi pagi baru dapat kabar dari suami bahwa 8 penyakit yang dimaksud di antaranya adalah kanker, hemofili, talasemia, dan leukimia. Setelah saya cari-cari lagi, ternyata 4 penyakit lainnya adalah gagal ginjal, sirosis hati, stroke, dan penyakit jantung. Katanya kedelapan penyakit tersebut yang paling banyak menghabiskan biaya. Ya iya sih, yang namanya kanker kan nggak bakal sembuh dengan satu kali berobat. Yang namanya gagal ginjal harus rutin cuci darah. Penyakit parah semua itu.

Dulu saya pernah sekilas mendengar ceramah di radio yang begitu berapi-api mengatakan bahwa BPJS itu menganut sistem kapitalis,

“Orang kaya, turun dari mobil, berobat ke dokter pakai BPJS. Apa tidak malu?”

Kira-kira begitu katanya.

Awalnya saya tidak terlalu peduli soal ASKES (yang sekarang sudah berubah menjadi BPJS Kesehatan), terutama sebelum menikah. Toh saya paling malas untuk berkunjung ke dokter apalagi ke rumah sakit yang (tentu saja) berisi begitu banyak manusia (FYI, saya cenderung tidak menyukai keramaian). Malas antre, lalalalala …

Kalau saya sakit, saya lebih memilih mengunjungi klinik umum tanpa memanfaatkan fasilitas ASKES. Ke dokter umum kan tidak terlalu mahal dan Alhamdulillah saya masih mampu untuk berobat dengan biaya sendiri.

Setelah menikah dan hamil, mau tidak mau saya harus menemui dokter dalam rangka memeriksakan kehamilan. Duh, males banget dah. Daftarnya ngantre, ke dokternya ngantre, nebus resep obat ngantre. Saat hamil dan melahirkan (tahun 2012) adalah pertama kalinya saya memanfaatkan fasilitas ASKES. Lumayan terbantu walaupun tidak 100% ditanggung ASKES.

Saya kira saya akan seumur hidup membayar iuran ASKES (sekarang BPJS Kesehatan) secara cuma-cuma tanpa memanfaatkannya lagi (sok sehat atau sok kaya?). Tapi ternyata pada tahun 2014 anak saya terkena typhus dan Hbnya turun hingga 5,4 sehingga harus menginap di RS dan ditransfusi darah. Lima hari menginap di RS, tak perlu membayar sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Enak juga ya ternyata. Tolong ampuni saya karena tidak punya malu menggunakan fasilitas tersebut. Saya turun dari mobil tapi ada tulisannya “Margahayu-Ledeng”, dibilang orang miskin juga bukan.

Kalau dipikir-pikir, sejak diwajibkan untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan, orang-orang jadi tidak segan untuk menemui dokter ketika sakit. Entah itu “hanya” flu, gatal-gatal alergi, hingga penyakit paling berat. Dan makin hari, pelayanannya pun makin baik. Tidak terlalu banyak antre dan tidak terlalu banyak dokumen yang harus dibawa ketika akan berobat menggunakan fasilitas BPJS (berdasarkan pengalaman pribadi saya).

Wacana cost-sharing untuk 8 penyakit cukup menggemparkan dunia persilatan. Ya iyalah, yang harus rutin cuci darah, kemoterapi, transfusi darah, gimana coba? Kalau orang kaya sih tak masalah, orang tidak mampu pun kabarnya bakal ditanggung 100%. Nah, kalau orang yang tidak masuk ke kedua kelompok itu, gimana? Apakah jumlah orang miskin akan bertambah (atau malah berkurang karena tidak sanggup membiayai pengobatan sehingga meninggal dunia) jika wacana ini betul-betul direalisasikan?

Ah, lieur. Kalau apatis (berpikir bahwa semua orang pasti meninggal dunia sehingga pasrah menerima nasib. Eh, ini apatis atau putus asa. Doh, tambah lieur!), salah lagi.

Udah ah, yang penting jaga kesehatan aja. Banyak-banyak bersyukur dan berdoa.

*udah ngetik panjang-panjang malah jadi tambah bingung, ini tulisan intinya apa yak?*

Catatan hati seorang penumpang (yang pernah) setia angkot

Wahai para supir angkot, saya tahu tidak semua supir angkot kelakuannya sama. Tidak semua supir angkot sukanya:

  • Ngetem lama-lama, sehingga membuat penumpangnya terlambat tiba di tempat tujuan
  • Ngerokok di angkot, sehingga memaksa penumpangnya menjadi perokok pasif dan bahkan berpenyakit paru-paru atau kanker
  • Pasang tarif suka-suka, sehingga penumpang membayar dengan tidak ikhlas dan menggerutu bahkan mendoakan yang tidak baik
  • Ngomong kasar, sehingga penumpang ikut tersulut emosinya
  • Menyetir ugal-ugalan, sehingga penumpang dan pengguna jalan lainnya merasa jengkel

Tapi apa daya, saya kok seringnya ketemu sama supir yang seperti itu.

Saya paham sekali penyebab utama angkot sering ngetem lama-lama, pasang tarif suka-suka, mengebut, adalah kejar setoran. Apa lagi coba kalau bukan karena itu? Tapi marilah kita runut ke belakang. Kenapa angkot ngetem? Karena ingin angkotnya penuh dengan penumpang. Kalau penumpang banyak, setoran pun banyak. Tapi kalau dipikir lagi, penumpang tuh paling sebal sama kegiatan yang namanya ngetem. Kalau penumpangnya bebal macam saya, disabar-sabarin aja, ditungguin itu angkot mau ngetem berapa lamapun. Karena apa? Karena perjalananku panjang banget, Mang! Mau jalan kaki ya gempor, mau naik taksi ya mahal. Mang Supir sendiri yang suka bilang, “Kalau pengen cepet, naik taksi sana!” lama-lama penumpang beralih ke moda transportasi yang lain. Ada yang mulai mengkredit motor, ada yang nebeng teman, ada yang tetap naik angkot tapi stress setiap hari. “Gilaaaaa! Mau jam berapa juga dari rumah, kalo naik angkot itu nyampenya tetep aja telaaat!” Yang saya gak habis pikir juga, kadang ada supir yang suka emosi waktu penumpangnya membayar ongkos kurang dari tarif suka-suka si supir, sampai membuang/melempar uang si penumpang itu ke jalan. Udah mah setoran kurang, itu duit dibuang-buang. Logikanya di mana?

Nah, sekarang, sudah ada yang namanya ojek online, taksi online, apa-apa online (eh, kurang nyambung). Para penumpang angkot sekarang kadang lebih memilih untuk menggunakan jasa ojek/taksi online karena waktu tempuh yang lebih singkat, lebih nyaman, dan harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan pengorbanan waktu dan mental yang harus dialami jika menggunakan angkot. Saya bilang ‘kadang’ karena tak selamanya taksi dan ojek online itu memenuhi kebutuhan penumpang, misalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh ya boleh lah pakai angkot, 3000 rupiah saja. Daripada pesan ojek/taksi online, pesannya berapa menit, nunggunya berapa menit, belum lagi kalau pengemudinya nggak hapal jalan ke tempat penjemputan, bayarnyapun jarang 3000 rupiah, kecuali kalau ada promo yang bisa sampai gratis. Tapi ya mosok jarak dekat aja harus nunggu angkotnya ngetem?

Satu lagi, kalau mau tiap hari naik ojek/taksi online, lama-lama bangkrut juga. Promo sudah habis terpakai, ongkos ojek/taksi online jelas lebih mahal. Untuk saya pribadi yang setiap hari pasti bolak-balik rumah-kantor, inginnya sih naik ojek online, apa daya suami tak mengizinkan, inginnya naik taksi online, tiap hari mah bisa bangkrut. FYI, saya dari rumah ke kantor naik angkot hanya menghabiskan uang 8500-10000 rupiah, pulangnya 10000-11000 rupiah. Rata-rata 20000 rupiah per hari, tergantung mood supir (IYKWIM). Kalau naik ojek online, saya tidak tahu, kata teman-teman yang rumahnya searah sih bisa 30-40 ribu rupiah per hari, ini tergantung banyaknya permintaan (makin banyak yang pesan, makin mahal tarifnya). Taksi online? Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata 80000 per hari. Kalau tiap hari bisa barengan berempat sih ya mending naik taksi online aja, tapi yaaaa barengan siapa atuh?

Cuma satu harapan saya kepada para supir angkot: Hilangkan kebiasaan ngetem. Terserah deh Mang Supir mau ngerokok kek, ngomong kasar kek, kebut-kebutan kek. Kalau angkotnya nggak pake ngetem kan saya gak usah lama-lama mengalami penyiksaan itu.

Tapi kan, tapi kan, gimana bisa kejar setoran kalau nggak ngetem?

Gini loh, Mang Supir. Dulu aja penumpang pada berpaling dari angkot itu kenapa, karena Mang Supir suka pada ngetem lama-lama kan? Dan prosesnya itu tidak berjalan cepat. Mereka satu per satu meninggalkan jasa angkot, satu, satu, pelan, pelan, lama-lama ngetemnya tambah lama, penumpang makin kabur. Nah, coba deh semua supir angkot kompakan nggak pada ngetem. Berhentilah seperlunya, in syaa Allah penumpang pada balik naik angkot lagi. Tapi harus diingat juga, prosesnya nggak bakalan sekejap “tring!” begitu. Satu, satu, pelan, pelan, lama-lama angkotnya penuh terus deh tuh. Yang pada punya motor/mobil juga naik angkot karena naik motor/mobil bolak-balik jarak jauh tuh capek loh. Mending naik angkot, bisa liat-liat pemandangan, gak takut telat, nyaman, jalanan tidak terlalu penuh, lalalalala… Itu hanya harapan saya loh, Mang.

Setiap saya mengalami pengeteman semena-mena dari Mang Supir, saya selalu ngebatin “Pantes aja orang-orang pada naik moda transportasi online. Mikir atuh, Mang, jangan cuma bisanya demo-demo aja!” Terus terang, saya masih ingin setia sama angkot. Tapi kalau naik angkot selalu bikin saya stress, mungkin sudah saatnya saya nyari tebengan abadi belajar bawa motor sendiri.

Pendaftaran ulang nomor prabayar

Whiiiwww! Mungkin kemarin ada yang sempat panik dengan broadcast mengenai pendaftaran ulang nomor ponsel yang katanya paling lambat tanggal 31 Oktober 2017. “Ayo buruan daftar kalau nggak mau nomor kamu diblokir!” Makanya sekali-sekali nonton TV lah, jangan cuma mantengin Whatsapp aja. *suombong*

Di TV (dan di media daring) sudah dijelaskan bahwa pendaftaran ulang nomor ponsel itu dilakukan MULAI 31 Oktober 2017 hingga 28 Februari 2018. Jadi, nggak usah panik lalu mem-broadcast ulang pesan broadcast itu di semua grup.

Hari ini, 31 Oktober 2017, mumpung masih inget, saya coba deh pendaftaran ulang nomor ponsel dengan mengirim SMS ke 4444 menggunakan format yang dijelaskan di pesan-pesan broadcast itu. Katanya menggunakan format SMS ULANG#NIK#NoKK. Ok, saya coba dari nomor Tri. Berhasil, langsung ada balasan. Selanjutnya saya coba dari nomor Telkomsel. Satu menit, dua menit, tidak ada balasan. Kirim ulang, kirim ulang, tidak ada balasan juga. Lalu saya perhatikan lagi pesan-pesan broadcast itu dan menemukan bahwa pendaftaran dapat dilakukan melalui situs resmi Telkomsel. Saya coba, loading pada saat meminta password, lalu ada SMS berisi password. Saya masukkan password lalu klik Kirim. Loading, loading, loading … Jreng! “Nomor Anda teridentifikasi sebagai non-Telkomsel”

Meanwhile, SMS berdatangan dari 4444 dengan isi yang sama “Maaf. Saat ini permintaan Anda tidak dapat diproses. Silakan hubungi call centre 188 untuk informasi lebih lanjut.”

Saya ulangi proses hingga berjam-jam, saya diombang-ambing dalam ketidakpastian. Dua kali dibilang nomor non-Telkomsel, entah berapa kali saya refresh formulir pendaftaran dan nunggu kiriman password, saya menyerah. Saya coba lagi SMS ke 4444 dengan berbagai format:

  • ULANG#NIK#NoKK
  • ULANG<spasi>NIK#NoKK
  • ULANG<spasi>NIK#NoKK# (format ini yang tercantum pada situs resmi Telkomsel. Saya sudah coba beberapa kali sambil mengulang proses pendaftaran di situsnya dan segera dibalas dengan “Maaf. Saat ini permintaan Anda tidak dapat diproses. Silakan hubungi call centre 188 untuk informasi lebih lanjut.”)

  • ULANG#NIK#NoKK#
  • ULANG_NIK#NoKK# (saya curiga format ini yang benar, tapi entahlah)
  • ULANG_NIK#NoKK

Dan akhirnya,

Selamat, proses registrasi ulang kartu prabayar Anda telah berhasil.

Alhamdulillaah, saya terharu. Akhirnya usaha saya tidak sia-sia *lebay dramatis*

Dan diikuti oleh berondongan SMS “Maaf. Saat ini permintaan Anda tidak dapat diproses. Silakan hubungi call centre 188 untuk informasi lebih lanjut.”

Jadi, kesimpulannya entah format mana yang berhasil untuk nomor Telkomsel, hahaha …

Sedikit pengetahuan dari kunjungan ke dokter

Syahdan, sekitar pertengahan September 2017 saya mengalami batuk yang lumayan parah. Kena angin dikit langsung batuk-batuk tanpa henti, sampai sakit kepala. Kalau dihitung-hitung, gejala seperti itu berlangsung selama dua pekan. Konon katanya virus flu dengan gejala batuk dan/atau pilek memang hanya bertahan dua pekan saja. Kalau gejalanya tidak hilang dalam dua pekan (katanya) berarti ada yang salah. Nah loh, mau menyalahkan siapa?

Setelah dua pekan, batuk-batuk sudah tidak muncul, tapiiii kenapa di tenggorokan seperti ada dahak yang sulit dikeluarkan? Selalu ingin berdehem … Karena takut ada sesuatu yang salah di dalam tubuh saya, saya putuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Kebetulan saat itu anak saya pun sedang batuk.

Kata dokter, gejala dahak yang selalu terasa di tenggorokan itu ada kaitannya dengan lambung saya. Katanya, ketika kita menderita penyakit maag, yaitu ketika lambung memproduksi asam berlebih, efeknya adalah pengeluaran gas atau asam lambung akan naik ke tenggorokan (apa kerongkongan? Itulah pokoknya) sehingga menimbulkan radang. Dahak adalah mekanisme tubuh dalam mengatasi radang tersebut. Jadi, dokter meresepkan obat lambung dan vitamin pencernaan, bukan obat batuk.

Aeh, saya kira saya sudah terlepas dari penyakit lambung, ternyata susah ya.

*update:

Tambahan tentang dahak tadi. Katanya dahak ini lebih terasa ketika posisi tubuh sedang berbaring. Pantas saja tiap bangun tidur rasanya tenggorokan penuh dahak. Udah, gitu aja tambahannya, hehe …

Waspadai terorisme di sekitar Anda

Pada zaman dahulu kala, saya rajin banget update spam-spam yang mampir ke inbox surel atau ponsel, lalu saya tampilkan di Multiply yang sudah punah itu. Sekarang, spamnya semakin menggila. Bukan hanya SMS, tapi juga sudah melalui panggilan telepon. Sungguh sangat mengganggu kesehatan mental saya. Berikut ini saya tampilkan beberapa nomor terduga teroris berkedok marketing.

Nomor Keterangan
02121881500 Asuransi Cygna
02128098600 Asuransi Cygna
02129274170 BNI KTA
02129274198 BNI visa, pencairan dana tunai
02130412700 Asuransi Cygna/BNI Life
02130413200 Asuransi Cygna
02130413300 Asuransi Cygna
02130413500 Asuransi Cygna
02130413600 Asuransi Cygna
02130413700 Asuransi Cygna
02130414400 Asuransi Cygna
02130500900 Indovision
02140101057 Ngakunya BNI
02140101058 Firmanjaya, BNI Syariah Pusat Jakarta
02140101059 Ngakunya BNI
02150111233 Aleya, asuransi maksa, ngakunya kerja sama dengan BNI
02150200245 Indovision
02150200986 Indovision
02180635900 Indovision
02180671718 Kemungkinan Indovision jika melihat kemiripan nomornya
02180671727 Indovision
02180681045 Ngakunya BNI
02180681170 Asuransi Satellite, konfirmasi e-mail
02516900505 Redberry
081585625773 Isyana, Redberry Contact Center Indonesia, survei
081585625823 Redberry
081585627817 Redberry
+622150502083 Paket liburan, ada brainwashnya
628118755900 Tidak ada suara
628118756900 Tidak ada suara
628121501498 Tidak ada suara
628122140766 PT. Best Profit Jl. Asia Afrika (minta ketemuan)
+6281222597436 Bank DBS, KTA
6281298702639 SMS, hubungi 081807806088
6282164028204 Red dua belas, tidak jelas
6282220171708 Indra, Visa Mastercard, promo wisata
+6282310619099 SMS, Yudi TopTV
+6282310911563 SMS, hubungi Lusi 081286011120, BBM D5B04749

Keterangan dengan huruf berwarna merah, saya peroleh dari id.tellows.net (situs ini sangat membantu dalam melacak nomor-nomor tak dikenal yang mampir ke ponsel saya). SMS biasanya berisi penawaran tutup kartu kredit, KTA (Kredit Tanpa Agunan), paket langganan TV, obat kuat, macam-macam lah.

Anehnya, nomor-nomor ini muncul dengan kode angka depan yang tidak seragam. Kadang +62, kadang 62 saja, kadang langsung 021 atau 08. Pernah juga loh ada SMS yang ujug-ujug bilang kangen lalu menyuruh menghubungi nomor dengan awalan 0809. Katanya “No sex, no SARA”. Yeah, apapun!

Hal yang membuat saya sangat kesal adalah bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan aksi terorisme semacam ini. Mereka terus-menerus melancarkan aksinya. Dilaporkan ke pihak Telkomsel/Tri sebagai penyedia layanan seluler yang saya gunakan? Justru mereka sendiri suka meneror pelanggannya dengan mengirimkan SMS-SMS iklan nan tidak penting. Belum lagi SMS iklan dari Dunkin Donut lah dengan beli 6 gratis 6 tapi dihitungnya harga satuan (bukan harga setengah lusin), CFC lah, Sapo lah, PHD lah, Starbucks lah, Timezone lah, Lotteria, KFC, dan baaaanyak lagi. Sangat-sangat menggangu.

Nonton pertandingan sepakbola = nonton sinetron

Bukan, bukan karena adegan dalam pertandingan sepakbola itu penuh dengan drama, melainkan karena nonton pertandingan sepakbola dan nonton sinetron itu sama-sama ngegemesin.

Saya sih bukan penggemar sepakbola apalagi sinetron, saya cuma suka memperhatikan perilaku para penonton kedua jenis tontonan tersebut. Perhatikan saja, penonton pasti emosi. Ngata-ngatain orang yang ada di situ, “Bego!” lah, “Masak gitu sih?” lah, “Aaaaargh!” lah, ngerasa yang paling ngerti cara main bola ATAU cara berakting atau menulis skenario.

Sekian.

(Terinspirasi oleh suamiku yang senantiasa emosional ketika menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi. Udah lah, kalau kesel-kesel mah gak usah ditonton, hihihi …)