Just a random thought


Ada beberapa hal yang membuat saya keheranan ketika baru memasuki dunia kerja… dan masih membuat saya terheran-heran sampai sekarang, hihi…

Salah satunya adalah upacara bendera tanggal 17 setiap bulannya. Mungkin karena kegiatan itu terakhir kali saya ikuti pada saat masih sekolah. Masih mending daripada jaman sekolah sih yang harus upacara bendera tiap hari Senin. Yang aneh tuh karena benderanya sudah berkibar sejak… entah sejak kapan karena saya belum pernah melihat tiang itu tanpa bendera, siang-malam. Sebagai mantan paskibra yang tidak pernah berhasil menambahkan “ka” di belakangnya, awalnya agak gemas melihatnya. Kenapa begitu? Selama masa latihan, saya selalu didoktrin bahwa bendera merah-putih itu tidak boleh kehujanan dan harus diturunkan sebelum matahari terbenam. Ketika bendera merah-putih sedang dinaikkan/diturunkan, harus berhenti beraktivitas dan menghormat ke bendera, di manapun sedang berada. Dan sebagainya dan seterusnya. It may sound ridiculous, but that’s the way it is.

Pada saat upacara bendera di kantor, karena benderanya sudah berada di ujung tiang, acara “pengibaran bendera” dilewat dan langsung ke acara “penghormatan bendera diiringi lagu Indonesia Raya”. Jadi, peserta upacara menghormat ke bendera sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Saya ga habis pikir, kenapa ga pake kaset aja sih lagunya? Padahal acara mengheningkan cipta diiringi lagu dari kaset. Hari gini masih pake kaset? :p Not to mention, lagu Bagimu Negeri yang menjadi lagu wajib setiap tanggal 17 itu… jadi semacam doktrin, ngeri banget.

Rasanya udah pernah ngebahas ini di blog lama saya, tapi berhubung keheranan-keheranan saya belum terjawab jadinya pengen nulis lagi, hehe… Mohon maap kepada pembaca setia saya sejak pertama kali saya punya blog :p

Kalo gitu mari kita ngebahas keheranan saya yang lain di kantor. Kita? Gue aja kaleee…

Pertama masuk kerja saya mulai diherankan dengan sistem pengupahan di kantor. Bukan hal yang merugikan sih, justru membuat saya harus banyak bersyukur. Jadi, selain menerima gaji per bulannya, kami juga menerima honor dari program penelitian yang dianggarkan tiap tahun. Program penelitian itu dilakukan selama 6 jam kerja sedangkan aturan jam kerja normal adalah 7.5 jam di luar jam istirahat, membuat saya berpikir…

Kalo sebagian besar jam kerja diisi dengan mengerjakan program penelitian sehingga memperoleh honor, lalu gaji itu sebagai bayaran untuk apa? Jadi, kalo dateng doang ke kantor tanpa ngapa-ngapain, masih tetep dapet gaji?

Enak banget yak? Taro lah, gaji itu sebagai upah karena datang dan pulang sesuai dengan aturan jam kerja normal [07:30-16:00]. Logikanya, kalo dateng telat lumrah dong gajinya dipotong. But no, gaji tuh ga ada potong-potongan kecuali pajak. Lagipula selama yang 6 jam itu terpenuhi, gaji dan honor tetap dibayarkan utuh. Enak banget kaaaaaan?

Saya pernah mendengar bahwa teman saya yang bekerja di instansi lain baru memperoleh honor jika dikerjakan di luar jam kerja normal, cuma durasinya ga nyampe 6 jam itu kali. Selama jam kerja normal itu ngapain? Ya tugas-tugas rutin dia kali, entah.

Beberapa tahun ke belakang, peraturan mengenai jumlah jam yang harus dipenuhi untuk mendapatkan honor pun sedikit berubah. Karena aturannya honor baru dibayarkan jika kegiatan dikerjakan di luar jam kerja, maka kebijakan di kantor adalah mengharuskan peneliti menambah 30 menit dari jam kerja normal setiap harinya, padahal honor yang dibayarkan setiap hari adalah untuk 3 jam. Masih enak kan?

Di awal penerapan aturan ini, sudah mulai ada yang protes, mungkin karena yang bersangkutan hanya bisa memenuhi 6 jam seperti aturan lama. Ga sanggup harus di kantor selama 9 jam total termasuk istirahat. Bahkan saya sempat mendengar ada yang memutuskan untuk tidak ikut serta dalam program penelitian dan merelakan dirinya tidak mendapatkan honor.

Saya pribadi agak kurang peduli dengan peraturan tersebut. Terserah deh honornya mau dipotong dengan perhitungan jlimet seperti apapun. Beneran deh, itung-itungannya rumit banget! Pernah satu kali honor saya dipotong sekitar 3000 rupiah, cuma cengar-cengir geli aja ngebayangin orang keuangan yang pusing-pusing ngitungin honor tiap orang harus dipotong berapa rupiah. Honor yang dipotong itu terus dikemanain? Teorinya sih dikembalikan ke negara, praktiknya…semoga ga pusing deh tuh. Soal memenuhi jam kerja sih saya lumayan bisa, soalnya aturannya kalo dateng telat bisa diganti dengan pulang telat juga, pokoknya total jam hadir harus 9 jam dikalikan jumlah hari kerja pada bulan yang bersangkutan. Tapi belakangan udah cuek banget.

Kecuekan saya tidak dapat berlangsung lama karena mulai tahun ini diberlakukan PP No.53 Tahun 2010 [agak telat sih sebenarnya] tentang disiplin PNS yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa keterlambatan atau kepulangan yang cepat akan diakumulasikan dalam setahun dan dianggap sebagai ketidakhadiran. Ada macem-macem lah hukumannya berdasarkan jumlah ketidakhadiran dengan hukuman terberat adalah diberhentikan dengan tidak hormat jika dalam satu tahun anggaran tidak hadir sebanyak 46 hari, ini termasuk akumulasi dari datang telat dan pulang cepat. Oya, termasuk sakit juga, katanya kalo mau izin juga mending ngambil cuti sekalian karena tidak masuk kerja selain cuti dengan alasan apapun akan diakumulasikan sebagai ketidakhadiran [kesimpulan pribadi saya setelah menghadiri sosialisasi PP No. 53 tahun 2010 itu]. Sisi curangnya adalah, kalo dateng telat ga bisa diganti dengan pulang telat. Begitu pula sebaliknya, kalo dateng cepat ga bisa pulang cepat juga walaupun durasinya sudah memenuhi. Katanya datang cepat/pulang cepat ini hanya dapat dihitung sebagai kelebihan jam kerja untuk mendapatkan honor [yang kebijakannya adalah 30 menit setiap hari dari jam kerja normal, semoga tidak memusingkan :p]

Sedap banget deh, akhirnya jam kerja 07:30-16:00 itu bener-bener ditegakkan. Saya masih bisa sedikit cuek karena susah banget nyampe di kantor tepat pukul 07:30 WIB, suka kelewat beberapa menit akibat lalu lintas yang tak terduga. “Lalu lintas” angkot gitu deeeh…kadang ngebut, seringnya ngetem dan keong sepanjang trayek :p

Di kantor lumayan banyak karyawan yang menjerit, terutama di kalangan ibu-ibu muda yang masih punya anak bayi. Ada yang minta kebijakan dari para pejabat struktural, ada yang ngancam mau keluar, macem-macem lah…

Saya teringat cerita salah seorang senior yang adalah seorang ibu dari dua orang anak. Katanya ketika beliau masih menyusui, beliau lumayan sering meninggalkan kantor pada jam kerja sampai nilai DP3 [semacam rapotnya PNS] beliau turun. Tapi sekarang karir beliau baik-baik saja, bahkan cemerlang. Kemudian ada juga karyawati senior lain yang berbagi cerita ketika beliau membatalkan tugas belajar di luar negeri karena lebih memilih keluarga. Tapi sekarang beliau bisa sering ke luar negeri dan karirnya pun cemerlang. Soal uang mah mengikuti.

Menurut pemikiran saya… Kalo emang ga sanggup memenuhi kewajiban menambah 30 menit dari jam kerja normal untuk mendapatkan honor, ya sudah. Hidup saja dari gaji. Kalo ga sanggup memenuhi 8.5 jam durasi di kantor untuk mematuhi PP 53 itu, ya tinggal diliat aja sanggupnya segimana. Kabar terakhir sih katanya masih ada toleransi sekitar 30 menit untuk keterlambatan. Denger-denger sih PNS itu susah dipecat, hehe kidding… Dengan diangkatnya kita [kita? elu aja kale] sebagai PNS kan sudah sepaket dengan segala hak dan kewajibannya. Kalo ga bisa memenuhui kewajiban ya ga usah minta hak, apalagi yang sifatnya bonus. Soal kebijakan yang katanya muncul dari interpretasi terhadap aturan yang berlaku, ya ga bisa maksa-maksa juga kalo emang aturannya udah ga bisa diinterpretasikan lebih enak lagi bagi kita. Saklek banget ya saya?

Saya pribadi, karena belum menikah apalagi punya bayi, merasa tidak keberatan dengan segala aturan yang mengikat demi mendapatkan gaji yang utuh dan honor sebagai bonus. Ya, saya menganggap honor itu adalah bonus atas keberuntungan saya diajak turut serta dalam program penelitian setiap tahunnya. Toh, walaupun tidak ikut dalam program penelitian, atau kasarnya hanya datang dan duduk saja selama 8.5 jam per hari, saya masih mendapatkan gaji beserta tunjangan beras dan lain-lain. Tapi ya masa iya sih mau diem aja di kantor? Saya justru bisa lebih bebas untuk melakukan penelitian yang sebenarnya memang sudah tugas pokok saya. Saya bisa ngerjain apapun yang tidak terikat proposal penelitian [walaupun sampai saat ini saya belum pernah punya ide apalagi di luar program penelitian yang saya ikuti :p]. That’s what I’m paid for. Tapi berkat kebaikan hati pejabat struktural (baca: kebijakan), sepertinya tidak ada karyawan yang hanya menerima gaji saja tanpa honor. Selalu ada program/kegiatan yang menghasilkan honor bagi anak buahnya.

Mungkin saya ini hanyalah peneliti “murtad” yang lebih menikmati tugas rutin yang bersifat tambahan daripada tugas pokok sebagai peneliti. Saya ga suka ngejar-ngejar angka kredit supaya tunjangan fungsionalnya bisa naik. Saya ga terlalu memaksakan untuk mendapatkan honor ini-itu dengan ikut serta dalam berbagai kegiatan. Honor dipotong juga terima aja. Mungkin itu karena saya masih sendiri, belum ngurusin rumah/suami/anak. Kalo udah menikah dan punya anak…?

Selama ini sih dalam bayangan saya jika sudah menikah dan punya anak, biarlah suami yang repot nyari duit buat nafkahin keluarga. Emang udah kewajiban dia kan? Ga mau lah pontang-panting ngejar honor/angka kredit tapi menelantarkan keluarga.

Tiba-tiba jadi inget berita tebaru tentang seorang penyanyi yang membatalkan penampilannya karena harus menunggui ayahnya yang sedang sekarat pada hari-H, padahal udah tandatangan kontrak [ya iyalah, udah hari-H gitu] dan tiket sudah terjual. Logikanya, kalo dia emang profesional ya harusnya sih bayar ganti rugi ke penyelenggara, minimal mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan pihak penyelenggara, apalagi jika acara tersebut hanya diisi oleh satu artis itu [saya ga tau detilnya seperti apa, apakah memang pengisi acara tersebut hanya artis yang satu orang itu saja atau ada yang lain?]. Kalo emang profesional, setiap sen [walopun di negeri ini sudah tidak ada pecahan sen :p] uang yang sudah diterima artis tersebut dikembalikan kepada pihak penyelenggara. Artis tersebut tidak menunaikan kewajibannya untuk tampil di acara tersebut, maka dia tidak berhak untuk memperoleh bayaran. Tapiiii…entah begimana ceritanya, si artis katanya berdalih bahwa ketidakhadirannya dalam acara tersebut adalah karena ayahnya sekarat [yang akhirnya meninggal dunia, Innalillaahi wa inna ilaihi raaji uun] yang berujung tuntut menuntut ke pengadilan dan curhat-curhat. Entah yaaa si artis ini menolak untuk mengembalikan uang yang telah diterimanya dari pihak penyelenggara atau memang penyelenggara meminta lebih, tapi kok yaaa soal kematian itu yang dieksploitasi. I don’t think the father will feel at peace di alam kuburnya. Si artis menyinggung soal hati nurani, pihak penyelenggara bersikukuh dengan profesionalisme walaupun sudah menyatakan bela sungkawa. Tinggal balikin duitnya aja gitu kok ribet banget sampe harus ngasi liat rekaman detik-detik terakhir si ayah di dunia ini. Kedua belah pihak pasti merugi juga toh? Si artis pasti udah ngabisin waktu buat latihan menjelang penampilannya, nyiapin kostum dan sebagainya. Penyelenggara juga udah nyiapin segala sesuatunya. Penonton juga rugi dong udah mahal-mahal beli tiket eh artisnya ga dateng. So, what’s your definition of professionalism?

Ada hak, ada kewajiban. Untuk dapet hak, harus menuhin kewajiban dulu. Begitu.

Bener-bener tulisan random.

Advertisements

4 thoughts on “Just a random thought

    • u hv a very sexy comment as well 😀 i suppose the ‘sexy’ part goes to that so-called ‘selebrita’, hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s