A pie-like face of mine


Telepon ruangan berdering untuk yang kesekian kalinya karena ga ada yang rela beranjak dari kursinya.

“Halo?”

“Bisa bicara dengan Pak Heri?” [ga jelas karena suaranya sayup-sayup]

“Pak Heri?” [agak bete karena ruangan Pak Heri ada telepon sendiri]

“Iya, Heri Sutastio”

“Pak Heri… 301 Pak”

“301? Saya dari Pontianak…”

“Oh, tunggu sebentar Pak, tunggu sebentar” [takutnya penting banget, ruangan Pak Heri cuma beberapa langkah kok]

Ternyata Pak Herinya ga ada,

“Halo?”

“Ya, halo”

“Pak Herinya ga ada Pak. Ga ada di ruangannya, ga tau lagi ke mana”

“Oh…dengan siapa ini?” [ga gitu jelas suaranya]

“Apa?”

“Ini dengan mbak siapa?”

“Santi”

“Siapa?”

“Saaantiiii”

“Oh, Mbak Santi. Mbak yang mukanya bulet ya…”

“…” [bingung karena saya ga ngerasa kenal sama orang Pontianak kecuali yang seruangan]

“Bulet kayak pai?” [bapak ini siapa sih?]

“Heh..?” [mengira-ngira bentuk muka saya mirip kue pai atau kue bolu gulung rasa blueberry]

“Ya mbak?”

“…” [mikiiiiiir keras nebak siapakah bapak di seberang tapi ga berani nanya takut dibilang jutek/ga sopan]

“Hehehe…ya udah, makasih mbak” [jadi tadi tuh maksudnya becanda?]

“Ya..” [masih mikir]

Jadi ngebayangin muka saya berubah menjadi kue pai.

Advertisements

4 thoughts on “A pie-like face of mine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s