Another review-wannabe: Emak Ingin Naik Haji


Baru selesai nonton Emak Ingin Naik Haji, mewek bo! Huhu…I know, it was on TV last Wednesday. Berhubung saya udah pernah donlot dan belum sempet nonton, saya melewatkan kesempatan nonton di TV, males liat iklannya. I think this film is worth to watch despite some flaws here and there :p

Saya sangat terharu dengan keinginan Emak untuk berangkat haji, 5 tahun baru bisa mengumpulkan uang 5 juta rupiah saja padahal biaya haji mencapai 30 juta rupiah. Saya benci banget liat mantan istri Zaenal dan suaminya, menjual nama Aqso untuk mendapatkan uang dari Emak. Padahal suaminya itu katanya pegawai negeri. Pegawai negeri yang miskin mungkin ya? Entahlah…

Ada tokoh Pak Haji yang agak kurang jelas sebenarnya dia orang kaya yang sholeh atau senang riya. Udah mau enam kali aja tuh umrohnya, belanja buat ngundang tetangga sebelum berangkat umroh sampe berjuta-juta. Trus mau ngebiayain haji si Emak dan Zaenal pake acara pengumuman ke semua orang. Saya suka dengan tokoh Dika, masih SMA tapi pengetahuan agamanya luar biasa! Dan katanya dia belajar dari internet. Wow! Untung aja gak terjerumus aliran sesat.

Ada tokoh Joko yang pengen cepet-cepet berangkat haji demi mencalonkan diri sebagai walikota. Ya, ketika ada si Emak yang mati-matian merindukan berangkat ke rumah Allah ternyata ada juga orang yang repot-repot berangkat haji demi gelar haji supaya terpilih menjadi walikota. Perselingkuhan? Sepertinya sudah satu paket dengan kelakuan pengusaha yang sebegitu pengennya jadi walikota. Yet we can’t blame Pak Haji yang sangat rajin umroh padahal di sekitarnya ada Emak yang susah payah pengen berangkat haji. Well, eventually dia yang biayain Zaenal berangkat haji untuk menemani Emak yang dibiayai Alifa.

Hal janggal yang saya temui dalam film ini adalah tentang undian berhadiah paket haji dari sebuah supermarket yang sebegitu ribetnya untuk konfirmasi pemenang. Kenapa yang ikutan undian harus pegang potongan kupon berisi nomor undian padahal di kupon itu ditulisi biodata? Begitu potongan kuponnya hilang, hangus deh walaupun udah jelas-jelas dia pemenangnya. Nomor kartu identitas sudah cukup bukan?

Trus setelah Zaenal mengalami kecelakaan dan katanya kaki kanannya patah, kenapa kakinya terlihat baik-baik saja ketika dia mengamuk karena sulit memegang kuas lukis? Katanya tangan kanannya perlu dilatih agar dapat melukis lagi tapi kenapa dia pake tongkat penyangga kakinya di sebelah kanan? Bukankah tangan kanannya bahkan sulit memegang kuas lukis? I know, his right foot was broken, so…mungkin tangan kanannya itu hanya cedera di bagian saraf telapak atau jari-jarinya saja sehingga masih mampu menopang tongkat. Entahlah, saya gak ngerti anatomi :p

But overall… it’s a good story. Kesimpulannya: saya mewek! Haha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s