Pedestrian vs Trotoar


Tadi saya membaca headline yang diteruskan seseorang di akun Twitter, judulnya Polda: Pejalan Kaki Belum Perlu Ditilang. Bukan berita yang terlalu menghebohkan sih, orang yang meneruskan berita tersebut mengomentari bahwa penilangan pejalan kaki bisa menjadi lahan proyekan baru. Hmm… Bagi saya yang menarik adalah salah satu kutipan pada berita tersebut:

“Kami belum menilang, karena saat ini masih banyak pedestrian dan jembatan penyeberangan orang yang sudah menjadi tempat dagang dan kegiatan lain. Sehingga fungsi utamanya sebagai tempat orang berjalan kaki,  menjadi sangat terganggu. Belum lagi di sejumlah lokasi banyak zebracross yang hilang,” ujar Direktur Lalulintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa di Jakarta, Rabu 13 Juli 2011.

Apanya yang menarik cobaaaa? Hehe… Silakan perhatikan kata pedestrian pada kutipan di atas. Jika kita lihat dalam konteks kalimat seperti demikian, maka pedestrian pada kutipan tersebut akan berarti trotoar, atau bukan? Setahu saya, istilah pedestrian itu berasal dari kata dalam bahasa Inggris yang berarti pejalan kaki. Apakah artinya sudah berubah setelah diserap menjadi kata dalam bahasa Indonesia? Itu juga kalau memang kata pedestrian sudah menjadi kata serapan dalam bahasa Indonesia. Untuk apa pula diserap-serap? Kita kan punya terjemahannya sendiri dalam bahasa Indonesia. Kenapa juga sekarang dipakai untuk menyebutkan trotoar? Kenapa tidak menggunakan kata trotoar saja? Entahlah…

Saya teringat suatu hari di masa lampau ketika saya menonton iklan layanan masyarakat di televisi mengenai pejalan kaki/trotoar ini. Iklan tersebut terus terang membuat saya bingung. Kalau tidak salah, iklan tersebut menggambarkan seorang pejalan kaki yang menyeberang jalan bukan pada tempat yang sudah ditentukan. Kemudian orang tersebut ditegur dan diberitahu untuk menggunakan jembatan penyeberangan [atau zebra cross ya waktu itu? Lupa]. Setelah orang tersebut menyeberang di tempat yang sudah ditentukan, muncul komentar sang bintang iklan, kurang lebih seperti ini…

Nah, itu baru yang namanya pedestrian

Agak aneh mendengar ungkapan seperti itu karena setahu saya pedestrian=pejalan kaki. Mungkin lebih tepat jika ditambah menjadi “pedestrian yang baik” atau apalah, pokoknya tidak berhenti di kata pedestrian karena definisi pedestrian ya pejalan kaki, orang yang berjalan kaki. Seperti mengatakan “Nah, itu baru yang namanya orang” ketika memuji seseorang yang membuang sampai pada tempatnya, misalnya. Kalau begitu kan secara tidak langsung menyebutkan bahwa orang yang membuang sampah sembarangan bukanlah orang. Nah, jadi di iklan itu maksudnya kalau dia tidak menyeberang jalan pada tempatnya berarti bukan pejalan kaki? Lalu apa dong?

Kembali ke berita yang saya kutip di atas, apakah sekarang istilah trotoar memang sudah digantikan oleh istilah pedestrian? Jika iya, alasannya apa? Saya semakin yakin dengan yang selama ini saya pikirkan bahwa orang Indonesia sangat senang mengganti-ganti istilah yang sebenarnya sudah ada bakunya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Karena bosan dengan istilah yang sudah ada? Entahlah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s