Kalo bisa nyuruh orang lain, kenapa ngerjain sendiri?


Mungkin itu adalah salah satu prinsip dari beberapa dari kita, atau malah kebanyakan dari kita? Hmm… Kalau saya sih… kondisional, hehe… Saya berusaha untuk menerapkan “Kalau bisa mengerjakan sendiri, kenapa menyuruh orang lain?” walau kadang muncul prinsip seperti judul di atas ketika saya tidak sempat melakukaannya sendiri atau… sedang malas :p

Kadang saya merasa kesal ketika melihat ada orang yang sangat suka menyuruh orang lain padahal dia sendiri mampu mengerjakannya sendiri, terlepas dari orang yang disuruhnya itu saya atau orang lain. Kejadian terbaru adalah beberapa menit yang lalu ketika saya menyadari bahwa teman seruangan saya belum mengembalikan mangkok bubur dan membayar bubur ayam yang sudah dimakannya untuk sarapan tadi pagi. It was almost 11 AM dan si penjual bubur yang biasanya sudah tidak beredar lagi di kantor pukul 9, ternyata masih harus naik ke lantai 3 sini hanya untuk mengambil mangkok bubur dan meminta bayaran atas bubur yang dijualnya [3500 rp]. Rasanya pengen teriak “GILAAAAAA!”. Tega sekali.

Mungkin beberapa orang berpendapat [termasuk penjual bubur tersebut] bahwa itu adalah resiko menjadi penjual bubur, tapi tolonglah… Apakah harus sampai seperti itu? Maaf ya kalau saya agak berlebihan menyikapi pemandangan yang mungkin sudah bisa dibilang BIASA dilihat di sini, tapi mbok ya punya perasaan sedikit gitu lokh, penjual bubur juga manusia. Menurut saya, akan lebih bijaksana jika kita membawa sendiri mangkok bubur dari si abang penjual bubur ke ruangan kita sendiri [jika memang ingin makan di ruangan], lalu mengantarkan kembali mangkoknya kepada si abang. Jika merasa malas bolak-balik hanya untuk mengantarkan mangkok, gunakan mangkok sendiri. Kalau saya sih biasanya membungkus bubur yang saya beli untuk kemudian dipindahkan ke mangkok yang biasa saya simpan di ruangan. Memang agak menambah sampah [plastik 2 lapis] dan merepotkan diri sendiri untuk mencuci mangkok dan sendok bekas pakainya, tapi setidaknya saya tidak merepotkan si abang penjual bubur untuk naik-turun tangga dan menunggui saya makan. Kadang saya naik dulu ke ruangan untuk mengambil mangkok dan kembali ke bawah untuk membeli bubur jika memang otak “go green” saya sedang jalan :p

Yang terjadi tadi pagi adalah… teman saya memesan bubur ketika sampai di kantor, naik ke ruangan dan membiarkan si abang mengantarkan pesanan ke ruangan [apa susahnya sih menunggu sebentar di dekat gerobak si abang dan membawa mangkoknya sendiri?], pukul 9 si abang naik ke ruangan dan ternyata buburnya belum habis sehingga si abang turun lagi [mungkin si abang keliling dulu menjajakan sisa buburnya yang berlum terjual], dan kembali naik ke ruangan pukul 10:54 demi mengambil mangkok dan uang.

Semoga si abang penjual bubur mendapatkan pahala atas pengorbanannya itu. Aamiin…

Advertisements

One thought on “Kalo bisa nyuruh orang lain, kenapa ngerjain sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s