Random edisi lebaran


Setelah mendengarkan You Gotta Be-nya Des’ree berulang-ulang selama beberapa jam, akhirnya saya memutuskan untuk ngeblog lagi, hehe… Ga ada hubungannya sih sebenarnya, cuma lagi mantengin Twitter aja dan memang topik yang sedang hot saat ini adalah “Kapan Lebaran?”. Saya pribadi ikut pemerintah aja. Kasarnya sih… kalaupun ternyata salah, semoga dosanya ditanggung pemerintah :p

Saya sendiri kurang begitu paham mengenai kriteria bulan baru yang berkaitan dengan awal Ramadan atau Syawal. Namun berdasarkan logika saya yang mungkin baru 2-3 tahun ini hobi mengamati bulan demi menyalurkan hobi fotografi, bulan baru atau bulan muda adalah ketika bulan lebih ‘ketinggalan’ dari matahari. Mungkin sebagian ulama akan langsung menyerang pernyataan saya itu dengan ayat Alquran yang menyebutkan bahwa matahari dan bulan tidak akan saling menyusul karena mereka memiliki orbit masing-masing. Yang saya maksud dengan ‘ketinggalan’ adalah penampakannya di langit, bulan baru atau bulan muda adalah ketika matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan jika dilihat dari [posisi manapun di] bumi. Saya lebih sering memotret bulan pada fase muda karena medan pandang dari atap rumah saya lebih terbuka ke langit barat dan saya termasuk orang yang malas bangun tengah malam menuju pagi buta ‘hanya’ untuk memotret objek langit sebagai hobi. Sebagai informasi saja, waktu terbit bulan setiap harinya lebih lambat kira-kira 50 menit dari hari sebelumnya. Misalnya hari ini bulan terbit pukul 6, maka besok bulan akan terbit kira-kira pukul 6:50. Jadi, siapa sih yang bakal peduli dengan logika saya itu tanpa penjelasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan?

Anyway, kita sudah mengetahui hasil sidang isbat seperti apa: 31 Agustus 2011 ditetapkan sebagai 1 Syawal 1432 H. Seumur hidup saya, baru tahun ini saya menyimak sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal. Kenapa? Entahlah, mungkin karena sepertinya tahun ini sangat heboh sekali urusan perbedaan lebaran ini. Begitu banyak informasi yang berseliweran terutama di dunia maya, dari mulai hoax sampai yang memang betul-betul ilmiah. Mungkin karena tahun-tahun sebelumnya saya kurang getol memantau Twitter atau Facebook berkaitan dengan ini :p

Saya setuju dengan pernyataan dari salah seorang wakil ormas Islam pada sidang isbat kemarin bahwa keresahan masyarakat dimulai dari tanggal merah pada kalender yang beredar tahun 2011 ini. Masih menurut wakil ormas Islam tersebut, usut punya usut ternyata libur Idul Fitri 1432 H yang jatuh pada 30-31 Agustus 2011 didasarkan pada SKB tiga menteri. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa ditentukan libur Idul Fitri 30-31 Agustus 2011 [yang biasanya sesuai dengan 1-2 Syawal] padahal kemungkinan terbesar Idul Fitri 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011? Saya yakin kemungkinan perbedaan Idul Fitri ini sudah dikemukakan oleh para ahli hisab dan rukyat di Indonesia jauh-jauh hari dan pemerintah sudah menyadarinya. Perangkat lunak untuk menghitung kalender bulan kan bukan baru dibuat kemarin-kemarin. Menurut saya, penentuan hari libur Idul Fitri yang kurang tepat itu mempengaruhi kondisi psikis masyarakat. Masyarakat sudah yakin 99% bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada 30 Agustus 2011 dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari kemenangan itu. Memasak opor, memesan ketupat lebaran, menyusun jadwal silaturahmi, dan sebagainya. Tampaknya duniawi sekali ya, tapi saya sih kurang lebih begitu, hehe… Sebagai PNS, saya harus pandai mengatur waktu demi memanfaatkan cuti. Meleset satu hari saja, kacau.

Salah seorang teman saya (Dani Sandani) menulis status di Facebook:

Bukankah awal ramadhan kita brharap “seandainya stiap hari adlh ramadhan..”, Namun knp saat diputuskan 1 syawal mundur sehari, hnya 1 hari, smua tliat kecewa, sdgkn yg memutuskn brhari raya hr ini smua tliat bgtu gembira…??? Bukankh kmuliaan 1 hr bln ramadhan sbnding dg 1000 hr di bln lain & tdk bisa d bandingkn dg opor, rendang & sgla mknn yg mgkn sj bsk basi ??? Smua prasaan ini trbalik & prtanda bhwa iman kita smua trnyata sangat lemah, bhkn mgkn buruk !!!

Setuju kan? Orang lebih kuatir dengan opornya yang basi kalau dibesokkan ketimbang kuatir mengenai haramnya meninggalkan puasa ketika ternyata hari itu seharusnya belum masuk 1 Syawal atau haramnya berpuasa ketika hari itu seharusnya sudah 1 Syawal. Saya pribadi juga menunggu kepastian 1 Syawal untuk menentukan rencana mana yang harus saya jalankan untuk mengisi cuti :p Maluuuu deh jadinya.

Setelah saya pikir lagi, sidang isbat hanyalah semacam formalitas. Toh orang-orang masih bertanya sana-sini mengenai kapan lebaran walaupun sudah ketuk palu. Ormas Islam yang kukuh dengan wujudul hilal masih tetap melaksanakan Ied tanggal 30 Agustus 2011, golongan tertentu bahkan ada yang sudah Ied tanggal 29 Agustus 2011 karena memang Ramadannya pun lebih awal. Entah efek psikis dari kalender ataukah karena sudah menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Satu hal yang menjadi pertanyaan saya[dan mungkin pertanyaan banyak orang] setiap melihat perbedaan dalam penentuan awal Ramadan, 1 Syawal, dan Idul Adha: Kenapa 1 Muharram tidak pernah diperdebatkan? Libur Tahun Baru Hijriyah tidak pernah meleset dari yang tercantum di kalender. Hipotesis saya sih karena penentuan 1 Muharram tidak krusial bagi pelaksanaan ibadah atau [kasarnya] tidak menyangkut perkara halal/haram.

Sekian tulisan random kali ini. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s