Press Release: Me, getting married!


Hihihi…hard to believe but it is going to happen soon, insya Allah

Undangan mulai disebar sekitar tanggal 25 Desember dan kehebohan pun dimulai, haha!

“HAH? Santi? Diam-diam ternyata…”

“Geuleuh ih meni teu béja-béja” [hlah, makanya saya sebar undangan juga kan dalam rangka béja-béja :p]

“Serius nih kamu mau nikah? Koq ga pernah cerita-cerita?”

“Iiihhh, kapan pacarannyaaaa?”

dan sebagainya.

Kemudian pertanyaan standar selanjutnya adalah…

  • Teman kuliah ya?
  • Kenal di mana?
  • Udah berapa lama kenalnya?
  • Orang mana?
  • Kerja di mana?
  • Acaranya di rumah apa di gedung?
  • Iiiih, ceritain doooong!

Jika ada yang masih kurang silakan tambahkan sendiri. Sebagian orang mungkin langsung mencari-cari informasi detil ke orang-orang yang sekiranya dekat dengan saya *GR* dan ternyata tidak ada yang tahu, haha! Ya, saya memang tidak menceritakan proses perkenalan beserta segala detilnya mengenai sang calon karena memang prosesnya lumayan cepat dan saya pikir untuk apa menceritakan hal yang belum benar-benar pasti kepada semua orang. Sebelum acara lamaran pun saya enggan menceritakan perkenalan saya dengan calon suami kepada keluarga besar. Tapi entah ya ibu saya cerita kepada siapa saja :p Terlebih lagi, saya kuatir gagal lagi seperti sekian belas kali sebelumnya [entah sombong atau minta dikasihani nih ya judulnya :p]. Baiklah, saya akan mulai bercerita mengenai perjalanan cinta saya dengan calon suami. Yang mau ambil bantal silakan, yang mau ambil cemilan silakan, yang mau tidur silakan.

Ehem…syahdan sekitar bulan Juli di sebuah acara yang mengumpulkan sebagian besar karyawan kantor di dalam auditorium, ada salah seorang teman saya yang menawarkan untuk memperkenalkan kandidat calon suami kepada saya. Katanya orangnya baik, keluarganya baik, agamanya insya Allah baik juga, tapi penghasilannya masih di bawah saya. Hmm…Selisihnya 10 ribu rupiah mungkin? :p Lalu muncul pertanyaan spontan:

“Ganteng ga?”

Ehehehe, lalu si teman bingung menjawabnya…

“Errr, biasa aja sih…”

Ok, ambigu. Tapi saya lanjutkan lagi…

“Yaaa maksudnya kalo dibawa kondangan gitu malu-maluin ga?”

Hehe, pertanyaan yang ambigu juga. Soalnya saya dulu pernah dikenalkan dengan seseorang yang kata kakak ipar sih gantengnya seperti Ust. Jefri Albukhori dan ibuku mengamini dengan bilang “Pokoknya ga malu-maluin lah kalo dibawa kondangan”. FYI, I never thought that UJe can be categorized as ganteng, sorry.

Hari berganti, saya agak lupa dengan penawaran teman saya itu. Terakhir yang saya ingat, saya memperbolehkan teman saya itu untuk memperlihatkan halaman Facebook saya [yang profilnya hanya terbuka bagi temannya teman, kalau di Friendster sih istilahnya 2-degree friends] kepada orang tersebut. Saya sengaja menolak untuk melihat profil orang tersebut karena kuatir muncul penilaian-penilaian aneh setelah melihat fotonya. Ya GR lah, ilfil lah, pokoknya macam-macam. Saya tidak mau berpikir macam-macam sebelum bertemu dan berbicara langsung dengan yang bersangkutan, sayapun tidak merekomendasikan untuk bertukar nomor ponsel. Ya, pengalaman adalah guru yang terbaik, hehe…

Memasuki bulan Agustus yang bersamaan dengan bulan Ramadhan, saya semakin lupa dengan penawaran itu karena disibukkan oleh persiapan pameran Ritech Expo 2011 di Serpong yang katanya dibuka oleh RI-1. Di sela-sela tugas menjaga stand pameran, saya sempatkan untuk menyalurkan hobi lama: chatting. Teman saya yang pernah menawarkan kandidat calon suami itu menyapa dan menanyakan kemungkinan untuk bertemu dengan sang kandidat [yang ternyata adalah adik ipar teman saya itu, saya lupa kapan mendapatkan informasi itu] sepulangnya saya dari Serpong, sekalian buka puasa bersama. Disepakati untuk bertemu Sabtu 13 Agustus di Gokana Teppan Piset Mall. Jadi sudah terjawab ya tiga pertanyaan pertama di atas? Pasti langsung pada scroll ke atas deh untuk liat daftar pertanyaannya 😀

Mereka [teman saya + suaminya + anak-anaknya, dan sang kandidat] tiba di Gokana lebih dulu, langsung kenalan… Pesan makanan dan mengobrol sambil menunggu pesanan dan adzan Maghrib. Teman saya pernah bilang bahwa adik iparnya itu pendiam, agak kuatir juga karena saya [rasanya] pendiam juga. Untungnya kenalannya didampingi, kalau hanya berdua bisa-bisa hanya saling diam, hehe…

Dari acara perkenalan itu saya bisa lihat kalau sang kandidat memang pendiam dan sesuai dengan deskripsi teman saya

“Posturnya se-Ibnu, tapi Ibnu mah putih dan agak lebih gemuk”

Hihihi, si Ibnu baca ini nggak ya?

Dia alumni Polban angkatan 1999, aslinya sih 1998 tapi pernah nganggur setahun karena gagal UMPTN. Dia penduduk Cimahi yang sedang mengais rejeki di ibukota sejak 2010 setelah menyelesaikan program ekstensi di Universitas Indonesia. Saat itu dia bekerja sebagai teknisi pemeliharaan gedung yang jam kerjanya menggunakan sistem shift alias giliran, 8 jam per hari selama 6 hari lalu libur 2 hari. Untuk menghemat waktu, shift malam digabungkan dengan shift siang sehingga liburnya bisa 4 hari. Sepertinya hanya itu saja informasi yang saya dapat di acara perkenalan karena saya yang lebih banyak bercerita, hahaha…padahal saya pendiam looh :p

Setelah menghabiskan makanan di Gokana dan menjalankan sholat Maghrib di musholla terdekat, perkenalan dilanjutkan di depan Super Indo sambil menunggu teman saya berbelanja dan anaknya bermain mobil-mobilan. Lagi-lagi saya yang banyak bercerita. Aduuuh, cerewet banget ya ternyata diriku ini… Di akhir perkenalan malam itu, dia langsung menegaskan tujuan perkenalan kami. Ya, saya sadar banget kalau tujuannya bukan sekedar kenalan untuk menambah teman tapi tidak pernah terpikir kalau dia akan bertanya secepat itu.

“Santi tau kan tujuan kita kenalan sekarang ini untuk apa?”

“Ya”

“Mau dilanjut ga nih?”

“Yaaaa terserah”

“Kalo gitu, boleh minta nomer HPnya?”

Jadilah bertukar nomor ponsel… Dua hari kemudian dia menelepon saya dan bilang

“Saya mau serius sama Neng”

Saya cuma bisa jawab ‘oke’. Lalu dia bilang bahwa dia nggak akan sering-sering nelepon atau SMS basa-basi semacam ‘udah makan belum?’ dan sebangsanya. Hooo, saya langsung setuju karena saya memang tidak suka basa-basi buang-waktu-buang-pulsa-buang-energi semacam itu. Apakah dengan oke-nya saya itu bisa dibilang jadian? Hmmm…entah ya. Dia main ke rumah, berkenalan dan mengobrol dengan orang rumah setelah Idul Fitri. Saya sempat mengantuk kebosanan begitu ibuku mulai membahas masalah politik :p Interaksi selanjutnya masih melalui YM dan SMS, masih dalam rangka perkenalan sampai pada suatu malam yang mencekam dia ingin memastikan kelanjutan perkenalan kami itu ke tahap yang lebih serius. I consider that as a marriage proposal, a unique one [sorry for not exposing it here, it’s private :D]. And once again, I said OK.

Setelah melalui diskusi yang cukup alot, akhirnya acara lamaran diadakan Minggu tanggal 16 Oktober. Sekitar sepekan kemudian [melalui diskusi yang lumayan alot juga :p] barulah ditentukan tanggal pernikahan dan acara akad dan resepsi rencananya digelar di rumah kakak saya. Selanjutnya kami disibukkan dengan segala persiapan menuju hari bersejarah itu. And here we are, counting down the days.

Oya, namanya siapa? Ada deeeh, nanti saja kalau sudah resmi mungkin saya beritahu :p Yang sudah terima undangan pasti pada pengen nyorakin rame-rame yaa 😀

Advertisements

10 thoughts on “Press Release: Me, getting married!

  1. *tangkap* *langsung buang* huh, saya nggak butuh!d
    huks..saya terharu dirimu skrg terlihat bahagia sekali teteh…*peluk tiang listrik*

    • huh sebut nama asli …udah capek2 saya samarkan

      lah si yon-cyan ga tau ipar-nya? itu tuh :

      ミラ さん です … translate ke gugel!

      saya lagi hobi ngetik pake hiragana-katakana…hebat ya laptop saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s