Penataran pra-nikah


Sebelum menikah, ada semacam penyuluhan/penataran pra-nikah dari KUA. Berhubung calon mempelai wanita sedang [sok] sibuk dan mempelai pria siklus kerjanya 8-harian, bukan pekanan alias 7-harian, jadi susah banget nyari waktu yang cocok buat ketemuan dengan orang KUA. Mau hari kerja ya gak bisa dong, saya kan kerja di LAPAN [doh, udah lama banget gak denger candaan macam ini, maaf candaan intern :p]. Mau hari libur ya orang KUAnya juga kayaknya gak mau, lagian calon mempelai pria juga belum tentu libur pas akhir pekan. Hari-H semakin dekat dan belum ketemu juga dengan orang KUA, akhirnya diputuskan untuk bertemu di rumah kakak tanggal 28 Desember 2011 malam karena kebetulan calon suami lagi libur dan sempat.

Sebenernya calon suami udah pernah dikasih tau rumah kakak di Ciwastra itu tapi dia beralasan takut nyasar karena baru satu kali ke sana, supaya bisa berangkat bareng sama calon istrinya ini. Saya yang tadinya udah nyipain perlengkapan menginap karena mau meluncur ke rumah kakak langsung setelah bubar kantor, terpaksa balik lagi ke rumah demi menemani calon suami yang takut tersesat itu.

Calon suami tiba di rumah sekitar Isya dan hujan rintik-rintik. Romantis yaaa? Menurutku sih lucu aja. Calon suami kan ke mana-mana bawa motor tuh, terus dia tuh gak mau ngebonceng saya karena belum “Sah!”. Jadi malam itu dia dateng ke rumah pake motor terus ke rumah kakak bareng saya naik angkot. Konyol gak sih? Yang lebih konyol lagi, karena kebetulan waktu itu hujan rintik-rintik, kami berpayung ria dong dari rumah ke jalan utama… tapi sendiri-sendiri! Terus, dia pengennya jalannya sebelahan, gak mau di depan atau di belakang saya. Jadilah malam itu jalanan terasa sangat sempit, haha… Mamah juga ngetawain waktu liat kami berangkat pake payung masing-masing [dia pake payung mamah sih sebenernya]. Bagus lah, pria berprinsip :p

Kami nyampe di rumah kakak sekitar setengah 9 malam, petugas KUA yang ternyata rumahnya gak jauh dari situ udah nungguin kami. Saya disuruh nandatangan surat pernyataan masih “perawan (tidak terikat pernikahan)”. Saya baru tau kalo definisi perawan cuma sebatas itu, hehe… Dan penyuluhan pun dimulai…

Dari penataran itu saya mendapatkan beberapa hal baru:

  1. Pasangan yang hendak menikah harus mengikuti penataran pra-nikah paling lambat 2 pekan sebelum akad nikah.
  2. Anak di luar nikah (yang ibunya udah hamil sebelum nikah, walaupun anak yang bersangkutan terlahir setelah orangtuanya menikah) ternyata (1) jika laki-laki maka tidak berhak menjadi wali nikah adik kandungnya jika ayahnya non-muslim/sudah meninggal dunia; (2) jika perempuan maka tidak berhak dinikahkan oleh ayah kandungnya sekalipun, atau oleh saudara laki-laki kandung jika ayahnya non-muslim/sudah meninggal dunia. Alias harus dinikahkan oleh wali hakim.
  3. Anak di luar nikah juga tidak berhak atas waris orangtuanya.
  4. Saksi pernikahan haruslah orang yang benar-benar mengenal riwayat hidup calon mempelai. Jadi kalo yang suka sok-sok pake saksinya pejabat padahal tidak mengenal riwayat hidup calon mempelai ya maap-maap aja nih…
  5. Karena ayah saya sudah meninggal dunia, maka saya dinikahkan oleh kakak tertua saya. KUA meminta fotokopi buku nikah orangtua saya dan KTP kakak saya untuk melihat tanggal pernikahan orangtua dan tanggal kelahiran kakak. Hal ini dilakukan untuk mengecek barangkali kakak saya itu sudah ada di perut ibu saya sebelum orangtua saya menikah sehingga tidak berhak untuk menjadi wali nikah saya.

Yak, kira-kira begitu saja yang bisa saya ingat dari penataran berdurasi sekitar 15 menit itu. Tapi yang saya bingung, biasanya ada semacam sertifikat setelah mengikuti penataran pra-nikah tersebut yang diserahkan kepada kedua mempelai setelah akad nikah. Sampai sekarang saya belum menerima sertifkat yang dimaksud walaupun saya sendiri juga tidak tahu kegunaan dari sertifikat tersebut. Toh tanpa sertifikat itu pun saya masih bisa menikah, hehe…

Advertisements

12 thoughts on “Penataran pra-nikah

      • hooh…kemarin baru tau..pas naek pangkat
        ..dg alasan yg sama …berati sy cari harus cari calon yg udah peneliti madya dunk 😀

    • gempor kli maaaas jln kaki dr bubat ke ciwastra…tdnya jg sy pgn ajakin makan soto dl biar morantis :p tp apa daya si calon dtgnya telat bin ngaret, kelaparan deh dia sampe pulang ke rmhnya ;))

  1. eh aku isi penatarannya ga gitu loh, yg ada curhatan si org kua-nya ehehehehe… me and hubby-to-be (waktu ituu) jdnya bengong bin bingung, trus cengengesan geje. ga lama, curhat selesai. pas sertifikat jad trus dibaca, ternyata ada rincian jam ‘diklat’ nya, lengkap dengan ‘mata pelajaran’nya. sayang ga bisa diajuin kredit, nanggung cm dapet 1 ak. ;p
    yang mana, mo dipake juga ga bisa, nama yg tertera disitu salah. yassalaaam.

    • ada ga ya yg berani masukin sertifikat itu bwt pengajuan angka kredit, even for the first time? haha…pasti dia sudah sgt terbuai dengan janji surga pak bashori imron :p

  2. Pingback: Pertanyaan KUA pada saat penataran pra-nikah | Ngacapruk II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s