Post-wed clarification


Huwow! Ternyata sudah dua bulan saya tidak menulis di sini, hmm… Mau cerita apa ya kali ini? *mikir*

*mikir*

*mikiiiiirrr*

Aha!

Eh… *mikir*

Sebenarnya banyak sih yang ingin saya ceritakan, sampai saya catat di ponsel agar tidak lupa. Tapi begitu saya lihat lagi… sepertinya suasana hati saya belum mendukung. Baiklah, akan saya coba…

Dalam rangka menikah, saya memutuskan untuk cari kesempatan mengambil cuti selama satu bulan penuh di bulan Januari, jika dihitung ya sebanyak 21 hari kerja. Selama cuti, saya dapat dengan leluasa menyalurkan salah satu hobi saya, yaitu LEYEH-LEYEH. Alhasil, kembali ke kantor dengan otak yang sudah terbiasa leyeh-leyeh, santai-santai, bermalas-malasan, sesuka hati, paraaaaaaaah deh pokoknya. Pukul 10 rasanya kepala ini sudah sangat berat tertarik oleh gravitasi bumi, inginnya tiduuurrr. Sampai sempat beberapa kali di bulan Februari DAN Maret saya mengunci pintu ruangan dan menutup tirai lalu tidur seenaknya di karpet plastik yang biasanya saya gunakan sebagai alas sholat. Namanya juga korupsi waktu *hati nurani bicara*, tidurnya pun tidak tenang tapi apa daya ngantuknya minta tolong banget.

Selanjutnya saya mulai bertemu dengan beberapa orang di kantor. Tidak terlalu banyak karena saya memang sudah lama tidak bersilaturahmi dengan orang-orang di mesjid. Saya paling bertemu orang-orang ketika jadwal kolokium tiap Selasa siang, atau pertemuan sosialisasi yang mengumpulkan seluruh peneliti ataupun seluruh PNS di kantor. Pertanyaan yang (sudah dapat ditebak) diajukan oleh orang-orang (terutama kaum nosey) adalah…

Sudah isi belum?

dan

Sekarang tinggal di mana?

dengan berbagai struktur kalimat dan istilah yang digunakan yang pada intinya SAMA SAJA.

Baiklah, saya akan coba klarifikasi di sini *sok ngartis*

Saya jawab pertanyaan kedua dulu deh ya… Sejak awal menikah, saya dan suami memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua saya yang sudah saya tempati bersama keluarga kakak saya sejak saya mulai bekerja di Bandung. Kenapa tidak mengontrak atau menyicil rumah? Hmm… berhubung suami bekerja di Jakarta, maka beliau jarang berada di Bandung. Nah, kalau saya mengontrak atau membeli rumah (entah itu tunai atau kredit), saya akan sering menempati rumah itu sendirian, and it will be tiring. Perlu saya ingatkan lagi bahwa saya adalah orang pemalas. Jika saya harus tinggal di rumah sendirian maka kemungkinan rumah tersebut tidak akan terurus. Lagipula saya memang belum sempat mencari-cari rumah untuk dikontrak maupun dibeli. Lagi-lagi bakat malas saya yang berperan di sini. Sejak dulu saya selalu berpikir “Untuk apa mencari rumah jika hanya akan ditinggali sendiri? Kalaupun sudah berkeluarga, saya ingin suami saya yang mencarikan rumah untuk keluarga kami” Pikiran yang bodoh? Ya terserah. Mungkin nanti kami akan mulai mencari rumah jika suami saya sudah bekerja di Bandung. Kalau suami tak kunjung pindah kerja ke Bandung? Hmm… nanti dipikirkan lagi :p Sejauh ini saya masih menikmati tinggal bersama ibu dan keluarga kakak saya, mudah-mudahan mereka tidak terbebani.

Pertanyaan pertama mengenai ISI… Walaupun saya mengerti apa maksud dari “isi” yang orang-orang tanyakan, saya masih selalu merasa terganggu. Bukan karena pertanyaannya, tetapi istilah yang digunakan. Ada yang mengatakan “hasil”, “namper” [bahasa Sunda yang artinya mengendap], “telat”, atau lainnya. Kenapa mereka tidak langsung mengatakan “hamil” saja? Saya menjengkelkan sekali bukan? :p

Selama bulan Februari saya masih bisa menjawab “belum” karena memang saya masih datang bulan, Maret mulai ragu karena saya sempat menggunakan test pack dan hasilnya dua garis walaupun tidak terlalu jelas. Saya hanya bisa menjawab “belum tau” selama saya belum mengunjungi dokter untuk memeriksakan kandungan.

Tanggal 11 April saya dan suami memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan di RS Al Islam. Karena saya terlambat datang dan belum tahu bahwa untuk USG harus mengisi kandung kemih dulu [baca: banyak minum, tahan pipis], saya baru berhasil masuk ruang periksa sekitar pukul 12:30. Kepala sudah pusing. Ternyata memang sudah ada kehidupan di dalam rahim saya, berusia 9-10 minggu. Itu kata dokternya karena ketika di-USG saya tidak ngeuh bagian mana yang dokter bilang sebagai janinnya. Saya percaya saja lah karena memang beberapa hari setelah menguji dengan test pack saya mulai merasakan mual-mual a la wanita hamil. Padahal awalnya saya senang sekali karena setelah uji test pack ternyata saya tidak mual-mual sampai suami bertanya-tanya “Kok Neng gak mual-mual?”

Tanggal 11 Mei saya memeriksakan kandungan untuk yang kedua kalinya, kata dokternya bagus. Usianya sudah 14 minggu, sudah ada tangan dan kakinya. Lagi-lagi saya sulit melihatnya di layar USG. Secara teori, usia kehamilan segitu harusnya sudah mulai berkurang mual-mualnya dan nafsu makan sudah kembali normal atau bahkan bertambah. Tapi yang saya alami justru sebaliknya. Saya semakin tidak bernafsu untuk makan, dan semakin sering muntah. Lemas sekali sodara! Kalau boleh, saya ingin cuti lagi sampai saya melahirkan dan bayi saya berusia tiga bulan :p

Oya, ada satu lagi pertanyaan yang lumayan sering diajukan terkait dengan status saya yang sudah menikah:

Suaminya pulang ke Bandung tiap akhir pekan?

Hmm.. perlu saya tegaskan kembali bahwa siklus kerja suami saya tidak sama dengan saya yang kerja Senin-Jumat lalu libur Sabtu-Minggu. Sebelum menikah, siklus kerja beliau adalah 4-4 alias 4 hari kerja lalu 4 hari libur. Jadi siklusnya per 8 hari, bukan 7 hari seperti saya. Mulai Januari 2012, siklus kerjanya tetap per 8 hari namun dengan formasi 6-2 alias 6 hari kerja lalu 2 hari libur. Kalau saya jawab “gak selalu akhir pekan” kok kesannya suami saya kerjanya bebas banget, padahal ya maksudnya seperti yang sudah saya jelaskan barusan. Sebagai istri dan anggota masyarakat yang baik *lebay* maka saya harus dengan sabar menjelaskan tentang siklus 8 hari itu setiap kali ada yang mengajukan pertanyaan mengenai kapan suami saya pulang ke Bandung.

Nah, jadi sudah terjawab ya ibu-ibu, bapak-bapak? Sekarang saya mau melanjutkan leyeh-leyeh dulu 😀

*lima menit kemudian*

Ouwh, barusan muntah 😦

Advertisements

5 thoughts on “Post-wed clarification

  1. *dan pertanyaan yg selanjutnya : laki2 atau perempuan? 😀

    ga usah kawatir kawan!
    saya aja yang sudah berisi dari dulu, tetap bangga dan kekar
    …dan gak ada yang nanyain tuh
    udah isi apa belum? … skr tinggal dimana?
    kasihan sekali ya saya g ada bakat jadi artis

    tapi mengenai rumah sih, kalo keluarga saya di bdg dan saya kerja di bdg,
    saya bakal mikir 2x untuk beli rumah sendiri, mending tinggal di rumah ortu,
    dengan pertimbangansekalian jaga ortu + tinggal lebih rame kayaknya
    lebih enak (terutama untuk keluarga kecil).

    wah kalau saya sih siklus harian termodulasi (berasa pintar pakai istilah ini) siklus jam2an :
    2 jam leha2, 3 jam menguntit, 2 jam berhalusinasi, dan 1 jam belajar….:D
    *efektif sekali bukan..??? blajar cukup 1 jam..yg penting sih serius!….. “menguntitnya”

    • makasih kawan! pasti dirimu ya yg bikin blog stat sy tinggi, mengingat betapa seriusnya dirimu dlm hal ‘belajar’ :p
      semoga makin kekar dan guanteng, salam super! haha

  2. “.. Kalau boleh, saya ingin cuti lagi sampai saya melahirkan dan bayi saya berusia tiga bulan”.
    ntar jg pengen nambah cuti sampe 6 bulan. atau kalo bisa bahkan sampai 2 tahun ;p

    btw skr ada tombol follow ta di pojok bawah post? semuaaa aja pake pollow. tentu menguntungkan bagi yg suka menguntit ya.#eh.

    • nyahahahha…namanya jg manusia jeng, ga pernah puas. pgnnya mah cuti terus sampe masa pensiun :p
      klo ga slh sih di wp emg ada tombol follow, tp klo diklik ya ketauan ma yg punya blog, soalnya masukin alamat e-mail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s