Melahirkan itu …


… sesuatu banget!

Yak, setelah harap-harap cemas karena dokter bilang deadline melahirkan adalah tanggal 12 Nopember dan kuatir suami udah keburu berangkat lagi ke ibukota, tanggal 14 Nopember dini hari kira-kira pukul 00:15 WIB, saya terbangun dan merasakan ‘banjir’. [Pfiuh, kalimatnya panjang betul yap? :p] Awalnya saya pikir itu hanya vlek-vlek [bener gak sih nulisnya] seperti beberapa hari sebelumnya, tapi ternyata yang keluar adalah cairan bening dengan bercak-bercak darah. Saya gak langsung bangunin suami karena paham betul bahwa dia juga sama gak ngertinya seperti saya. Saya tunggu dulu beberapa menit barangkali saya merasakan mulas-mulas atau tanda apapun lah yang menunjukkan bahwa saya harus ke rumah sakit. Saya mengetuk pintu kamar kakak setelah merasakan bahwa si ‘banjir’ masih terus berlangsung, kuatir kalau yang keluar itu adalah cairan ketuban dan saya ‘sepertinya’ sudah akan melahirkan. Kakak yang sudah berpengalaman dalam hal melahirkan hanya merespon dengan santai.

Pake pembalut dulu deh. Trus, mau ke rumah sakit sekarang?

Yah, saya sih mana tahu itu memang sudah harus ke rumah sakit atau menunggu dulu karena memang sampai saat itu saya belum merasakan mulas-mulas yang katanya kontraksi sebagai tanda hendak melahirkan. Dan dengan agak menakjubkan, kakak ipar pun ikut bangun dan langsung menawarkan mengantar ke rumah sakit. Barulah saya membangunkan suami yang sedang nyenyak tidur. Tadinya sih saya kira dia bakal panik-panik gimanaaa gitu, tapi ternyata responnya adalah …

Sekarang? Gak nunggu besok pagi aja?

Errr … entah harus ketawa atau ngomel-ngomel deh mendengar jawaban seperti itu, tapi saya berusaha tetap lempeng dan ngasih liat betapa ‘banjir’nya [maaf] pantat saya waktu itu. Akhirnya suami mulai bangun dan menanyakan apakah saya mau memanggil taksi. Saya bilang saja bahwa kakak ipar bersedia mengantar. Mamah juga ternyata bangun dan langsung bersiap mengantar ke rumah sakit. Untungnya ‘banjir’ itu kejadiannya pagi buta, jalanan lancar, kami berangkat sekitar pukul 00:40 dan tiba di IGD Rumah Sakit Al-Islam sekitar pukul 01 kurang beberapa menit. Suami langsung mengisi formulir dan saya diperiksa oleh bidan jaga. Katanya baru bukaan 1-2 dan cairan yang keluar itu bukan cairan ketuban, melainkan hanya lendir saja. Gak ngerti deh, pokoknya iya-iya aja. Lalu kami menunggu dokter jaga yang katanya akan memeriksa saya. Dokternya sedang menangani [istilahnya: melakukan tindakan] pasien lain dan saya pun diperbolehkan berjalan-jalan di IGD.

Seingat saya, jika menonton film, suasana IGD tuh heboh banget, tapi waktu itu rasanya sepiiiii banget padahal pasiennya lumayan banyak. Saya baru diperiksa dokter jaga sekitar pukul 02 kurang beberapa menit. Lalu saya ditemani perawat ke ruang bersalin … eh, ruangan tempat menunggu bukaan lengkap gitu deh. Di situ saya disuruh ganti baju, seragam pasien, hehe … Lalu perawat merekam jantung janin selama 20 menit. Katanya bayinya kurang aktif, kemungkinan karena kekurangan oksigen atau kekurangan cairan. Yah, pagi buta begitu, perut masih kosong, bayinya pasti anteng-anteng aja lah soalnya kan bayi baru banyak gerak kalau ibunya makan. Cenah eta ge :p

Lalu saya diinfus [untuk pertama kalinya dalam hidup saya, sakit bo jarumnya gede benjet!] dan diberi oksigen demi kebaikan si bayi. Saya juga disuruh tidur miring ke kiri supaya aliran oksigen ke bayi lancar. Oksigen murni tuh walaupun bagus ternyata bikin gak nyaman karena alirannya dingin banget ke hidung. Saya sebagai penderita alergi dingin rasanya gak gak gak kuat, dan langsung meler-mangfetz gak jelas. Badan gak enak juga terus-terusan miring ke kiri sambil nahan supaya infusnya gak ketarik-tarik. Oya, setelah pasang infus, darah saya diambil untuk tes laboratorium karena pemeriksaan terakhir Hb saya hanya 8.9 saja. Dan ternyata hasil tes darah menunjukkan bahwa Hb saya meningkat menjadi 10.7, berkat ngemil kismiskah? :p

Dari hasil kontrol ke dokter sebelumnya, katanya berat janin sudah hampir mencapai 3.8 kg. Ngeri yah, kata suami sih somewhere di form rumah sakit ada catatannya: Bayi Besar. Ehemm … saya sempat kuatir kalau saya tidak sanggup melahirkan secara normal karena berat janin yang ‘besar’ itu. Setelah infus dan pemberian oksigen sekitar 4 jam, jantung bayi direkam lagi dan sepertinya hanya ada sedikiiiit kemajuan. Setelah itu saya mulai losing the track of time, tau-tau perawatnya udah ganti shift, tau-tau udah dapet jatah sarapan, lalu mulai mulas-mulas tapi masih bisa tahan. Lalu karena bukannya gak nambah-nambah, saya diinduksi menggunakan balon. Gila bo, sakit benerrr! Pas dipasangnya sakit, trus kontraksi-kontraksinya juga aduhai. Katanya sih kalau kontraksinya udah berkurang berarti balonnya udah lepas, tapi kok ya kontraksinya berulang-ulang dan percayalah, sakit bangetttt! Saya mulai mencengkeram benda-benda yang ada di sekitar saya, dari mulai pinggiran tempat tidur sampai tangan suami. Setelah makan siang, dokter kandungan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba untuk melepaskan si balon biadab itu. Setelah dicek, katanya sudah bukaan 6-7. Dari situ masih kontraksi-kontraksi tapi tidak sesakit waktu dipasang balon walaupun intinya tetap sama: Sakit. Waktu Ashar, saya masih disuruh jalan-jalan karena kata dokternya kalau tiduran terus malah lebih terasa sakit. Lagian bosen juga seharian tiduran melulu.

Tau-tau udah dateng aja tuh jatah makan malam, tapi saya sudah tidak sanggup lagi untuk makan karena kontraksi semakin hebat. Entah pukul berapa saya dipindah ke ruang VK untuk ngebrojolin si bayi, kalau tidak salah sih baru bukaan delapan. Saya ingat waktu itu kakak-ipar-yang-sesama-karyawan-LAPAN baru datang dan ngasih tip bahwa bukaan dapat dipercepat dengan mengelus-elus pusar, tapi dia sendiri gak tega karena tahu bahwa rasanya sangat sakit. Setelah kakak ipar pulang bersama mertua dan kakak ipar yang lain, punggung saya diusap-usap suami dan bagian depan diusap-usap Mamah. And yes, she did it on my belly button. Huwaaaaaaaaah, aduhai! Dari situ saya mulai teriak-teriak histeris padahal sebelumnya masih bisa mode getar alias ngatur napas aja setiap terasa kontraksi. Setelah diusap-usap di udel, boro-boro bisa ngatur napas, pengennya ngeden. Kata bidannya jangan ngeden dulu kalo udah kerasa pengen pup karena bukannya belum lengkap, mereka juga masih nunggu dokternya dateng. Kata bidannya lagi, kalau sudah terasa seperti mau pup, saya disuruh lapor. Wew, tapi setelah beberapa kali lapor selalu dijawab “Jangan dulu” sampai saya teriak karena rasa ingin mengejan itu terasa sangat parah …

“Mauuuuuuuuu!”

Maksudnya mau ngeden getoh, malah ditanya “Mau apa?”

“Mau keluaaaaarr!”

Aih, bodor! Setelah beberapa kali histeris karena kontraksi dan tanpa sengaja mencengkeram tangan Mamah terlalu keras, akhirnya dokter datang dan bidan pun nyuruh saya mulai mengejan seperti mau pup. Baru tau loh ternyata mengejan melahirkan itu sama seperti buang air besar, tadinya saya kira berbeda karena lubang keluarnya memang berbeda.

Agak kesal juga sih setelah dokternya datang dan proses mengejan dimulai, si dokter cuma nyantei aja di ujung kasur, just watching. Sedangkan ghuwe … hmmm, jangan ditanya deh gimana rasanya. Dokter cuma sesekali aja bantuin ngeluarin bayinya. Setelah tiga kali kontraksi yang menandakan bahwa saya harus mengejan, keluarlah bayi perempuan dengan tangis yang heboh sureboh pada pukul 22:10 WIB. Saya sempat kuatir tidak sanggup mengeluarkan si bayi karena tidak kuat mengejan dalam satu kali tarikan napas. Jadi, dari tiga kali kontraksi itu saya mengejan lebih dari lima kali untuk mengeluarkan si bayi sedikit demi sedikit.

Setelah bayi berhasil keluar, dokter sempat menyuruh IMD tapi bayi saya langsung dibawa keluar untuk observasi karena cairan ketubannya hijau walaupun encer. Sedih, saya belum sempat melihat si bayi dengan jelas, dia langsung dibawa keluar dan suami juga diminta ikut. Rasanya plong begitu si bayi keluar dan menangis keras, tapi proses masih berlanjut karena saya masih harus mengeluarkan plasenta dan menjalani proses penjahitan, wiw! Plasentanya keliatan gede banget dan proses penjahitan rasanya lama sekali. Kalau ditanya berapa jahitan, saya juga tidak tahu karena katanya cara menjahitnya juga berbeda dari biasanya [yang bisa dihitung berapa jahitan]. Katanya sih modelnya seperti jelujur sehingga jahitannya tidak terlalu kentara, hmm … terserah deh. Saya baru dipindah ke ruang rawat menjelang tengah malam setelah sempat tertidur dan dibersihkan oleh perawat. Badan rasanya lemas syekaleeei … dan lapar.

Saya baru bisa ketemu si bayi sekitar pukul tujuh pagi, hiks! Langsung deh disuruh menyusu dan ternyata bayiku ini hebat banget nyusunya padahal orang-orang bilang bayi perempuan tuh nyusunya gak sekuat bayi laki-laki. Gak tau sih ya saya juga karena belum pernah punya bayi laki-laki, tapi sepertinya bayi perempuan yang satu ini tidak seperti bayi perempuan pada umumnya 😉

Oya, ternyata bayiku bukanlah bayi besar seperti yang diperkirakan dokter sebelumnya. Berat lahirnya ‘hanya’ 3070 gram, sedangkan panjang badannya 51 cm. Katanya tinggi ya segitu? Entahlah, kalau dilihat sih jari-jarinya memang panjang-panjang. Kata orang tua mah pijangkungeun alias punya bakat berbadan tinggi. Yah, mungkin bakat turunan dari keluarga ayahnya 🙂

Ayah dan bayinya yang waktu itu belum diputuskan namanya siapa

Ayah dan bayinya yang waktu itu belum diputuskan namanya siapa

Advertisements

4 thoughts on “Melahirkan itu …

  1. Tuh kan sakit!!! Si Om Yon dibilangin mending punya anak kembar, sekali ngeden dapat dua, dia nggak mau…dasar lelaki..
    Huoh, perjuangan seorang ibu benar-benar hebat ya teh! Tapi kata simbok saya, emang anak pertama sakit soalnya nyariin jalan buat adik-adiknya…

  2. Eh, ngomong-ngomong…Dulu kakak ipar saya dianterin bidan juga pas mau ngelahirin n bidannya bilang “jangan ngeden dulu..nanti aja kalau udah nyampe ke RS..” *note: waktu itu dalam perjalanan ke RS dari Pacitan ke Wonogiri dgn jarak tempuh 2 jam*
    Eh, yang bikin emosi, si tu bidan pake acara mabok dong dijalan..Udah yang teriak-teriak gitu kakak ipar saya mau keluar si bayinya..Si bidan malah minta turun mau muntah dulu..Hampir aja ditinggal sama kakak saya di pinggir jalan saking emosinya..Dan karena ditahan terlalu lama, si ponakan pas keluar nggak nangis..Pantatnya biru dan hampir tidak tertolong nyawanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s