Laporan ibu presenter setelah mengasuh 117 murid Sekolah Dasar


Senin yang lalu saya diberitahu oleh kepala bidang untuk menyiapkan presentasi untuk ditampilkan di depan anak SD yang akan mengunjungi kantor hari Kamis. Hmm … harusnya sih sudah terbiasa dengan itu, tapi sampai sekarang masih selalu saja stress melakukannya. Kuatir slidenya kebanyakan lah, kuatir presentasi tidak menarik lah, dan yang paling membuat saya takut adalah kuatir mempermalukan diri sendiri di depan orang banyak. Maklumlah, saya ini orangnya jaim. Jika Anda tidak mengerti arti kata JAIM, silakan cari di kamus bahasa gaul terbitan tahun 2000-an.

Setelah bergelut dengan internet selama dua hari penuh, diselingi oleh kesibukan baru saya sebagai ibu muda, akhirnya terciptalah sebuah presentasi yang memang tidak pernah membuat saya merasa puas karena selalu dikerjakan dalam keadaan tertekan dan buru-buru. Ini dia …

Benda Langit

I know, it’s a lousy presentation. Silakan ya kalau ada yang ingin mengoreksi. Gambar-gambar yang ditampilkan di situ, saya ambil tanpa izin [siapa suruh pajang di internet? wew!] karena memang sedang selalu terburu-buru. [Haha, peneliti macam apa saya ini?]

Satu menit pertama, saya masih bisa sok asyik di depan 117 anak SD kelas 6 dan beberapa guru pembimbingnya. Menit ke-5 dan seterusnya, suasana aula mulai gaduh seperti pasar baru. Hanya beberapa anak saja yang masih memerhatikan presentasi saya. Saya tidak mau ambil pusing dengan melakukan improvisasi di depan penonton, lempeng jaya melanjutkan presentasi yang bagi sebagian besar dari mereka dapat dikategorikan sebagai penampilan membosankan. Mungkin materi yang saya tampilkan terlalu céték dan presentasinya terlalu banyak menampilkan tulisan. Ah, memang kebiasaan menampilkan tulisan sebanyak-banyaknya di slide presentasi sangat sulit untuk dihilangkan. Tolong jangan hukum saya wahai para dosen di kampus, cukup nikmati sensasi gemasnya saja :p

Tibalah saatnya tanya-jawab, awalnya tidak ada yang bertanya. Lalu …

“Saya Amanda, saya mau tanya. Kalau saya ingin menjadi peneliti di LAPAN, harus sekolah atau kuliah di mana?”

Lalu …

“Nama saya Salwa, mau tanya. Setelah saya menonton video roket tadi, saya jadi teringat senjata roket seperti di luar negeri. Apakah LAPAN memproduksi senjata roket juga?” [sambil membaca kertas di tangannya, mungkin takut salah ngomong]

Jangan-jangan dia ada rencana untuk menembakkan roket ke suatu negara, hmm …

“Saya Hilmi, apa fungsi dan manfaat LAPAN bagi masyarakkat?”

Sini dek, saya kasih buku Renstra LAPAN, hehe …

Tiga pertanyaan selanjutnya, syukurnya, lebih ngastronomi.

“Nama saya Abror. Kenapa bulan tidak hancur, padahal terus-terusan kena meteor?”

Tapi yang satu ini …

“Saya Chika, saya mau tanya … soal asteroid yang jatuh di Rusia kemarin”

“Ya, kenapa? Chika ingin tau tentang apanya?”

“Penjelasannya …”

Oke, bentar ya, saya tulis esainya dulu. Nanti saya serahkan di akhir acara. Wew, becanda. Gara-gara pertanyaan yang kurang spesifik itu, sayapun menjawab tanpa fokus yang jelas. Duh …

Pertanyaan terakhir,

“Saya Aghnia. Kenapa benda-benda langit seperti meteor itu hanya jatuh ke Bumi, bukan ke planet lain? Kenapa benda-benda itu bisa jatuh, bukankah di angkasa mereka melayang-layang?”

Kalau kata Soimah, ini pertanyaan yang jos gandos. Tapi sayangnya, ketika saya menjawab keenam pertanyaan di atas, suasana pasar masih seramai pasar baru. Dan ketika saya tanyakan kembali kepada penanya “Gimana dek, udah ngerti atau masih ada yang mau ditanyakan lagi?” yang bersangkutan seperti gelagapan karena tidak mengira ibu presenter ini akan balik bertanya. Yah, saya lanjutkan saja dengan …

“… atau malah jadi tambah bingung?”

Dan disambut oleh suara tawa beberapa temannya. Sebenarnya saya ini mau presentasi ilmiah atau stand up comedy sih? Oya, setelah acara berakhir, ada seorang anak cantik yang menghampiri dan bertanya,

“Katanya mau ada meteor seukuran lapangan sepakbola ya jatuh ke Bumi, eh ke Indonesia?”

Nah loh, hoax dari mana tuh? Sebelum saya selesai berorasi menjelaskan tentang maraknya hoax astronomi di internet, si anak cantik udah buru-buru mau pergi aja.

“Oh gitu ya, makasih”

Iya dek, jadi kalau ada informasi dari internet itu jangan langsung dipercaya beg …

“Iya Bu, makasih banyak”

Eeeeh, saya belum selesai ngomong loh … dek, dek …

Advertisements

One thought on “Laporan ibu presenter setelah mengasuh 117 murid Sekolah Dasar

  1. “Aku suka keki sendiri jadinya kalo pas ngajar nanya ke siswa, “Udah ngerti belum?” trus dijawab dengan diam, trus aku nanya lagi “Apa malah bingung?” trus dijawab “Iya kak, bingung.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s