Penyakit misterius


Sekitar bulan April/Mei yang lalu, tetangga saya yang biasa dipanggil Bunda tiba-tiba tidak dapat bangkit dari tempat tidurnya. Saya tidak tahu secara rinci mengenai penyakit Bunda itu, Mamah malah menduga kalau Bunda itu terkena stroke. Sepertinya mustahil karena Bunda masih berusia 30-an. Entah berapa lama Bunda sakit, yang saya tahu Bunda sudah aktif lagi berolahraga voli sore.

Sekitar 19 Mei 2013, Abi mulai merasakan pegal linu di kaki. Tanggal 20-nya, Abi masih memaksakan diri menyetir mobil mengantarkan Ummi ke pasar modern karena Ummi hendak berangkat ke Cengkareng. Keesokan harinya, pegal linu terasa semakin parah. Abi terbaring di kasur sekitar sepekan lamanya. Ternyata Ummi merasakan pegal linu juga, hampir bersamaan dengan Abi, tetapi tidak terlalu dihiraukan. Mereka sempat berobat ke dokter dan didiagnosa “kecapekan”.

Tak lama dari situ, Bi Upi juga merasakan pegal linu di seluruh tubuhnya. Saking sakitnya sampai minta pulang kampung. Bu Atis yang ternyata pernah mengalami gejala yang sama beberapa waktu sebelumnya menganjurkan meminum obat entah apa namanya, tanpa merek, yang sangat murah. Obat itu katanya ampuh untuk menghilangkan pegal linu tersebut. Seharian Bi Upi terkapar di kamarnya dan keesokan harinya sudah sembuh setelah meminum obat murah tersebut.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 30 Mei, saya kesulitan bangun tidur pagi itu. Bukan, bukan karena saya kebo, melainkan karena pinggang saya sebelah kiri-belakang terasa sangat sakit. Setelah saya ingat-ingat, kaki saya mulai terasa sakit sejak malam sebelumnya. Mamah langsung curiga bahwa saya tertular penyakit seperti yang diderita Bunda karena ternyata tetangga yang lain pun mengalami gejala yang sama secara bergantian. Mamah sempat menganjurkan saya meminum obat murah saran Bu Atis, tetapi saya menolak karena saya sedang menyusui. Tidak boleh sembarangan meminum obat, apalagi yang tidak jelas kandungannya apa. Inginnya saya beristirahat dan menggeletakkan diri di kasur seharian, namun apa daya, ada bayi yang harus saya urus. Saya sempat berpikir untuk tetap berangkat ke kantor, tetapi badan ini langsung oleng begitu membungkuk sedikit saja, seperti orang lumpuh sebelah. Bagaimana mungkin saya naik-turun angkot dengan kondisi seperti itu? Mau berobat ke dokter pun tidak ada yang mengantar.

Sekitar pukul 11:30, saya merasakan demam, temperatur badan sekitar 38°C. Ketika saya periksa, ternyata lengan saya dipenuhi bintik-bintik merah seperti demam berdarah namun ukurannya agak lebih besar. Saya baru bisa berangkat ke klinik sore harinya karena Abi sudah pulang dari sekolah. Saya minta tolong Abi mengantarkan saya dengan mobilnya.

Kami berangkat ke Klinik Jaya Abadi setelah sholat Ashar. Inginnya diperiksa dokter umum perempuan tetapi saat itu hanya ada dokter umum laki-laki, Dr. Parlindungan. Antrean di dokter tidak terlalu panjang tetapi rasanya lama sekali. Saya baru bisa menemui dokter sekitar pukul 17. Dokternya masih muda dan jauh dari bayangan saya tentang seorang Batak, bicaranya lemah lembut. Saya baru mengerti kenapa antreannya lama, ternyata dokter ini sangat teliti, tidak terburu-buru, dan yang paling penting adalah dia sabar mendengarkan cerita saya. Nah lho, ke dokter kok malah mendongeng? Hehe … Saya ceritakan selengkap-lengkapnya dan dokter pun menjelaskan bahwa demam itu menandakan adanya infeksi. Dokter juga menjelaskan bahwa gejala pegal linu di sendi-sendi belum tentu indikasi penyakit chikungunya seperti yang pernah saya dengar. Kemungkinan demam berdarah juga tidak ada, karena bintik-bintik pada lengan saya berukuran agak lebih besar dan menghilang ketika kulit diregangkan. Beberapa hal yang dijelaskan dokter antara lain:

  • Virus demam berdarah ada empat macam. Jika kita sudah terkena salah satu virus, maka kita tidak akan terkena virus yang sama karena tubuh sudah memiliki antibodi. Tetapi karena virus demam berdarah itu ada empat macam, maka kita maksimum berpotensi mengalami demam berdarah sebanyak empat kali.
  • Virus chikungunya juga disebarkan oleh nyamuk demam berdarah, dan kita hanya berpotensi terkena sebanyak satu kali.
  • Bintik-bintik pada lengan dan pegal linu di sendi-sendi juga merupakan indikator adanya infeksi virus selain demam.

Dr. Parlindungan memeriksa sendi/tulang sekitar punggung/pinggang dengan cara memukul-mukul pelan daerah itu, kesimpulannya penyakit saya tidak ada kaitannya dengan kandung kemih. Dokter menganjurkan saya menunggu sampai tiga hari. Jika masih demam, dokter menyarankan saya untuk tes darah karena beliau pernah menemui kasus seperti demam berdarah yang disertai typhus. Dokter memberikan resep tiga macam obat:

  • Golmun Plus, katanya untuk menambah daya tahan tubuh, Harganya lumayan, >Rp5000 per butir. Dosis 1×1 tablet sehari.
  • Neurosanbe plus untuk menghilangkan rasa sakit. Murah. Dosis sebenarnya 3×1 tablet sehari tetapi karena saya sedang menyusui, katanya kalau 2×1 sehari ternyata sudah tidak terasa sakit, tidak perlu menambah dosis. Agak mengerikan, hmm …
  • Paracetamol untuk demam, dosis 3×1 sehari, diminum jika demam saja.

Karena itu adalah hari Kamis, berarti hari ke-3-nya adalah hari Minggu. Dokter menyarankan untuk memantau demam hingga Sabtu pagi, jika masih demam maka saya sebaiknya langsung tes darah ke laboratorium supaya hari itu juga dapat langsung dikonsultasikan lagi hasilnya dengan beliau. Hari Minggu klinik tutup. Dokter langsung membuat rujukan untuk tes darah ke Bio Test [karena dekat dengan Klinik Jaya Abadi] dengan seizin saya [ya barangkali saya ingin tes di laboratorium lain] dan surat keterangan sakit untuk diserahkan ke kantor saya.

Setelah meminum obat yang diresepkan dokter, rasa sakit saya berkurang. Panas tubuh kembali normal sebelum Sabtu pagi, saya membatalkan rencana tes darah. Hari itu bibir saya mulai seriawan tetapi lokasinya di bagian luar. Awalnya saya biarkan saja karena seriawan memang sudah semacam bawaan sejak kecil. Lama-kelamaan, seriawan di bibir mulai terlihat tidak masuk akal. Seriawan bertambah banyak dengan ukuran yang kecil-kecil berjejer di bibir bagian luar. Bibir saya terlihat babak belur, kering mengelupas dan kadang berdarah dari seriawannya ketika makan. Selama hidup saya, biasanya seriawan baru berdarah jika tergigit. Tapi kali itu seriawan mengeluarkan darah walaupun hanya tersenggol oleh makanan. Ini jelas-jelas bukan seriawan biasa. Hari Minggu saya juga mulai merasakan gusi bawah bagian kanan belakang membengkak. Pembengkakan gusi di bagian itu memang sudah beberapa kali dan biasanya saya biarkan saja karena biasanya akan mengempis dalam beberapa hari. Tetapi pembengkakan kali itu terasa sangat sakit sampai ke seluruh rahang. Bayangkan betapa menyakitkannya acara makan saya beberapa hari itu.

Bibir saya tidak terasa sakit walaupun banyak seriawan di situ, lagi-lagi ini pertanda bukan seriawan biasa. Karena biasanya seriawan akan membesar dalam beberapa hari dan terasa sakit. Kasus saya saat itu, seriawannya tetap berukuran kecil-kecil. Teman-teman yang melihat kondisi bibir saya sepertinya merasa jijik kasihan.

Selasa tanggal 4 Juni saya memutuskan untuk mengunjungi dokter gigi untuk pertama kalinya sejak lebih dari 20 tahun lalu. Setelah saya menceritakan keluhan gusi dan bibir saya, dokter langsung memeriksa gigi saya dan menyarankan tindakan yang dia sebut scaling, which I had no idea what it is. Saya setujui saja tanpa berpikir untuk menanyakan berapa harganya. Terrrrrnyataaaaaaa, sodhara-sodharaaaa, scaling adalah istilah untuk tindakan pengikisan karang gigi. Rasanya aduhai! Ketika proses berlangsung, gusi saya berdarah-darah dan Anda tahu apa kata dokter gigi itu?

Memang harus berdarah kalau ingin bersih.

Lalu tahukah Anda …

Biaya scalingnya tiga ratus ribu.

Begitu kata dokternya, dan saya hanya menjawab “Oh” dengan tatapan kosong. Lalu dokternya melanjutkan,

Dibayar sekarang,

karena saya tidak bereaksi mengeluarkan dompet atau apapun yang menunjukkan itikad untuk membayar, hahaha … Sebenarnya saat dokter itu menyebutkan harga, otak saya langsung berpikir untuk lari ke ATM terdekat karena saya hanya membawa uang 250 ribu rupiah saja dan saya kira biayanya dibayar di luar ruang periksa. Dengan pasrah, sayapun berujar,

Errr … Aduh, uang saya kurang. Gimana ya?

sepertinya kepala saya berubah menjadi permen loli bertuliskan “sucker“. Saya kira saya bakal mendapatkan keringanan berupa diskon, hehe … Tapi kata dokternya dengan wajah illfeel,

Oh, adanya berapa? Sisanya bisa transfer kok. Ibu punya rekening di bank apa? Mandiri? BCA? BNI?

Tampaknya pasien yang tidak membawa cukup uang bukanlah kejadian yang langka bagi dokter gigi itu. Singkat cerita, sayapun membayar 100 ribu tunai dan 200 ribu melalui transfer ATM. Sekeluarnya saya dari apotek tempat praktik dokter gigi itu, saya sepertinya terlihat linglung karena sepanjang jalan dari apotek sampai ATM dan dari ATM sampai ke rumah saya merenung dan bertanya-tanya,

Mimpi apa gue semalem, dirampok dokter gigi sebegitunya?

Setelah saya ceritakan kisah menyedihkan saya di atas, barulah saya tahu dari teman saya bahwa biaya scaling dihitung per bagian, gigi atas dan gigi bawah. Memang pada umumnya biayanya 150 ribu per bagian, tetapi jika sekaligus atas-bawah biasanya ada diskon. Dan biasanya untuk tindakan scaling sebelumnya ditawarkan untuk membersihkan semua gigi atau hanya atas/bawah saja. Merasa ditipu? Mungkin, karena salah saya juga tidak menanyakan harganya di awal. Tapi belakangan saya tertawa mengingat kisah tadi karena saya sebenarnya tidak membayar biaya dokter di luar tindakan scaling tadi. Entah karena dokternya kasihan atau 300 ribu itu memang sudah termasuk jasa dokter. Oya, untuk seriawan dan sakit gusi, dokter memberikan resep Aloclair plus gel [oles seriawan] dan Aloclair plus rinse [kumur-kumur], harga total sekitar 170 ribu. Pengeluaran yang fantastis itulah yang membuat saya terlihat linglung. Berikut kesan saya terhadap kedua obat tersebut:

  • Obat kumurnya sangat kental sehingga sangat sulit untuk dikumur. Sekali kumur cukup 10 ml saja (tersedia cangkir takarnya), tidak boleh dicampur air. Kumur-kumur selama 5 menit, jangan ditelan. Setelah berkumur, tidak diperkenankan untuk membilas mulut dengan air dan tidak boleh makan-minum selama 2-3 jam (saya agak lupa instruksi dokter yang ini :p). Rasanya ANEH tapi gusi dan gigi saya sembuh dalam beberapa hari.
  • Obat oles seriawannya agak kurang nyaman karena bentuknya jel. Cukup manjur, seriawan saya sembuh dalam beberapa hari.

Sepulang dari dokter gigi, saya memutuskan untuk mandi walaupun hari sudah malam karena saya merasa sangat “KOTOR” lelah, barangkali mandi bisa membuat saya merasa lebih segar. Saat mandi saya melihat lengan saya seperti merinding, pori-pori membesar. Saya pikir biasa saja karena saya mandi malam-malam, dingin. Selesai mandi, saya lihat lagi lengan saya. Ruam merah dan di paha saya juga muncul ruam seperti campak.

APA LAGI INI??

to be continued … kalau sempat :p

Advertisements

4 thoughts on “Penyakit misterius

    • Sakit giginya sudah sembuh seperti yg telah saya ceritakan di atas, Alhamdulillah
      Mengenai ruam, mungkin akan saya ceritakan di lanjutan ceritanya, bila sempat 😀

  1. Pingback: Kunjungan kedua ke dokter gigi | Ngacapruk II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s