Rasa penasaran yang dikesani sebagai hal yang tidak bermanfaat


Suatu pagi saya berbincang dengan 2 orang teman, lalu salah satu di antaranya menceritakan tentang salah satu gambar yang diunggah “mutual friend” kami di salah satu media sosial. Setelah saya meluncur ke TKP untuk melihat gambar yang dia maksud, saya merasa penasaran dengan motivasi pengunggah mengunggah gambar tersebut. Ini dia gambarnya …

1620529_751592644853971_1688660203_n

FYI, pengunggah (sebut saja A) adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha sendiri di rumahnya. Jadi saya asumsikan bahwa dia bukanlah tokoh ibu dalam percakapan pada gambar tersebut sehingga dia tidak perlu meninggalkan anaknya di rumah bersama pembantu. Saya membaca tulisan ini langsung menerima kesan bahwa A berusaha menunjukkan bahwa ibu yang bekerja di luar rumah sehingga terpaksa meninggalkan anaknya bersama pembantu adalah sebuah keputusan yang salah, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa A tidak menuliskan komentar apapun mengenai moral of the story atau apapun yg menunjukkan harapannya setelah orang-orang melihat gambar tersebut. Jika saja gambar ini diunggah oleh seseorang yang merasa menjadi tokoh ibu dalam percakapan tersebut, saya mungkin menerima kesan bahwa orang tersebut sedang merenung atas keadaan yang dialaminya. Yaaaa semacam menggalau gitu deh seperti kebanyakan orang-orang di media sosial :p

Sebelumnya saya juga sudah cukup sering mendengar cerita tentang beberapa ibu rumah tangga yang sangat membangga-banggakan profesinya yang tidak pernah meninggalkan anaknya di rumah bersama pembantu dan berkesan bahwa ibu rumah tangga lebih mulia dibandingkan ibu bekerja. Selain itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, saya juga menemukan sebuah taut tentang “stay at home mother” dan “working mother“. Demi menghilangkan rasa penasaran saya, sayapun memberikan komentar yang kurang lebih seperti ini:

What if the mother is a single parent who has to leave her children in the house with the maid to make a living? *just a thought* here’s something worth to read: http://carolynee.net/a-letter-from-a-working-mother-to-a-stay-at-home-mother-and-vice-versa/

walaupun saya sebenarnya tidak 100% setuju dengan taut yang saya berikan di situ :p Di bawah saya ada komentar yang lain, dari sebut saja B:

I’m a child of single working-mother also, and I know my mom had no choice unless she wants her full-of-money-n-jewelry-purse left unfed and uneducated. Every person has his/her unique life, can’t be generalized. Anyway, nice link Santi Sulistiani !!

Lalu dari sebut saja C:

Sometimes moms have to work for one or more reasons (only they know why- but i believe they do have good reasons), but they always carry their child in their heart. And, dont take it wrong, stay-at-home moms also leave their children with the teachers at shool for quite a long time, to do their part time job, or many other good reasons. 🙂 Agree with Santi Sulistianii and B

Kemudian A membalas:

Yes, I do agree that every moms have their own reasons to work outside their homes. Public roles also need women contributions in every fields of activities. Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside. According to the book of islamic fiqih there are several reasons that allow women to work outside to make a living :

1. Purpose or motivation of their work for nafqah should really fit with sharia. In the hadith explicitly mentioned three motivation or purpose of seeking nafqah : * To assist parents. * To support the family. * To maintain personal honor that so as not to beg for others.

2. This type of work must not contradict with sharia law.

Saya semakin penasaran dengan motivasinya setelah membaca argumen “Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside.” Kalau memang begitu, kenapa tidak ditulis semacam disclaimer bahwa tulisan itu hanya ditujukan kepada ibu-ibu bekerja yang tidak punya alasan mendasar untuk bekerja di luar rumah? Sayapun membalas kira-kira seperti ini:

Are there such “moms that do not have basic reasons to work outside”? *wondering* i never knew any mothers who work outside as an excuse to neglect or skip their obligation to take care of their children. even if they do exist, it’s only 0.0000 … 1% of mothers all over the world that the picture above can apply 🙂

Dan ketika saya lihat keesokan harinya ternyata A menyunting komentarnya dengan mengganti bagian “Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside.” dengan kalimat:

But I have different interpretation about the picture, the words leave does not mean “leaving for a while” because moms have to make a living. But, moms leave the responsibility to educate their children to the maid.

ditambah dengan poin 3 (bahwa pekerjaan/posisi tersebut memang dibutuhkan di masyarakat) di akhir balasannya yang saya setujui pula seperti halnya poin 1 dan 2 yang telah dia tulis. Kalimat yang menggantikan kalimat sebelumnya semakin membingungkan bagi saya karena dalam gambar tersebut ditunjukkan percakapan antara seorang anak dengan ibunya, bukan antara seorang filsuf dengan ibunya. At least that’s what I assumed. Saya balas lagi komentar hasil suntingan itu tanpa menyunting komentar saya sebelumnya:

wow, so u really think the child in the picture think that his/her mom leave the responsibility to educate him/her to the maid? u really got me confused to think that an innocent child has that deep thought :p

Apakah semua orang yang membaca percakapan anak-ibu itu akan menginterpretasikan hal yang sama dengan A? Lagi-lagi saya bertanya-tanya “Apa yang A harapkan dengan memasang gambar tersebut tanpa disclaimer?” Mungkin A memang tidak berharap apa-apa dan sekedar menunjukkan gambar yang menurut dia menarik dan layak untuk dibagikan. Saya masih merasa perlu ada disclaimer seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Beberapa waktu kemudian, saya ketahui dari kotak masuk surel saya bahwa A sudah membalas lagi:

Not the child. It just me.

Saya sebenarnya sudah mau mengakhiri diskusi tersebut dengan membalas komentar di atas dengan “Ok” karena kuatir melebar menjadi perdebatan yang tak berujung. Saya sudah terlanjur mengungkapkan rasa penasaran saya sehingga ketika A mengungkapkan opini yang menurut saya masih belum memuaskan rasa penasaran saya maka saya tidak tinggal diam. Saya langsung meluncur ke TKP untuk membalas dengan si ok tadi tapi yang saya temukan adalah komentar pendek itu telah dihapus. Makin bingung deh saya, kenapa dihapus? Walaupun penasaran, saya tidak ada niat untuk melanjutkan karena tidak mau menjadi orang yang dangkal dan berkesan menyebalkan (karena saya pasti akan sebal kalau ada orang yang bertanya “kenapa komennya dihapus?” walaupun hal itu -saya menghapus komentar- sepertinya tidak akan terjadi).

Tadi pagi ketika saya membuka surel untuk suatu keperluan, saya temukan bahwa ternyata A kembali membalas dengan kalimat yang cukup panjang dan sama sekali berbeda dengan komentar sebelumnya yang pendek tadi:

Maaf saya pake bahasa indonesia ya teh, dikehidupan real saya temui bahwa motivasi seorang ibu untuk bekerja diluar tidak melulu karena alasan ekonomi, ada yang karena alasan sayang sama pendidikan tingginya, ada juga alasan lain karena sayang dengan karirnya. Nah, ini yang saya maksud do not have basic reason to working outside. Untuk yang masalah ekonomi kita gak bahas ya karena jelas. Mungkin iya, bahwa pada awalnya seorang ibu tidak bermaksud menyerahkan tugas dan tanggungjawab pengasuhan kepada pembantu, tetapi sering terjadi secara tidak sengaja, disebabkan karena realitas kesibukan kerja seorang ibu akhirnya menyita waktu pengasuhan dan pendidikan anaknya. Saya mohon maaf sebelumnya bila tidak berkenan ya.

Hmm, terlalu banyak menyebut kata maaf membuat saya merasa kalau A sedang menghindari perdebatan yang sebenarnya saya tidak ada maksud ke sana. Begitu banyak yang berseliweran di kepala saya demi membalas komentar tersebut:

  • Ada salah seorang wanita rekan di kantor yang menurut saya cukup sukses baik di dalam karir maupun mendidik kedua anaknya. Kalau tidak keliru, beliau tidak memiliki pembantu. I really envy her. Saya juga kadang iri kepada beberapa teman saya yang bisa lebih sering bersama dengan keluarganya karena memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, bahkan beberapa di antaranya punya usaha sendiri di rumah. Saya semacam berada di antara keduanya, belum bisa sukses dalam karir dan belum sukses pula dalam mendidik anak. Saya selalu melewatkan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang menyaksikan kepandaian baru yang dicapai anak saya, her first word, her first step, her first hum
  • Andai saja gambar itu pertama kali saya lihat diunggah oleh teman saya yang wanita-bekerja, mungkin tidak akan ada diskusi berbelit itu.
  • Saya ingat seseorang yang pernah menyebut bahwa orang Sunda hedonis-konsumtif sehingga menyemarakkan dunia permalingan di Bandung. Saya langsung terbakar mendengarnya dan berakhir tidak nyaman karena terpaksa melakukan hal yang tidak saya sukai, yaitu berdebat. Saya pun menceritakannya di blog saya yang lain.
  • Saya ingat sebuah acara kontes dai cilik ketika salah satu kontestan berceramah mengenai pernikahan. Walaupun isi ceramahnya 100% benar tetapi ketika itu disampaikan oleh seorang anak kecil yang tentu saja belum berpengalaman dalam pernikahan, rasanya akan sangat janggal.
  • Saya juga ingat sebuah tulisan dari seorang WNA yang menyebut Bandung sebagai kota babi. Walaupun saya akui bahwa Bandung yang saya ketahui memang sangat kotor dan bermasalah dengan pengelolaan sampah tapi tidak berarti bahwa semua orang yang beraktivitas di Bandung adalah orang-orang yang jorok. Dan lagi, WNA tersebut belum cukup lama tinggal di Bandung untuk menyimpulkan seperti itu, “I’m sorry that you were happened to see the dirty part of the city, but there are also clean places that you haven’t visited in the city, and there are many Bandung people who live a hygiene life. And by the way, squat toilet is the best design for toilet ever.”
  • Saya sebenarnya hanya ingin tahu motivasi di balik pemasangan gambar tersebut oleh seorang “stay at home mother” jika saya memang tidak diizinkan untuk berpikiran bahwa A termasuk orang yang mengagung-agungkan pilihan hidupnya sebagai “stay at home mother” dan melecehkan keputusan para ibu (dengan berbagai alasannya) untuk bekerja di luar rumah.

Awalnya saya bermaksud untuk meringkas semua yang berseliweran itu dalam sebuah komentar balasan, tapi kemudian saya putuskan untuk mengakhirinya saja dengan membalas “OK”. Zip it, wrap it, put it to an end.

Sorenya saya meluncur ke TKP, saya temukan bahwa gambar yang diunggah tadi sudah dihapus dan tentu saja komentar-komentarnya pun sudah tidak ada lagi, dan di media sosial tersebut pada hari yang sama A mengutip sebuah hadits:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Mungkin saya salah, tapi saya tidak bisa menghentikan otak saya yang berpikir bahwa kutipan hadits tersebut ditujukan kepada saya.

Saya tidak sedang mencari dukungan ataupun pembenaran dengan menulis ini, saya hanya ingin tahu apakah yang telah saya lakukan seperti yang telah diceritakan di atas adalah sesuatu yang tidak bermanfaat? Jika memang saya salah, saya hanya bisa berharap Allah SWT mengampuni saya. Saya tidak ingin menunjukkan tulisan ini di media sosial yang itu sehingga A membacanya karena saya kuatir jika saya melakukannya maka benar-benar akan menjadi hal yang tidak bermanfaat dan mengundang kemudharatan. Tetapi kalau pada akhirnya A mengetahui keberadaan tulisan ini ya mau gimana lagi :p Setidaknya A bisa membaca apa yang sebenarnya saya pikirkan selama diskusi tersebut.

Advertisements

One thought on “Rasa penasaran yang dikesani sebagai hal yang tidak bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s