Sebut saja babi -bukan makhluk sebenarnya.


Tadinya mau nulis ini di status FB aja, tapi berhubung nggak mau dituduh eksis di FB maka saya urungkan niat saya itu and post it here instead, hehe …

Cuma mau laporan pandangan mata aja dari perjalanan saya pulang kerja kemarin. Just like everyday sih … Angkotnya ngetem, jalanan macet, penumpang ada yang naik, ada yang turun, ada yang serius memandangi dan meggulir/mengetik di ponsel/talenan interaktifnya, ada yang telponan pake talenan interaktif, goyang-goyang sendiri atau bahkan nyanyi-nyanyi sendiri karena telinganya terhubung dengan gadgetnya, ya gitu deh biasanya tiap hari.

Di depan Griya kadang-kadang ada penumpang yang naik ke/turun dari angkot yang saya tumpangi. Saya tidak terlalu memperhatikan karena waktu itu sedang sibuk chatting dengan dua sahabat saya melalui ponsel, sampai pada suatu titik saya mendengar suara plastik kemasan yang dibongkar dengan cukup berisik dari arah penumpang yang duduknya berhadapan dengan saya. Setelah saya perhatikan, suara itu muncul karena seorang ibu berjilbab membongkar kemasan teh celup. Nah, heran dong, ngapain si ibu ngebongkar kemasan teh celup di angkot? Apakah dia hendak menyeduh teh di angkot? Unlikely. Sambil pura-pura tidak melihat, saya perhatikan. Setelah si ibu merobek plastik luar kemasan teh celup lalu dia membuka kardusnya dan mengeluarkan bungkusan seperti aluminium foil yang mengemas teh celup. Aih, teh celup doang kemasannya berlapis-lapis begitu! Saya kira ibu itu bakal merobek bungkus mengkilap itu untuk mengeluarkan salah satu kantung teh celup untuk kemudian diseduh, tapi ternyata saya salah. Teh celup yang hanya terbungkus aluminium foil itu kemudian diletakkan di dalam kresek belanjaan Griya si ibu lalu kardus beserta bungkus plastik luarnya disembunyikan di bawah jok si ibu di angkot. Ternyata di bawah jok si ibu sudah ada kardus kosong kemasan susu bubuk dan ketika saya perhatikan lagi kresek belanjaan si ibu, sepertinya di situ juga ada susu bubuk yang hanya terbungkus kantong aluminium foil. I was likeWhat?? Gak bisa ya nunggu sampe rumah untuk buang sampah? Atau di rumahnya gak punya tempat sampah? Atau di lingkungan sekitar rumahnya tidak tersedia tempat sampah?”

Ingin rasanya saya ngomong “Bu, di rumahnya gak ada tempat sampah ya?” atau “Bu, ini angkot, bukan tempat sampah” atau “Bu, kardus bekas biar saya aja yang buang kalo Ibu gak punya tempat sampah”, tapi saya hanya diam dan berulang kali bergantian melirik si ibu-kresek belanjaan-kardus kosong di bawah jok si ibu. Lalu saya teringat baru saja membeli roti untuk cemilan di angkot karena biasanya sore-sore saya suka kelaparan. Saya segera memakan roti itu lalu dengan sangat demonstratif melipat platik pembungkus roti yang sudah kosong lalu memasukkannya ke dalam tas dengan maksud agar si ibu melihat bahwa saya tidak membuang sampah sembarangan sehingga si ibu sadar. Tapi si ibu tidak memperhatikan :p

Yaaa namanya juga usaha, hihihi … Jadi gak usah tersinggung ya kalau ada yang bilang bahwa Bandung itu kota para babi karena pemandangan barusan bukan baru saya saksikan sekali atau dua kali, melainkan sudah sangat sering sekali seumur hidup saya. Entah itu anak kecil, remaja, orang tua, bahkan orang tua juga ada yang menyuruh anaknya yang masih kecil untuk membuang sampah di dalam angkot atau “Lempar aja keluar, Dek!”

 I used to be one of those pigs who “hid” their trash under their seats or tossed them anywhere, maybe I’m still one of them because I never had that courage to tell those pigs to pick up the litter they’ve thrown in front of me.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s