Saya yang tidak mengenal diri sendiri ini …


Kemarin sewaktu pulang kerja kantor, di angkot Kalapa-Sukajadi yang sedang berhenti di perempatan Pasteur-Cipaganti, ada salah seorang penumpang yang bertanya,

  • “Ini belok kanan?”
  • Saya, “Nggak, lurus.”
  • Dia, “Lurus sampe mana?”
  • Saya, ” … ” [loading …]
  • Dia, “Borromeus?”
  • Saya, ” … ” [loading …]
  • Dia, “Gasibu?”
  • Saya, ” … errr, nggak. Nanti ke sana … Wastukancana.”
  • Dia, “Oh, Wastu.”

Lampu merahnya lumayan lama, saya sempat berpikir, “Lah, ngapain dia nanya ini angkot belok kanan apa nggak? Kan nggak boleh belok kanan dari sini mah.” Jangan-jangan dia itu maksudnya nanya belok kanan di perempatan selanjutnya yang mana jawabannya seharusnya adalah IYA. Duh, jadi orang kok lemot sih ghuweeeh? Am I being too detailed, or strict? Jadi parno sendiri, jangan-jangan dia mikir “Nih emak-emak eror kali ya? Katanya lurus padahal¬†belok ke Wastu.”

Lampu hijau, angkot melaju. Penumpang tadi nanya lagi,

  • “Nanti lewat BEC nggak?”
  • Saya, “Harus jalan dikit.”
  • Dia, “Tapi lewat BEC kan? Wastu kan?”
  • Saya, “Nggak lewat di depannya, harus jalan lagi sedikit.”
  • Dia, “Oh … “

Lagi-lagi ngerasa DOH, kenapa nggak langsung bilang IYA aja sih? Supir angkot juga kalo ditanya kayak gitu pasti langsung jawab iya. Parno lagi, jangan-jangan dia mikir lagi, “Duh, emak-emak eror!” Lagi-lagi bertanya, am I being too detailed? Or just paranoid?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s