Bukan masalah uangnya sih, tapi …


… itu kan bukan kesalahan saya.

Pekan lalu PNS di kantor saya sedang bersukacita menyambut tibanya Tukinem (bukan nama sebenarnya) yang telah ditunggu-tunggu sekitar enam bulan lamanya. Namun ada beberapa PNS yang sedikit berduka karena ternyata Tukinem belum tiba di rekeningnya padahal katanya pengiriman Tukinem berlangsung serentak. Hal ini ternyata menimpa kelompok PNS yang sama pada episode Tukinem sebelumnya. Apa penyebabnya? Ternyata beberapa nama PNS penerima Tukinem yang tersimpan di daftar yang digunakan sebagai acuan pengiriman Tukinem sedikit berbeda dengan nama PNS yang bersangkutan pada rekening masing-masing.

Bukan. Bukan salah huruf atau spasi, melainkan pencantuman gelar. Ya, pada daftar tercantum, misalnya, “Santi Sulistiani, S.Si” padahal di rekening tercantum tanpa gelar. Entah apa yang terjadi pada proses pengiriman Tukinem ini sehingga sistem menolak untuk mengirimkan Tukinem ke rekening tujuan. Maksud saya, kalau nomor dan nama pemilik rekening sudah cocok walaupun salah satunya tidak mencantumkan gelar pendidikan, pelis atuh lah! Kecuali kalau nama yang bersangkutan termasuk nama yang sangat klasik dan pasaran sekaligus super singkat tanpa nama belakang semacam Asep, Agus, Bambang, Joko, Budi, Andi, Anto, Nana, dan sebangsanya. Ada berapa Santi Sulistiani sih yang terdaftar sebagai nasabah di satu bank dengan nomor rekening yang hampir sama? Bisa saja ada lebih dari satu, maka alasan penghentian proses pengiriman dapat dimaafkan. Gak mau juga kan Tukinem nyasar ke rekening orang lain gara-gara nomer rekening dan namanya mirip?

Lalu masalahnya di mana, Neng? Alhamdulillah, saya tidak termasuk korban penundaan Tukinem akibat perbedaan nama/gelar ini. Beberapa teman sayalah yang mengalaminya, untuk yang kedua kalinya dengan penyebab yang sama. Tampaknya pihak pemegang daftar nama tidak mau repot memperbarui daftar tersebut dengan nama yang sesuai dengan rekening sehingga peristiwa ini berulang menimpa orang-orang yang sama. Yang menjadi masalah adalah ketika para “korban” ini memeriksa jumlah nominal di rekening dan membandingkannya dengan jumlah pada daftar di bagian keuangan, ternyata ada selisih Rp20000,- Dan setelah saya bandingkan jumlah yg saya terima dengan tercantum pada daftar, ternyata ada selisih Rp10000,-

Usut punya usut, Rp10000,- itu adalah biaya pengiriman ke rekening masing-masing. Lalu Tukinem yang kena potong Rp20000,- itu karena dihitung dua kali pengiriman termasuk yang gagal di percobaan pertama akibat ketidaksesuaian nama pada daftar dengan nama pada rekening. Nah, kenapa para “korban” harus membayar biaya pengiriman yang gagal itu padahal kesalahan terletak di … [entah siapa]?

(lanjut ke halaman 2?)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s