Kebiasaan mengejutkan?


Peringatan: Tulisan berikut ini mengandung unsur menjijikkan, terutama jika Anda seorang pria yang belum mengetahui seluk beluk wanita. Saya tidak bertanggung jawab jika Anda merasa ilfil atau sampai muntah ketika membaca tulisan ini atau bermimpi buruk setelah membaca tulisan ini.

Masih keukeuh pengen baca? Terserah. Risiko tanggung sendiri loh yaaa,

Jadi, tadi saya nonton video ini:

Lucu sih bagian baju lunturnya, tapi di bagian akhir cukup bikin saya kaget. Iya, bagian nyuci pembalut wanita di wastafel. Kaget karena baru tau bahwa wanita Indonesia punya kebiasaan mencuci pembalut sebelum membuangnya? Bukan. Saya justru kaget karena ternyata kebiasaan tersebut bikin orang lain kaget.

Sejak kecil, saya sudah diajarkan ibu saya untuk mencuci pembalut sebelum membuangnya. Saya juga sudah mengetahui cara menggunakan pembalut wanita bahkan jauh sebelum saya mendapat haid pertama. Ya, semua itu diajarkan oleh ibu saya. Jadi, ketika saya mendapatkan haid untuk pertama kalinya, saya tidak merasa bingung.

Awalnya saya pikir kebiasaan itu hanya mengejutkan bagi orang asing saja. Tapi setelah saya baca komentar-komentarnya ternyata banyak orang Indonesia yang juga terkejut, baik itu laki-laki maupun perempuan. Karena penasaran, saya cari tahu, sebenarnya pembalut wanita itu sebaiknya dicuci dulu atau langsung dibuang saja tanpa dicuci dulu. Di komentar-komentar video tersebut juga ada beberapa yang mengaku mencuci dulu sebelum membuang pembalut bekas pakai itu. Salah satu alasannya adalah kebersihan. Alasan inilah yang lebih masuk akal, karena saya merasa jijik jika membuang pembalut berdarah begitu saja. Dulu juga saya pernah membaca di salah satu majalah remaja mengenai anjuran mencuci (bahkan disertai tata caranya) dan membuang pembalut untuk menghindari bau yang menarik perhatian anjing/kucing, sehingga mencegah anjing/kucing mengorek sampah berisi pembalut bekas tersebut dan akhirnya terekspos ke dunia luar. Geuleuh kan kalau hal itu sampai terjadi?

Ada alasan lain yang baru saya dengar hari ini,

Kalau pembalutnya gak dicuci dulu, nanti dijilatin setan/kuntilanak/jin. Bisa kerasukan.

Kalau pembalutnya gak dicuci dulu, nanti disalahgunakan orang untuk pelet/santet.

Adeuh, beneran baru tau ada alasan semacam itu. Tapi memang sih, saya ingat pernah menonton sinetron mistis dengan tema seperti itu.

Dulu, pada tahun-tahun pertama mendapatkan haid, saya kadang membuang pembalut bekas pakai langsung ke dalam toilet. Itu saya lakukan karena saya malas mencuci, lama dan menyebalkan. Kenapa menyebalkan? Karena saat itu saya menggunakan produk yang mengandung gel. Semakin disiram untuk mengeluarkan darahnya, pembalut semakin menggembung dan akhirnya pecah dan butiran gel berwarna merah pun tumpah. Rujit! Belakangan baru saya ketahui bahwa cara mencuci pembalut demikian adalah dengan membuka bagian depan/belakang pembalut sehingga segala isi pembalut yang tidak akan menyumbat kloset itu keluar dengan lancar. Sekarang sih saya malas menggunakan produk dengan gel karena merasa jijik melihat butiran-butiran merah itu.

Oya, di video itu ditampilkan adegan mencuci pembalut di wastafel. Tentu saja itu menjijikkan, sodharra! Saya selalu mencuci pembalut di lubang kloset, bagaimanapun caranya yang penting isi pembalut langsung masuk ke lubang kloset.

Anyway, berkat video tadi, saya jadi tahu sejarah pembalut wanita dari hasil pencarian di internet. Tapi saya masih penasaran, bagaimana bisa wanita jaman dulu bertahan tanpa adanya pembalut seperti saat sekarang? Saya pernah mendengar cerita ibu saya bahwa wanita jaman dulu menggunakan handuk yang dipotong-potong untuk digunakan sebagai pembalut wanita di kala haid, tapi saya masih belum bisa percaya karena belum pernah mencobanya sendiri. Dari hasil pencarian, saya juga menemukan bahwa pada jaman Rasulullah pun tidak disebutkan anjuran untuk mencuci pembalut bekas darah haid. Tapi pada hasil pencarian yang lain dianjurkan untuk mencuci dengan alasan kebersihan tadi.

Pernah beberapa waktu saya terpaksa membuang pembalut tanpa mencucinya dulu. Waktu itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari Padang. Supir travel dari tempat saya menginap sampai bandara mengendara mobil dengan ugal-ugalan sekali sementara saya saat itu sedang haid hari pertama. Tiba di bandara, saya langsung menuju toilet untuk mengganti pembalut. Ternyata toiletnya agak kurang kondusif, akhirnya saya buang saja ke tempat pembuangan khusus tanpa dicuci. Kejadian serupa masih berlokasi di bandara. Saat itu saya sedang haid hari-hari awal dan sedang dalam perjalanan menuju Biak. Saya kuatir tertinggal pesawat sehingga saya buru-buru membuang pembalut di tempat khusus di toilet bandara. Ketika saya hendak memasukkan pembalut bekas itu, saya melihat pembalut lain yang menempel di bagian dalam penutupnya. Ilfil.

Saya sih sepertinya akan melanjutkan kebiasaan mencuci pembalut sebelum membuangnya karena saya tau rasanya melihat pembalut bekas orang lain yang dibuang tanpa dicuci dulu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s