Perjalanan dinas kali ini


Kamis, 13 Nov 2014

Jadwal pesawat maskapai singa lepas landas pukul 10:30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada penundaan, Alhamdulillah tiba di Padang tepat waktu, sekitar pukul 12:25. Nunggu bagasi lumayan lama, sambil nahan pipis karena takut terlewat. Padahal kan kalaupun tas saya tidak langsung diambil, nanti juga balik lagi muncul di conveyor-belt. Pegawai guest house sudah siap menjemput kami dengan mobil keren :p Ford Everest yang memang cocok dengan medan menuju Loka Kototabang. Kami mampir dulu di RM Lamun Ombak untuk makan siang. Saya memilih menu ati sapi, sayuran, dan udang balado. Saya foto udangnya demi pamer ke si Asep.

2014-11-13 13.44.54

Oya, di restoran padang juga ternyata ada sejenis karedok tapi isinya kol, mi, selada, kerupuk, emping.

Kami tiba di guest house sekitar pukul 5 sore. Capek, dari pagi belum bisa tidur enak gara-gara di pesawat duduk sebelahan kaprog, jaim. Nggak enaknya lagi, kursi di pesawat nggak bisa diubah sandarannya karena posisi saya tepat di depan jendela darurat.

Malamnya kami makan di restoran ayam penyet yang ada di halaman sebuah hotel dan menyajikan berbagai menu penyet: ayam, iga, tempe. Selain itu ada juga menu sop dan timbel. Saya memilih menu sop ayam kampung dan jeruk hangat. Ada cah kangkung juga tapi saya cuma sanggup makan sedikit karena pedas sekali. Saya baru tahu juga ternyata tempe penyet itu adalah tempe yang dihancurkan dan dicampur bumbu, mirip tutug tempe tapi tidak terlalu hancur.

Malam itu rencananya kami akan menguji peralatan pengamatan tapi ternyata langitnya tak kunjung cerah hingga pagi, gerimis tak henti-henti. Mulai pukul 1 pagi sampai subuh, saya bangun berkali-kali demi menanti langit cerah. Alhasil, ngantuk gak habis-habis.

Jumat, 14 Nov 2014

Hari ulang tahun anak saya. Ah, tiba-tiba kangen ingin memeluk si kecil mungil.

Pilihan menu sarapan pagi: lontong sayur (nangka) dan pical (a.k.a. pecel atau karedok a la padang). Saya pilih lontong sayur dan ternyata PEDAS. Tenggorokan saya mulai tidak nyaman dengan makanan yang seringnya kaya akan santan, minyak, dan cabe.

Pukul 9 pagi kami bertolak ke Loka dan mulai memasang teleskop.

Sayang sekali tidak bisa mencoba pengamatan menggunakan Coronado H-alpha karena tidak ada dudukan untuk menyambungkannya ke mounting Ioptron. Cuaca pun kurang kondusif, hanya berhasil mengambil beberapa foto matahari berhiaskan awan.

Menu makan siang: ayam goreng penyet dengan lalapan kol dan mentimun. Nasinya gede banget, saya berbagi dengan “Munaroh”.

Kami baru kembali ke guest house pukul 5 sore. Ngantuknyaaaa, padahal kerjanya sedikit. Mungkin capek nunggu langit cerah dan efek tidur yang kurang berkualitas. Malamnya makan masakan padang lagi, saya pilih ayam bumbu kuning (kaya santan dan minyak) dan jeruk hangat. Tadinya mau foto-foto di Jam Gadang sebelum kembali ke guest house tapi ternyata di sana gelap. Kami lanjut ke penjual durian, cuma ada satu penjual katanya di situ. Kami makan durian yang duri di kulitnya tidak tajam seperti kulit durian yang sering saya lihat. Salah satu dari kami malah mengira bahwa durinya sudah dipapas supaya tidak tajam (ngapain juga coba repot-repot nyukurin durian?). Satu kepala dihargai 70000 rupiah. Mahal tapi enak, apalagi kalau gretong, haha … Daging duriannya tebal, bijinya kecil. Kenyang, apalagi karena kami baru saja makan malam. Belakangan saya tahu kalau durian berduri tumpul itu namanya Durian Kamang (Tapi waktu saya browsing gambarnya, durinya tajam. Jangan-jangan salah info nih). Tidur malam lumayan sedikit gangguannya tapi kok tetep ngerasa ngantuk ya …

Sabtu, 15 Nov 2014

Ke Loka lebih pagi dengan harapan langit cerah sehingga urusan bisa cepat selesai. Berhasil merekam matahari menggunakan kamera Imaging Source dan ASI, nggak full-disk. Lagi-lagi menyayangkan Coronado yang belum bisa dipasang di mounting. Rasanya ingin membawa teleskop itu ke Bandung, padahal sudah punya H-alpha yang lebih besar :p Kami meninggalkan Loka sekitar pukul 11:30. Cari makan siang karena melewatkan sarapan pagi. Sempat makan roti dan cemilan sih tapi ya bukan sarapan namanya, hihi …

Tibalah kami di Itiak Lado Mudo (kalau nggak salah sih namanya itu, hehe …), disuguhi itik (a.k.a. bebek) dan ayam berlumuran sambal hijau. PEDAS, sodhara! Katanya menu ini sangat terkenal dan enak sampai orang kantor banyak yang pesan untuk dibawa ke Bandung. Di restoran ini juga ada aksi jual dedet air minum kemasan botol 600 ml (tidak ada minuman gratis semacam air bening/teh). Kalau dihitung-hitung, tiap orang kira-kira menghabiskan 50000 rupiah untuk nasi, bebek/ayam sambal hijau, acar mentimun (enak loh acarnya!), dan air minum yang dijual dedet tadi. Kata kaprog saya sih, ini mah di Bandung juga banyak yang murah. Cuma emang sih katanya sambelnya yang bikin enak, yang mana bagi saya tidaklah berpengaruh karena saya tidak suka makanan yang terlalu pedas. Ditambah lagi gigi saya yang langsung sakit karena my itiak is liat [baca: kebagian bebek yang alot]. Karena terkenal, restoran ini menyediakan layanan take away yang sudah dibekukan. Tapi sayang, nggak boleh kalau cuma mau beli satu potong. Minimal setengah ekor (2 potong) seharga 75000 rupiah.

Setelah berpedas-pedas ria, kami sempat melewati tempat wisata lobang jepang. Nggak mampir karena beberapa dari kami tidak tertarik. Perjalanan dilanjutkan ke Jam Gadang.

2014-11-15 12.35.55

Foto-foto sebentar, dipalak uda-uda berkostum Angry Bird yang ikutan nimbrung di sesi foto, belanja kerudung, mukena, baju koko di pasar atas dan sekitarnya, lanjut ke toko oleh-oleh “Ananda”. Ada sanjai Christine Hakim dan macam-macam cemilan khas Bukittinggi. Kembali ke guest house menjelang Ashar, tidur sampai Maghrib. Kayaknya nggak pernah cukup tidur ya di sana tuh :p

Tujuan makan malam: cafe sesuatu (lupa namanya). Jual nasi goreng, mi goreng, mi rebus, martabak mi, spageti, sop buah, salad buah, jus, dll. Kabid saya agak kurang semangat makan karena ternyata menu nasi+mi goreng pilihannya banyak sekali. Tadinya beliau mengira menunya seperti nasi mawut tapi ternyata nasi dan minya tidak dicampur. Saya memilih menu martabak mi –yang kalau di rumah disebutnya tamblag emih :p– dan jus nasir (buah naga + sirsak) tanpa es. Kembali ke mess untuk berkemas dan tidur sebisanya (istilah apa pula itu, tidur sebisanya? Pokoknya gitu deh …).

Minggu, 16 Nov 2014

Jadwal pesawat singa lepas landas pukul 10:35. Kami sudah berangkat dari guest house pukul 05:30. Ternyata langitnya cerah. Pukul 07:30 sudah tiba di warung pical dan lontong sayur. Huwedhyannn itu makanan, PEDAS banget! Munaroh nggak sanggup ngabisin picalnya karena terlalu pedas. Ternyata picalnya ada daun hijaunya (entah apa) dan toge, udah direbus. Kolnya sih tetep mentah. Jadi entah nih termasuk karedok atau lotek. Nya pical we ateuh :p Lontong sayurnya juga katanya pedas tapi enak, sayurnya: gulai pakis. Kami sudah tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 08:15. Wew, kepagian! Kapus sempat belanja roti randang dan bolu gulung durian, kalau tidak salah harganya masing-masing 63000 dan 57000 rupiah. Munaroh dan Teh Ni beli teh kotak seharga 10000 rupiah (haha, mahal nian! Lagian kok belanja gituan di bandara? Kaget kan jadinya). Daripada bengong, mending jeprat-jepret nggak jelas pake hape:

Kami baru masuk pesawat sekitar pukul 10:10. Ternyata delay sebentar. Baru lepas landas sekitar pukul 10:40. Baru nyadar bahwa ternyata pramugari maskapai singa mengenakan rok panjang tapi belahannya tinggi sekali sampai setengah paha, hoho …

Mendarat di Cengkareng sekitar pukul 12:30, nunggu bagasi lama banget padahal udah pada ngabisin waktu dulu (nungguin anggota rombongan lain yang) ngantre toilet. Baru bisa keluar bandara pukul 1 siang. Lapaaaaaar sodharra! Kami singgah di KM19 untuk makan siang. Saya memilih menu nasi timbel komplit dan jeruk hangat. Munaroh lahap banget makan soto lamongan, mungkin karena balas dendam tadi pagi sarapannya super pedas. Pada dasarnya semua makan dengan lahap bak belum makan selama tiga hari :p

Di kantin KM19 itu ada pelayannya yang (gerak-geriknya) mirip Olga. Nggak cuma satu, sampe Teh Ni bertanya-tanya, “Jangan-jangan bekas itu ya mereka?” Entah bekas apa maksudnya, hehe … Malah salah satu pelanggan ada yang bilang langsung ke si mas-mas pelayan yang (gerak-gerik dan) badannya mirip Olga, “Mas, mirip Olga.” Trus waktu mereka mau pergi, pamitan, “Dadah, Olgaaaa!”

Tiba di Bandung disambut hujan deras, mendarat di kantor sekitar pukul 16:25. Masih hujan dan saya nyari-nyari kresek besar untuk membungkus koper. Sambil nunggu jemputan ‘ojek cinta’, main-main di dark playground dulu. Suami menjemput sekitar pukul 17:25, sudah siap dengan helm, jas hujan, pembungkus ransel, dan kresek besar untuk koper saya. Tapi alhamdulillah, hujannya berhenti sebelum saya naik ke motor.

Mampir dulu ke Martabak Juragan dekat rumah dan tiba di rumah dengan selamat. Anak saya sedang tidur dan ketika bangun tampaknya bete melihat ibunya yang baru pulang setelah sekian lama menghilang. Hiks! Untungnya pundungnya nggak lama, hehe …

Sekian laporan perjalanan kali ini 🙂

 

Advertisements

2 thoughts on “Perjalanan dinas kali ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s