Berbarislah dengan benar!


Ada satu hal yang selalu menggelitik hati nurani saya dan membuat saya ingin berteriak “Pelis atuh lah!” setiap kali tiba waktunya untuk mengikuti upacara bendera di kantor. Apakah itu?

Ada deh, moal beja-beja bisi comel :p

Dulu, waktu saya baru masuk kerja, setiap tanggal 17 selalu diadakan upacara bendera di kantor. Nggak lama-lama sih, paling juga cuma 15-20 menit. Eh, itu lama apa sebentar ya? Hehe … Sejak 2013, upacaranya cuma pas hari nasional aja, seperti 20 Mei, 28 Oktober, 10 November. Durasinya lebih lama daripada upacara bulanan.

Yang namanya upacara, pasti ada acara baris-berbaris kan ya. Kalau di kantor, barisan karyawan laki-laki tidak digabung dengan barisan karyawan perempuan. Pasukan perempuan di sebelah kanan, laki-laki di kiri. Tiap pasukan ada pemimpin pasukannya yang setiap sebelum upacara dimulai, menyiapkan barisan dengan aba-aba semacam “Siap grak!”, “Setengah lengan lencang kanan grak!”, “Istirahat di tempat grak!”, atau “Dua langkah ke kiri/kanan grak!”

Karena jumlah karyawan laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan, jumlah saf barisan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pasukan laki-laki terdiri dari 4 saf, sedangkan perempuan hanya 3. Berdasarkan ilmu baris-berbaris yang pernah saya pelajari ketika masih di bangku sekolah, biasanya jika ada anggota yang baru masuk ke barisan, dia mengambil posisi paling kiri/belakang. There is a reason why there are terms like “Lencang kanan” and “Lencang depan”. Ada yang tahu? Yap, karena posisi kanan-depan adalah poros yang tidak boleh berubah posisinya. Jadi kalau mau bikin barisan baru ya di belakang/kiri.

Perintah “lencang kanan” itu kalau barisannya berupa saf (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang), perintah “lencang depan” kalau barisannya berupa banjar (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang). Dua perintah itu efeknya sama saja, orang paling depan lencang kanan, orang paling kanan lencang depan, orang paling kanan-depan berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan.

Wait, kenapa saya jadi njelasin hal yang nggak nyangkut maksud dan tujuan tulisan saya? Hehe … maap.

Nah, kalau barisannya berupa saf, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling kiri. Kalau barisannya berupa banjar, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling belakang. Zaman sekolah dulu sih biasanya barisnya 3-saf×n-banjar atau n-saf×3-banjar dengan n bebas, tapi kira-kira beginilah yang ada di pikiran saya kalau barisannya misalnya 4×7 (4 saf, 7 banjar –atas) atau 7×4 (7 saf, 4 banjar –bawah) dan ada orang yang mau masuk/keluar barisan:

Orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Tapi yang terjadi di kantor khusus untuk barisan perempuan adalah sebagai berikut:

 Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Yang bikin sakit hati adalah ketika saya sendiri yang menjadi orang yang mau masuk barisan itu karena datang terlambat (walaupun upacaranya belum dimulai). Bulatan hijau adalah barisan laki-laki, bulatan biru adalah barisan perempuan, bulatan merah adalah saya.

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya? !!: Sana ke kiri! Ngerusak barisan aja! Pelis atuh lah!

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya?
!!: Sana ke kanan! Ngerusak barisan aja!
-Pelis atuh lah!-

Pelis! Saya ngerusak barisan?

Tapi saya tak sampai hati untuk menyampaikan segala teori baris-berbaris kepada ibu itu, kalo kata doktor kamseupay mah “not worthed!” Saya langsung meluncur ke posisi yang seharusnya menjadi poros barisan, whatever! Saya langsung berandai-andai bahwa semua karyawan di kantor diwajibkan untuk mengikuti pelatihan baris-berbaris dengan anggota TNI sebagai pelatihnya. Ketika saya diklat prajabatan, ada materi baris-berbaris sih, mungkin PNS yang masuk lebih dulu daripada saya sudah melupakan materi tersebut sehingga tega menghardik saya sebagai perusak barisan.

So please, pellliiiis!

Advertisements

4 thoughts on “Berbarislah dengan benar!

    • haha, dasar pria lancang!
      klo yg niat banget mah barisannya lurus bgt. tp jdnya sy bikin sesuai kenyataan (gak lurus). aduh, pake dijelasin pula :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s