Kunjungan kedua ke dokter gigi


Yap, saya baru dua kali saja menemui dokter gigi untuk memeriksakan kesehatan gigi selama saya hidup. Waktu masih kecil suka ngintilin si Mamah sih ke dokter gigi tapi belum pernah benar-benar diperiksa gigi.

Kunjungan pertama saya ke dokter gigi sebagai orang dewasa adalah seperti yang saya ceritakan di “Penyakit misterius“. Pada saat itu saya merasa sangat tertipu karena ujug-ujug dirampok 300 ribu setelah dilukai dalam waktu sekian menit. Oke, lebay.

Kunjungan kedua ini saya lakukan dengan sangat hati-hati. Jadi, alasan utama saya memutuskan untuk menemui dokter gigi adalah “penemuan” lubang yang cukup signifikan di gigi geraham kiri-atas paling belakang. Saya cukup terguncang dengan penemuan tersebut karena saya merasa sudah sangat rajin menggosok gigi dan tidak mencurigai adanya kelainan di gigi belakang itu. Penemuan itu berawal dari kegiatan saya mengudap kacang arab. Saya pikir ada kacang yang nyelip di gigi paling belakang tapi begitu saya coba singkirkan “kacang yang terselip” itu, susah sekali. Sampai kemudian saya sadari bahwa itu adalah lubang gigi. Hiks!

Saya temui dokter gigi di klinik terdekat Rabu lalu (31/12/2014), dokternya cantik ūüėÄ

Saat dokter mulai memeriksa, dia menanyakan “Yang bolong gigi bawah atau atas, Bu?”

“Atas, Dok.”

“Tapi ini yang bawah juga banyak bolongnya.”

Duniaku runtuh …¬†“Masak??”

Dan ternyata gigi gerahamku sebagian besar berlubang dengan rekor terparah memang si lubang yang baru saya temukan itu. Katanya, pada umumnya gigi geraham dewasa hanya tumbuh sampai dua buah tiap sisi. Tapi gigi saya tumbuh sempurna sampai masing-masing tiga buah. Good news? Not really.

“Tapi gigi ketiga ini biasanya sulit terjangkau sikat gigi sehingga mudah rusak. Terutama gigi atas, solusinya hanya dicabut, tidak bisa ditambal.”

Ngékk!

Katanya alat bornya sulit menjangkau sampai ke belakang sekali sehingga sulit untuk membersihkan si lubang untuk¬†ditambal. “Kalaupun dipaksakan ditambal, kuatir kurang bersih. Nantinya sakit lagi, lebih merepotkan.”

Saya pernah beberapa kali merasakan ngilu sesaat di gigi kiri belakang, tapi saya kira hanya karena gigi sensitif saja. Makanya kaget betul ketika menyadari bahwa itu akibat gigi berlubang. I was cursing myself.

Dokter sempat mencoba memasukkan bor ke posisi gigi belakang itu, “Nah, segini, Bu, kira-kira. Pegal nggak, Bu?” Saya yang masih belum rela dicabut gigi sok kuat, “Nggak, Dok.”

Tapi kemudian dokter menyarankan saya untuk menambal gigi-gigi lain yang lebih mudah dijangkau. Dan sayapun setuju menambal tiga geraham kanan bawah setelah mengetahui perkiraan biayanya dan mengira-ngira isi dompet. “Satu gigi berkisar antara 125-150 ribu, tergantung besar lubangnya. Kalau yang parah sekali bisa sampai 200 ribu.” Gusti, nggak kapok ya dirampok dokter gigi? Karena masih kanyenyerian dokter gigi sebelumnya, saya iseng menanyakan biaya scaling ketika dokter mempersiapkan prosedur penambalan gigi. “Atas-bawah 250 ribu.” Masih lebih murah di situ, sodharra! Bener-bener ditipu deh saya!

Dokter menjelaskan bahwa proses penambalan menggunakan what-so-called “Light Curing”, dengan dua tahap pelapisan. Lapisan pertama untuk meredam rasa ngilu (yang mana sangat jarang saya rasakan sehingga tidak menyadari banyaknya lubang di gigi), lapisan kedua adalah tambalan utamanya. Setelah mangap cukup lama, dokter menyuruh saya merasakan apakah terasa ada ganjalan pada tambalan. Rahang saya terasa melayang, sulit menentukan ada ganjalan atau tidak. Dokter menyuruh saya menggigit-gigit dan mengunyah-ngunyah secarik kertas khusus berwarna ungu. Finishing touch and voila! Gigi saya terlihat aneh dengan tambalannya, but I like it, hehe …

Dokter menyarankan saya melakukan rontgen gigi jika benar-benar mantap untuk mencabut gigi belakang, “Untuk melihat giginya tumbuh normal atau miring. Kalau normal bisa saya cabut, kalau miring nanti saya rujuk ke dokter bedah.” Ngeri! “Kira-kira berapa biayanya tuh foto gigi?”

“Seratus sekian lah, nggak nyampe 200 ribu.”

Duh, rasakan deh akibatnya malas periksa gigi rutin!

Dokter sempat memberikan tips perawatan gigi sejak dini (karena sempat melihat saya membawa anak –yang kemudian nangis kejer waktu disuruh minggir dikit karena menghalangi dokter yang hendak memeriksa gigi saya). Katanya gigi anak itu biasanya yang rusak pertama kali adalah gigi depan-atas, lalu merembet ke belakang-atas, lalu belakang-bawah, dan akhirnya ke depan-bawah. Kenapa? Karena gigi yang paling tidak terlindungi pada saat proses meminum¬†air susu (baik itu susu ibu maupun susu formula) adalah gigi depan atas. Gigi depan-bawah terlindungi oleh lidah. Solusinya adalah menggosok gigi anak setiap kali selesai menyusu, bisa menggunakan kain kasa atau kain biasa yang bersih dan terlebih dahulu dicelupkan pada air matang hangat. Sulit memang, karena bayi biasanya langsung tertidur setelah menyusu. Alhasil, gigi anak saya sudah rog√©s di bagian depan-atas mulai usia (saat saya menyadarinya) 1 tahun. Walaupun sepertinya sudah terlambat, saya sebisa mungkin memaksa anak saya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Padahal setelah gosok gigi itu, dia masih minum susu dulu menjelang tidur, hehe …

Eniwei, tambalan gigi itu ternyata sudah mulai copot hari Minggu lalu (04/01/2015). Ada garansi nggak ya? Kakak saya sempat menyesalkan, kenapa saya rela membayar mahal padahal punya fasilitas BPJS? Saat itu saya pikir hanya akan menambal satu gigi saja, repot lah kalau harus ngantre di dokter umum untuk meminta rujukan dan antre lagi di rumah sakit. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lain kali saya rela-relain deh ngantre demi gretongan :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s