Catatan hati seorang penumpang (yang pernah) setia angkot


Wahai para supir angkot, saya tahu tidak semua supir angkot kelakuannya sama. Tidak semua supir angkot sukanya:

  • Ngetem lama-lama, sehingga membuat penumpangnya terlambat tiba di tempat tujuan
  • Ngerokok di angkot, sehingga memaksa penumpangnya menjadi perokok pasif dan bahkan berpenyakit paru-paru atau kanker
  • Pasang tarif suka-suka, sehingga penumpang membayar dengan tidak ikhlas dan menggerutu bahkan mendoakan yang tidak baik
  • Ngomong kasar, sehingga penumpang ikut tersulut emosinya
  • Menyetir ugal-ugalan, sehingga penumpang dan pengguna jalan lainnya merasa jengkel

Tapi apa daya, saya kok seringnya ketemu sama supir yang seperti itu.

Saya paham sekali penyebab utama angkot sering ngetem lama-lama, pasang tarif suka-suka, mengebut, adalah kejar setoran. Apa lagi coba kalau bukan karena itu? Tapi marilah kita runut ke belakang. Kenapa angkot ngetem? Karena ingin angkotnya penuh dengan penumpang. Kalau penumpang banyak, setoran pun banyak. Tapi kalau dipikir lagi, penumpang tuh paling sebal sama kegiatan yang namanya ngetem. Kalau penumpangnya bebal macam saya, disabar-sabarin aja, ditungguin itu angkot mau ngetem berapa lamapun. Karena apa? Karena perjalananku panjang banget, Mang! Mau jalan kaki ya gempor, mau naik taksi ya mahal. Mang Supir sendiri yang suka bilang, “Kalau pengen cepet, naik taksi sana!” lama-lama penumpang beralih ke moda transportasi yang lain. Ada yang mulai mengkredit motor, ada yang nebeng teman, ada yang tetap naik angkot tapi stress setiap hari. “Gilaaaaa! Mau jam berapa juga dari rumah, kalo naik angkot itu nyampenya tetep aja telaaat!” Yang saya gak habis pikir juga, kadang ada supir yang suka emosi waktu penumpangnya membayar ongkos kurang dari tarif suka-suka si supir, sampai membuang/melempar uang si penumpang itu ke jalan. Udah mah setoran kurang, itu duit dibuang-buang. Logikanya di mana?

Nah, sekarang, sudah ada yang namanya ojek online, taksi online, apa-apa online (eh, kurang nyambung). Para penumpang angkot sekarang kadang lebih memilih untuk menggunakan jasa ojek/taksi online karena waktu tempuh yang lebih singkat, lebih nyaman, dan harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan pengorbanan waktu dan mental yang harus dialami jika menggunakan angkot. Saya bilang ‘kadang’ karena tak selamanya taksi dan ojek online itu memenuhi kebutuhan penumpang, misalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh ya boleh lah pakai angkot, 3000 rupiah saja. Daripada pesan ojek/taksi online, pesannya berapa menit, nunggunya berapa menit, belum lagi kalau pengemudinya nggak hapal jalan ke tempat penjemputan, bayarnyapun jarang 3000 rupiah, kecuali kalau ada promo yang bisa sampai gratis. Tapi ya mosok jarak dekat aja harus nunggu angkotnya ngetem?

Satu lagi, kalau mau tiap hari naik ojek/taksi online, lama-lama bangkrut juga. Promo sudah habis terpakai, ongkos ojek/taksi online jelas lebih mahal. Untuk saya pribadi yang setiap hari pasti bolak-balik rumah-kantor, inginnya sih naik ojek online, apa daya suami tak mengizinkan, inginnya naik taksi online, tiap hari mah bisa bangkrut. FYI, saya dari rumah ke kantor naik angkot hanya menghabiskan uang 8500-10000 rupiah, pulangnya 10000-11000 rupiah. Rata-rata 20000 rupiah per hari, tergantung mood supir (IYKWIM). Kalau naik ojek online, saya tidak tahu, kata teman-teman yang rumahnya searah sih bisa 30-40 ribu rupiah per hari, ini tergantung banyaknya permintaan (makin banyak yang pesan, makin mahal tarifnya). Taksi online? Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata 80000 per hari. Kalau tiap hari bisa barengan berempat sih ya mending naik taksi online aja, tapi yaaaa barengan siapa atuh?

Cuma satu harapan saya kepada para supir angkot: Hilangkan kebiasaan ngetem. Terserah deh Mang Supir mau ngerokok kek, ngomong kasar kek, kebut-kebutan kek. Kalau angkotnya nggak pake ngetem kan saya gak usah lama-lama mengalami penyiksaan itu.

Tapi kan, tapi kan, gimana bisa kejar setoran kalau nggak ngetem?

Gini loh, Mang Supir. Dulu aja penumpang pada berpaling dari angkot itu kenapa, karena Mang Supir suka pada ngetem lama-lama kan? Dan prosesnya itu tidak berjalan cepat. Mereka satu per satu meninggalkan jasa angkot, satu, satu, pelan, pelan, lama-lama ngetemnya tambah lama, penumpang makin kabur. Nah, coba deh semua supir angkot kompakan nggak pada ngetem. Berhentilah seperlunya, in syaa Allah penumpang pada balik naik angkot lagi. Tapi harus diingat juga, prosesnya nggak bakalan sekejap “tring!” begitu. Satu, satu, pelan, pelan, lama-lama angkotnya penuh terus deh tuh. Yang pada punya motor/mobil juga naik angkot karena naik motor/mobil bolak-balik jarak jauh tuh capek loh. Mending naik angkot, bisa liat-liat pemandangan, gak takut telat, nyaman, jalanan tidak terlalu penuh, lalalalala… Itu hanya harapan saya loh, Mang.

Setiap saya mengalami pengeteman semena-mena dari Mang Supir, saya selalu ngebatin “Pantes aja orang-orang pada naik moda transportasi online. Mikir atuh, Mang, jangan cuma bisanya demo-demo aja!” Terus terang, saya masih ingin setia sama angkot. Tapi kalau naik angkot selalu bikin saya stress, mungkin sudah saatnya saya nyari tebengan abadi belajar bawa motor sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s