Bagaikan dikejar-kejar hantu…


… padahal belum pernah juga sih dikejar-kejar hantu. Atau mungkin pernah ngeliat hantu tapi nggak nyadar bahwa itu hantu sehingga nggak lari. Anyway…

Syahdan, kantor saya menerapkan sebuah peraturan yang lumayan mengerikan layaknya hantu (padahal nggak tahu juga sih hantu itu memang ada dan mengerikan atau tidak. Sudahlah, nggak perlu dijelasin kali yaa). Peraturannya terkait dengan jam kerja dan tunjangan kinerja. Penjelasan mengenai tunjangan kinerja silakan dicari sendiri ya. Peraturan jam kerja… bisa ditanya ke Kemenpan. Lah, trus saya mau cerita apa di sini? Peraturan jam kerja yang sudah saya ketahui sejak pertama kali bekerja di kantor saya ini adalah lima hari kerja (Senin-Jumat) dengan durasi 7,5 jam per hari (pukul 07.30-16.00 WIB, dikurangi istirahat selama satu jam). Peraturan jam kerja ini di kantor saya sempat beberapa kali mengalami penyesuaian. Contohnya ketika saya masih menjadi karyawan baru pada tahun 2005, jika datang terlambat x menit (misalnya pukul 07.45 WIB) maka wajib mengundur waktu kepulangan selama x menit itu (menjadi pukul 16.15 WIB). Saat itu belum ada konsekuensi yang nyata semacam pemotongan gaji per menit keterlambatan atau semacamnya, tapi saya masih berusaha untuk mengikuti peraturan tersebut. Dulu sempat ada pemotongan honor penelitian berdasarkan akumulasi kekurangan durasi kehadiran selama satu bulan (waktu itu dihitungnya 4 pekan @37,5 jam) tapi tidak bertahan lama.

Fast forward, peraturan terbaru ada PP 53 mengenai akumulasi kekurangan durasi kehadiran dengan sanksi surat peringatan (1-5 hari kerja) hingga pemberhentian sebagai PNS dengan tidak hormat (46 hari kerja). Akumulasi ini berlaku dalam satu tahun. Jadi, kalau akumulasi ketidakhadiran selama tahun 2017 adalah 3 hari, tahun 2018 hitungannya dimulai dari nol lagi. Peraturan lain adalah mengenai pemotongan tunjangan kinerja seperti yang telah saya sebut di atas. Di kantor saya diterapkan 5 hari kerja dengan jam kerja 07.30-16.00 WIB (aturan dari dulu, tapi ada tambahannya…), dengan toleransi kehadiran antara 07.00-17.00 WIB. Jadi, kalau datang pukul 06.30 WIB, kehadiran dihitung dari pukul 07.00 WIB dan boleh pulang pukul 15.30 WIB. Duluuu sekali, waktu toleransi terpagi adalah pukul 06.00 WIB karena katanya ada beberapa karyawan yang “bersiasat” datang subuh hanya untuk mengabsen pagi, pulang ke rumah lalu kembali ke kantor agak siang tanpa mengabsen agar dapat mengabsen pulang jauh lebih awal. Begitu pula dengan waktu toleransi paling sore pernah ditetapkan pukul 18.00 WIB gara-gara siasat serupa.

Back to the present… selain batas terpagi kedatangan dan batas tersore kepulangan, diterapkan juga batas tersiang kedatangan (08.30 WIB) dan batas tersiang kepulangan (15.30). Jadi:

  • Jika datang sebelum pukul 07.30 WIB maka berhak pulang sebelum pukul 16.00 WIB.
  • Jika datang setelah pukul 07.30 WIB tetapi pulang pukul 16.00 WIB maka akan tercatat sebagai “Telat Masuk” (TM). Untuk menghilangkan TM ini, pulanglah setelah 16.00 WIB dengan mengganti waktu keterlambatan.
  • Datang setelah pukul 08.30 WIB akan tercatat sebagai TM, hanya bisa mengganti kehadiran hingga pukul 17.00 WIB. Jika datang setelah pukul 08.30 WIB dan pulang sebelum 17.00 WIB walaupun sudah lebih dari pukul 16.00 WIB maka akan tercatat TM dan “Cepat Pulang” (CP). Dan jangan lupa, setiap menit akan diakumulasikan berdasarkan PP 53.
  • Jika datang pukul 07.00 WIB tetapi pulang sebelum pukul 15.30 WIB maka akan tercatat CP.
  • Lupa merekam data kedatangan dan/atau kepulangan dianggap alpa (potongan tunjangan kinerja 5%).
  • Untuk amannya, datanglah antara pukul 07.00-08.30 WIB, pulanglah antara pukul 15.30-17.00 WIB dengan memperhatikan durasi kehadiran di kantor (8,5 jam sudah termasuk jam istirahat). Dan jangan lupa untuk merekam data kedatangan dan kepulangan di mesin absen.

Sudah mulai pusing? Itu belum seberapa… Konsekuensi dari kekurangan durasi kehadiran adalah pemotongan tunjangan kinerja. TM dan CP sebelum tahun 2018 dikenai pemotongan tunjangan kinerja masing-masing 1%. Pemotongan ini dihitung per hari selama satu bulan, bukan akumulasi per menit selama satu bulan. Nah, tahun 2018 ini kalau tidak salah mulai 26 Januari 2018 diberlakukan peraturan baru yaitu potongan masing-masing 1,5% untuk TM dan CP. Jadi, kalau tanggal 19 Januari 2018 kena TM dan CP lalu tanggal 30 Januari kena TM saja atau CP saja maka potongan tunjangan kinerja Januari adalah sebesar 3,5%. Per 26 Januari 2018 itu juga ada aturan tambahan mengenai durasi istirahat untuk mengantisipasi karyawan yang keasyikan keluar kantor pas jam istirahat atau karyawan yang absen kendang (cuma absen datang dan pulang tapi di antara waktu datang dan pulang itu dia menghilang entah ke mana). Aturannya seperti apa? Mari kita simak.

Waktu istirahat yang diperbolehkan adalah antara pukul 11.30-13.30 WIB dengan durasi maksimum 1 jam. Durasi di atas 1 jam akan dikenai potongan tunjangan kinerja sebesar 2%. Sehingga di kantor saya ada 2 mesin absen. Mesin 1 (di lobi) digunakan untuk datang dan pulang sedangkan mesin 2 (di ruang satpam) untuk waktu istirahat. Jadi:

  • Keluar istirahat sebelum 11.30 WIB atau setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasinya kurang dari 1 jam. Hal ini tidak berlaku jika keluar dengan surat izin yang ditandatangani atasan langsung dan diserahkan kepada satpam, tetapi durasi tetap tidak boleh melebihi 1 jam. Izin keluar kantor ini mengurangi jatah istirahat pada waktunya.
  • Keluar istirahat antara pukul 11.30-13.30 WIB tetapi kembali setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasi kurang dari 1 jam.
  • Kelebihan durasi istirahat tidak dapat diganti dengan mengundur waktu kepulangan.
  • Jika lupa merekam data ketika keluar istirahat dan/atau kembali setelah istirahat maka tunjangan kinerja dipotong 2%. Jangan khawatir, ada petugas khusus yang akan mencatat siapa saja yang keluar-masuk kantor pada saat jam kerja tanpa menyerahkan surat izin atau merekam data di mesin absen 2.

Lalu ada satu lagi peraturan paripurna yang merangkum semuanya, yaitu kehadiran di kantor kurang dari 6 jam akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja total (5%) dan dianggap alpa alias tidak hadir, walaupun karyawan tersebut sudah bekerja jauh lebih keras dibandingkan karyawan lain selama durasi kehadirannya. Tunjangan kinerja dipotong, akumulasi ketidakhadiran PP 53 pun bertambah. Dahsyat bukan?

Jadi, kalau kira-kiranya bakal telat nyampe kantor trus nggak bisa pulang terlalu sore atau ada hal yang harus diurus ketika jam kerja (walaupun hanya memakan waktu 1,5 jam), lebih baik mengorbankan jatah cuti tahunan. Karena cuti tahunan tidak akan mengakibatkan pemotongan tunjangan kinerja.

Apa dampak dari peraturan yang dahsyat itu? Bagi saya, si emak-emak rempong yang nggak bisa dateng tepat waktu:

  • Datang ke kantor semacam dikejar-kejar hantu.
  • Keluar istirahat semacam dikejar-kejar hantu satu kampung. Mau makan di BTC aja stress, mau mampir belanja di Griya aja stress. MAU KE ATM aja rusuh. Apalagi kalau harus mengurus sesuatu di bank. Gustiii…
  • Kondisi tubuh sepulang kerja seperti habis digebukin hantu karena jalanan macet dan baru bisa nyampe rumah hampir Magrib.

Sejak ada peraturan itu, saya menyiasatinya dengan membawa bekal sendiri dari rumah atau nitip teman. Nggak ada lagi kesempatan untuk hedon menikmati makanan enak dan mahal dengan tentram di food court BTC. Kalau sudah datang kantor terlalu telat sih saya relakan dipotong 1,5% atau bahkan 3% walaupun beraaattt. Tubuh ini tidak sanggup untuk menunggu waktu hingga 17.00 WIB. Yang penting 2%-nya aman.

Memasuki bulan Ramadan, peraturan jam kerja pun disesuaikan. Peraturan dari Kemenpan adalah jam kerja 08.00-15.00 WIB. Kebijakan di kantor saya adalah toleransi kedatangan dan kepulangan masing-masing 30 menit. Paling pagi 07.30 WIB, paling sore 16.00 WIB, dengan durasi istirahat maksimum 30 menit. Dahsyat, dahsyat, dahsyat! Tadi aja, hari pertama Ramadan, saya belanja di Griya sambil stress karena pengen nyari kurma favorit (yang katanya sedang diskon) tapi kurang hapal di mana posisinya karena kurma kan bukan produk yang selalu tersedia di Griya sepanjang tahun. Ditambah lagi dengan keinginan saya untuk membeli buah-buahan yang biasanya didiskon setiap Senin dan Kamis. Saya hanya punya waktu 30 menit untuk jalan bolak-balik ke Griya, milih buah, antre nimbang buah, nyari kurma, nyari barang belanjaan lain, dan antre di kasir. Di perjalanan menuju Griya saya sempat dicegat seorang pengendara motor (yang kelihatannya mogok) yang berkata “Punten Teh, abdi nyuhunkeun bantosan…” dan langsung saya potong “Punten, lagi buru-buru” karena di samping curiga dengan modus kejahatan, sayapun harus benar-benar memanfaatkan jatah 30 menit itu, walaupun pada kenyataannya saya sudah kembali ke kantor dalam 18 menit saja. Dahsyat!

Oya, dari kabar yang saya dengar, durasi keluar istirahat selama Ramadan ini boleh ditambah hingga maksimum 1 jam dengan catatan harus mengganti kelebihan dari 30 menit itu dengan cara mengundur waktu kepulangan. Tapi tetap dengan toleransi maksimum kepulangan pukul 16.00 WIB. Sekian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s