Category Archives: Hasrat ingin ngeblog

Menjadi editor amatiran …

… ternyata ada gunanya juga, wekawekaweka …

Jadi, (ujug-ujug kesimpulan aja …) sejak awal tahun 2018 saya diberi kehormatan untuk menjadi salah satu editor buletin triwulanan yang diterbitkan kantor saya tercinta. Saya memang pernah berkeinginan menjadi seorang editor karena saya suka terganggu jika membaca tulisan yang mengandung banyak kesalahan penulisan.

Tolong ya, kata depan di itu tidak digabungkan dengan kata di belakangnya. Yang digabung itu imbuhan di-.

Kira-kira begitulah salah satu jeritan hati saya ketika menemukan tulisan semena-mena semacam “di tulis dibuku”. Padahal kalau ngeblog, bahasanya suka-suka, haha …

Sejak kemarin saya sudah mulai mendapatkan kiriman bahan suntingan dari koordinator buletin dan langsung ingin saya selesaikan karena saya tidak ingin teringat tugas editor ini ketika sedang mengerjakan pekerjaan lain yang lebih memusingkan. Seperti biasa, saya sesekali membuka KBBI dan mencari pedoman penulisan beberapa kata yang kurang saya hapal. Dan seperti biasa, saya selalu mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata bahasa ketika sedang menyunting naskah. Edisi kali ini ada beberapa hal yang cukup mencengangkan bagi saya alias baru tau banget!

Saya baru tahu bahwa dalam KBBI tidak ada kata iregularitas sebagai serapan dari kata bahasa Inggris ‘irregularity’. Kata iregularitas cukup sering saya dengar di lingkungan pekerjaan saya, rasanya normal-normal saja, padahal ternyata tidak ada di KBBI. Saya coba cari-cari lagi di KBBI dengan berbagai variasi penulisan, mulai dari ireguler, iregular, irreguler, irregular, hasilnya nihil padahal di situ ada definisi untuk kata ‘reguler’. Terjemahan paling mendekati hanyalah ‘ketidakteraturan’ untuk ‘iregularitas’ dan ‘tak teratur’ untuk ‘iregular’.

Terkait kata tak pada ‘tak teratur’ juga ternyata ada kaidah penulisan yang baru saya ketahui. Saya tidak sengaja menemukan penjelasannya di blog bindos (yang langsung saya follow karena sepertinya bermanfaat untuk menunjang tugas editor) sebagai berikut:

Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan.
Misalnya:
taklaik terbang (dirangkai)
taktembus cahaya (dirangkai)
tak bersuara (dipisah)
tak terpisahkan (dipisah)

Karena saya tidak langsung percaya, saya coba cari lagi penjelasan serupa yang bersumber dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) (dulu EYD/Ejaan Yang Disempurnakan). Belum sempet ketemu yang saya cari, malah nemu PUEBI daring yang katanya ramah-gawai. Lumayan … Dulu baru nemu pdf-nya aja. Karena sudah agak malas mencari, saya anggap penjelasan bindos tadi sudah sahih, hehe …

Satu hal yang sering membuat saya bingung adalah penulisan tanda hubung pendek (-) dan tanda hubung panjang (–). Setelah saya cari tahu, ternyata tanda hubung pendek itu namanya tanda hubung aja, tanda minus di papan kunci. Sedangkan tanda hubung panjang itu adalah tanda pisah yang kalau di MS Word akan muncul otomatis ketika mengetik tanda minus tanpa dirangkaikan dengan karakter lain. Ketik <spasi>-<spasi> maka tanda minus akan berubah menjadi lebih panjang. Saya juga baru tahu bahwa tanda pisah ada dua macam, yaitu tanda pisah en yang lebih panjang dari tanda hubung dan tanda pisah em yang lebih panjang lagi dari tanda pisah en. Pusing yee … Untuk penggunaannya bisa dilihat di PUEBI. Dulu saya kira penulisan tanda pisah serupa dengan tanda kurung yang harus didahului spasi sebelum tanda pisah ‘buka’ dan diakhiri spasi setelah tanda pisah ‘tutup’. Ternyata, sama seperti tanda hubung, penulisan tanda pisah tidak diapit oleh spasi. Semakin menarik saja karena biasanya teman-teman saya menuliskan tanda hubung di antara spasi terutama ketika menuliskan rentang waktu atau tanggal, misalnya:

Pukul 17.30 – 19.45 WIB
Tanggal 12 – 05 – 2018
Selama tanggal 15 – 17 Februari 2018

Itu salah, sodara-sodara! Seharusnya

Pukul 17.30-19.45 WIB
Tanggal 12-05-2018
Selama tanggal 15-17 Februari 2018

Dan perlu diperhatikan juga, penulisan waktu yang benar dalam bahasa Indonesia adalah menggunakan tanda titik, bukan titik-dua seperti penulisan dalam bahasa Inggris (ini juga baru saya ketahui beberapa tahun ke belakang). Lebih jauh lagi, untuk penulisan rentang yang benar adalah

Acara ini diadakan mulai pukul 17.30 hingga 19.45 WIB.
Acara ini diadakan pukul 17.30-19.45 WIB.
Peristiwa tersebut berlangsung mulai tanggal 15 hingga 17 Februari 2018.
Peristiwa tersebut berlangsung tanggal 15-17 Februari 2018.

bukan seperti ini:

Acara ini diadakan mulai pukul 17.30-19.45 WIB.
Peristiwa tersebut berlangsung sejak tanggal 15-17 Februari 2018.

Terlihatkah bedanya? Cek PUEBI, hihi …

Kadang teman-teman saya menggunakan tanda pisah yang diapit spasi untuk menuliskan rentang waktu bahkan menyatakan tanda minus. Ini mungkin terpengaruh oleh cara penulisan internasional. Penulisan tanda minus untuk rumus atau nilai matematis belum saya temukan caranya dalam bahasa Indonesia. Saya gunakan saja pedoman dari taut ini bahwa tanda minus dituliskan tanpa spasi jika diikuti angka (untuk menyatakan nilai/besaran tertentu) dan diapit spasi jika digunakan untuk menuliskan persamaan (serupa dengan operator lain seperti tanda tambah, kali, bagi, dan sama-dengan).

Satu lagi, penggunaan tanda tilde (~) yang menyatakan perkiraan/kisaran nilai tertentu. Pake spasi atau nggak, hayooo? Kata di Wikipedia, tanda tilde tidak diikuti spasi untuk menyatakan kisaran, misalnya “~8 MHz” yang dibaca “kira-kira/sekitar 8 megahertz”.

Sekian hasil pencarian saya. Terima kasih.

Advertisements

Bagaikan dikejar-kejar hantu…

… padahal belum pernah juga sih dikejar-kejar hantu. Atau mungkin pernah ngeliat hantu tapi nggak nyadar bahwa itu hantu sehingga nggak lari. Anyway…

Syahdan, kantor saya menerapkan sebuah peraturan yang lumayan mengerikan layaknya hantu (padahal nggak tahu juga sih hantu itu memang ada dan mengerikan atau tidak. Sudahlah, nggak perlu dijelasin kali yaa). Peraturannya terkait dengan jam kerja dan tunjangan kinerja. Penjelasan mengenai tunjangan kinerja silakan dicari sendiri ya. Peraturan jam kerja… bisa ditanya ke Kemenpan. Lah, trus saya mau cerita apa di sini? Peraturan jam kerja yang sudah saya ketahui sejak pertama kali bekerja di kantor saya ini adalah lima hari kerja (Senin-Jumat) dengan durasi 7,5 jam per hari (pukul 07.30-16.00 WIB, dikurangi istirahat selama satu jam). Peraturan jam kerja ini di kantor saya sempat beberapa kali mengalami penyesuaian. Contohnya ketika saya masih menjadi karyawan baru pada tahun 2005, jika datang terlambat x menit (misalnya pukul 07.45 WIB) maka wajib mengundur waktu kepulangan selama x menit itu (menjadi pukul 16.15 WIB). Saat itu belum ada konsekuensi yang nyata semacam pemotongan gaji per menit keterlambatan atau semacamnya, tapi saya masih berusaha untuk mengikuti peraturan tersebut. Dulu sempat ada pemotongan honor penelitian berdasarkan akumulasi kekurangan durasi kehadiran selama satu bulan (waktu itu dihitungnya 4 pekan @37,5 jam) tapi tidak bertahan lama.

Fast forward, peraturan terbaru ada PP 53 mengenai akumulasi kekurangan durasi kehadiran dengan sanksi surat peringatan (1-5 hari kerja) hingga pemberhentian sebagai PNS dengan tidak hormat (46 hari kerja). Akumulasi ini berlaku dalam satu tahun. Jadi, kalau akumulasi ketidakhadiran selama tahun 2017 adalah 3 hari, tahun 2018 hitungannya dimulai dari nol lagi. Peraturan lain adalah mengenai pemotongan tunjangan kinerja seperti yang telah saya sebut di atas. Di kantor saya diterapkan 5 hari kerja dengan jam kerja 07.30-16.00 WIB (aturan dari dulu, tapi ada tambahannya…), dengan toleransi kehadiran antara 07.00-17.00 WIB. Jadi, kalau datang pukul 06.30 WIB, kehadiran dihitung dari pukul 07.00 WIB dan boleh pulang pukul 15.30 WIB. Duluuu sekali, waktu toleransi terpagi adalah pukul 06.00 WIB karena katanya ada beberapa karyawan yang “bersiasat” datang subuh hanya untuk mengabsen pagi, pulang ke rumah lalu kembali ke kantor agak siang tanpa mengabsen agar dapat mengabsen pulang jauh lebih awal. Begitu pula dengan waktu toleransi paling sore pernah ditetapkan pukul 18.00 WIB gara-gara siasat serupa.

Back to the present… selain batas terpagi kedatangan dan batas tersore kepulangan, diterapkan juga batas tersiang kedatangan (08.30 WIB) dan batas tersiang kepulangan (15.30). Jadi:

  • Jika datang sebelum pukul 07.30 WIB maka berhak pulang sebelum pukul 16.00 WIB.
  • Jika datang setelah pukul 07.30 WIB tetapi pulang pukul 16.00 WIB maka akan tercatat sebagai “Telat Masuk” (TM). Untuk menghilangkan TM ini, pulanglah setelah 16.00 WIB dengan mengganti waktu keterlambatan.
  • Datang setelah pukul 08.30 WIB akan tercatat sebagai TM, hanya bisa mengganti kehadiran hingga pukul 17.00 WIB. Jika datang setelah pukul 08.30 WIB dan pulang sebelum 17.00 WIB walaupun sudah lebih dari pukul 16.00 WIB maka akan tercatat TM dan “Cepat Pulang” (CP). Dan jangan lupa, setiap menit akan diakumulasikan berdasarkan PP 53.
  • Jika datang pukul 07.00 WIB tetapi pulang sebelum pukul 15.30 WIB maka akan tercatat CP.
  • Lupa merekam data kedatangan dan/atau kepulangan dianggap alpa (potongan tunjangan kinerja 5%).
  • Untuk amannya, datanglah antara pukul 07.00-08.30 WIB, pulanglah antara pukul 15.30-17.00 WIB dengan memperhatikan durasi kehadiran di kantor (8,5 jam sudah termasuk jam istirahat). Dan jangan lupa untuk merekam data kedatangan dan kepulangan di mesin absen.

Sudah mulai pusing? Itu belum seberapa… Konsekuensi dari kekurangan durasi kehadiran adalah pemotongan tunjangan kinerja. TM dan CP sebelum tahun 2018 dikenai pemotongan tunjangan kinerja masing-masing 1%. Pemotongan ini dihitung per hari selama satu bulan, bukan akumulasi per menit selama satu bulan. Nah, tahun 2018 ini kalau tidak salah mulai 26 Januari 2018 diberlakukan peraturan baru yaitu potongan masing-masing 1,5% untuk TM dan CP. Jadi, kalau tanggal 19 Januari 2018 kena TM dan CP lalu tanggal 30 Januari kena TM saja atau CP saja maka potongan tunjangan kinerja Januari adalah sebesar 3,5%. Per 26 Januari 2018 itu juga ada aturan tambahan mengenai durasi istirahat untuk mengantisipasi karyawan yang keasyikan keluar kantor pas jam istirahat atau karyawan yang absen kendang (cuma absen datang dan pulang tapi di antara waktu datang dan pulang itu dia menghilang entah ke mana). Aturannya seperti apa? Mari kita simak.

Waktu istirahat yang diperbolehkan adalah antara pukul 11.30-13.30 WIB dengan durasi maksimum 1 jam. Durasi di atas 1 jam akan dikenai potongan tunjangan kinerja sebesar 2%. Sehingga di kantor saya ada 2 mesin absen. Mesin 1 (di lobi) digunakan untuk datang dan pulang sedangkan mesin 2 (di ruang satpam) untuk waktu istirahat. Jadi:

  • Keluar istirahat sebelum 11.30 WIB atau setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasinya kurang dari 1 jam. Hal ini tidak berlaku jika keluar dengan surat izin yang ditandatangani atasan langsung dan diserahkan kepada satpam, tetapi durasi tetap tidak boleh melebihi 1 jam. Izin keluar kantor ini mengurangi jatah istirahat pada waktunya.
  • Keluar istirahat antara pukul 11.30-13.30 WIB tetapi kembali setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasi kurang dari 1 jam.
  • Kelebihan durasi istirahat tidak dapat diganti dengan mengundur waktu kepulangan.
  • Jika lupa merekam data ketika keluar istirahat dan/atau kembali setelah istirahat maka tunjangan kinerja dipotong 2%. Jangan khawatir, ada petugas khusus yang akan mencatat siapa saja yang keluar-masuk kantor pada saat jam kerja tanpa menyerahkan surat izin atau merekam data di mesin absen 2.

Lalu ada satu lagi peraturan paripurna yang merangkum semuanya, yaitu kehadiran di kantor kurang dari 6 jam akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja total (5%) dan dianggap alpa alias tidak hadir, walaupun karyawan tersebut sudah bekerja jauh lebih keras dibandingkan karyawan lain selama durasi kehadirannya. Tunjangan kinerja dipotong, akumulasi ketidakhadiran PP 53 pun bertambah. Dahsyat bukan?

Jadi, kalau kira-kiranya bakal telat nyampe kantor trus nggak bisa pulang terlalu sore atau ada hal yang harus diurus ketika jam kerja (walaupun hanya memakan waktu 1,5 jam), lebih baik mengorbankan jatah cuti tahunan. Karena cuti tahunan tidak akan mengakibatkan pemotongan tunjangan kinerja.

Apa dampak dari peraturan yang dahsyat itu? Bagi saya, si emak-emak rempong yang nggak bisa dateng tepat waktu:

  • Datang ke kantor semacam dikejar-kejar hantu.
  • Keluar istirahat semacam dikejar-kejar hantu satu kampung. Mau makan di BTC aja stress, mau mampir belanja di Griya aja stress. MAU KE ATM aja rusuh. Apalagi kalau harus mengurus sesuatu di bank. Gustiii…
  • Kondisi tubuh sepulang kerja seperti habis digebukin hantu karena jalanan macet dan baru bisa nyampe rumah hampir Magrib.

Sejak ada peraturan itu, saya menyiasatinya dengan membawa bekal sendiri dari rumah atau nitip teman. Nggak ada lagi kesempatan untuk hedon menikmati makanan enak dan mahal dengan tentram di food court BTC. Kalau sudah datang kantor terlalu telat sih saya relakan dipotong 1,5% atau bahkan 3% walaupun beraaattt. Tubuh ini tidak sanggup untuk menunggu waktu hingga 17.00 WIB. Yang penting 2%-nya aman.

Memasuki bulan Ramadan, peraturan jam kerja pun disesuaikan. Peraturan dari Kemenpan adalah jam kerja 08.00-15.00 WIB. Kebijakan di kantor saya adalah toleransi kedatangan dan kepulangan masing-masing 30 menit. Paling pagi 07.30 WIB, paling sore 16.00 WIB, dengan durasi istirahat maksimum 30 menit. Dahsyat, dahsyat, dahsyat! Tadi aja, hari pertama Ramadan, saya belanja di Griya sambil stress karena pengen nyari kurma favorit (yang katanya sedang diskon) tapi kurang hapal di mana posisinya karena kurma kan bukan produk yang selalu tersedia di Griya sepanjang tahun. Ditambah lagi dengan keinginan saya untuk membeli buah-buahan yang biasanya didiskon setiap Senin dan Kamis. Saya hanya punya waktu 30 menit untuk jalan bolak-balik ke Griya, milih buah, antre nimbang buah, nyari kurma, nyari barang belanjaan lain, dan antre di kasir. Di perjalanan menuju Griya saya sempat dicegat seorang pengendara motor (yang kelihatannya mogok) yang berkata “Punten Teh, abdi nyuhunkeun bantosan…” dan langsung saya potong “Punten, lagi buru-buru” karena di samping curiga dengan modus kejahatan, sayapun harus benar-benar memanfaatkan jatah 30 menit itu, walaupun pada kenyataannya saya sudah kembali ke kantor dalam 18 menit saja. Dahsyat!

Oya, dari kabar yang saya dengar, durasi keluar istirahat selama Ramadan ini boleh ditambah hingga maksimum 1 jam dengan catatan harus mengganti kelebihan dari 30 menit itu dengan cara mengundur waktu kepulangan. Tapi tetap dengan toleransi maksimum kepulangan pukul 16.00 WIB. Sekian.

Entahlah…

Kamis, 22 Maret 2018, menjelang azan Zuhur tiba-tiba ada pesan masuk via WhatsApp dari nomor yang tidak dikenal alias tidak tersimpan di buku telepon saya. Panjaaaaaang banget. (Saya gabungkan screenshot supaya bacanya tidak terputus-putus)

Aku dicuekinya … (Silakan diklik untuk melihat lebih jelas)

Ini bukan pertama kalinya saya menerima pesan ujug-ujug minta sumbangan. Sebelumnya saya pernah menerima pesan serupa melalui SMS dan sudah saya ceritakan juga di tulisan lain. Kesal rasanya. Saya merasa perlu untuk menggarisbawahi beberapa hal di sini:

  1. Tolonglah kalau mau minta sumbangan tuh dengan cara yang baik. Selain menggunakan kata-kata yang sopan seperti pada pesan di atas, jelaskanlah dari mana Anda mendapatkan nomor saya. Saya tidak pernah memberikan nomor saya kepada orang lain dengan pesan “Silakan disebarkan ya kepada orang-orang yang membutuhkan” Yang benar saja. Saya pun tidak akan sembarangan memberikan informasi nomor ponsel orang lain tanpa seizin pemilik nomor.
  2. Hari gini, saya tidak akan dengan mudah mempercayai ajakan untuk beramal walaupun informasinya terlihat sangat lengkap. Apakah salah jika saya menaruh curiga kepada orang yang tiba-tiba muncul entah dari mana meminta sumbangan lalu tidak menghiraukan pertanyaan saya mengenai identitas orang yang telah memberikan informasi nomor saya?
  3. Jika Anda bermaksud ingin menipu, saya doakan semoga Anda segera bertobat dan diampuni Allah SWT.

Kata teman saya (yang ngakunya masih suka baca blog ini tapi gak pernah meninggalkan komentar, hihi …), “Kenapa harus kesal? Tinggal hapus saja pesannya dan block nomornya.” Sebenarnya saya tidak perlu memblokir nomornya karena saya sendiri malah curiga bahwa dia langsung memblokir saya segera setelah dia mengirimkan informasi yang mendukung tujuannya. Kecurigaan saya didasarkan pada fakta bahwa pesan saya tidak dibaca apalagi dijawab hingga hampir satu pekan. Modus ‘hit and run‘ kah?

Karena di pesan panjang itu tercantum alamat web, saya coba cek. Isinya memang lengkap. Ada satu hal yang menjadi perhatian saya, yaitu informasi NPSN 347446868 yang dicantumkan di sana. Untuk hasil tercepat, saya cari di Google dan yang muncul adalah lembaga pendidikan lain yang lokasinya di Makassar. Anehnya, lembaga pendidikan yang mencantumkan NPSN 347446868 itu tidak hanya satu. Nomor apa sih ini sebenarnya? Akhirnya saya menemukan situs milik Kemendikbud ini dan memasukan NPSN ke kolom pencarian pada bagian Data Master Pendidikan Non-formal dan hasilnya nol. Tapi ketika saya coba cari manual mulai dari provinsi hingga kelurahan sesuai informasi yang tercantum pada laman web peminta sumbangan tersebut, saya dapatkan sedikit informasi. Saya katakan sedikit karena hanya ada kecocokan nama lembaga pendidikan dan alamat singkat saja.

Nama dan alamat Ponpes sudah sesuai dengan yang tercantum pada web tetapi NPSN-nya berbeda. Apakah ada perubahan NPSN? Entahlah … Pada tab-tab lainnya juga informasinya kosong. Saya coba hubungi via e-mail ke pengaduan@kemendikbud.go.id mengenai kebenaran keberadaan Ponpes yang menghubungi saya itu tetapi sayangnya responnya tidak secepat halobpom (Iya sih, beda kasus …). Hingga sekarang belum ada balasan.

Jadi, baiklah. Saya akan menghapus pesan WA tadi dan memblokir nomornya.

Kisahku ber-Tokopedia

Duh, judulnya agak kurang kreatif ya, mirip dengan judul sebelumnya. Tulisan ini bukan iklan, apalagi endorse. Aku mah apa atuh

Syahdan, kemarin saya membeli pulsa di Tokopedia. Saya memang sudah terbiasa membeli pulsa di situ karena sering ada promo semacam diskonlah, cashbacklah, apalah, apalah. Maklumlah, emak-emak modis, MOdal DISkon. Saya sudah terbiasa pula menggunakan e-Pay BRI sebagai metode pembayaran tiap bertransaksi di Tokopedia.

Pertama, saya mengisi pulsa 50.000 rupiah, tidak ada masalah. Transaksi e-Pay berhasil, status di Tokopedia pun berhasil. Lalu saya ingin mengisi pulsa ke nomor lain yang biasa digunakan bersama suami untuk internetan sejumlah 100.000 rupiah. Setelah saya login dengan memasukkan nama pengguna dan kata sandi di halaman e-Pay BRI, saya baru teringat bahwa nomor seluler yang saya tuju itu belum didaftarkan ulang ke 4444. Karena (setahu saya) sudah lewat tenggat waktu pendaftaran, saya khawatir pulsa yang saya masukkan malah tidak dapat dipakai gara-gara nomornya sudah diblokir. FYI, nomor itu memang sudah agak lama tidak saya gunakan. Jadi, saya daftarkan dulu nomor tersebut, ternyata masih bisa, lho.

Selanjutnya saya ulangi proses pembelian pulsa di Tokopedia dengan e-Pay BRI. Karena saya sudah terlalu terbiasa dengan segala proses, saya kurang terlalu memperhatikan notifikasi yang ditampilkan pada layar komputer, langsung klik OK, OK, OK. Biasanya ketika membeli pulsa di Tokopedia dengan metode pembayaran e-Pay BRI, Tokopedia akan mengarahkan saya ke laman login e-Pay. Setelah memasukkan nama pengguna dan kata sandi lalu mengeklik tombol Submit, layar akan menampilkan isian kata sandi dan nomor token. Nomor token dikirim melalui SMS beberapa saat setelah login e-Pay BRI. Lalu transaksi e-Pay akan selesai setelah memasukkan token dan muncul pemberitahun bahwa transaksi berhasil (dilengkapi dengan rincian transaksi yang dapat dicetak sebagai arsip). Selanjutnya layar akan kembali menampilkan halaman Tokopedia yang menyatakan bahwa transaksi sudah berhasil dan tidak lama kemudian (atau bahkan sesaat setelah transaksi e-Pay BRI berhasil) pulsa sudah masuk ke nomor tujuan.

Nah, pada kasus saya kemarin, saya kurang memperhatikan apakah e-Pay BRI berhasil atau tidak, saya langsung klik OK (Bukan “Print” karena memang biasanya begitu). Begitu kembali ke halaman Tokopedia, di situ tertulis kira-kira (lagi-lagi saya kurang memperhatikan) bahwa transaksi tidak dapat dilanjutkan. Saya langsung memeriksa saldo BRI saya, ternyata sudah terpotong seharga pulsa tersebut. Setelah dicek di nomor tujuan, pulsa belum masuk. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah “Aduh, males banget dah ngurusinnya ke BRI.” karena biasanya pengurusannya tidak bisa dilakukan secara daring. Kalaupun mau lewat call center, saya sayang pulsa. Kalau ingin hemat pulsa, saya harus mendatangi kantor BRI di jam kerja. Pepatah time is money itu memang benar adanya. Kalau mau ke kantor BRI, saya harus izin keluar kantor. Jatah keluar kantor hanya 60 menit, tidak kurang, tidak lebih. Kalau saya keluar kantor lebih dari itu, tunjangan kinerja saya akan dipotong 2%. Antrean di bank kan tidak dapat diduga. Terakhir kali saya ke sana untuk mengurus masalah internet banking saja menghabiskan waktu sekitar 60 menit (termasuk waktu perjalanan bolak-balik kantor-bank, menunggu antrean, dan proses penyelesaian masalah di bank) dalam kondisi bank sepi, pengantre di layanan konsumen hanya 4-5 orang (lupa).

Demi menghindari pemotongan tunjangan kinerja, saya coba dulu mengajukan keluhan kepada layanan konsumen Tokopedia. Ketika saya mau mengajukan keluhan, di situ sudah ada pilihan invoice transaksi yang mana yang akan dikeluhkan. Ada dua invoice transaksi pulsa 100.000 ke nomor yang sama dengan status yang berbeda, satu berstatus dibatalkan, satu lagi menunggu pembayaran. Bingung deh mau pilih yang mana, karena saya tidak yakin invoice mana yang memotong saldo BRI saya. Saya pilih invoice berstatus dibatalkan karena invoice lainnya memunculkan pilihan yang tidak sesuai dengan keluhan saya. Saya pilih transaksi belum berhasil dan menulis:

saya membayar menggunakan epay BRI. saldo bri saya sudah terpotong tetapi tokopedia menyatakan transaksi gagal

dan langsung dijawab (beberapa informasi saya ganti dengan tanda bintang demi keamanan):

Hai S**** S*********,

Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Berdasarkan pemeriksaan, status transaksi Anda dengan nomor invoice IVR/20180315/XVIII/III/4******* di tanggal 15 March 2018 jam 08:43 WIB saat ini telah dibatalkan. Transaksi Anda di sistem kami tidak berhasil dan dana tidak akan dikurangkan.

Silahkan mencoba mengulang pesanan Anda.

Terima kasih dan semoga dapat dimengerti.

Duh, gawat. Saya tidak menyimpan bukti transaksi e-Pay BRI dan tidak ada fasilitas pengarsipan di e-Pay BRI. Beberapa saat kemudian ada surel masuk dari BRI yang memberitahukan transaksi sejumlah itu. Biasanya memang ada pemberitahuan seperti itu ke surel saya setiap bertransaksi internet banking. Anehnya, transaksi pulsa 50.000 tidak ada pemberitahuannya ke surel. Keterangan yang tercantum di situ kurang rinci tetapi itu satu-satunya bukti yang bisa saya berikan kepada pihak Tokopedia. Saya kirimkan cuplikannya ke Tokopedia dengan harapan mereka dapat melacaknya.

Bp./Ibu. S**** S*********,
Berikut ini adalah informasi transaksi yang telah Anda lakukan di BRI Internet Banking:
Tanggal, Jam         : 15-Mar-2018 09:27:55
Jenis Transaksi     : eCommerce
Nominal             : IDR ******
No. Referensi         : 2********
Status             : Sukses
Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi anda. Untuk informasi
lebih lanjut, silakan menghubungi kami melalui fasilitas [Sentra Pesan]
di menu [Layanan Tambahan] pada BRI Internet Banking atau melalui
BRI Call Center di nomor 14017 atau 62-21-14017 jika anda berada.
di luar negeri.
Dengan senang hati kami akan melayani anda.
Terima kasih.
Hormat Kami,
Bank BRI
Surat ini dihasilkan oleh komputer dan tidak perlu dijawab kembali
ke alamat email di atas.

Sementara itu saya juga mencoba menghubungi layanan nasabah yang tersedia di internet banking BRI,

Hari ini (15 Maret 2018) saya membeli pulsa Tri nomor 08******** melalui Tokopedia dengan metode pembayaran e-Pay BRI sejumlah Rp*****. Pada halaman e-Pay disebutkan bahwa transaksi berhasil (dan saldo BRI saya sudah dipotong sejumlah tersebut) tetapi di Tokopedia disebutkan bahwa transaksi gagal sehingga pulsa tidak masuk ke nomor tersebut. Ke manakah uang saya sejumlah Rp***** tersebut? Atas perhatian dan kerja samanya yang baik, saya ucapkan terima kasih.

Sekitar dua jam kemudian, ada balasan dari Tokopedia:

Hai S****,

Perkenalkan saya Ulya siap membantu Anda hari ini.

Mohon maaf atas kendala mengenai pembayaran Anda.

Terkait dana pembayaran Anda, mohon kesediaannya untuk melampirkan bukti mutasi rekening Anda terlebih dahulu yang menunjukkan dana terdebit ke Tokopedia agar dapat kami bantu melakukan pengecekan lebih lanjut.

Kami tunggu informasi selanjutnya dari Anda.

Terima kasih.

Saya langsung mengirimkan cuplikan rekening koran hari itu, kurang dari tiga jam kemudian sudah ada balasan lagi:

Hai S****,

Terima kasih atas infomasi yang Anda berikan.

Perihal dana pembayaran Anda senilai Rp *****, saat ini masih belum kami terima. Mohon kesediaannya menunggu terlebih dahulu maksimal 1×24 jam hari kerja sejak Anda melakukan pembayaran.

Apabila dalam waktu yang ditentukan pengembalian dana belum Anda terima, silakan menghubungi kami kembali melalui Layanan Pengguna ini.

Terima kasih.

Saya tidak terpikir utntuk memeriksa balasan dari BRI karena memang saya tidak terlalu banyak berharap, hehe… Tapi keesokan harinya saya periksa, ternyata BRI membalas beberapa menit setelah saya mengajukan keluhan,

Selamat pagi Ibu S**** S*********,

Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami. Mohon kesediaan Ibu melengkapi data-data berikut :

Detail komplain : : (salah nominal/ pembayaran belum diterima toko/merchant, dst-nya)
Jenis trx : 
Nama toko/merchant : 
Respon transaksi :
Nominal transaksi : (nominal yang ditransfer dan yang seharusnya, jika salah bayar)
Keterangan : (saldo sudah terdebet, merchant belum/sudah terima pembayaran nsb)

Demi menjaga kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi, kami sarankan Ibu untuk selalu berhati-hati atas informasi yang mengatasnamakan Bank BRI. Bank BRI tidak pernah meminta data pribadi nasabah baik melalui SMS, Telepon, Email, Media Sosial maupun Media lainnya. Untuk menghindari kejahatan perbankan selalu lakukan pergantian PIN ATM, PIN Mobile Banking dan Password Internet Banking secara periodik.

Terima kasih

Salam,

Nety
Customer Service Bank BRI

Eta geura, kurang lengkap gimana lagi coba keluhan yang saya sampaikan? Tapi mungkin memang SOPnya begitu, saya ikuti saja.

Sekitar pukul 11 pagi tadi (16 Maret 2018), pengembalian dana dari Tokopedia sudah masuk ke akun TokoCash saya. Hore! GOD JOB TOKOPEDIA! Makin percaya deh sama kamyu…

Respon dari BRI? Saya periksa barusan (16 Maret 2018, 14.54 WIB) belum ada balasan lagi. Malah tadi sempat terjadi “kerusuhan” di kantor akibat isu skimming nasabah BRI. Tadinya saya mau nulis tentang kehebohan di kantor tadi tapi kok malah nyerita Tokopedia, hihi …

Update. Ternyata BRI membalas keluhan saya pada tanggal 19 Maret 2018 pukul 11.24 WIB:

Selamat siang Ibu S**** S*********,

Kami informasikan pelaporan Ibu sudah kami terima dan akan ditindaklanjuti. Jika transaksi dinyatakan gagal, saldo yang berkurang akan kami kreditkan kembali ke rekening Ibu. Hasil laporan akan diinformasikan melalui pesan singkat ke nomor ponsel Ibu yang tertera di laporan.

Adapun nomor laporan Ibu adalah 16273420.

Demi menjaga kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi, kami sarankan Ibu untuk selalu berhati-hati atas informasi yang mengatasnamakan Bank BRI. Bank BRI tidak pernah meminta data pribadi nasabah baik melalui SMS, Telepon, Email, Media Sosial maupun Media lainnya. Untuk menghindari kejahatan perbankan selalu lakukan pergantian PIN ATM, PIN Mobile Banking dan Password Internet Banking secara periodik.

Terima kasih

Salam,

Nety
Customer Service Bank BRI

Demikian.

Kisahku ber-ATM

Bulan baru, gajian, duitnya gede-gede karena baru ambil di ATM. Kalau nggak 50.000an, ya 100.000an. Pedagang sayur keliling pun kewalahan karena pelanggannya bayar pake pecahan besar terus. Pengalaman banget nih, tentunya bukan sebagai tukang sayur… Kalau Anda ambil gaji tunai dari juru bayar, terima nasib deh kalau dapatnya pecahan 100.000an. Jadinya awet sih karena itu duit istilahnya “nggak laku” karena susah nyari kembalian.

Hari gini sepertinya hampir semua orang gajinya langsung masuk rekening. Nah, mesin ATM tuh biasanya nyediain uang pecahan 50.000 atau 100.000. Kalau zaman kuliah dulu sih masih ada ATM 10.000an di mana-mana (bisa nebak lah saya kuliahnya tahun berapa, haha…) Tapi tahukah Anda, sekarang sudah tahun 2018 dan masih ada mesin ATM yang menyediakan uang pecahan 20.000. Yes, people! Dua puluh ribuan! Di mana tuuuuch?

Saya bukan jenis orang yang senang beredar dan menjelajah apalagi survei pecahan duit di mesin ATM, sehingga sejauh ini saya baru menemukan ATM 20.000an di BTC Pasteur. Awalnya saat saya ambil uang di ATM BNI yang ada di lantai SB BTC itu, saya nggak perhatiin dia ngeluarin duit pecahan berapa (biasanya ditempel stiker yang menginformasikan pecahan uang yang dikeluarkan di badan ATMnya). Pas saya mau ambil 200.000, yang keluar duit hijau 10 lembar, sampe kaget. Gara-gara itu, dompet saya jadi tebal, literally. Setelah itu saya jadi enggan mengambil uang di ATM BNI yang itu.

Di lain waktu, saya dan suami ke Bank Mandiri untuk ambil uang di ATMnya. Ternyata ATM di Bank Mandiri sedang mengalami gangguan dan petugas Satpam di sana menyarankan kami untuk mengambil uang di ATM Link yang ada di Indomaret (bersebelahan dengan Bank Mandiri tersebut), katanya “Di ATM sebelah aja, Bu. Yang ada logo Linknya.”

Dulu saya nggak pernah peduli/terpengaruh dengan logo-logo yang ada di kartu/mesin ATM karena saya pernah ambil uang dari rekening BRI menggunakan mesin ATM BRI Syariah (dengan asumsi kedua bank tersebut masih sodaraan sehingga nggak kena biaya tambahan) ternyata dipotong 7.500. Dan saya pun pernah transfer dari Bank Mandiri ke Bank Syariah Mandiri, kena biaya transfer juga. Gondok! Jadinya kalau saya mau ambil uang di rekening BRI, saya gunakan mesin ATM BRI. Kalau mau ambil uang di rekening Bank Mandiri, saya gunakan ATM Bank Mandiri. Sebenarnya kegondokan saya itu adalah akibat ketidakpedulian ketidaktahuan saya. Dulu saya hanya tahu bahwa transaksi antara BNI dengan BNI Syariah itu sama sekali bebas biaya (lagipula memang tidak ada mesin ATM BNI Syariah) dan mengira bahwa itu berlaku untuk bank lain yang punya “versi” syariah. Sekarang saya sudah tahu bahwa bank konvensional dan bank syariah dengan nama yang sama itu kadang tidak selamanya bebas biaya, untuk kasus ini adalah Bank Mandiri-Bank Syariah Mandiri dan BRI-BRI Syariah.

Kembali ke Link… Saya mulai memperhatikan mesin ATM Link yang ada di Indomaret itu, ternyata selain dapat digunakan untuk ATM Mandiri, ia dapat juga digunakan untuk BTN, BRI, dan BNI. Saya cek juga kartu-kartu ATM yang saya punya, ternyata semuanya mencantumkan logo Link. Jadi sekarang saya nggak perlu bingung kalau mau ambil uang di rekening BRI/BNI/Bank Mandiri, cari aja logo Link di mesin ATM. Untuk rekening di bank lain, saya tidak tahu karena saya tidak berkepentingan, hehe … Tapi kalau di daerah rumah saya sih lumayan gampang karena hampir semua bank ada di dekat rumah saya. Ada Bank Jabar, BCA, Bank Muamalat, BRI, OCBC-NISP, Bank Mandiri Syariah, BRI Syariah, BNI, BNI Syariah, Panin, dan lain-lain. Asyik ya, hihi …

Satu hal yang ternyata memudahkan saya adalah si ATM BNI 20.000an di BTC itu. Selain termasuk ATM Link, ia juga mengeluarkan uang pecahan 20.000. Nggak ada lagi duit “nggak laku” pas awal bulan. Ambil gaji di situ aja…

Trus, duit jadi cepet abis karena keliatan “receh”? Nah, itu mah derita Anda…

Pengen ngeblog …

… tapi bingung.

Kemarin sekilas mendengar berita di TV tentang wacana BPJS Kesehatan yang akan menghapuskan tanggungan terhadap 8 penyakit. Tadi pagi baru dapat kabar dari suami bahwa 8 penyakit yang dimaksud di antaranya adalah kanker, hemofili, talasemia, dan leukimia. Setelah saya cari-cari lagi, ternyata 4 penyakit lainnya adalah gagal ginjal, sirosis hati, stroke, dan penyakit jantung. Katanya kedelapan penyakit tersebut yang paling banyak menghabiskan biaya. Ya iya sih, yang namanya kanker kan nggak bakal sembuh dengan satu kali berobat. Yang namanya gagal ginjal harus rutin cuci darah. Penyakit parah semua itu.

Dulu saya pernah sekilas mendengar ceramah di radio yang begitu berapi-api mengatakan bahwa BPJS itu menganut sistem kapitalis,

“Orang kaya, turun dari mobil, berobat ke dokter pakai BPJS. Apa tidak malu?”

Kira-kira begitu katanya.

Awalnya saya tidak terlalu peduli soal ASKES (yang sekarang sudah berubah menjadi BPJS Kesehatan), terutama sebelum menikah. Toh saya paling malas untuk berkunjung ke dokter apalagi ke rumah sakit yang (tentu saja) berisi begitu banyak manusia (FYI, saya cenderung tidak menyukai keramaian). Malas antre, lalalalala …

Kalau saya sakit, saya lebih memilih mengunjungi klinik umum tanpa memanfaatkan fasilitas ASKES. Ke dokter umum kan tidak terlalu mahal dan Alhamdulillah saya masih mampu untuk berobat dengan biaya sendiri.

Setelah menikah dan hamil, mau tidak mau saya harus menemui dokter dalam rangka memeriksakan kehamilan. Duh, males banget dah. Daftarnya ngantre, ke dokternya ngantre, nebus resep obat ngantre. Saat hamil dan melahirkan (tahun 2012) adalah pertama kalinya saya memanfaatkan fasilitas ASKES. Lumayan terbantu walaupun tidak 100% ditanggung ASKES.

Saya kira saya akan seumur hidup membayar iuran ASKES (sekarang BPJS Kesehatan) secara cuma-cuma tanpa memanfaatkannya lagi (sok sehat atau sok kaya?). Tapi ternyata pada tahun 2014 anak saya terkena typhus dan Hbnya turun hingga 5,4 sehingga harus menginap di RS dan ditransfusi darah. Lima hari menginap di RS, tak perlu membayar sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Enak juga ya ternyata. Tolong ampuni saya karena tidak punya malu menggunakan fasilitas tersebut. Saya turun dari mobil tapi ada tulisannya “Margahayu-Ledeng”, dibilang orang miskin juga bukan.

Kalau dipikir-pikir, sejak diwajibkan untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan, orang-orang jadi tidak segan untuk menemui dokter ketika sakit. Entah itu “hanya” flu, gatal-gatal alergi, hingga penyakit paling berat. Dan makin hari, pelayanannya pun makin baik. Tidak terlalu banyak antre dan tidak terlalu banyak dokumen yang harus dibawa ketika akan berobat menggunakan fasilitas BPJS (berdasarkan pengalaman pribadi saya).

Wacana cost-sharing untuk 8 penyakit cukup menggemparkan dunia persilatan. Ya iyalah, yang harus rutin cuci darah, kemoterapi, transfusi darah, gimana coba? Kalau orang kaya sih tak masalah, orang tidak mampu pun kabarnya bakal ditanggung 100%. Nah, kalau orang yang tidak masuk ke kedua kelompok itu, gimana? Apakah jumlah orang miskin akan bertambah (atau malah berkurang karena tidak sanggup membiayai pengobatan sehingga meninggal dunia) jika wacana ini betul-betul direalisasikan?

Ah, lieur. Kalau apatis (berpikir bahwa semua orang pasti meninggal dunia sehingga pasrah menerima nasib. Eh, ini apatis atau putus asa. Doh, tambah lieur!), salah lagi.

Udah ah, yang penting jaga kesehatan aja. Banyak-banyak bersyukur dan berdoa.

*udah ngetik panjang-panjang malah jadi tambah bingung, ini tulisan intinya apa yak?*

Catatan hati seorang penumpang (yang pernah) setia angkot

Wahai para supir angkot, saya tahu tidak semua supir angkot kelakuannya sama. Tidak semua supir angkot sukanya:

  • Ngetem lama-lama, sehingga membuat penumpangnya terlambat tiba di tempat tujuan
  • Ngerokok di angkot, sehingga memaksa penumpangnya menjadi perokok pasif dan bahkan berpenyakit paru-paru atau kanker
  • Pasang tarif suka-suka, sehingga penumpang membayar dengan tidak ikhlas dan menggerutu bahkan mendoakan yang tidak baik
  • Ngomong kasar, sehingga penumpang ikut tersulut emosinya
  • Menyetir ugal-ugalan, sehingga penumpang dan pengguna jalan lainnya merasa jengkel

Tapi apa daya, saya kok seringnya ketemu sama supir yang seperti itu.

Saya paham sekali penyebab utama angkot sering ngetem lama-lama, pasang tarif suka-suka, mengebut, adalah kejar setoran. Apa lagi coba kalau bukan karena itu? Tapi marilah kita runut ke belakang. Kenapa angkot ngetem? Karena ingin angkotnya penuh dengan penumpang. Kalau penumpang banyak, setoran pun banyak. Tapi kalau dipikir lagi, penumpang tuh paling sebal sama kegiatan yang namanya ngetem. Kalau penumpangnya bebal macam saya, disabar-sabarin aja, ditungguin itu angkot mau ngetem berapa lamapun. Karena apa? Karena perjalananku panjang banget, Mang! Mau jalan kaki ya gempor, mau naik taksi ya mahal. Mang Supir sendiri yang suka bilang, “Kalau pengen cepet, naik taksi sana!” lama-lama penumpang beralih ke moda transportasi yang lain. Ada yang mulai mengkredit motor, ada yang nebeng teman, ada yang tetap naik angkot tapi stress setiap hari. “Gilaaaaa! Mau jam berapa juga dari rumah, kalo naik angkot itu nyampenya tetep aja telaaat!” Yang saya gak habis pikir juga, kadang ada supir yang suka emosi waktu penumpangnya membayar ongkos kurang dari tarif suka-suka si supir, sampai membuang/melempar uang si penumpang itu ke jalan. Udah mah setoran kurang, itu duit dibuang-buang. Logikanya di mana?

Nah, sekarang, sudah ada yang namanya ojek online, taksi online, apa-apa online (eh, kurang nyambung). Para penumpang angkot sekarang kadang lebih memilih untuk menggunakan jasa ojek/taksi online karena waktu tempuh yang lebih singkat, lebih nyaman, dan harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan pengorbanan waktu dan mental yang harus dialami jika menggunakan angkot. Saya bilang ‘kadang’ karena tak selamanya taksi dan ojek online itu memenuhi kebutuhan penumpang, misalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh ya boleh lah pakai angkot, 3000 rupiah saja. Daripada pesan ojek/taksi online, pesannya berapa menit, nunggunya berapa menit, belum lagi kalau pengemudinya nggak hapal jalan ke tempat penjemputan, bayarnyapun jarang 3000 rupiah, kecuali kalau ada promo yang bisa sampai gratis. Tapi ya mosok jarak dekat aja harus nunggu angkotnya ngetem?

Satu lagi, kalau mau tiap hari naik ojek/taksi online, lama-lama bangkrut juga. Promo sudah habis terpakai, ongkos ojek/taksi online jelas lebih mahal. Untuk saya pribadi yang setiap hari pasti bolak-balik rumah-kantor, inginnya sih naik ojek online, apa daya suami tak mengizinkan, inginnya naik taksi online, tiap hari mah bisa bangkrut. FYI, saya dari rumah ke kantor naik angkot hanya menghabiskan uang 8500-10000 rupiah, pulangnya 10000-11000 rupiah. Rata-rata 20000 rupiah per hari, tergantung mood supir (IYKWIM). Kalau naik ojek online, saya tidak tahu, kata teman-teman yang rumahnya searah sih bisa 30-40 ribu rupiah per hari, ini tergantung banyaknya permintaan (makin banyak yang pesan, makin mahal tarifnya). Taksi online? Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata 80000 per hari. Kalau tiap hari bisa barengan berempat sih ya mending naik taksi online aja, tapi yaaaa barengan siapa atuh?

Cuma satu harapan saya kepada para supir angkot: Hilangkan kebiasaan ngetem. Terserah deh Mang Supir mau ngerokok kek, ngomong kasar kek, kebut-kebutan kek. Kalau angkotnya nggak pake ngetem kan saya gak usah lama-lama mengalami penyiksaan itu.

Tapi kan, tapi kan, gimana bisa kejar setoran kalau nggak ngetem?

Gini loh, Mang Supir. Dulu aja penumpang pada berpaling dari angkot itu kenapa, karena Mang Supir suka pada ngetem lama-lama kan? Dan prosesnya itu tidak berjalan cepat. Mereka satu per satu meninggalkan jasa angkot, satu, satu, pelan, pelan, lama-lama ngetemnya tambah lama, penumpang makin kabur. Nah, coba deh semua supir angkot kompakan nggak pada ngetem. Berhentilah seperlunya, in syaa Allah penumpang pada balik naik angkot lagi. Tapi harus diingat juga, prosesnya nggak bakalan sekejap “tring!” begitu. Satu, satu, pelan, pelan, lama-lama angkotnya penuh terus deh tuh. Yang pada punya motor/mobil juga naik angkot karena naik motor/mobil bolak-balik jarak jauh tuh capek loh. Mending naik angkot, bisa liat-liat pemandangan, gak takut telat, nyaman, jalanan tidak terlalu penuh, lalalalala… Itu hanya harapan saya loh, Mang.

Setiap saya mengalami pengeteman semena-mena dari Mang Supir, saya selalu ngebatin “Pantes aja orang-orang pada naik moda transportasi online. Mikir atuh, Mang, jangan cuma bisanya demo-demo aja!” Terus terang, saya masih ingin setia sama angkot. Tapi kalau naik angkot selalu bikin saya stress, mungkin sudah saatnya saya nyari tebengan abadi belajar bawa motor sendiri.