Waspadai terorisme di sekitar Anda

Pada zaman dahulu kala, saya rajin banget update spam-spam yang mampir ke inbox surel atau ponsel, lalu saya tampilkan di Multiply yang sudah punah itu. Sekarang, spamnya semakin menggila. Bukan hanya SMS, tapi juga sudah melalui panggilan telepon. Sungguh sangat mengganggu kesehatan mental saya. Berikut ini saya tampilkan beberapa nomor terduga teroris berkedok marketing.

Nomor Keterangan
02121881500 Asuransi Cygna
02128098600 Asuransi Cygna
02129274170 BNI KTA
02129274198 BNI visa, pencairan dana tunai
02130412700 Asuransi Cygna/BNI Life
02130413200 Asuransi Cygna
02130413300 Asuransi Cygna
02130413500 Asuransi Cygna
02130413600 Asuransi Cygna
02130413700 Asuransi Cygna
02130414400 Asuransi Cygna
02130500900 Indovision
02140101057 Ngakunya BNI
02140101058 Firmanjaya, BNI Syariah Pusat Jakarta
02140101059 Ngakunya BNI
02150111233 Aleya, asuransi maksa, ngakunya kerja sama dengan BNI
02150200245 Indovision
02150200986 Indovision
02180635900 Indovision
02180671718 Kemungkinan Indovision jika melihat kemiripan nomornya
02180671727 Indovision
02180681045 Ngakunya BNI
02180681170 Asuransi Satellite, konfirmasi e-mail
02516900505 Redberry
081585625773 Isyana, Redberry Contact Center Indonesia, survei
081585625823 Redberry
081585627817 Redberry
+622150502083 Paket liburan, ada brainwashnya
628118755900 Tidak ada suara
628118756900 Tidak ada suara
628121501498 Tidak ada suara
628122140766 PT. Best Profit Jl. Asia Afrika (minta ketemuan)
+6281222597436 Bank DBS, KTA
6281298702639 SMS, hubungi 081807806088
6282164028204 Red dua belas, tidak jelas
6282220171708 Indra, Visa Mastercard, promo wisata
+6282310619099 SMS, Yudi TopTV
+6282310911563 SMS, hubungi Lusi 081286011120, BBM D5B04749

Keterangan dengan huruf berwarna merah, saya peroleh dari id.tellows.net (situs ini sangat membantu dalam melacak nomor-nomor tak dikenal yang mampir ke ponsel saya). SMS biasanya berisi penawaran tutup kartu kredit, KTA (Kredit Tanpa Agunan), paket langganan TV, obat kuat, macam-macam lah.

Anehnya, nomor-nomor ini muncul dengan kode angka depan yang tidak seragam. Kadang +62, kadang 62 saja, kadang langsung 021 atau 08. Pernah juga loh ada SMS yang ujug-ujug bilang kangen lalu menyuruh menghubungi nomor dengan awalan 0809. Katanya “No sex, no SARA”. Yeah, apapun!

Hal yang membuat saya sangat kesal adalah bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan aksi terorisme semacam ini. Mereka terus-menerus melancarkan aksinya. Dilaporkan ke pihak Telkomsel/Tri sebagai penyedia layanan seluler yang saya gunakan? Justru mereka sendiri suka meneror pelanggannya dengan mengirimkan SMS-SMS iklan nan tidak penting. Belum lagi SMS iklan dari Dunkin Donut lah dengan beli 6 gratis 6 tapi dihitungnya harga satuan (bukan harga setengah lusin), CFC lah, Sapo lah, PHD lah, Starbucks lah, Timezone lah, Lotteria, KFC, dan baaaanyak lagi. Sangat-sangat menggangu.

Advertisements

Nanas dan kawan-kawannya

WordPress mengubah tampilan Dashboard? Rasanya beda.

Tadi saya tiba-tiba terinspirasi untuk memasak Ayam Kuluyuk. Iya, baru pengen eksekusi sekarang padahal udah dari kapan gitu katanya pengen bikin Ayam Kuluyuk. Abis makan siang, saya mampir dulu ke Griyamart untuk membeli nanas dan mentimun. Saya ingat pernah melihat teman saya membeli nanas yang sudah dipotong-potong di Griyamart itu. Ternyata waktu saya ke sana, adanya nanas utuh. Males banget kan ya ngupas nanas itu. Jadi saya tanya aja mas-mas yang mangkal di dekat timbangan buah/sayuran sambil saya nimbang alpukat, “Ada nanas yang udah dipotong-potong nggak?” Lalu dia menjawab, “Belum ada. Tapi kalau mau, bisa dipotongin.” Hoo, bisa ya? Akhirnya saya minta tolong mas-mas yang tadinya sedang motongin melon itu untuk ngupasin dan motongin nanas. Dasar saya emang manusia ignorant, saya nggak ngerti gimana cara milih nanas, gak tau juga itu nanas harganya berapa, males nanya. Belakangan baru tau kalau nanas di situ dijual per buah (bukan per gram) Rp9250 dan tampaknya daging buahnya dipangkas cukup banyak. Yasuds, terlanjur.

Eniwei, gara-gara nungguin mas-mas itu ngupas dan motongin si nanas, saya jadi muter-muter dulu di situ. Ujug-ujug terinspirasi untuk mencari saus asam manis botolan (ada gitu?) di rak saus-sausan, gak ketemu. Liat mayonnaise sachet, kepikiran pengen beli buat salad, tapi gak jadi. Liat brokoli, pengen beli buat salad, gak jadi karena ngerasa harganya mahal. Liat cokelat Dove crispy dan hazelnut, almond & raisin, tergoda, beli masing-masing dua biji. Trus tiba-tiba pengen beli Ultra Milk cokelat, beli dua. Trus balik ke timbangan sayuran/buah, nanasnya belum selesai. Beredar lagi ke rak roti-rotian, ada promo Bread.Co roti kopi beli dua gratis satu. Sempet kepikiran beli, tapi gak jadi, trus akhirnya tergoda juga. Tiga roti kopi Bread.Co masuk keranjang dan AKHIRNYA nanasnya udah dikemas. Keranjang belanjaan sudah terasa sangat berat. Bahaya juga ya kalau bawa duit berlebih di dompet, berasa horang kayah, beli ini-itu gak pake mikir. Padahal dalam kondisi kenyang tuh perut saya.

Nyampe di ruangan, telapak tangan kesemutan dan lengan pegal karena belanjaannya berat :p

Lain kali kalau mau beli nanas mending ditongkrongin aja tuh mas-mas sampe selesai motongin nanasnya daripada bangkrut.

Their mood: iseng. My mood: lebih iseng lagi. Atau sebaliknya.

Saya kurang begitu ingat kapan kejadiannya, yang pasti malam hari. Tiba-tiba ada SMS sok akrab yang tiba di ponsel saya. Rasa kesal dikombinasikan dengan kondisi otak yang sedang eror sehingga terjadilah percakapan sebagai berikut:

Kurang iseng gimana lagi coba? Saya bikin screenshot dan disusun kayak begini ...

Kurang iseng gimana lagi coba? Saya bikin screenshot dan disusun kayak begini … [klik gambar untuk memperbesar]

Bukan sekali itu saja ada orang yang tiba-tiba menghubungi ponsel saya dan mengajak untuk berkenalan. Pernah sampai ada yang mengatai saya tidak mau bersilaturahmi. Oh, pelis …

Ada beberapa SMS lain yang mampir di ponsel saya dan waktu itu saya iseng membalas karena saking sebalnya di-SMS ini-itu yang sebagian besar isinya hanyalah PENIPUAN, antara lain:

Yeah, mereka berharap saya masuk ke perangkapnya.

Yeah, mereka berharap saya masuk ke perangkapnya.

Biasanya pengirim SMS tidak membalas lagi SMS balasan saya karena sepertinya nomor yang digunakan entah nomor fiktif atau apa. Tapi pernah satu waktu setelah saya balas SMS bernada iklan dengan iseng, ternyata dibalas lagi …

Saha atuh euyy?

Saha atuh euyy?

… membuat saya ingin memeriksa buku telepon lama, jangan-jangan pengirim itu sebenarnya adalah salah satu teman saya. Tapi entahlah, iseng banget lah orang yang ngiklanin wasap gitu.

Sebut saja babi -bukan makhluk sebenarnya.

Tadinya mau nulis ini di status FB aja, tapi berhubung nggak mau dituduh eksis di FB maka saya urungkan niat saya itu and post it here instead, hehe …

Cuma mau laporan pandangan mata aja dari perjalanan saya pulang kerja kemarin. Just like everyday sih … Angkotnya ngetem, jalanan macet, penumpang ada yang naik, ada yang turun, ada yang serius memandangi dan meggulir/mengetik di ponsel/talenan interaktifnya, ada yang telponan pake talenan interaktif, goyang-goyang sendiri atau bahkan nyanyi-nyanyi sendiri karena telinganya terhubung dengan gadgetnya, ya gitu deh biasanya tiap hari.

Di depan Griya kadang-kadang ada penumpang yang naik ke/turun dari angkot yang saya tumpangi. Saya tidak terlalu memperhatikan karena waktu itu sedang sibuk chatting dengan dua sahabat saya melalui ponsel, sampai pada suatu titik saya mendengar suara plastik kemasan yang dibongkar dengan cukup berisik dari arah penumpang yang duduknya berhadapan dengan saya. Setelah saya perhatikan, suara itu muncul karena seorang ibu berjilbab membongkar kemasan teh celup. Nah, heran dong, ngapain si ibu ngebongkar kemasan teh celup di angkot? Apakah dia hendak menyeduh teh di angkot? Unlikely. Sambil pura-pura tidak melihat, saya perhatikan. Setelah si ibu merobek plastik luar kemasan teh celup lalu dia membuka kardusnya dan mengeluarkan bungkusan seperti aluminium foil yang mengemas teh celup. Aih, teh celup doang kemasannya berlapis-lapis begitu! Saya kira ibu itu bakal merobek bungkus mengkilap itu untuk mengeluarkan salah satu kantung teh celup untuk kemudian diseduh, tapi ternyata saya salah. Teh celup yang hanya terbungkus aluminium foil itu kemudian diletakkan di dalam kresek belanjaan Griya si ibu lalu kardus beserta bungkus plastik luarnya disembunyikan di bawah jok si ibu di angkot. Ternyata di bawah jok si ibu sudah ada kardus kosong kemasan susu bubuk dan ketika saya perhatikan lagi kresek belanjaan si ibu, sepertinya di situ juga ada susu bubuk yang hanya terbungkus kantong aluminium foil. I was likeWhat?? Gak bisa ya nunggu sampe rumah untuk buang sampah? Atau di rumahnya gak punya tempat sampah? Atau di lingkungan sekitar rumahnya tidak tersedia tempat sampah?”

Ingin rasanya saya ngomong “Bu, di rumahnya gak ada tempat sampah ya?” atau “Bu, ini angkot, bukan tempat sampah” atau “Bu, kardus bekas biar saya aja yang buang kalo Ibu gak punya tempat sampah”, tapi saya hanya diam dan berulang kali bergantian melirik si ibu-kresek belanjaan-kardus kosong di bawah jok si ibu. Lalu saya teringat baru saja membeli roti untuk cemilan di angkot karena biasanya sore-sore saya suka kelaparan. Saya segera memakan roti itu lalu dengan sangat demonstratif melipat platik pembungkus roti yang sudah kosong lalu memasukkannya ke dalam tas dengan maksud agar si ibu melihat bahwa saya tidak membuang sampah sembarangan sehingga si ibu sadar. Tapi si ibu tidak memperhatikan :p

Yaaa namanya juga usaha, hihihi … Jadi gak usah tersinggung ya kalau ada yang bilang bahwa Bandung itu kota para babi karena pemandangan barusan bukan baru saya saksikan sekali atau dua kali, melainkan sudah sangat sering sekali seumur hidup saya. Entah itu anak kecil, remaja, orang tua, bahkan orang tua juga ada yang menyuruh anaknya yang masih kecil untuk membuang sampah di dalam angkot atau “Lempar aja keluar, Dek!”

 I used to be one of those pigs who “hid” their trash under their seats or tossed them anywhere, maybe I’m still one of them because I never had that courage to tell those pigs to pick up the litter they’ve thrown in front of me.

Rasa penasaran yang dikesani sebagai hal yang tidak bermanfaat

Suatu pagi saya berbincang dengan 2 orang teman, lalu salah satu di antaranya menceritakan tentang salah satu gambar yang diunggah “mutual friend” kami di salah satu media sosial. Setelah saya meluncur ke TKP untuk melihat gambar yang dia maksud, saya merasa penasaran dengan motivasi pengunggah mengunggah gambar tersebut. Ini dia gambarnya …

1620529_751592644853971_1688660203_n

FYI, pengunggah (sebut saja A) adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha sendiri di rumahnya. Jadi saya asumsikan bahwa dia bukanlah tokoh ibu dalam percakapan pada gambar tersebut sehingga dia tidak perlu meninggalkan anaknya di rumah bersama pembantu. Saya membaca tulisan ini langsung menerima kesan bahwa A berusaha menunjukkan bahwa ibu yang bekerja di luar rumah sehingga terpaksa meninggalkan anaknya bersama pembantu adalah sebuah keputusan yang salah, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa A tidak menuliskan komentar apapun mengenai moral of the story atau apapun yg menunjukkan harapannya setelah orang-orang melihat gambar tersebut. Jika saja gambar ini diunggah oleh seseorang yang merasa menjadi tokoh ibu dalam percakapan tersebut, saya mungkin menerima kesan bahwa orang tersebut sedang merenung atas keadaan yang dialaminya. Yaaaa semacam menggalau gitu deh seperti kebanyakan orang-orang di media sosial :p

Sebelumnya saya juga sudah cukup sering mendengar cerita tentang beberapa ibu rumah tangga yang sangat membangga-banggakan profesinya yang tidak pernah meninggalkan anaknya di rumah bersama pembantu dan berkesan bahwa ibu rumah tangga lebih mulia dibandingkan ibu bekerja. Selain itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, saya juga menemukan sebuah taut tentang “stay at home mother” dan “working mother“. Demi menghilangkan rasa penasaran saya, sayapun memberikan komentar yang kurang lebih seperti ini:

What if the mother is a single parent who has to leave her children in the house with the maid to make a living? *just a thought* here’s something worth to read: http://carolynee.net/a-letter-from-a-working-mother-to-a-stay-at-home-mother-and-vice-versa/

walaupun saya sebenarnya tidak 100% setuju dengan taut yang saya berikan di situ :p Di bawah saya ada komentar yang lain, dari sebut saja B:

I’m a child of single working-mother also, and I know my mom had no choice unless she wants her full-of-money-n-jewelry-purse left unfed and uneducated. Every person has his/her unique life, can’t be generalized. Anyway, nice link Santi Sulistiani !!

Lalu dari sebut saja C:

Sometimes moms have to work for one or more reasons (only they know why- but i believe they do have good reasons), but they always carry their child in their heart. And, dont take it wrong, stay-at-home moms also leave their children with the teachers at shool for quite a long time, to do their part time job, or many other good reasons. 🙂 Agree with Santi Sulistianii and B

Kemudian A membalas:

Yes, I do agree that every moms have their own reasons to work outside their homes. Public roles also need women contributions in every fields of activities. Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside. According to the book of islamic fiqih there are several reasons that allow women to work outside to make a living :

1. Purpose or motivation of their work for nafqah should really fit with sharia. In the hadith explicitly mentioned three motivation or purpose of seeking nafqah : * To assist parents. * To support the family. * To maintain personal honor that so as not to beg for others.

2. This type of work must not contradict with sharia law.

Saya semakin penasaran dengan motivasinya setelah membaca argumen “Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside.” Kalau memang begitu, kenapa tidak ditulis semacam disclaimer bahwa tulisan itu hanya ditujukan kepada ibu-ibu bekerja yang tidak punya alasan mendasar untuk bekerja di luar rumah? Sayapun membalas kira-kira seperti ini:

Are there such “moms that do not have basic reasons to work outside”? *wondering* i never knew any mothers who work outside as an excuse to neglect or skip their obligation to take care of their children. even if they do exist, it’s only 0.0000 … 1% of mothers all over the world that the picture above can apply 🙂

Dan ketika saya lihat keesokan harinya ternyata A menyunting komentarnya dengan mengganti bagian “Maybe, the person who made this picture is consigned to other moms that do not have basic reasons to work outside.” dengan kalimat:

But I have different interpretation about the picture, the words leave does not mean “leaving for a while” because moms have to make a living. But, moms leave the responsibility to educate their children to the maid.

ditambah dengan poin 3 (bahwa pekerjaan/posisi tersebut memang dibutuhkan di masyarakat) di akhir balasannya yang saya setujui pula seperti halnya poin 1 dan 2 yang telah dia tulis. Kalimat yang menggantikan kalimat sebelumnya semakin membingungkan bagi saya karena dalam gambar tersebut ditunjukkan percakapan antara seorang anak dengan ibunya, bukan antara seorang filsuf dengan ibunya. At least that’s what I assumed. Saya balas lagi komentar hasil suntingan itu tanpa menyunting komentar saya sebelumnya:

wow, so u really think the child in the picture think that his/her mom leave the responsibility to educate him/her to the maid? u really got me confused to think that an innocent child has that deep thought :p

Apakah semua orang yang membaca percakapan anak-ibu itu akan menginterpretasikan hal yang sama dengan A? Lagi-lagi saya bertanya-tanya “Apa yang A harapkan dengan memasang gambar tersebut tanpa disclaimer?” Mungkin A memang tidak berharap apa-apa dan sekedar menunjukkan gambar yang menurut dia menarik dan layak untuk dibagikan. Saya masih merasa perlu ada disclaimer seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Beberapa waktu kemudian, saya ketahui dari kotak masuk surel saya bahwa A sudah membalas lagi:

Not the child. It just me.

Saya sebenarnya sudah mau mengakhiri diskusi tersebut dengan membalas komentar di atas dengan “Ok” karena kuatir melebar menjadi perdebatan yang tak berujung. Saya sudah terlanjur mengungkapkan rasa penasaran saya sehingga ketika A mengungkapkan opini yang menurut saya masih belum memuaskan rasa penasaran saya maka saya tidak tinggal diam. Saya langsung meluncur ke TKP untuk membalas dengan si ok tadi tapi yang saya temukan adalah komentar pendek itu telah dihapus. Makin bingung deh saya, kenapa dihapus? Walaupun penasaran, saya tidak ada niat untuk melanjutkan karena tidak mau menjadi orang yang dangkal dan berkesan menyebalkan (karena saya pasti akan sebal kalau ada orang yang bertanya “kenapa komennya dihapus?” walaupun hal itu -saya menghapus komentar- sepertinya tidak akan terjadi).

Tadi pagi ketika saya membuka surel untuk suatu keperluan, saya temukan bahwa ternyata A kembali membalas dengan kalimat yang cukup panjang dan sama sekali berbeda dengan komentar sebelumnya yang pendek tadi:

Maaf saya pake bahasa indonesia ya teh, dikehidupan real saya temui bahwa motivasi seorang ibu untuk bekerja diluar tidak melulu karena alasan ekonomi, ada yang karena alasan sayang sama pendidikan tingginya, ada juga alasan lain karena sayang dengan karirnya. Nah, ini yang saya maksud do not have basic reason to working outside. Untuk yang masalah ekonomi kita gak bahas ya karena jelas. Mungkin iya, bahwa pada awalnya seorang ibu tidak bermaksud menyerahkan tugas dan tanggungjawab pengasuhan kepada pembantu, tetapi sering terjadi secara tidak sengaja, disebabkan karena realitas kesibukan kerja seorang ibu akhirnya menyita waktu pengasuhan dan pendidikan anaknya. Saya mohon maaf sebelumnya bila tidak berkenan ya.

Hmm, terlalu banyak menyebut kata maaf membuat saya merasa kalau A sedang menghindari perdebatan yang sebenarnya saya tidak ada maksud ke sana. Begitu banyak yang berseliweran di kepala saya demi membalas komentar tersebut:

  • Ada salah seorang wanita rekan di kantor yang menurut saya cukup sukses baik di dalam karir maupun mendidik kedua anaknya. Kalau tidak keliru, beliau tidak memiliki pembantu. I really envy her. Saya juga kadang iri kepada beberapa teman saya yang bisa lebih sering bersama dengan keluarganya karena memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, bahkan beberapa di antaranya punya usaha sendiri di rumah. Saya semacam berada di antara keduanya, belum bisa sukses dalam karir dan belum sukses pula dalam mendidik anak. Saya selalu melewatkan kesempatan untuk menjadi orang pertama yang menyaksikan kepandaian baru yang dicapai anak saya, her first word, her first step, her first hum
  • Andai saja gambar itu pertama kali saya lihat diunggah oleh teman saya yang wanita-bekerja, mungkin tidak akan ada diskusi berbelit itu.
  • Saya ingat seseorang yang pernah menyebut bahwa orang Sunda hedonis-konsumtif sehingga menyemarakkan dunia permalingan di Bandung. Saya langsung terbakar mendengarnya dan berakhir tidak nyaman karena terpaksa melakukan hal yang tidak saya sukai, yaitu berdebat. Saya pun menceritakannya di blog saya yang lain.
  • Saya ingat sebuah acara kontes dai cilik ketika salah satu kontestan berceramah mengenai pernikahan. Walaupun isi ceramahnya 100% benar tetapi ketika itu disampaikan oleh seorang anak kecil yang tentu saja belum berpengalaman dalam pernikahan, rasanya akan sangat janggal.
  • Saya juga ingat sebuah tulisan dari seorang WNA yang menyebut Bandung sebagai kota babi. Walaupun saya akui bahwa Bandung yang saya ketahui memang sangat kotor dan bermasalah dengan pengelolaan sampah tapi tidak berarti bahwa semua orang yang beraktivitas di Bandung adalah orang-orang yang jorok. Dan lagi, WNA tersebut belum cukup lama tinggal di Bandung untuk menyimpulkan seperti itu, “I’m sorry that you were happened to see the dirty part of the city, but there are also clean places that you haven’t visited in the city, and there are many Bandung people who live a hygiene life. And by the way, squat toilet is the best design for toilet ever.”
  • Saya sebenarnya hanya ingin tahu motivasi di balik pemasangan gambar tersebut oleh seorang “stay at home mother” jika saya memang tidak diizinkan untuk berpikiran bahwa A termasuk orang yang mengagung-agungkan pilihan hidupnya sebagai “stay at home mother” dan melecehkan keputusan para ibu (dengan berbagai alasannya) untuk bekerja di luar rumah.

Awalnya saya bermaksud untuk meringkas semua yang berseliweran itu dalam sebuah komentar balasan, tapi kemudian saya putuskan untuk mengakhirinya saja dengan membalas “OK”. Zip it, wrap it, put it to an end.

Sorenya saya meluncur ke TKP, saya temukan bahwa gambar yang diunggah tadi sudah dihapus dan tentu saja komentar-komentarnya pun sudah tidak ada lagi, dan di media sosial tersebut pada hari yang sama A mengutip sebuah hadits:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)

Mungkin saya salah, tapi saya tidak bisa menghentikan otak saya yang berpikir bahwa kutipan hadits tersebut ditujukan kepada saya.

Saya tidak sedang mencari dukungan ataupun pembenaran dengan menulis ini, saya hanya ingin tahu apakah yang telah saya lakukan seperti yang telah diceritakan di atas adalah sesuatu yang tidak bermanfaat? Jika memang saya salah, saya hanya bisa berharap Allah SWT mengampuni saya. Saya tidak ingin menunjukkan tulisan ini di media sosial yang itu sehingga A membacanya karena saya kuatir jika saya melakukannya maka benar-benar akan menjadi hal yang tidak bermanfaat dan mengundang kemudharatan. Tetapi kalau pada akhirnya A mengetahui keberadaan tulisan ini ya mau gimana lagi :p Setidaknya A bisa membaca apa yang sebenarnya saya pikirkan selama diskusi tersebut.

Sariawan = Lingkaran setan

Waktu masih ngeblog di almarhum blog Friendster, saya pernah menulis betapa ‘setan’nya ketika saya sariawan. Entah turunan atau bakat, saya sering sekali mengalami yang namanya sariawan, atau yang dalam bahasa Inggris disebut ulcer atau sprue [kalo nggak salah]. Yang paling menyakitkan adalah jika sariawannya terletak di lidah atau combo di beberapa tempat di dalam mulut, uuh sedap benjet dah! Pernah suatu kali saya sariawan nggak beres-beres, belum sembuh yang satu sudah muncul yang lain. Ada yang bilang panas dalam sampai saya meminum segala larutan penyegar tapi tiada hasil yang signifikan. Ada juga yang bilang bahwa sariawan itu berasal dari stress.

Well, jika memang begitu adanya, maka sariawan dapat saya sebut sebagai lingkaran setan. Kenapa? Stress memicu sariawan, lalu penderitanya stress karena sariawan itu [jika ada yang belum pernah tahu] sakit, sodharra! Nah, akibat stress karena menderita sariawan, maka akan memicu sariawan. Begitulah terus sampai kiamat.

Salam sariawan!

Laporan ibu presenter setelah mengasuh 117 murid Sekolah Dasar

Senin yang lalu saya diberitahu oleh kepala bidang untuk menyiapkan presentasi untuk ditampilkan di depan anak SD yang akan mengunjungi kantor hari Kamis. Hmm … harusnya sih sudah terbiasa dengan itu, tapi sampai sekarang masih selalu saja stress melakukannya. Kuatir slidenya kebanyakan lah, kuatir presentasi tidak menarik lah, dan yang paling membuat saya takut adalah kuatir mempermalukan diri sendiri di depan orang banyak. Maklumlah, saya ini orangnya jaim. Jika Anda tidak mengerti arti kata JAIM, silakan cari di kamus bahasa gaul terbitan tahun 2000-an.

Setelah bergelut dengan internet selama dua hari penuh, diselingi oleh kesibukan baru saya sebagai ibu muda, akhirnya terciptalah sebuah presentasi yang memang tidak pernah membuat saya merasa puas karena selalu dikerjakan dalam keadaan tertekan dan buru-buru. Ini dia …

Benda Langit

I know, it’s a lousy presentation. Silakan ya kalau ada yang ingin mengoreksi. Gambar-gambar yang ditampilkan di situ, saya ambil tanpa izin [siapa suruh pajang di internet? wew!] karena memang sedang selalu terburu-buru. [Haha, peneliti macam apa saya ini?]

Satu menit pertama, saya masih bisa sok asyik di depan 117 anak SD kelas 6 dan beberapa guru pembimbingnya. Menit ke-5 dan seterusnya, suasana aula mulai gaduh seperti pasar baru. Hanya beberapa anak saja yang masih memerhatikan presentasi saya. Saya tidak mau ambil pusing dengan melakukan improvisasi di depan penonton, lempeng jaya melanjutkan presentasi yang bagi sebagian besar dari mereka dapat dikategorikan sebagai penampilan membosankan. Mungkin materi yang saya tampilkan terlalu céték dan presentasinya terlalu banyak menampilkan tulisan. Ah, memang kebiasaan menampilkan tulisan sebanyak-banyaknya di slide presentasi sangat sulit untuk dihilangkan. Tolong jangan hukum saya wahai para dosen di kampus, cukup nikmati sensasi gemasnya saja :p

Tibalah saatnya tanya-jawab, awalnya tidak ada yang bertanya. Lalu …

“Saya Amanda, saya mau tanya. Kalau saya ingin menjadi peneliti di LAPAN, harus sekolah atau kuliah di mana?”

Lalu …

“Nama saya Salwa, mau tanya. Setelah saya menonton video roket tadi, saya jadi teringat senjata roket seperti di luar negeri. Apakah LAPAN memproduksi senjata roket juga?” [sambil membaca kertas di tangannya, mungkin takut salah ngomong]

Jangan-jangan dia ada rencana untuk menembakkan roket ke suatu negara, hmm …

“Saya Hilmi, apa fungsi dan manfaat LAPAN bagi masyarakkat?”

Sini dek, saya kasih buku Renstra LAPAN, hehe …

Tiga pertanyaan selanjutnya, syukurnya, lebih ngastronomi.

“Nama saya Abror. Kenapa bulan tidak hancur, padahal terus-terusan kena meteor?”

Tapi yang satu ini …

“Saya Chika, saya mau tanya … soal asteroid yang jatuh di Rusia kemarin”

“Ya, kenapa? Chika ingin tau tentang apanya?”

“Penjelasannya …”

Oke, bentar ya, saya tulis esainya dulu. Nanti saya serahkan di akhir acara. Wew, becanda. Gara-gara pertanyaan yang kurang spesifik itu, sayapun menjawab tanpa fokus yang jelas. Duh …

Pertanyaan terakhir,

“Saya Aghnia. Kenapa benda-benda langit seperti meteor itu hanya jatuh ke Bumi, bukan ke planet lain? Kenapa benda-benda itu bisa jatuh, bukankah di angkasa mereka melayang-layang?”

Kalau kata Soimah, ini pertanyaan yang jos gandos. Tapi sayangnya, ketika saya menjawab keenam pertanyaan di atas, suasana pasar masih seramai pasar baru. Dan ketika saya tanyakan kembali kepada penanya “Gimana dek, udah ngerti atau masih ada yang mau ditanyakan lagi?” yang bersangkutan seperti gelagapan karena tidak mengira ibu presenter ini akan balik bertanya. Yah, saya lanjutkan saja dengan …

“… atau malah jadi tambah bingung?”

Dan disambut oleh suara tawa beberapa temannya. Sebenarnya saya ini mau presentasi ilmiah atau stand up comedy sih? Oya, setelah acara berakhir, ada seorang anak cantik yang menghampiri dan bertanya,

“Katanya mau ada meteor seukuran lapangan sepakbola ya jatuh ke Bumi, eh ke Indonesia?”

Nah loh, hoax dari mana tuh? Sebelum saya selesai berorasi menjelaskan tentang maraknya hoax astronomi di internet, si anak cantik udah buru-buru mau pergi aja.

“Oh gitu ya, makasih”

Iya dek, jadi kalau ada informasi dari internet itu jangan langsung dipercaya beg …

“Iya Bu, makasih banyak”

Eeeeh, saya belum selesai ngomong loh … dek, dek …