Kunjungan kedua ke dokter gigi

Yap, saya baru dua kali saja menemui dokter gigi untuk memeriksakan kesehatan gigi selama saya hidup. Waktu masih kecil suka ngintilin si Mamah sih ke dokter gigi tapi belum pernah benar-benar diperiksa gigi.

Kunjungan pertama saya ke dokter gigi sebagai orang dewasa adalah seperti yang saya ceritakan di “Penyakit misterius“. Pada saat itu saya merasa sangat tertipu karena ujug-ujug dirampok 300 ribu setelah dilukai dalam waktu sekian menit. Oke, lebay.

Kunjungan kedua ini saya lakukan dengan sangat hati-hati. Jadi, alasan utama saya memutuskan untuk menemui dokter gigi adalah “penemuan” lubang yang cukup signifikan di gigi geraham kiri-atas paling belakang. Saya cukup terguncang dengan penemuan tersebut karena saya merasa sudah sangat rajin menggosok gigi dan tidak mencurigai adanya kelainan di gigi belakang itu. Penemuan itu berawal dari kegiatan saya mengudap kacang arab. Saya pikir ada kacang yang nyelip di gigi paling belakang tapi begitu saya coba singkirkan “kacang yang terselip” itu, susah sekali. Sampai kemudian saya sadari bahwa itu adalah lubang gigi. Hiks!

Saya temui dokter gigi di klinik terdekat Rabu lalu (31/12/2014), dokternya cantik ūüėÄ

Saat dokter mulai memeriksa, dia menanyakan “Yang bolong gigi bawah atau atas, Bu?”

“Atas, Dok.”

“Tapi ini yang bawah juga banyak bolongnya.”

Duniaku runtuh …¬†“Masak??”

Dan ternyata gigi gerahamku sebagian besar berlubang dengan rekor terparah memang si lubang yang baru saya temukan itu. Katanya, pada umumnya gigi geraham dewasa hanya tumbuh sampai dua buah tiap sisi. Tapi gigi saya tumbuh sempurna sampai masing-masing tiga buah. Good news? Not really.

“Tapi gigi ketiga ini biasanya sulit terjangkau sikat gigi sehingga mudah rusak. Terutama gigi atas, solusinya hanya dicabut, tidak bisa ditambal.”

Ngékk!

Katanya alat bornya sulit menjangkau sampai ke belakang sekali sehingga sulit untuk membersihkan si lubang untuk¬†ditambal. “Kalaupun dipaksakan ditambal, kuatir kurang bersih. Nantinya sakit lagi, lebih merepotkan.”

Saya pernah beberapa kali merasakan ngilu sesaat di gigi kiri belakang, tapi saya kira hanya karena gigi sensitif saja. Makanya kaget betul ketika menyadari bahwa itu akibat gigi berlubang. I was cursing myself.

Dokter sempat mencoba memasukkan bor ke posisi gigi belakang itu, “Nah, segini, Bu, kira-kira. Pegal nggak, Bu?” Saya yang masih belum rela dicabut gigi sok kuat, “Nggak, Dok.”

Tapi kemudian dokter menyarankan saya untuk menambal gigi-gigi lain yang lebih mudah dijangkau. Dan sayapun setuju menambal tiga geraham kanan bawah setelah mengetahui perkiraan biayanya dan mengira-ngira isi dompet. “Satu gigi berkisar antara 125-150 ribu, tergantung besar lubangnya. Kalau yang parah sekali bisa sampai 200 ribu.” Gusti, nggak kapok ya dirampok dokter gigi? Karena masih kanyenyerian dokter gigi sebelumnya, saya iseng menanyakan biaya scaling ketika dokter mempersiapkan prosedur penambalan gigi. “Atas-bawah 250 ribu.” Masih lebih murah di situ, sodharra! Bener-bener ditipu deh saya!

Dokter menjelaskan bahwa proses penambalan menggunakan what-so-called “Light Curing”, dengan dua tahap pelapisan. Lapisan pertama untuk meredam rasa ngilu (yang mana sangat jarang saya rasakan sehingga tidak menyadari banyaknya lubang di gigi), lapisan kedua adalah tambalan utamanya. Setelah mangap cukup lama, dokter menyuruh saya merasakan apakah terasa ada ganjalan pada tambalan. Rahang saya terasa melayang, sulit menentukan ada ganjalan atau tidak. Dokter menyuruh saya menggigit-gigit dan mengunyah-ngunyah secarik kertas khusus berwarna ungu. Finishing touch and voila! Gigi saya terlihat aneh dengan tambalannya, but I like it, hehe …

Dokter menyarankan saya melakukan rontgen gigi jika benar-benar mantap untuk mencabut gigi belakang, “Untuk melihat giginya tumbuh normal atau miring. Kalau normal bisa saya cabut, kalau miring nanti saya rujuk ke dokter bedah.” Ngeri! “Kira-kira berapa biayanya tuh foto gigi?”

“Seratus sekian lah, nggak nyampe 200 ribu.”

Duh, rasakan deh akibatnya malas periksa gigi rutin!

Dokter sempat memberikan tips perawatan gigi sejak dini (karena sempat melihat saya membawa anak –yang kemudian nangis kejer waktu disuruh minggir dikit karena menghalangi dokter yang hendak memeriksa gigi saya). Katanya gigi anak itu biasanya yang rusak pertama kali adalah gigi depan-atas, lalu merembet ke belakang-atas, lalu belakang-bawah, dan akhirnya ke depan-bawah. Kenapa? Karena gigi yang paling tidak terlindungi pada saat proses meminum¬†air susu (baik itu susu ibu maupun susu formula) adalah gigi depan atas. Gigi depan-bawah terlindungi oleh lidah. Solusinya adalah menggosok gigi anak setiap kali selesai menyusu, bisa menggunakan kain kasa atau kain biasa yang bersih dan terlebih dahulu dicelupkan pada air matang hangat. Sulit memang, karena bayi biasanya langsung tertidur setelah menyusu. Alhasil, gigi anak saya sudah rog√©s di bagian depan-atas mulai usia (saat saya menyadarinya) 1 tahun. Walaupun sepertinya sudah terlambat, saya sebisa mungkin memaksa anak saya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Padahal setelah gosok gigi itu, dia masih minum susu dulu menjelang tidur, hehe …

Eniwei, tambalan gigi itu ternyata sudah mulai copot hari Minggu lalu (04/01/2015). Ada garansi nggak ya? Kakak saya sempat menyesalkan, kenapa saya rela membayar mahal padahal punya fasilitas BPJS? Saat itu saya pikir hanya akan menambal satu gigi saja, repot lah kalau harus ngantre di dokter umum untuk meminta rujukan dan antre lagi di rumah sakit. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lain kali saya rela-relain deh ngantre demi gretongan :p

Penyakit misterius

Sekitar bulan April/Mei yang lalu, tetangga saya yang biasa dipanggil Bunda tiba-tiba tidak dapat bangkit dari tempat tidurnya. Saya tidak tahu secara rinci mengenai penyakit Bunda itu, Mamah malah menduga kalau Bunda itu terkena stroke. Sepertinya mustahil karena Bunda masih berusia 30-an. Entah berapa lama Bunda sakit, yang saya tahu Bunda sudah aktif lagi berolahraga voli sore.

Sekitar 19 Mei 2013, Abi mulai merasakan pegal linu di kaki. Tanggal 20-nya, Abi masih memaksakan diri menyetir mobil mengantarkan Ummi ke pasar modern karena Ummi hendak berangkat ke Cengkareng. Keesokan harinya, pegal linu terasa semakin parah. Abi terbaring di kasur sekitar sepekan lamanya.¬†Ternyata Ummi merasakan pegal linu juga, hampir bersamaan dengan Abi, tetapi tidak terlalu dihiraukan. Mereka sempat berobat ke dokter dan didiagnosa “kecapekan”.

Tak lama dari situ, Bi Upi juga merasakan pegal linu di seluruh tubuhnya. Saking sakitnya sampai minta pulang kampung. Bu Atis yang ternyata pernah mengalami gejala yang sama beberapa waktu sebelumnya menganjurkan meminum obat entah apa namanya, tanpa merek, yang sangat murah. Obat itu katanya ampuh untuk menghilangkan pegal linu tersebut. Seharian Bi Upi terkapar di kamarnya dan keesokan harinya sudah sembuh setelah meminum obat murah tersebut.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 30 Mei, saya kesulitan bangun tidur pagi itu. Bukan, bukan karena saya kebo, melainkan karena pinggang saya sebelah kiri-belakang terasa sangat sakit. Setelah saya ingat-ingat, kaki saya mulai terasa sakit sejak malam sebelumnya. Mamah langsung curiga bahwa saya tertular penyakit seperti yang diderita Bunda karena ternyata tetangga yang lain pun mengalami gejala yang sama secara bergantian. Mamah sempat menganjurkan saya meminum obat murah saran Bu Atis, tetapi saya menolak karena saya sedang menyusui. Tidak boleh sembarangan meminum obat, apalagi yang tidak jelas kandungannya apa. Inginnya saya beristirahat dan menggeletakkan diri di kasur seharian, namun apa daya, ada bayi yang harus saya urus. Saya sempat berpikir untuk tetap berangkat ke kantor, tetapi badan ini langsung oleng begitu membungkuk sedikit saja, seperti orang lumpuh sebelah. Bagaimana mungkin saya naik-turun angkot dengan kondisi seperti itu? Mau berobat ke dokter pun tidak ada yang mengantar.

Sekitar pukul 11:30, saya merasakan demam, temperatur badan sekitar 38¬įC. Ketika saya periksa, ternyata lengan saya dipenuhi bintik-bintik merah seperti demam berdarah namun ukurannya agak lebih besar.¬†Saya baru bisa berangkat ke klinik sore harinya karena Abi sudah pulang dari sekolah. Saya minta tolong Abi mengantarkan saya dengan mobilnya.

Kami berangkat ke Klinik Jaya Abadi setelah sholat Ashar. Inginnya diperiksa dokter umum perempuan tetapi saat itu hanya ada dokter umum laki-laki, Dr. Parlindungan. Antrean di dokter tidak terlalu panjang tetapi rasanya lama sekali. Saya baru bisa menemui dokter sekitar pukul 17. Dokternya masih muda dan jauh dari bayangan saya tentang seorang Batak, bicaranya lemah lembut. Saya baru mengerti kenapa antreannya lama, ternyata dokter ini sangat teliti, tidak terburu-buru, dan yang paling penting adalah dia sabar mendengarkan cerita saya. Nah lho, ke dokter kok malah mendongeng? Hehe … Saya ceritakan selengkap-lengkapnya dan dokter pun menjelaskan bahwa demam itu menandakan adanya infeksi. Dokter juga menjelaskan bahwa gejala pegal linu di sendi-sendi belum tentu indikasi penyakit chikungunya seperti yang pernah saya dengar. Kemungkinan demam berdarah juga tidak ada, karena bintik-bintik pada lengan saya berukuran agak lebih besar dan menghilang ketika kulit diregangkan. Beberapa hal yang dijelaskan dokter antara lain:

  • Virus demam berdarah ada empat macam. Jika kita sudah terkena salah satu virus, maka kita tidak akan terkena virus yang sama karena tubuh sudah memiliki antibodi. Tetapi karena virus demam berdarah itu ada empat macam, maka kita maksimum berpotensi mengalami demam berdarah sebanyak empat kali.
  • Virus chikungunya juga disebarkan oleh nyamuk demam berdarah, dan kita hanya berpotensi terkena sebanyak satu kali.
  • Bintik-bintik pada lengan dan pegal linu di sendi-sendi juga merupakan indikator adanya infeksi virus selain demam.

Dr. Parlindungan memeriksa sendi/tulang sekitar punggung/pinggang dengan cara memukul-mukul pelan daerah itu, kesimpulannya penyakit saya tidak ada kaitannya dengan kandung kemih. Dokter menganjurkan saya menunggu sampai tiga hari. Jika masih demam, dokter menyarankan saya untuk tes darah karena beliau pernah menemui kasus seperti demam berdarah yang disertai typhus. Dokter memberikan resep tiga macam obat:

  • Golmun Plus, katanya untuk menambah daya tahan tubuh, Harganya lumayan, >Rp5000 per butir. Dosis 1√ó1 tablet sehari.
  • Neurosanbe plus untuk menghilangkan rasa sakit. Murah. Dosis sebenarnya 3√ó1 tablet sehari tetapi karena saya sedang menyusui, katanya kalau 2√ó1 sehari¬†ternyata sudah tidak terasa sakit, tidak perlu menambah dosis. Agak mengerikan, hmm …
  • Paracetamol untuk demam, dosis 3√ó1 sehari, diminum jika demam saja.

Karena itu adalah hari Kamis, berarti hari ke-3-nya adalah hari Minggu. Dokter menyarankan untuk memantau demam hingga Sabtu pagi, jika masih demam maka saya sebaiknya langsung tes darah ke laboratorium supaya hari itu juga dapat langsung dikonsultasikan lagi hasilnya dengan beliau. Hari Minggu klinik tutup. Dokter langsung membuat rujukan untuk tes darah ke Bio Test [karena dekat dengan Klinik Jaya Abadi] dengan seizin saya [ya barangkali saya ingin tes di laboratorium lain] dan surat keterangan sakit untuk diserahkan ke kantor saya.

Setelah meminum obat yang diresepkan dokter, rasa sakit saya berkurang. Panas tubuh kembali normal sebelum Sabtu pagi, saya membatalkan rencana tes darah. Hari itu bibir saya mulai seriawan tetapi lokasinya di bagian luar. Awalnya saya biarkan saja karena seriawan memang sudah semacam bawaan sejak kecil. Lama-kelamaan, seriawan di bibir mulai terlihat tidak masuk akal. Seriawan bertambah banyak dengan ukuran yang kecil-kecil berjejer di bibir bagian luar. Bibir saya terlihat babak belur, kering mengelupas dan kadang berdarah dari seriawannya ketika makan. Selama hidup saya, biasanya seriawan baru berdarah jika tergigit. Tapi kali itu seriawan mengeluarkan darah walaupun hanya tersenggol oleh makanan. Ini jelas-jelas bukan seriawan biasa. Hari Minggu saya juga mulai merasakan gusi bawah bagian kanan belakang membengkak. Pembengkakan gusi di bagian itu memang sudah beberapa kali dan biasanya saya biarkan saja karena biasanya akan mengempis dalam beberapa hari. Tetapi pembengkakan kali itu terasa sangat sakit sampai ke seluruh rahang. Bayangkan betapa menyakitkannya acara makan saya beberapa hari itu.

Bibir saya tidak terasa sakit walaupun banyak seriawan di situ, lagi-lagi ini pertanda bukan seriawan biasa. Karena biasanya seriawan akan membesar dalam beberapa hari dan terasa sakit. Kasus saya saat itu, seriawannya tetap berukuran kecil-kecil. Teman-teman yang melihat kondisi bibir saya sepertinya merasa jijik kasihan.

Selasa tanggal 4 Juni saya memutuskan untuk mengunjungi dokter gigi untuk pertama kalinya sejak lebih dari 20 tahun lalu. Setelah saya menceritakan keluhan gusi dan bibir saya, dokter langsung memeriksa gigi saya dan menyarankan tindakan yang dia sebut scaling, which I had no idea what it is. Saya setujui saja tanpa berpikir untuk menanyakan berapa harganya. Terrrrrnyataaaaaaa, sodhara-sodharaaaa, scaling adalah istilah untuk tindakan pengikisan karang gigi. Rasanya aduhai! Ketika proses berlangsung, gusi saya berdarah-darah dan Anda tahu apa kata dokter gigi itu?

Memang harus berdarah kalau ingin bersih.

Lalu tahukah Anda …

Biaya scalingnya tiga ratus ribu.

Begitu kata dokternya, dan saya hanya menjawab “Oh” dengan tatapan kosong. Lalu dokternya melanjutkan,

Dibayar sekarang,

karena saya tidak bereaksi mengeluarkan dompet atau apapun yang menunjukkan itikad untuk membayar, hahaha … Sebenarnya saat dokter itu menyebutkan harga, otak saya langsung berpikir untuk lari ke ATM terdekat karena saya hanya membawa uang 250 ribu rupiah saja dan saya kira biayanya dibayar di luar ruang periksa. Dengan pasrah, sayapun berujar,

Errr … Aduh, uang saya kurang. Gimana ya?

sepertinya kepala saya berubah menjadi permen loli bertuliskan “sucker“. Saya kira saya bakal mendapatkan keringanan berupa diskon, hehe … Tapi kata dokternya dengan wajah illfeel,

Oh, adanya berapa? Sisanya bisa transfer kok. Ibu punya rekening di bank apa? Mandiri? BCA? BNI?

Tampaknya pasien yang tidak membawa cukup uang bukanlah kejadian yang langka bagi dokter gigi itu. Singkat cerita, sayapun membayar 100 ribu tunai dan 200 ribu melalui transfer ATM. Sekeluarnya saya dari apotek tempat praktik dokter gigi itu, saya sepertinya terlihat linglung karena sepanjang jalan dari apotek sampai ATM dan dari ATM sampai ke rumah saya merenung dan bertanya-tanya,

Mimpi apa gue semalem, dirampok dokter gigi sebegitunya?

Setelah saya ceritakan kisah menyedihkan saya di atas, barulah saya tahu dari teman saya bahwa biaya scaling dihitung per bagian, gigi atas dan gigi bawah. Memang pada umumnya biayanya 150 ribu per bagian, tetapi jika sekaligus atas-bawah biasanya ada diskon. Dan biasanya untuk tindakan scaling sebelumnya ditawarkan untuk membersihkan semua gigi atau hanya atas/bawah saja. Merasa ditipu? Mungkin, karena salah saya juga tidak menanyakan harganya di awal. Tapi belakangan saya tertawa mengingat kisah tadi karena saya sebenarnya tidak membayar biaya dokter di luar tindakan scaling tadi. Entah karena dokternya kasihan atau 300 ribu itu memang sudah termasuk jasa dokter. Oya, untuk seriawan dan sakit gusi, dokter memberikan resep Aloclair plus gel [oles seriawan] dan Aloclair plus rinse [kumur-kumur], harga total sekitar 170 ribu. Pengeluaran yang fantastis itulah yang membuat saya terlihat linglung. Berikut kesan saya terhadap kedua obat tersebut:

  • Obat kumurnya sangat kental sehingga sangat sulit untuk dikumur. Sekali kumur cukup 10 ml saja (tersedia cangkir takarnya), tidak boleh dicampur air. Kumur-kumur selama 5 menit, jangan ditelan. Setelah berkumur, tidak diperkenankan untuk membilas mulut dengan air dan tidak boleh makan-minum selama 2-3 jam (saya agak lupa instruksi dokter yang ini :p). Rasanya ANEH tapi gusi dan gigi saya sembuh dalam beberapa hari.
  • Obat oles seriawannya agak kurang nyaman karena bentuknya jel. Cukup manjur, seriawan saya sembuh dalam beberapa hari.

Sepulang dari dokter gigi, saya memutuskan untuk mandi walaupun hari sudah malam karena saya merasa sangat “KOTOR” lelah, barangkali mandi bisa membuat saya merasa lebih segar. Saat mandi saya melihat lengan saya seperti merinding, pori-pori membesar. Saya pikir biasa saja karena saya mandi malam-malam, dingin. Selesai mandi, saya lihat lagi lengan saya. Ruam merah dan di paha saya juga muncul ruam seperti campak.

APA LAGI INI??

to be continued … kalau sempat :p

Sariawan = Lingkaran setan

Waktu masih ngeblog di almarhum blog Friendster, saya pernah menulis betapa ‘setan’nya ketika saya sariawan. Entah turunan atau bakat, saya sering sekali mengalami yang namanya sariawan, atau yang dalam bahasa Inggris disebut ulcer atau sprue [kalo nggak salah]. Yang paling menyakitkan adalah jika sariawannya terletak di lidah atau combo di beberapa tempat di dalam mulut, uuh sedap benjet dah! Pernah suatu kali saya sariawan nggak beres-beres, belum sembuh yang satu sudah muncul yang lain. Ada yang bilang panas dalam sampai saya meminum segala larutan penyegar tapi tiada hasil yang signifikan. Ada juga yang bilang bahwa sariawan itu berasal dari stress.

Well, jika memang begitu adanya, maka sariawan dapat saya sebut sebagai lingkaran setan. Kenapa? Stress memicu sariawan, lalu penderitanya stress karena sariawan itu [jika ada yang belum pernah tahu] sakit, sodharra! Nah, akibat stress karena menderita sariawan, maka akan memicu sariawan. Begitulah terus sampai kiamat.

Salam sariawan!

Post-wed clarification

Huwow! Ternyata sudah dua bulan saya tidak menulis di sini, hmm… Mau cerita apa ya kali ini? *mikir*

*mikir*

*mikiiiiirrr*

Aha!

Eh… *mikir*

Sebenarnya banyak sih yang ingin saya ceritakan, sampai saya catat di ponsel agar tidak lupa. Tapi begitu saya lihat lagi… sepertinya suasana hati saya belum mendukung. Baiklah, akan saya coba…

Dalam rangka menikah, saya memutuskan untuk cari kesempatan mengambil cuti selama satu bulan penuh di bulan Januari, jika dihitung ya sebanyak 21 hari kerja. Selama cuti, saya dapat dengan leluasa menyalurkan salah satu hobi saya, yaitu LEYEH-LEYEH. Alhasil, kembali ke kantor dengan otak yang sudah terbiasa leyeh-leyeh, santai-santai, bermalas-malasan, sesuka hati, paraaaaaaaah deh pokoknya. Pukul 10 rasanya kepala ini sudah sangat berat tertarik oleh gravitasi bumi, inginnya tiduuurrr. Sampai sempat beberapa kali di bulan Februari DAN Maret saya mengunci pintu ruangan dan menutup tirai lalu tidur seenaknya di karpet plastik yang biasanya saya gunakan sebagai alas sholat. Namanya juga korupsi waktu *hati nurani bicara*, tidurnya pun tidak tenang tapi apa daya ngantuknya minta tolong banget.

Selanjutnya saya mulai bertemu dengan beberapa orang di kantor. Tidak terlalu banyak karena saya memang sudah lama tidak bersilaturahmi dengan orang-orang di mesjid. Saya paling bertemu orang-orang ketika jadwal kolokium tiap Selasa siang, atau pertemuan sosialisasi yang mengumpulkan seluruh peneliti ataupun seluruh PNS di kantor. Pertanyaan yang (sudah dapat ditebak) diajukan oleh orang-orang (terutama kaum nosey) adalah…

Sudah isi belum?

dan

Sekarang tinggal di mana?

dengan berbagai struktur kalimat dan istilah yang digunakan yang pada intinya SAMA SAJA.

Baiklah, saya akan coba klarifikasi di sini *sok ngartis*

Saya jawab pertanyaan kedua dulu deh ya… Sejak awal menikah, saya dan suami memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua saya yang sudah saya tempati bersama keluarga kakak saya sejak saya mulai bekerja di Bandung. Kenapa tidak mengontrak atau menyicil rumah? Hmm… berhubung suami bekerja di Jakarta, maka beliau jarang berada di Bandung. Nah, kalau saya mengontrak atau membeli rumah (entah itu tunai atau kredit), saya akan sering menempati rumah itu sendirian, and it will be tiring. Perlu saya ingatkan lagi bahwa saya adalah orang pemalas. Jika saya harus tinggal di rumah sendirian maka kemungkinan rumah tersebut tidak akan terurus. Lagipula saya memang belum sempat mencari-cari rumah untuk dikontrak maupun dibeli. Lagi-lagi bakat malas saya yang berperan di sini. Sejak dulu saya selalu berpikir “Untuk apa mencari rumah jika hanya akan ditinggali sendiri? Kalaupun sudah berkeluarga, saya ingin suami saya yang mencarikan rumah untuk keluarga kami” Pikiran yang bodoh? Ya terserah. Mungkin nanti kami akan mulai mencari rumah jika suami saya sudah bekerja di Bandung. Kalau suami tak kunjung pindah kerja ke Bandung? Hmm… nanti dipikirkan lagi :p Sejauh ini saya masih menikmati tinggal bersama ibu dan keluarga kakak saya, mudah-mudahan mereka tidak terbebani.

Pertanyaan pertama mengenai ISI… Walaupun saya mengerti apa maksud dari “isi” yang orang-orang tanyakan, saya masih selalu merasa terganggu. Bukan karena pertanyaannya, tetapi istilah yang digunakan. Ada yang mengatakan “hasil”, “namper” [bahasa Sunda yang artinya mengendap], “telat”, atau lainnya. Kenapa mereka tidak langsung mengatakan “hamil” saja? Saya menjengkelkan sekali bukan? :p

Selama bulan Februari saya masih bisa menjawab “belum” karena memang saya masih datang bulan, Maret mulai ragu karena saya sempat menggunakan test pack dan hasilnya dua garis walaupun tidak terlalu jelas. Saya hanya bisa menjawab “belum tau” selama saya belum mengunjungi dokter untuk memeriksakan kandungan.

Tanggal 11 April saya dan suami memutuskan untuk mengunjungi dokter kandungan di RS Al Islam. Karena saya terlambat datang dan belum tahu bahwa untuk USG harus mengisi kandung kemih dulu [baca: banyak minum, tahan pipis], saya baru berhasil masuk ruang periksa sekitar pukul 12:30. Kepala sudah pusing. Ternyata memang sudah ada kehidupan di dalam rahim saya, berusia 9-10 minggu. Itu kata dokternya karena ketika di-USG saya tidak ngeuh bagian mana yang dokter bilang sebagai janinnya. Saya percaya saja lah karena memang beberapa hari setelah menguji dengan test pack¬†saya mulai merasakan mual-mual a la wanita hamil. Padahal awalnya saya senang sekali karena setelah uji test pack ternyata saya tidak mual-mual sampai suami bertanya-tanya “Kok Neng gak mual-mual?”

Tanggal 11 Mei saya memeriksakan kandungan untuk yang kedua kalinya, kata dokternya bagus. Usianya sudah 14 minggu, sudah ada tangan dan kakinya. Lagi-lagi saya sulit melihatnya di layar USG. Secara teori, usia kehamilan segitu harusnya sudah mulai berkurang mual-mualnya dan nafsu makan sudah kembali normal atau bahkan bertambah. Tapi yang saya alami justru sebaliknya. Saya semakin tidak bernafsu untuk makan, dan semakin sering muntah. Lemas sekali sodara! Kalau boleh, saya ingin cuti lagi sampai saya melahirkan dan bayi saya berusia tiga bulan :p

Oya, ada satu lagi pertanyaan yang lumayan sering diajukan terkait dengan status saya yang sudah menikah:

Suaminya pulang ke Bandung tiap akhir pekan?

Hmm.. perlu saya tegaskan kembali bahwa siklus kerja suami saya tidak sama dengan saya yang kerja Senin-Jumat lalu libur Sabtu-Minggu. Sebelum menikah, siklus kerja beliau adalah 4-4 alias 4 hari kerja lalu 4 hari libur. Jadi siklusnya per 8 hari, bukan 7 hari seperti saya. Mulai Januari 2012, siklus kerjanya tetap per 8 hari namun dengan formasi 6-2 alias 6 hari kerja lalu 2 hari libur. Kalau saya jawab “gak selalu akhir pekan” kok kesannya suami saya kerjanya bebas banget, padahal ya maksudnya seperti yang sudah saya jelaskan barusan. Sebagai istri dan anggota masyarakat yang baik *lebay* maka saya harus dengan sabar menjelaskan tentang siklus 8 hari itu setiap kali ada yang mengajukan pertanyaan mengenai kapan suami saya pulang ke Bandung.

Nah, jadi sudah terjawab ya ibu-ibu, bapak-bapak? Sekarang saya mau melanjutkan leyeh-leyeh dulu ūüėÄ

*lima menit kemudian*

Ouwh, barusan muntah ūüė¶

Bikin janji dulu atau langsung dateng aja?

Mulai akhir November yang lalu saya memutuskan untuk pergi ke klinik kecantikan [aduh, agak gak tega nyebutnya] dalam rangka mengatasi kerontokan rambut. Udah botak getoh kepala saya!

Sambil menunggu si Asep facial, saya daftar konsultasi ke dokter kulit di situ. Sepertinya saya kurang beruntung [atau malah sangat beruntung?], dokter yang praktik saat itu ternyata laki-laki. Sudah terlanjur datang, saya temui saja dokter laki-laki itu. Beliau melihat sekilas kondisi kulit kepala saya dan memberikan selembar kertas berisi tahap-tahap perawatan rambut. Ada scalp gel, medicated shampoo, dan hair growth tonic [buat yang sudah pernah pasti hapal saya berobat ke klinik apa, hehe]. Dokter juga membuat resep obat yang diminum dan surat rujukan untuk tindakan penyinaran laser [sounds scary huh?]. Katanya,

“…satu kali tindakan 150 ribu rupiah. Boleh seminggu sekali, seminggu dua kali, seminggu tiga kali…”

Ajegile! Bisa jatuh miskin saya!

“Jadi minimalnya tiap berapa lama Dok?” sambil nyengir pahit.

“Saya buatkan rujukan untuk satu bulan ya, untuk 1-4 kali”

Et cetera, et cetera, si dokter nyeramahin saya bahwa untuk perawatan harus diniatkan betul-betul karena hasilnya baru bisa terlihat setelah 7 bulan atau bahkan lebih. Aduh, semoga ada rejekinya untuk mendukung niat saya itu, hiks!

“Udah bisa mulai tindakan hari ini Dok?”

“Oh tentu…bisa.”

Kirain beneran bisa langsung gitu, setelah keluar dari ruang konsultasi… Hampir pingsan saya melihat jumlah yang harus dibayar. Lalu ketika saya menanyakan tentang tindakan penyinaran, katanya untuk hari itu sudah penuh, harus telepon dulu. Baiklah… Tapi setelah dipikir lagi, kenapa harus lewat telepon? Saya kan udah ada di situ. Tapi sudahlah, nanti aja bikin janjinya, masih shock dengan ‘perampokan’ yang baru terjadi. Si Asep ternyata lama banget, gak kelar-kelar. Ternyata katanya facial itu bisa menghabiskan waktu 1-1.5 jam. Oya ya, saya jadi teringat jaman dahulu kala waktu saya hampir bangkrut ‘dirampok’ dokter kulit untuk urusan jerewie. Facial itu lama, menyakitkan, dan mahal. Lumayan banyak juga manusia yang rela membayar untuk disakiti, he…

Beberapa hari kemudian, saya telepon klinik untuk membuat janji. Kata mbak-mbak di klinik, untuk tindakan laser langsung dateng aja. Wah, ga konsisten nih mbak-mbak di sana.

“Tapi kemarin katanya saya harus telepon dulu…”

Barulah si mbak mencatat janji untuk tindakan keesokan harinya. Besoknya, mabal di tengah jam kerja, hehe… Laser perdana, ga kerasa apa-apa. Si mbak ngasih sesuatu yg dingin ke kulit kepala sebelah kiri saya sebelum melakukan penyinaran. Timer berbunyi dua kali dan…

“Sudah selesai mbak”

“Loh? Kepala saya yang botak sebelah kanan loh” kirain penyinaran akan dilakukan ke seluruh bagian kepala.

“Terapi berikutnya di sebelah kanan”

“Ga bisa sekalian aja sekarang?”

“Waktunya sudah habis”

Twewewww…Dan ternyata harganya 165 ribu. Arrgh!

Sepekan kemudian,

“Saya mau bikin janji untuk laser”

“Untuk laser langsung datang aja”

Baiklah, saya sudah malas berdebat dengan mbak-mbak klinik lagi. Besoknya, saya langsung menunjukkan surat rujukan dokter ke mbak-mbak klinik.

“Sudah bikin janji?”

“Kemarin saya udah telepon, katanya langsung dateng aja”

Lalu si mbak menelepon entah ke mana dan menyebut-nyebut facial,

“Lain kali bikin janji dulu ya mbak”

“Kemarin juga saya udah telepon, katanya langsung dateng aja”, keukeuh.

“Sebaiknya bikin janji dulu mbak, soalnya sabtu suka penuh…”

“Saya bukan mau facial mbak”

“Oh..” membuka kertas rujukan dan menelepon lagi.

“…” makanya baca dulu getoh, bikin esmosi aja.

“Silahkan tunggu ya mbak, nanti dipanggil”

Di ruang laser, saya mulai cerewet.

“Mbak, sebelah kanan ya”, “Mbak, diwaktu ya?”, “Mbak, ini lagi diapain?”

Jadi, ternyata… Karena orang yang ngelaser itu adalah terapis-facial [begitulah mereka menyebutnya], jadi kalo mau facial harus bikin janji dulu, sehingga jadwal laser pun harus mengikuti jadwal facial. Tindakan laser pun dibatasi sampai setengah jam karena ya itu tadi, harus memfacial. Kirain gak boleh lama-lama karena kuatir merusak jaringan otak :p Ah, rumit. Kalo emang harus bikin janji ya ga usah bilang “langsung dateng” gitu.

Sepekan kemudian saya sudah bertekad untuk maksa bikin janji walaupun si mbak bilang langsung dateng aja,

“Mbak saya mau bikin janji untuk laser”

“Ya, untuk hari apa?”

“Besok”

“Bisa, untuk jam berapa?”

“Paling pagi jam berapa?”

“Jam 10”

“Oke, jam 10” padahal udah tau kalo jam 10 tuh belum bener-bener buka.

“Iya, silahkan langsung datang aja”

“Oke, makasih mbak”

Wait! She was supposed to write my name on the schedule, yet she didn’t even ask my name. Dan tololnya, saya langsung bilang makasih aja dan langsung nutup teleponnya. Juuuust great! Terpaksa deh besoknya saya harus siap berantem lagi dengan mbak-mbak hari Sabtu. But well, ternyata mbak hari Sabtunya ganti! Tapi teteeeep…

“Sudah bikin janji?”

“Errr…kemarin saya udah telepon, katanya langsung dateng aja”

“Mmm…paling nunggu sampe jam 12 mbak, soalnya penuh”

“…” @*%$#*^$ “Jam 12 ya? Gapapa deh” pahit.

“Mbak mau tunggu di sini atau jalan-jalan dulu?”

“Saya mau ke toilet bentar deh”

“Ya, silahkan”

“…” @*^$%#*

Syukurlah ‘kesabaran’ saya membuahkan hasil, nama saya sudah dipanggil setengah 12. Untung ga pake jalan-jalan dulu sampe jam 12, bisa bablas. Selesai dilaser,

“Jadi mbak, sebenernya kalo mau dilaser itu harus bikin janji dulu apa gimana?”

“Kalau kosong bisa langsung dateng aja…” yeah right, as if I put a CCTV there and connect it to my laptop at home so I can tell when to just go there without making appointment. “…tapi sebaiknya booking dulu” you said it.

“Kalo gitu… saya mau buking sekarang deh buat minggu depan” kesal.

“Bisa mbak, nanti saya liat dulu jadwalnya”

dan seterusnya… si mbak nulis nama dan nomor telepon saya untuk booking laser pekan depan. Pfiuuhh…dengan begitu, saya tidak perlu buang-buang pulsa saya hanya untuk mendengar “langsung dateng aja” dan buang-buang energi untuk berdebat dengan mbak-mbak soal “kemarin udah nelepon” dan “sebaiknya bikin janji dulu”. Ha!

Luar biasa!

Tadi janjian makan siang ma si Asep, masih belum tau mau makan di mana. Si Asep ngajak Nanas untuk bingung bareng, sempat terpaku beberapa menit di depan gerbang kantor karena bingung mau ke mana. Si Asep punya ide untuk makan iga bakar di tempat makan yang menurut saya berisik karena posisinya deket banget ma jalan. Nanas nawarin ke Padang [doh, jauh banget sih Nas?], saya langsung menolak. Akhirnya balik lagi ke ide si Asep, berhubung saya udah lupa gimana rasanya makan di tempat seberisik itu.

Nyampe di tempat iga bakar “Yu’ ****” [lupa, pokoknya Yu’ sesuatu gitu lah, yang pasti bukan Yu’ Makan], liat-liat daftar menu yang tertulis di papan tulis putih [baca: whiteboard]. Oya, ada Uno baru mau mulai makan, ayam goreng kalo ga salah. Hai-hai dikit.

Asep (A): “Satenya ada?”

Mas-mas penjual (M): “Arangnya belum ada”

Barangkali ada yang belum ngerti kenapa si mas jawab begitu… Arang adalah bahan bakar yang biasa digunakan untuk membakar sate atau makanan apapun yang dibakar. Jadi maksudnya untuk saat itu belum bisa menyediakan menu sate karena satenya ga bakal jadi sate kalo ga ada bahan bakar buat ngebakarnya [doh, ini penjelasan koq malah bikin bingung ya?].

A: “Kalo iga bakarnya ada?”

Aduh Sep, nyebut! Saya langsung refleks mukul lengan si Asep gara-gara pertanyaan itu.

M: “Iga paling sopnya aja”

Saya liat-liat menu prasmanan di situ, kurang menggugah selera. Asep masih bingung mau pesen apa.

Saya (S): “Saya pesen sop iga deh”

A & Nanas (N): “Iya, saya juga”

M: “Jadi tiga ya?”

S, N, A mengangguk.

Kami memilih meja di belakang Uno. Bangkunya panjang, nyangkut di mejanya sampe si Asep susah nariknya. Ga lama kemudian si mas dateng ke meja kami,

M: “Mbak, mau minumnya apa?”

A & N: “Teh botol S**ro”

S: “Air putih aja ada?”

M: “Ada”

Lalu dua porsi sop iga tiba dengan masing-masing satu porsi nasi.

N: “A, aku nasinya setengah aja”

M: “Setengah aja? Sebentar”

Porsi terakhir untuk Nanas pun tiba, dua teh botol dan satu gelas air putih menyusul. Saya dan si Asep langsung tenggelam dalam usaha memotong-motong daging yang menempel pada iga di mangkuk sop masing-masing, Nanas hanya menyeruput teh botolnya saja. Tampak kurang bersemangat. Pas beberapa detik lagi kami mau menyendok si nasi,

N: “Cobain deh nasinya”

Mencurigakan, pas diliat si nasi udh agak-agak berair gitu, dan berbau.. Saya masih ga percaya, disendok deh tuh nasi sedikit, diendus-endus… Iya sih, bau. Kami bertiga langsung saling menatap. Ya…mata kiriku ke Nanas, mata kananku ke si Asep, mata kanan si Asep ke Nanas, mata kirinya ke saya, dan seterusnya :p Boong, pokoknya gitu lah. Begimaneh iniiiiih? Kan lagi laper, masa cuma makan sop doang? Nanas sih nerusin nyeruput teh botolnya, katanya sopnya mau dibungkus aja, beli nasi di koperasi. Saya punya ide minta ganti nasi tapi kata Nanas kayaknya mereka ga punya nasi lain. Nanas bilang nanti dikasitau aja si masnya pas kami bayar,

Kasian kan kalo ga dikasitau nanti setelah kita mereka ngasih nasi basi lagi ke orang lain, orang lain ga mau dateng lagi ke sini jadinya…

Wow, mulia sekali kamu Nas! Saya sih keukeuh pengen minta nasi baru, apa yang terjadi dengan ‘pelayanan prima’? But wait, itu kan materi diklat prajab, si masnya pasti belum pernah ikutan kaaan? Weks!

Ngga lama kemudian, Uno beranjak dari mejanya, membayar makanannya dan berpamitan.

Uno (U): “Duluan”

S, A, N dadah-dadah

Saya liat piring bekas makan Uno masih tersisa banyak nasi.

Tuh, Nas. Uno juga ga abis nasinya.

Saya agak males juga sih komplen langsung, makanya ngomporin Nanas untuk nanyain nasi baru.

N: “A, ini ada nasi lain ga? Yang baru?”

M: “Ngga ada Mbak”

N: “Ini nasinya basi ya?”

M: “Oh, nasinya lembek ya”

N: “…”

M: “Ngga ada lagi Mbak”

Baiklah, saya dan si Asep mulai memotongi daging iga itu dan memakannya. Setelah beberapa potong, saya merasakan suatu sensasi yang janggal di mulut saya. Seperti bau minyak tanah! Apakah daging iga memang rasanya seperti itu? Saya belum terlalu yakin sih bau yang saya rasakan itu memang bau minyak tanah, bensin, atau solar, atau memang hanya rasa daging saja karena saya memang sangat jarang mengkonsumsi daging merah. Setelah si Asep bersusah payah memotongi daging iga dan menyuapkan potongan daging entah yang keberapa,

A: “Ini dagingnya diasap gitu ya?”

S: “Ha? Diasap?”

A: “Iya, diasap, biar ga cepet busuk. Bau kerosin”

S: “Kerosin? Sejenis bahan bakar kan?”

N: “Minyak tanah? Kerosin tuh minyak tanah”

S: “…”

A: “Iya, emang teteh ga ngerasa?”

S: “Iya sih tadi tuh ngerasa ada bau-bau apaaa gitu, tapi ga tau bau apaan”

Akhirnya saya dan si Asep menghabiskan sop itu. Sop iga punya Nanas dibungkus. Sambil menghabiskan minum [satu-satunya hidangan yang berasa normal di situ selain kuah sopnya] saya berpikir,

Kira-kira saya bakal mabok ngga ya makan iga berasa minyak tanah itu?

Kami beranjak dari meja dan membayar. Nanas dan si Asep masing-masing 19000 rp, saya 16000 rp. Jadi segitu ya harga sop iga beraroma minyak tanah? Sebelum balik ke kantor, kami nyimpang ke Odise. Saya sih pengen menetralisir aroma ga enak di mulut dengan Yoctail Odise yang enak itu, si Asep ikut-ikutan mesen.

Beberapa saat setelah saya balik ke meja, ada Skype dari si Asep,

Perut tambah sakit ūüė¶

Entah deh gara-gara sambel yang dia makan kemarin, daging iga beraroma minyak tanah tadi, atau Yoctail leci yang dia beli tadi. Atau komplikasi? Kalo saya sih ga ada sakit apa-apa di perut, bahkan setelah minum Yoctail stroberi… Cuma waktu sendawa rasanya minyak tanah.