Category Archives: Meracau

Bagaikan dikejar-kejar hantu…

… padahal belum pernah juga sih dikejar-kejar hantu. Atau mungkin pernah ngeliat hantu tapi nggak nyadar bahwa itu hantu sehingga nggak lari. Anyway…

Syahdan, kantor saya menerapkan sebuah peraturan yang lumayan mengerikan layaknya hantu (padahal nggak tahu juga sih hantu itu memang ada dan mengerikan atau tidak. Sudahlah, nggak perlu dijelasin kali yaa). Peraturannya terkait dengan jam kerja dan tunjangan kinerja. Penjelasan mengenai tunjangan kinerja silakan dicari sendiri ya. Peraturan jam kerja… bisa ditanya ke Kemenpan. Lah, trus saya mau cerita apa di sini? Peraturan jam kerja yang sudah saya ketahui sejak pertama kali bekerja di kantor saya ini adalah lima hari kerja (Senin-Jumat) dengan durasi 7,5 jam per hari (pukul 07.30-16.00 WIB, dikurangi istirahat selama satu jam). Peraturan jam kerja ini di kantor saya sempat beberapa kali mengalami penyesuaian. Contohnya ketika saya masih menjadi karyawan baru pada tahun 2005, jika datang terlambat x menit (misalnya pukul 07.45 WIB) maka wajib mengundur waktu kepulangan selama x menit itu (menjadi pukul 16.15 WIB). Saat itu belum ada konsekuensi yang nyata semacam pemotongan gaji per menit keterlambatan atau semacamnya, tapi saya masih berusaha untuk mengikuti peraturan tersebut. Dulu sempat ada pemotongan honor penelitian berdasarkan akumulasi kekurangan durasi kehadiran selama satu bulan (waktu itu dihitungnya 4 pekan @37,5 jam) tapi tidak bertahan lama.

Fast forward, peraturan terbaru ada PP 53 mengenai akumulasi kekurangan durasi kehadiran dengan sanksi surat peringatan (1-5 hari kerja) hingga pemberhentian sebagai PNS dengan tidak hormat (46 hari kerja). Akumulasi ini berlaku dalam satu tahun. Jadi, kalau akumulasi ketidakhadiran selama tahun 2017 adalah 3 hari, tahun 2018 hitungannya dimulai dari nol lagi. Peraturan lain adalah mengenai pemotongan tunjangan kinerja seperti yang telah saya sebut di atas. Di kantor saya diterapkan 5 hari kerja dengan jam kerja 07.30-16.00 WIB (aturan dari dulu, tapi ada tambahannya…), dengan toleransi kehadiran antara 07.00-17.00 WIB. Jadi, kalau datang pukul 06.30 WIB, kehadiran dihitung dari pukul 07.00 WIB dan boleh pulang pukul 15.30 WIB. Duluuu sekali, waktu toleransi terpagi adalah pukul 06.00 WIB karena katanya ada beberapa karyawan yang “bersiasat” datang subuh hanya untuk mengabsen pagi, pulang ke rumah lalu kembali ke kantor agak siang tanpa mengabsen agar dapat mengabsen pulang jauh lebih awal. Begitu pula dengan waktu toleransi paling sore pernah ditetapkan pukul 18.00 WIB gara-gara siasat serupa.

Back to the present… selain batas terpagi kedatangan dan batas tersore kepulangan, diterapkan juga batas tersiang kedatangan (08.30 WIB) dan batas tersiang kepulangan (15.30). Jadi:

  • Jika datang sebelum pukul 07.30 WIB maka berhak pulang sebelum pukul 16.00 WIB.
  • Jika datang setelah pukul 07.30 WIB tetapi pulang pukul 16.00 WIB maka akan tercatat sebagai “Telat Masuk” (TM). Untuk menghilangkan TM ini, pulanglah setelah 16.00 WIB dengan mengganti waktu keterlambatan.
  • Datang setelah pukul 08.30 WIB akan tercatat sebagai TM, hanya bisa mengganti kehadiran hingga pukul 17.00 WIB. Jika datang setelah pukul 08.30 WIB dan pulang sebelum 17.00 WIB walaupun sudah lebih dari pukul 16.00 WIB maka akan tercatat TM dan “Cepat Pulang” (CP). Dan jangan lupa, setiap menit akan diakumulasikan berdasarkan PP 53.
  • Jika datang pukul 07.00 WIB tetapi pulang sebelum pukul 15.30 WIB maka akan tercatat CP.
  • Lupa merekam data kedatangan dan/atau kepulangan dianggap alpa (potongan tunjangan kinerja 5%).
  • Untuk amannya, datanglah antara pukul 07.00-08.30 WIB, pulanglah antara pukul 15.30-17.00 WIB dengan memperhatikan durasi kehadiran di kantor (8,5 jam sudah termasuk jam istirahat). Dan jangan lupa untuk merekam data kedatangan dan kepulangan di mesin absen.

Sudah mulai pusing? Itu belum seberapa… Konsekuensi dari kekurangan durasi kehadiran adalah pemotongan tunjangan kinerja. TM dan CP sebelum tahun 2018 dikenai pemotongan tunjangan kinerja masing-masing 1%. Pemotongan ini dihitung per hari selama satu bulan, bukan akumulasi per menit selama satu bulan. Nah, tahun 2018 ini kalau tidak salah mulai 26 Januari 2018 diberlakukan peraturan baru yaitu potongan masing-masing 1,5% untuk TM dan CP. Jadi, kalau tanggal 19 Januari 2018 kena TM dan CP lalu tanggal 30 Januari kena TM saja atau CP saja maka potongan tunjangan kinerja Januari adalah sebesar 3,5%. Per 26 Januari 2018 itu juga ada aturan tambahan mengenai durasi istirahat untuk mengantisipasi karyawan yang keasyikan keluar kantor pas jam istirahat atau karyawan yang absen kendang (cuma absen datang dan pulang tapi di antara waktu datang dan pulang itu dia menghilang entah ke mana). Aturannya seperti apa? Mari kita simak.

Waktu istirahat yang diperbolehkan adalah antara pukul 11.30-13.30 WIB dengan durasi maksimum 1 jam. Durasi di atas 1 jam akan dikenai potongan tunjangan kinerja sebesar 2%. Sehingga di kantor saya ada 2 mesin absen. Mesin 1 (di lobi) digunakan untuk datang dan pulang sedangkan mesin 2 (di ruang satpam) untuk waktu istirahat. Jadi:

  • Keluar istirahat sebelum 11.30 WIB atau setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasinya kurang dari 1 jam. Hal ini tidak berlaku jika keluar dengan surat izin yang ditandatangani atasan langsung dan diserahkan kepada satpam, tetapi durasi tetap tidak boleh melebihi 1 jam. Izin keluar kantor ini mengurangi jatah istirahat pada waktunya.
  • Keluar istirahat antara pukul 11.30-13.30 WIB tetapi kembali setelah 13.30 WIB akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja 2% walaupun durasi kurang dari 1 jam.
  • Kelebihan durasi istirahat tidak dapat diganti dengan mengundur waktu kepulangan.
  • Jika lupa merekam data ketika keluar istirahat dan/atau kembali setelah istirahat maka tunjangan kinerja dipotong 2%. Jangan khawatir, ada petugas khusus yang akan mencatat siapa saja yang keluar-masuk kantor pada saat jam kerja tanpa menyerahkan surat izin atau merekam data di mesin absen 2.

Lalu ada satu lagi peraturan paripurna yang merangkum semuanya, yaitu kehadiran di kantor kurang dari 6 jam akan dikenai pemotongan tunjangan kinerja total (5%) dan dianggap alpa alias tidak hadir, walaupun karyawan tersebut sudah bekerja jauh lebih keras dibandingkan karyawan lain selama durasi kehadirannya. Tunjangan kinerja dipotong, akumulasi ketidakhadiran PP 53 pun bertambah. Dahsyat bukan?

Jadi, kalau kira-kiranya bakal telat nyampe kantor trus nggak bisa pulang terlalu sore atau ada hal yang harus diurus ketika jam kerja (walaupun hanya memakan waktu 1,5 jam), lebih baik mengorbankan jatah cuti tahunan. Karena cuti tahunan tidak akan mengakibatkan pemotongan tunjangan kinerja.

Apa dampak dari peraturan yang dahsyat itu? Bagi saya, si emak-emak rempong yang nggak bisa dateng tepat waktu:

  • Datang ke kantor semacam dikejar-kejar hantu.
  • Keluar istirahat semacam dikejar-kejar hantu satu kampung. Mau makan di BTC aja stress, mau mampir belanja di Griya aja stress. MAU KE ATM aja rusuh. Apalagi kalau harus mengurus sesuatu di bank. Gustiii…
  • Kondisi tubuh sepulang kerja seperti habis digebukin hantu karena jalanan macet dan baru bisa nyampe rumah hampir Magrib.

Sejak ada peraturan itu, saya menyiasatinya dengan membawa bekal sendiri dari rumah atau nitip teman. Nggak ada lagi kesempatan untuk hedon menikmati makanan enak dan mahal dengan tentram di food court BTC. Kalau sudah datang kantor terlalu telat sih saya relakan dipotong 1,5% atau bahkan 3% walaupun beraaattt. Tubuh ini tidak sanggup untuk menunggu waktu hingga 17.00 WIB. Yang penting 2%-nya aman.

Memasuki bulan Ramadan, peraturan jam kerja pun disesuaikan. Peraturan dari Kemenpan adalah jam kerja 08.00-15.00 WIB. Kebijakan di kantor saya adalah toleransi kedatangan dan kepulangan masing-masing 30 menit. Paling pagi 07.30 WIB, paling sore 16.00 WIB, dengan durasi istirahat maksimum 30 menit. Dahsyat, dahsyat, dahsyat! Tadi aja, hari pertama Ramadan, saya belanja di Griya sambil stress karena pengen nyari kurma favorit (yang katanya sedang diskon) tapi kurang hapal di mana posisinya karena kurma kan bukan produk yang selalu tersedia di Griya sepanjang tahun. Ditambah lagi dengan keinginan saya untuk membeli buah-buahan yang biasanya didiskon setiap Senin dan Kamis. Saya hanya punya waktu 30 menit untuk jalan bolak-balik ke Griya, milih buah, antre nimbang buah, nyari kurma, nyari barang belanjaan lain, dan antre di kasir. Di perjalanan menuju Griya saya sempat dicegat seorang pengendara motor (yang kelihatannya mogok) yang berkata “Punten Teh, abdi nyuhunkeun bantosan…” dan langsung saya potong “Punten, lagi buru-buru” karena di samping curiga dengan modus kejahatan, sayapun harus benar-benar memanfaatkan jatah 30 menit itu, walaupun pada kenyataannya saya sudah kembali ke kantor dalam 18 menit saja. Dahsyat!

Oya, dari kabar yang saya dengar, durasi keluar istirahat selama Ramadan ini boleh ditambah hingga maksimum 1 jam dengan catatan harus mengganti kelebihan dari 30 menit itu dengan cara mengundur waktu kepulangan. Tapi tetap dengan toleransi maksimum kepulangan pukul 16.00 WIB. Sekian.

Advertisements

Ilmu

Dulu saya suka ikut-ikutan nonton serial Kungfu (atau lebih dikenal sebagai genre Wuxia yang baju dan riasan rambutnya emang gak ada di kehidupan sehari-hari, kecuali hobi cosplay) bareng kakak yang rajin pinjem video (Betamax. Iya, video kaset jadul itu!) di tempat penyewaan video. Ada satu adegan yang menurut saya ajaib sekali, yaitu ketika seorang pendekar dihilangkan ilmunya oleh pendekar lainnya (kalau tidak salah ingat sih itu gurunya). Bayangkan saja, hanya dengan satu gerakan sakti dari gurunya (seolah menarik sesuatu dari dalam tubuh muridnya) … jreng! Pendekar yang tadinya jago berkelahi tiba-tiba tidak bisa melancarkan satu jurus pun. Ketika diserang pun dia bahkan tidak bisa menangkis, jadi bego aja gitu seperti seonggok daging tak berdaya rakyat jelata.

Everything is possible in a movie, of course. Dalam kasus serial Kungfu ini, asalkan berlatih, pendekar bisa jumpalitan dengan lincah, bisa berkelahi dan mengalahkan musuh bahkan tanpa harus bersentuhan, bisa TERBANG, dan segala kebolehan sakti lainnya. Tapi adegan menghilangkan ilmu itu yaaaa … gimana ya? Yang namanya ilmu gak akan hilang sekejap kecuali orang itu amnesia (Duh, jadi sinetron ini mah), sedangkan pada film itu si (mantan) pendekar tidak amnesia. Atau amnesia sebagian? Duh, rumit sekali. Ilmu bisa hilang jika tidak digunakan untuk waktu yang lama, prosesnya tidak sekejap.

Anyway … Saya tiba-tiba teringat adegan film tadi gara-gara merasa telah melupakan salah satu ilmu yang dulu lumayan saya kuasai karena sudah lama tidak saya latih. Saya cukup menyesal dan solusinya hanyalah dengan melatihnya lagi. Tapi saya tidak ada motivasi, jadi … gimana ya?

Membuat beberapa paragraf dalam satu sel Spreadsheet OpenOffice

Tulisan saya ini termotivasi oleh dua hal:

1. Youtube

Bukan Youtube-nya sih, tapi salah satu video yang ada di situ. Kemarin saya menonton salah satu video yang diunggah oleh seorang youtuber yang cukup terkenal. Di video itu dia melakukan riset mengenai hasil pencarian yang diperoleh via internet (Google) jika menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan jika menggunakan bahasa Inggris. Intinya sih dia sangat menyayangkan orang Indonesia yang sok nasionalis nggak mau belajar bahasa Inggris demi melestarikan bahasa Indonesia sehingga berimbas pada hasil pencarian via internet itu. Memang, ketika kita mencari informasi di internet dengan bahasa Inggris, hasilnya pasti luar biasa melimpah. Namun, ketika mencari informasi menggunakan bahasa Indonesia, kadang suka kesal sendiri. Hasilnya tidak terlalu banyak dan kadang hasil yang satu adalah salinan dari situs yang lain. Kopipes plek-plek. Belum lagi kalau hasilnya itu kopipes plek-plek dari Google translate. *istighfar*

Nah, karena video tersebut, saya berpikir, kenapa tidak kita perkaya saja internet dengan informasi-informasi berbahasa Indonesia untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Indonesia yang tidak/belum bisa menggunakan bahasa Inggris? Ya, terlepas dari sok nasionalis ataupun bukan.

2. Pekerjaan

Di kantor, ada satu kegiatan rutin yang salah satu langkahnya adalah mengisi isian dalam dokumen *.xls atau *.xlsx. Bukan masalah yang terlalu rumit jika hanya memasukkan angka atau tulisan yang singkat pada sel-sel spreadsheet itu. Yang membuat saya gemas dan berpikir “Kenapa sih gak pake MS Word aja biar lebih gampang?” adalah ketika isian satu sel berisi beberapa paragraf. Ketika ditekan Enter, kursornya malah pindah ke sel di baris berikutnya. Ctrl+Enter pun ternyata tidak membantu. Shift+Enter pun sama saja. Saya yang kurang bisa mengeksplorasi segala kebisaan Excel sering kesal sendiri ketika dihadapkan pada masalah seperti itu. Ditambah lagi, komputer yang saya gunakan ini tidak terpasang MS Office. Pake bajakan? No, thanks. *sok idealis*

Kesal banget sih kalau nggak tau caranya…

Jadi, gimana dong?

Awalnya saya hanya menyalin sel yang berisi banyak paragraf itu ke sel yang saya inginkan lalu mengeditnya. Kalau kata teman seruangan saya sih itu “cara bodoh”, but it works so far, haha … Di komputer yang saya gunakan sehari-hari di kantor, saya pasang OpenOffice yang fungsinya kurang lebih sama dengan MS Office. Bisa membuat dokumen teks (seperti MS Word), spreadsheet (seperti MS Excel), presentasi (seperti MS PowerPoint), dan sebagainya. Thanks to Google, ternyata masalah paragraf dalam sel spreadsheet dapat diatasi dengan langkah sederhana:

Ctrl+Alt+Enter

Solusi ini saya temukan dengan menggunakan kata kunci pencarian “paragraf excel”. Hasilnya cukup banyak. Hasil pertama yang saya pilih memberikan solusi Alt+Enter, tetapi ternyata tidak berhasil di OpenOffice. Setelah saya coba dengan menekan Ctrl selain Alt+Enter ketika saya ingin menambahkan baris baru pada sel spreadsheet, dan … *jreng* berhasil! Kenapa nggak kepikiran sebelumnya ya? Alhamdulillaah, berkurang satu beban hidup di dunia ini.

Kenapa tadi nyarinya gak pake kata kunci “paragraf openoffice“? Gak tau, refleks aja. Jadi, lain kali gunakanlah kata kunci yang spesifik. Pake OpenOffice tapi kata kunci pencariannya Excel, ya kurang nyambung. Dan ternyata gak rugi-rugi banget lah kalau nyarinya pake bahasa Indonesia. Saya pribadi sih kadang malah jadi lama kalau mau cari pake bahasa Inggris karena nggak langsung dapet padanan kata yang saya cari dalam bahasa Inggris. Sebelumnya pun ketika saya ada kesulitan dalam mengunakan OpenOffice, solusinya dapat saya temukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya sih kalau lagi males ya carinya yang berbahasa Indonesia saja, atau cari yang bahasa Inggris lalu kopipes ke Google translate.

Tapi memang, dulu saya pernah merasa gemas melihat mahasiswa yang mencari sumber referensi untuk tugas akhirnya menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya mencari referensi dengan kata kunci “kaitan bintik matahari dengan flare”, besar kemungkinan ketemunya makalah orang LAPAN lagi, haha … Coba gunakan kata kunci “solar flare related to sunspot evolution”, dijamin lieur karena saking banyaknya hasil pencarian, hihihi …

Bagi Anda yang punya tips bermanfaat, jangan ragu untuk membaginya di internet dalam bahasa Indonesia. Kalau bisa ya bagikan juga dalam bahasa Inggris supaya tipsnya mendunia, hehe …

Ya sudah, begitu saja. Adios permios.

Pertanyaan

Apakah …

  • Belajar sains
  • Belajar matematika
  • Belajar astronomi
  • Belajar ilmu duniawi lainnya

… akan ditanyakan di alam kubur/akhirat?

Jika tidak, apakah kemudian mempelajari hal-hal duniawi hanyalah sesuatu yang sia-sia?

My side-job as a hoax-slayer, bahahaha …

I just can’t help myself … setiap kali muncul pesan siaran alias broadcast message di grup WA yang sifatnya meresahkan kewarasan dan logika saya, saya selalu ingin berteriak,

Cik atuh lah, periksa dulu sebelum menyebarkan berita. Don’t be such a clicking monkey!”

Clicking monkey(s) adalah istilah yang saya temukan dari sebuah tulisan, definisinya kurang lebih adalah orang yang dengan mudah menekan tombol share pada sebuah berita yang ditemukan di internet walaupun belum jelas kebenarannya alias orang yang tidak ada upaya untuk mencari tahu kebenaran berita yang akan disebarkannya. Memang, mirip seperti monyet yang gak punya pikiran, asal pijit aja tanpa dipikir. Mungkin yang dipikirkan hanya “Wow, saya baru tahu nih! Semua orang juga perlu harus tahu!” tanpa bertanya “Benarkah berita ini?”

Berita bohong (or you used to call them HOAX) yang paling saya ingat sebagai berita bohong generasi pertama yang menggelitik hati nurani saya adalah berita bohong mengenai Mars yang akan tampak seukuran Bulan di langit, berita ini mulai menyebar sejak tahun 2003 (CMIIW) dan berulang setiap tahun pada bulan Agustus. Tanpa saya sadari, berita bohong itu sudah tidak ada lagi. Ya kaleee masih ada orang yang percaya.

Orang memang lebih suka berita-berita yang bombastis, menghebohkan, life-threatening, lalalala, you name it. Zaman sekarang, berita bohong semakin menggila saja. Dari soal politik (ah, gak aneh ya itu mah), kesehatan, agama, dan seterusnya. Apalagi siaran-siaran tersebut makin mudah menyebar karena akses internet semakin mudah. Dulu, mau akses internet harus nyalain komputer atau jalan ke warnet dulu, udah gitu mahal pula biayanya. Sekarang, jangan ditanya deh, berapa orang yang setiap harinya berselancar di dunia maya atau hanya sekedar memeriksa pesan di WA? Pagi, siang, sore, malam, mau tidur, bangun tidur, pas lagi tidur?

Tadi pagi saya membaca pesan mengenai kanker payudara dan kanker rahim dengan embel-embel kalimat “Sharing Untuk Para Wanita. (bila pria yang terima, tolong diteruskan ke wanita di sekitar anda).” di grup keluarga. Itu bukan pertama kalinya sih saya membaca pesan yang persis sama seperti itu, tapi hati ini (untuk yang kesekian kalinya) tergerak untuk mencari klarifikasinya. Dan benar saja, sebagian isi pesan tersebut adalah berita bohong. Langsung saja saya kirimkan klarifikasinya ke grup tersebut dengan harapan anggota grup yang lain minimal tidak ikut meneruskan pesan tersebut di grup lain.

Klarifikasi hasil temuan Google mengenai pesan berantai terkait kanker rahim.

Saking seringnya saya menyambi pekerjaan sebagai hoax-slayer di grup-grup WA, sampai ada salah seorang anggota grup yang meminta klarifikasi mengenai kebenaran sebuah berita (yang dia peroleh dari grup lain dan sebenarnya bisa dia cari klarifikasi sendiri melalui gawainya) kepada saya. “Bener gak nih beritanya, Neng Santi?” Err … pengennya sih saya jawab “Googling aja, Ceu” tapi tampaknya tidak akan berpengaruh. Seperti biasa saya cari di Google dan klarifikasinya tidak akan terlalu jauh di bawah hasil pencarian, dan saya siarkan lagi hasil temuan saya Google itu ke grup. Di lain waktu ada juga yang menanyakan info lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran BPJS Kesehatan (as if I was working for BPJS Kesehatan. Duh!) setelah saya mengklarifikasikan berita bohong mengenai kartu BPJS lama (ASKES) yang sudah tidak berlaku lagi.

Apa susahnya sih ya nyari di Google? Mungkin mereka taunya ponsel pintar itu hanya bisa untuk WA dan medsos lainnya, tidak ada perambah. Kalau alasannya adalah sibuk, errr … I’m sorry, I can’t accept that kind of excuse. Emang sih, lebih gampang pijit tombol share daripada tombol copy lalu paste di kolom search-nya Google (or simply in your goddamn browser’s address bar).

Saya teringat sebuah kisah (yang sebenarnya saya juga tidak tahu kebenarannya, hihi …) mengenai seseorang yang menebarkan fitnah mengenai saudaranya lalu menyesal tetapi tidak dapat menarik kembali ucapannya karena seperti kutipan di awal kisah tersebut: “Fitnah itu ibarat kapas yang ditiup angin, kita tidak akan bisa mengumpulkannya lagi jika sudah tersebar jauh entah kemana.”

Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan kisah tersebut … Bener juga sih! Berita bohong telah menyebar, the least thing we can do is stop spreading them. #tumpashoax

 

*apalah ghuwe ini, nulis dengan bahasa gado-gado tanpa memperhatikan struktur kalimat yang baik dan benar*

Pengen ngeblog …

… tapi bingung.

Kemarin sekilas mendengar berita di TV tentang wacana BPJS Kesehatan yang akan menghapuskan tanggungan terhadap 8 penyakit. Tadi pagi baru dapat kabar dari suami bahwa 8 penyakit yang dimaksud di antaranya adalah kanker, hemofili, talasemia, dan leukimia. Setelah saya cari-cari lagi, ternyata 4 penyakit lainnya adalah gagal ginjal, sirosis hati, stroke, dan penyakit jantung. Katanya kedelapan penyakit tersebut yang paling banyak menghabiskan biaya. Ya iya sih, yang namanya kanker kan nggak bakal sembuh dengan satu kali berobat. Yang namanya gagal ginjal harus rutin cuci darah. Penyakit parah semua itu.

Dulu saya pernah sekilas mendengar ceramah di radio yang begitu berapi-api mengatakan bahwa BPJS itu menganut sistem kapitalis,

“Orang kaya, turun dari mobil, berobat ke dokter pakai BPJS. Apa tidak malu?”

Kira-kira begitu katanya.

Awalnya saya tidak terlalu peduli soal ASKES (yang sekarang sudah berubah menjadi BPJS Kesehatan), terutama sebelum menikah. Toh saya paling malas untuk berkunjung ke dokter apalagi ke rumah sakit yang (tentu saja) berisi begitu banyak manusia (FYI, saya cenderung tidak menyukai keramaian). Malas antre, lalalalala …

Kalau saya sakit, saya lebih memilih mengunjungi klinik umum tanpa memanfaatkan fasilitas ASKES. Ke dokter umum kan tidak terlalu mahal dan Alhamdulillah saya masih mampu untuk berobat dengan biaya sendiri.

Setelah menikah dan hamil, mau tidak mau saya harus menemui dokter dalam rangka memeriksakan kehamilan. Duh, males banget dah. Daftarnya ngantre, ke dokternya ngantre, nebus resep obat ngantre. Saat hamil dan melahirkan (tahun 2012) adalah pertama kalinya saya memanfaatkan fasilitas ASKES. Lumayan terbantu walaupun tidak 100% ditanggung ASKES.

Saya kira saya akan seumur hidup membayar iuran ASKES (sekarang BPJS Kesehatan) secara cuma-cuma tanpa memanfaatkannya lagi (sok sehat atau sok kaya?). Tapi ternyata pada tahun 2014 anak saya terkena typhus dan Hbnya turun hingga 5,4 sehingga harus menginap di RS dan ditransfusi darah. Lima hari menginap di RS, tak perlu membayar sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Enak juga ya ternyata. Tolong ampuni saya karena tidak punya malu menggunakan fasilitas tersebut. Saya turun dari mobil tapi ada tulisannya “Margahayu-Ledeng”, dibilang orang miskin juga bukan.

Kalau dipikir-pikir, sejak diwajibkan untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan, orang-orang jadi tidak segan untuk menemui dokter ketika sakit. Entah itu “hanya” flu, gatal-gatal alergi, hingga penyakit paling berat. Dan makin hari, pelayanannya pun makin baik. Tidak terlalu banyak antre dan tidak terlalu banyak dokumen yang harus dibawa ketika akan berobat menggunakan fasilitas BPJS (berdasarkan pengalaman pribadi saya).

Wacana cost-sharing untuk 8 penyakit cukup menggemparkan dunia persilatan. Ya iyalah, yang harus rutin cuci darah, kemoterapi, transfusi darah, gimana coba? Kalau orang kaya sih tak masalah, orang tidak mampu pun kabarnya bakal ditanggung 100%. Nah, kalau orang yang tidak masuk ke kedua kelompok itu, gimana? Apakah jumlah orang miskin akan bertambah (atau malah berkurang karena tidak sanggup membiayai pengobatan sehingga meninggal dunia) jika wacana ini betul-betul direalisasikan?

Ah, lieur. Kalau apatis (berpikir bahwa semua orang pasti meninggal dunia sehingga pasrah menerima nasib. Eh, ini apatis atau putus asa. Doh, tambah lieur!), salah lagi.

Udah ah, yang penting jaga kesehatan aja. Banyak-banyak bersyukur dan berdoa.

*udah ngetik panjang-panjang malah jadi tambah bingung, ini tulisan intinya apa yak?*