Nonton pertandingan sepakbola = nonton sinetron

Bukan, bukan karena adegan dalam pertandingan sepakbola itu penuh dengan drama, melainkan karena nonton pertandingan sepakbola dan nonton sinetron itu sama-sama ngegemesin.

Saya sih bukan penggemar sepakbola apalagi sinetron, saya cuma suka memperhatikan perilaku para penonton kedua jenis tontonan tersebut. Perhatikan saja, penonton pasti emosi. Ngata-ngatain orang yang ada di situ, “Bego!” lah, “Masak gitu sih?” lah, “Aaaaargh!” lah, ngerasa yang paling ngerti cara main bola ATAU cara berakting atau menulis skenario.

Sekian.

(Terinspirasi oleh suamiku yang senantiasa emosional ketika menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi. Udah lah, kalau kesel-kesel mah gak usah ditonton, hihihi …)

Berbarislah dengan benar!

Ada satu hal yang selalu menggelitik hati nurani saya dan membuat saya ingin berteriak “Pelis atuh lah!” setiap kali tiba waktunya untuk mengikuti upacara bendera di kantor. Apakah itu?

Ada deh, moal beja-beja bisi comel :p

Dulu, waktu saya baru masuk kerja, setiap tanggal 17 selalu diadakan upacara bendera di kantor. Nggak lama-lama sih, paling juga cuma 15-20 menit. Eh, itu lama apa sebentar ya? Hehe … Sejak 2013, upacaranya cuma pas hari nasional aja, seperti 20 Mei, 28 Oktober, 10 November. Durasinya lebih lama daripada upacara bulanan.

Yang namanya upacara, pasti ada acara baris-berbaris kan ya. Kalau di kantor, barisan karyawan laki-laki tidak digabung dengan barisan karyawan perempuan. Pasukan perempuan di sebelah kanan, laki-laki di kiri. Tiap pasukan ada pemimpin pasukannya yang setiap sebelum upacara dimulai, menyiapkan barisan dengan aba-aba semacam “Siap grak!”, “Setengah lengan lencang kanan grak!”, “Istirahat di tempat grak!”, atau “Dua langkah ke kiri/kanan grak!”

Karena jumlah karyawan laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan, jumlah saf barisan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pasukan laki-laki terdiri dari 4 saf, sedangkan perempuan hanya 3. Berdasarkan ilmu baris-berbaris yang pernah saya pelajari ketika masih di bangku sekolah, biasanya jika ada anggota yang baru masuk ke barisan, dia mengambil posisi paling kiri/belakang. There is a reason why there are terms like “Lencang kanan” and “Lencang depan”. Ada yang tahu? Yap, karena posisi kanan-depan adalah poros yang tidak boleh berubah posisinya. Jadi kalau mau bikin barisan baru ya di belakang/kiri.

Perintah “lencang kanan” itu kalau barisannya berupa saf (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang), perintah “lencang depan” kalau barisannya berupa banjar (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang). Dua perintah itu efeknya sama saja, orang paling depan lencang kanan, orang paling kanan lencang depan, orang paling kanan-depan berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan.

Wait, kenapa saya jadi njelasin hal yang nggak nyangkut maksud dan tujuan tulisan saya? Hehe … maap.

Nah, kalau barisannya berupa saf, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling kiri. Kalau barisannya berupa banjar, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling belakang. Zaman sekolah dulu sih biasanya barisnya 3-saf×n-banjar atau n-saf×3-banjar dengan n bebas, tapi kira-kira beginilah yang ada di pikiran saya kalau barisannya misalnya 4×7 (4 saf, 7 banjar –atas) atau 7×4 (7 saf, 4 banjar –bawah) dan ada orang yang mau masuk/keluar barisan:

Orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Tapi yang terjadi di kantor khusus untuk barisan perempuan adalah sebagai berikut:

 Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Yang bikin sakit hati adalah ketika saya sendiri yang menjadi orang yang mau masuk barisan itu karena datang terlambat (walaupun upacaranya belum dimulai). Bulatan hijau adalah barisan laki-laki, bulatan biru adalah barisan perempuan, bulatan merah adalah saya.

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya? !!: Sana ke kiri! Ngerusak barisan aja! Pelis atuh lah!

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya?
!!: Sana ke kanan! Ngerusak barisan aja!
-Pelis atuh lah!-

Pelis! Saya ngerusak barisan?

Tapi saya tak sampai hati untuk menyampaikan segala teori baris-berbaris kepada ibu itu, kalo kata doktor kamseupay mah “not worthed!” Saya langsung meluncur ke posisi yang seharusnya menjadi poros barisan, whatever! Saya langsung berandai-andai bahwa semua karyawan di kantor diwajibkan untuk mengikuti pelatihan baris-berbaris dengan anggota TNI sebagai pelatihnya. Ketika saya diklat prajabatan, ada materi baris-berbaris sih, mungkin PNS yang masuk lebih dulu daripada saya sudah melupakan materi tersebut sehingga tega menghardik saya sebagai perusak barisan.

So please, pellliiiis!

Bukan masalah uangnya sih, tapi …

… itu kan bukan kesalahan saya.

Pekan lalu PNS di kantor saya sedang bersukacita menyambut tibanya Tukinem (bukan nama sebenarnya) yang telah ditunggu-tunggu sekitar enam bulan lamanya. Namun ada beberapa PNS yang sedikit berduka karena ternyata Tukinem belum tiba di rekeningnya padahal katanya pengiriman Tukinem berlangsung serentak. Hal ini ternyata menimpa kelompok PNS yang sama pada episode Tukinem sebelumnya. Apa penyebabnya? Ternyata beberapa nama PNS penerima Tukinem yang tersimpan di daftar yang digunakan sebagai acuan pengiriman Tukinem sedikit berbeda dengan nama PNS yang bersangkutan pada rekening masing-masing.

Bukan. Bukan salah huruf atau spasi, melainkan pencantuman gelar. Ya, pada daftar tercantum, misalnya, “Santi Sulistiani, S.Si” padahal di rekening tercantum tanpa gelar. Entah apa yang terjadi pada proses pengiriman Tukinem ini sehingga sistem menolak untuk mengirimkan Tukinem ke rekening tujuan. Maksud saya, kalau nomor dan nama pemilik rekening sudah cocok walaupun salah satunya tidak mencantumkan gelar pendidikan, pelis atuh lah! Kecuali kalau nama yang bersangkutan termasuk nama yang sangat klasik dan pasaran sekaligus super singkat tanpa nama belakang semacam Asep, Agus, Bambang, Joko, Budi, Andi, Anto, Nana, dan sebangsanya. Ada berapa Santi Sulistiani sih yang terdaftar sebagai nasabah di satu bank dengan nomor rekening yang hampir sama? Bisa saja ada lebih dari satu, maka alasan penghentian proses pengiriman dapat dimaafkan. Gak mau juga kan Tukinem nyasar ke rekening orang lain gara-gara nomer rekening dan namanya mirip?

Lalu masalahnya di mana, Neng? Alhamdulillah, saya tidak termasuk korban penundaan Tukinem akibat perbedaan nama/gelar ini. Beberapa teman sayalah yang mengalaminya, untuk yang kedua kalinya dengan penyebab yang sama. Tampaknya pihak pemegang daftar nama tidak mau repot memperbarui daftar tersebut dengan nama yang sesuai dengan rekening sehingga peristiwa ini berulang menimpa orang-orang yang sama. Yang menjadi masalah adalah ketika para “korban” ini memeriksa jumlah nominal di rekening dan membandingkannya dengan jumlah pada daftar di bagian keuangan, ternyata ada selisih Rp20000,- Dan setelah saya bandingkan jumlah yg saya terima dengan tercantum pada daftar, ternyata ada selisih Rp10000,-

Usut punya usut, Rp10000,- itu adalah biaya pengiriman ke rekening masing-masing. Lalu Tukinem yang kena potong Rp20000,- itu karena dihitung dua kali pengiriman termasuk yang gagal di percobaan pertama akibat ketidaksesuaian nama pada daftar dengan nama pada rekening. Nah, kenapa para “korban” harus membayar biaya pengiriman yang gagal itu padahal kesalahan terletak di … [entah siapa]?

(lanjut ke halaman 2?)

Piano is keren!

Saya kurang ingat kapan pertama kali saya memutuskan untuk menyukai piano karena yang saya ingat ketika jaman dahulu kala ketika saluran televisi yang ada masih TVRI saja, saya sangat membenci televisi ketika TVRI menayangkan acara musik instrumental. Waktu itu saya pikir “Musik apaan nih, nggak ada yang nyanyi? Bosenin banget!” Memang sih waktu itu instrumennya tidak hanya piano (=keyboard?), tapi lengkap juga dengan gitar dan drum, atau kadang ada alat musik tiupnya. Mungkin persepsi saya mengenai musik saat itu adalah musik dan vokal, instrumentalia sangat tidak masuk di akal saya. Nyatanya, dulu di rumah saya pernah ada organ yang bisa bersuara seperti piano (dan saya sangat membencinya kala itu karena suaranya tidak bisa panjang). Kalau diingat lagi sekarang, rasanya menyesal sekali dulu itu saya tidak belajar piano padahal ada organ nganggur di rumah.

Eniweiz, dengan berkembangnya teknologi informasi sejak tahun 2000-an, semakin mudah saja mendapatkan informasi mengenai apa saja yang sedang marak berkembang di dunia ini. Ciyeeeeh, apaan sih Neng? Yah, berkat tayangan MTV, saya diberi kesempatan untuk menyaksikan musik versi unplugged. Pianonya bener-bener piano, bukan sekedar keyboard yang dulu lebih identik dengan organ tunggal alias dangdutan di acara hajatan, hehe … Ternyata suara piano itu keren juga. Pernah suatu waktu saya ikut kakak menghadiri acara resepsi pernikahan temannya. Di situ ada piano asli dan kebetulan sedang ada seorang tamu yang bernyanyi sambil bermain piano, keren banget!

Saya langsung jatuh cinta kepada Tina Arena setelah dia tampil di MTV unplugged sambil bermain piano. Udah suaranya bagus, pinter main piano pula. Saya sudah sering melihat video klip Elton John yang selalu bernyanyi sambil bermain piano, tapi untungnya tidak sampai jatuh cinta karena versi video klip mah rasanya biasa aja. Saya pikir saya bisa jatuh cinta juga kalau mendengarkan musik klasik yang instrumen utamanya adalah piano. Ternyata tidak, sodharra! Haha … musik klasik tuh lambreta benjet dah, malah bikin ngantuk. Atau saya salah pilih lagu ya? Karena ternyata Jay Chou yang sempat bikin saya terpukau sejak menonton aksi pianonya di film Secret banyak dipengaruhi oleh salah satu musisi klasik, Chopin. Musik Chopin (yang pernah saya dengarkan) ternyata lebih ceria dan tidak terlalu membosankan.

Beberapa hari yang lalu saya sempat kesambet jurig iseng, browsing video piano cover di Youtube. Sayapun terkagum-kagum melihat video ini …

Agak merinding dengerinnya. Ternyata ThePianoGuys itu serius banget bikin videonya, kirain just another Youtube artist. Akhirnya saya buka deh channel Youtube-nya dan menemukan video-videonya yang keren-keren. Yang bikin saya sangat tercengang adalah video ini …

Nggak percaya kalau musik seramai itu bisa dihasilkan dari satu alat musik! Saya sampe muter video itu berulang-ulang demi melihat kecanggihan mereka berlima.

Oya, ada satu lagi video yang jadi favorit saya dari mereka …

Awalnya saya tidak tahu versi asli dari lagu ini. Setelah saya cari tahu ternyata saya lebih menyukai versi ThePianoGuys 🙂 Selain itu ada juga lagu Mission Impossible (lihat sendiri di channel Youtube-nya saja ya) yang menampilkan violis perempuan, videonya lucu. Dan tiba-tiba saya berpikir bahwa pemain cello di situ (Steven Sharp Nelson) mirip dengan tokoh Mr. Bean, hahaha …

Sayang sekali saya hanya bisa menonton, nggak bisa mainnya bo! Huhuhu …

Pertanyaan KUA pada saat penataran pra-nikah

Haloooo …. wahai para calon pengantin!

Saya gatal tiap buka statistik blog ini *garuk-garuk dulu* karena hampir setiap hari kata kunci yang dipakai pengunjung sehingga tiba di blog saya adalah seputar penataran pra-nikah, atau pertanyaan pada saat penataran pra-nikah, atau sebangsanya. Saking nggak PDnya gitu yah dengan penataran pra-nikah sehingga mencari contekan di internet? Hihihi … Dan saya pun semakin mengarahkan para pencari fakta mengenai penataran pra-nikah untuk semakin terdampar di blog saya ini dengan menulis judul demikian, hahahaha …

I know some of you might curious about this thing called penataran pra-nikah, tapi nyantai ajalah. Just be yourself and everything will be juuuuust fine. Akad yang telah direncanakan Insya Allah tidak akan terpengaruh oleh hasil penataran pra-nikah. Kalau yang ingin dicari adalah “pertanyaan pada saat penataran pra-nikah” maka saya hanya bisa kasih info bahwa waktu penataran pra-nikah hanya ditanya tanggal pernikahan orang tua saya dengan tanggal lahir kakak saya yang akan menjadi wali (karena ayah saya sudah tiada). Kenapa ditanya itu? Silahkan baca tulisan saya di tautan ini.

Oya, ada lagi satu pertanyaan dari petugas KUA: Kapan hari terakhir calon pengantin wanita datang bulan? Nah lho! Macam pertanyaan dokter kandungan aja buat nentuin perkiraan kelahiran bayi :p

Katanya sih buat ngitung-ngitung barangkali pas hari-H ternyata pas tanggal datang bulan, kasian cenah pengantin prianya, hikhikhik. Tapi dulu sepupu saya juga nikah waktu datang bulan, gapapa juga kaleeeeee. Temen saya juga ada yang begitu, salah satu diva Indonesia juga ada yang begitu, hahahaha … melebar ke mana-mana jadinya.

Pertanyaan yang agak memalukan sih sebenarnya, menurut saya mah agak nggak penting juga. Masih banyak hal yang bisa dilakukan pada malam pertama kan? Or not? Baiklah …

Segitu tulisan gatalnya *garuk-garuk lagi* and thank you for visiting 🙂

Catatan pemilih galau

Pilpres kali ini membuat saya sakit.

Otak saya sakit.

Mata saya sakit.

Telinga saya sakit.

Kenapa?

Rasanya seperti sudah berabad-abad saya disuguhi tulisan, status FB, twit, yang isinya kampanyeeeeeeeeeeeeeee … padahal aslinya belum sampai bertahun-tahun pun. Intensitas semakin menggila setelah ditetapkan capres-cawapresnya hanya ada 2 pasang, dan lebih gila lagi setelah muncul nomor urut.

Kalau boleh saya kopaskan orasi saya yang menyerupai kultwit di salah satu forum yang tiba-tiba terhenti karena salah satu anggota forum nyeletuk “Ini tulisanmu bagus lho kalau dibagikan di Facebook”. Maygat, whyyyyyy? Why did you have to stop my oration?? Anyway, ini dia:

  • Saya sudah sering mendengar “Kalau Jokowi menjadi presiden, nanti blablabla yang seram-seram” atau “Kalau Prabowo menjadi presiden, nanti blablabla yang seram-seram juga”, semuanya hanya perkiraan, dugaan, opini.
  • Sama dengan sebelumnya, “Kalau SBY menjadi presiden lagi, pasti blablabla yang indah-indah”, tidak tahunya malah mengecewakan.
  • Maybe this is the very reason why pemilu itu seharusnya rahasia, tidak perlu menceritakan kepada orang lain, siapa yang menjadi pilihan kita.
  • Kepala saya sakit melihat setiap orang kukuh mendukung capresnya as if anybody who thinks the other way is silly.
  • You’re blinded, maaan!”, padahal dia sendiri juga begitu.
  • Tidak ada yang benar-benar mengetahui sebenarnya capres itu nantinya bakal bagaimana setelah terpilih. Bahkan orang yang merasa mengerti sejarah sekalipun belum tentu memahami cerita sebenarnya.

PEMILU seharusnya rahasia, mungkin untuk mencegah orang saling baku hantam hanya gara-gara mendukung capresnya masing-masing. Mungkin juga untuk mencegah orang-orang seperti saya tersiksa karena melihat/mendengar informasi yang berseliweran di media (sosial terutama) atau di dalam obrolan yang sulit dibedakan mana yang fakta, gosip, opini, fitnah. Ok, prestasi, rekam jejak, visi, misi, whatever. Too much information dan siapakah yang benar-benar mengetahui kebenarannya di antara para-pendukung-fanatik-yang-berapi-api-mengotori-linimasa-media-sosial? You are blinded and hurting my brain!

Saya bahkan sampai membenci beberapa orang hanya karena mereka gemar membagikan tulisan yang isinya adalah dukungan/catatan baik mengenai capres yang satu atau catatan buruk mengenai capres yang tidak didukungnya. Jujur saja, saya tidak ingin memilih, tapi golput pun tampaknya bukan pilihan.