Kunjungan kedua ke dokter gigi

Yap, saya baru dua kali saja menemui dokter gigi untuk memeriksakan kesehatan gigi selama saya hidup. Waktu masih kecil suka ngintilin si Mamah sih ke dokter gigi tapi belum pernah benar-benar diperiksa gigi.

Kunjungan pertama saya ke dokter gigi sebagai orang dewasa adalah seperti yang saya ceritakan di “Penyakit misterius“. Pada saat itu saya merasa sangat tertipu karena ujug-ujug dirampok 300 ribu setelah dilukai dalam waktu sekian menit. Oke, lebay.

Kunjungan kedua ini saya lakukan dengan sangat hati-hati. Jadi, alasan utama saya memutuskan untuk menemui dokter gigi adalah “penemuan” lubang yang cukup signifikan di gigi geraham kiri-atas paling belakang. Saya cukup terguncang dengan penemuan tersebut karena saya merasa sudah sangat rajin menggosok gigi dan tidak mencurigai adanya kelainan di gigi belakang itu. Penemuan itu berawal dari kegiatan saya mengudap kacang arab. Saya pikir ada kacang yang nyelip di gigi paling belakang tapi begitu saya coba singkirkan “kacang yang terselip” itu, susah sekali. Sampai kemudian saya sadari bahwa itu adalah lubang gigi. Hiks!

Saya temui dokter gigi di klinik terdekat Rabu lalu (31/12/2014), dokternya cantik ūüėÄ

Saat dokter mulai memeriksa, dia menanyakan “Yang bolong gigi bawah atau atas, Bu?”

“Atas, Dok.”

“Tapi ini yang bawah juga banyak bolongnya.”

Duniaku runtuh …¬†“Masak??”

Dan ternyata gigi gerahamku sebagian besar berlubang dengan rekor terparah memang si lubang yang baru saya temukan itu. Katanya, pada umumnya gigi geraham dewasa hanya tumbuh sampai dua buah tiap sisi. Tapi gigi saya tumbuh sempurna sampai masing-masing tiga buah. Good news? Not really.

“Tapi gigi ketiga ini biasanya sulit terjangkau sikat gigi sehingga mudah rusak. Terutama gigi atas, solusinya hanya dicabut, tidak bisa ditambal.”

Ngékk!

Katanya alat bornya sulit menjangkau sampai ke belakang sekali sehingga sulit untuk membersihkan si lubang untuk¬†ditambal. “Kalaupun dipaksakan ditambal, kuatir kurang bersih. Nantinya sakit lagi, lebih merepotkan.”

Saya pernah beberapa kali merasakan ngilu sesaat di gigi kiri belakang, tapi saya kira hanya karena gigi sensitif saja. Makanya kaget betul ketika menyadari bahwa itu akibat gigi berlubang. I was cursing myself.

Dokter sempat mencoba memasukkan bor ke posisi gigi belakang itu, “Nah, segini, Bu, kira-kira. Pegal nggak, Bu?” Saya yang masih belum rela dicabut gigi sok kuat, “Nggak, Dok.”

Tapi kemudian dokter menyarankan saya untuk menambal gigi-gigi lain yang lebih mudah dijangkau. Dan sayapun setuju menambal tiga geraham kanan bawah setelah mengetahui perkiraan biayanya dan mengira-ngira isi dompet. “Satu gigi berkisar antara 125-150 ribu, tergantung besar lubangnya. Kalau yang parah sekali bisa sampai 200 ribu.” Gusti, nggak kapok ya dirampok dokter gigi? Karena masih kanyenyerian dokter gigi sebelumnya, saya iseng menanyakan biaya scaling ketika dokter mempersiapkan prosedur penambalan gigi. “Atas-bawah 250 ribu.” Masih lebih murah di situ, sodharra! Bener-bener ditipu deh saya!

Dokter menjelaskan bahwa proses penambalan menggunakan what-so-called “Light Curing”, dengan dua tahap pelapisan. Lapisan pertama untuk meredam rasa ngilu (yang mana sangat jarang saya rasakan sehingga tidak menyadari banyaknya lubang di gigi), lapisan kedua adalah tambalan utamanya. Setelah mangap cukup lama, dokter menyuruh saya merasakan apakah terasa ada ganjalan pada tambalan. Rahang saya terasa melayang, sulit menentukan ada ganjalan atau tidak. Dokter menyuruh saya menggigit-gigit dan mengunyah-ngunyah secarik kertas khusus berwarna ungu. Finishing touch and voila! Gigi saya terlihat aneh dengan tambalannya, but I like it, hehe …

Dokter menyarankan saya melakukan rontgen gigi jika benar-benar mantap untuk mencabut gigi belakang, “Untuk melihat giginya tumbuh normal atau miring. Kalau normal bisa saya cabut, kalau miring nanti saya rujuk ke dokter bedah.” Ngeri! “Kira-kira berapa biayanya tuh foto gigi?”

“Seratus sekian lah, nggak nyampe 200 ribu.”

Duh, rasakan deh akibatnya malas periksa gigi rutin!

Dokter sempat memberikan tips perawatan gigi sejak dini (karena sempat melihat saya membawa anak –yang kemudian nangis kejer waktu disuruh minggir dikit karena menghalangi dokter yang hendak memeriksa gigi saya). Katanya gigi anak itu biasanya yang rusak pertama kali adalah gigi depan-atas, lalu merembet ke belakang-atas, lalu belakang-bawah, dan akhirnya ke depan-bawah. Kenapa? Karena gigi yang paling tidak terlindungi pada saat proses meminum¬†air susu (baik itu susu ibu maupun susu formula) adalah gigi depan atas. Gigi depan-bawah terlindungi oleh lidah. Solusinya adalah menggosok gigi anak setiap kali selesai menyusu, bisa menggunakan kain kasa atau kain biasa yang bersih dan terlebih dahulu dicelupkan pada air matang hangat. Sulit memang, karena bayi biasanya langsung tertidur setelah menyusu. Alhasil, gigi anak saya sudah rog√©s di bagian depan-atas mulai usia (saat saya menyadarinya) 1 tahun. Walaupun sepertinya sudah terlambat, saya sebisa mungkin memaksa anak saya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Padahal setelah gosok gigi itu, dia masih minum susu dulu menjelang tidur, hehe …

Eniwei, tambalan gigi itu ternyata sudah mulai copot hari Minggu lalu (04/01/2015). Ada garansi nggak ya? Kakak saya sempat menyesalkan, kenapa saya rela membayar mahal padahal punya fasilitas BPJS? Saat itu saya pikir hanya akan menambal satu gigi saja, repot lah kalau harus ngantre di dokter umum untuk meminta rujukan dan antre lagi di rumah sakit. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lain kali saya rela-relain deh ngantre demi gretongan :p

Berbarislah dengan benar!

Ada satu hal yang selalu menggelitik hati nurani saya dan membuat saya ingin berteriak “Pelis atuh lah!” setiap kali tiba waktunya untuk mengikuti upacara bendera di kantor. Apakah itu?

Ada deh, moal beja-beja bisi comel :p

Dulu, waktu saya baru masuk kerja, setiap tanggal 17 selalu diadakan upacara bendera di kantor. Nggak lama-lama sih, paling juga cuma 15-20 menit. Eh, itu lama apa sebentar ya? Hehe … Sejak 2013, upacaranya cuma pas hari nasional aja, seperti 20 Mei, 28 Oktober, 10 November. Durasinya lebih lama daripada upacara bulanan.

Yang namanya upacara, pasti ada acara baris-berbaris kan ya. Kalau di kantor, barisan karyawan laki-laki tidak digabung dengan barisan karyawan perempuan. Pasukan perempuan di sebelah kanan, laki-laki di kiri. Tiap pasukan ada pemimpin pasukannya yang setiap sebelum upacara dimulai, menyiapkan barisan dengan aba-aba semacam “Siap grak!”, “Setengah lengan lencang kanan grak!”, “Istirahat di tempat grak!”, atau “Dua langkah ke kiri/kanan grak!”

Karena jumlah karyawan laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan, jumlah saf barisan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pasukan laki-laki terdiri dari 4 saf, sedangkan perempuan hanya 3. Berdasarkan ilmu baris-berbaris yang pernah saya pelajari ketika masih di bangku sekolah, biasanya jika ada anggota yang baru masuk ke barisan, dia mengambil posisi paling kiri/belakang. There¬†is a reason why¬†there are¬†terms like¬†“Lencang kanan” and “Lencang depan”. Ada yang tahu? Yap, karena posisi kanan-depan adalah poros yang tidak boleh berubah posisinya.¬†Jadi kalau mau bikin barisan baru ya di belakang/kiri.

Perintah “lencang kanan” itu kalau barisannya berupa saf (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang), perintah “lencang depan” kalau barisannya berupa banjar¬†(jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang). Dua perintah itu efeknya sama saja, orang paling depan lencang kanan, orang paling kanan lencang depan, orang paling kanan-depan berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan.

Wait, kenapa saya jadi njelasin hal yang nggak nyangkut maksud dan tujuan tulisan saya? Hehe … maap.

Nah, kalau barisannya berupa saf, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling kiri. Kalau barisannya berupa banjar,¬†orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling belakang. Zaman sekolah dulu sih biasanya barisnya 3-saf√ón-banjar atau n-saf√ó3-banjar dengan n bebas, tapi kira-kira beginilah yang ada di pikiran saya kalau barisannya misalnya 4√ó7 (4 saf, 7 banjar –atas) atau 7√ó4 (7 saf, 4 banjar –bawah) dan ada orang yang mau masuk/keluar barisan:

Orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Tapi yang terjadi di kantor khusus untuk barisan perempuan adalah sebagai berikut:

 Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Yang bikin sakit hati adalah ketika saya sendiri yang menjadi orang yang mau masuk barisan itu karena datang terlambat (walaupun upacaranya belum dimulai). Bulatan hijau adalah barisan laki-laki, bulatan biru adalah barisan perempuan, bulatan merah adalah saya.

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya? !!: Sana ke kiri! Ngerusak barisan aja! Pelis atuh lah!

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya?
!!: Sana ke kanan! Ngerusak barisan aja!
-Pelis atuh lah!-

Pelis! Saya ngerusak barisan?

Tapi saya tak sampai hati¬†untuk menyampaikan segala teori baris-berbaris kepada ibu itu, kalo kata doktor kamseupay mah “not worthed!” Saya langsung meluncur ke posisi¬†yang seharusnya menjadi poros barisan, whatever! Saya langsung berandai-andai bahwa semua karyawan di kantor diwajibkan untuk mengikuti pelatihan baris-berbaris dengan anggota TNI sebagai pelatihnya. Ketika saya diklat prajabatan, ada materi baris-berbaris sih, mungkin PNS yang masuk lebih dulu daripada saya sudah melupakan materi tersebut sehingga tega menghardik saya sebagai perusak barisan.

So please, pellliiiis!

Perjalanan dinas kali ini

Kamis, 13 Nov 2014

Jadwal pesawat maskapai singa lepas landas pukul 10:30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada penundaan, Alhamdulillah tiba di Padang tepat waktu, sekitar pukul 12:25. Nunggu bagasi lumayan lama, sambil nahan pipis karena takut terlewat. Padahal kan kalaupun tas saya tidak langsung diambil, nanti juga balik lagi muncul di conveyor-belt. Pegawai guest house sudah siap menjemput kami dengan mobil keren :p Ford Everest yang memang cocok dengan medan menuju Loka Kototabang. Kami mampir dulu di RM Lamun Ombak untuk makan siang. Saya memilih menu ati sapi, sayuran, dan udang balado. Saya foto udangnya demi pamer ke si Asep.

2014-11-13 13.44.54

Oya, di restoran padang juga ternyata ada sejenis karedok tapi isinya kol, mi, selada, kerupuk, emping.

Kami tiba di guest house sekitar pukul 5 sore. Capek, dari pagi belum bisa tidur enak gara-gara di pesawat duduk sebelahan kaprog, jaim. Nggak enaknya lagi, kursi di pesawat nggak bisa diubah sandarannya karena posisi saya tepat di depan jendela darurat.

Malamnya kami makan di restoran ayam penyet yang ada di halaman sebuah hotel dan menyajikan berbagai menu penyet: ayam, iga, tempe. Selain itu ada juga menu sop dan timbel. Saya memilih menu sop ayam kampung dan jeruk hangat. Ada cah kangkung juga tapi saya cuma sanggup makan sedikit karena pedas sekali. Saya baru tahu juga ternyata tempe penyet itu adalah tempe yang dihancurkan dan dicampur bumbu, mirip tutug tempe tapi tidak terlalu hancur.

Malam itu rencananya kami akan menguji peralatan pengamatan tapi ternyata langitnya tak kunjung cerah hingga pagi, gerimis tak henti-henti. Mulai pukul 1 pagi sampai subuh, saya bangun berkali-kali demi menanti langit cerah. Alhasil, ngantuk gak habis-habis.

Jumat, 14 Nov 2014

Hari ulang tahun anak saya. Ah, tiba-tiba kangen ingin memeluk si kecil mungil.

Pilihan menu sarapan pagi: lontong sayur (nangka) dan pical (a.k.a. pecel atau karedok a la padang). Saya pilih lontong sayur dan ternyata PEDAS. Tenggorokan saya mulai tidak nyaman dengan makanan yang seringnya kaya akan santan, minyak, dan cabe.

Pukul 9 pagi kami bertolak ke Loka dan mulai memasang teleskop.

Sayang sekali tidak bisa mencoba pengamatan menggunakan Coronado H-alpha karena tidak ada dudukan untuk menyambungkannya ke mounting Ioptron. Cuaca pun kurang kondusif, hanya berhasil mengambil beberapa foto matahari berhiaskan awan.

Menu makan siang: ayam goreng penyet dengan lalapan kol dan mentimun. Nasinya gede banget, saya berbagi dengan “Munaroh”.

Kami baru kembali ke guest house pukul 5 sore. Ngantuknyaaaa, padahal kerjanya sedikit. Mungkin capek nunggu langit cerah dan efek tidur yang kurang berkualitas. Malamnya makan masakan padang lagi, saya pilih ayam bumbu kuning (kaya santan dan minyak) dan jeruk hangat. Tadinya mau foto-foto di Jam Gadang sebelum kembali ke guest house tapi ternyata di sana gelap. Kami lanjut ke penjual durian, cuma ada satu penjual katanya di situ. Kami makan durian yang duri di kulitnya tidak tajam seperti kulit durian yang sering saya lihat. Salah satu dari kami malah mengira bahwa durinya sudah dipapas supaya tidak tajam (ngapain juga coba repot-repot nyukurin durian?). Satu kepala dihargai 70000 rupiah. Mahal tapi enak, apalagi kalau gretong, haha … Daging duriannya tebal, bijinya kecil. Kenyang, apalagi karena kami baru saja makan malam. Belakangan saya tahu kalau durian berduri tumpul itu namanya Durian Kamang (Tapi waktu saya browsing gambarnya, durinya tajam. Jangan-jangan salah info nih). Tidur malam lumayan sedikit gangguannya tapi kok tetep ngerasa ngantuk ya …

Sabtu, 15 Nov 2014

Ke Loka lebih pagi dengan harapan langit cerah sehingga urusan bisa cepat selesai. Berhasil merekam matahari menggunakan kamera Imaging Source dan ASI, nggak full-disk. Lagi-lagi menyayangkan Coronado yang belum bisa dipasang di mounting. Rasanya ingin membawa teleskop itu ke Bandung, padahal sudah punya H-alpha yang lebih besar :p Kami meninggalkan Loka sekitar pukul 11:30. Cari makan siang karena melewatkan sarapan pagi. Sempat makan roti dan cemilan sih tapi ya bukan sarapan namanya, hihi …

Tibalah kami di Itiak Lado Mudo (kalau nggak salah sih namanya itu, hehe …), disuguhi itik (a.k.a. bebek) dan ayam berlumuran sambal hijau. PEDAS, sodhara! Katanya menu ini sangat terkenal dan enak sampai orang kantor banyak yang pesan untuk dibawa ke Bandung. Di restoran ini juga ada aksi jual dedet air minum kemasan botol 600 ml (tidak ada minuman gratis semacam air bening/teh). Kalau dihitung-hitung, tiap orang kira-kira menghabiskan 50000 rupiah untuk nasi, bebek/ayam sambal hijau, acar mentimun (enak loh acarnya!), dan air minum yang dijual dedet tadi. Kata kaprog saya sih, ini mah di Bandung juga banyak yang murah. Cuma emang sih katanya sambelnya yang bikin enak, yang mana bagi saya tidaklah berpengaruh karena saya tidak suka makanan yang terlalu pedas. Ditambah lagi gigi saya yang langsung sakit karena my itiak is liat [baca: kebagian bebek yang alot]. Karena terkenal, restoran ini menyediakan layanan take away yang sudah dibekukan. Tapi sayang, nggak boleh kalau cuma mau beli satu potong. Minimal setengah ekor (2 potong) seharga 75000 rupiah.

Setelah berpedas-pedas ria, kami sempat melewati tempat wisata lobang jepang. Nggak mampir karena beberapa dari kami tidak tertarik. Perjalanan dilanjutkan ke Jam Gadang.

2014-11-15 12.35.55

Foto-foto sebentar, dipalak uda-uda berkostum Angry Bird yang ikutan nimbrung di sesi foto, belanja kerudung, mukena, baju koko di pasar atas dan sekitarnya, lanjut ke toko oleh-oleh “Ananda”. Ada sanjai Christine Hakim dan macam-macam cemilan khas Bukittinggi. Kembali ke guest house menjelang Ashar, tidur sampai Maghrib. Kayaknya nggak pernah cukup tidur ya di sana tuh :p

Tujuan makan malam: cafe sesuatu (lupa namanya). Jual nasi goreng, mi goreng, mi rebus, martabak mi, spageti, sop buah, salad buah, jus, dll. Kabid saya agak kurang semangat makan karena ternyata menu nasi+mi goreng pilihannya banyak sekali. Tadinya beliau mengira menunya seperti nasi mawut tapi ternyata nasi dan minya tidak dicampur. Saya memilih menu martabak mi –yang kalau di rumah disebutnya tamblag emih :p– dan jus nasir (buah naga + sirsak) tanpa es. Kembali ke mess untuk berkemas dan tidur sebisanya (istilah apa pula itu, tidur sebisanya? Pokoknya gitu deh …).

Minggu, 16 Nov 2014

Jadwal pesawat singa lepas landas pukul 10:35. Kami sudah berangkat dari guest house pukul 05:30. Ternyata langitnya cerah. Pukul 07:30 sudah tiba di warung pical dan lontong sayur. Huwedhyannn itu makanan, PEDAS banget! Munaroh nggak sanggup ngabisin picalnya karena terlalu pedas. Ternyata picalnya ada daun hijaunya (entah apa) dan toge, udah direbus. Kolnya sih tetep mentah. Jadi entah nih termasuk karedok atau lotek. Nya pical we ateuh :p Lontong sayurnya juga katanya pedas tapi enak, sayurnya: gulai pakis. Kami sudah tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 08:15. Wew, kepagian! Kapus sempat belanja roti randang dan bolu gulung durian, kalau tidak salah harganya masing-masing 63000 dan 57000 rupiah. Munaroh dan Teh Ni beli teh kotak seharga 10000 rupiah (haha, mahal nian! Lagian kok belanja gituan di bandara? Kaget kan jadinya). Daripada bengong, mending jeprat-jepret nggak jelas pake hape:

Kami baru masuk pesawat sekitar pukul 10:10. Ternyata delay sebentar. Baru lepas landas sekitar pukul 10:40. Baru nyadar bahwa ternyata pramugari maskapai singa mengenakan rok panjang tapi belahannya tinggi sekali sampai setengah paha, hoho …

Mendarat di Cengkareng sekitar pukul 12:30, nunggu bagasi lama banget padahal udah pada ngabisin waktu dulu (nungguin anggota rombongan lain yang) ngantre toilet. Baru bisa keluar bandara pukul 1 siang. Lapaaaaaar sodharra! Kami singgah di KM19 untuk makan siang. Saya memilih menu nasi timbel komplit dan jeruk hangat. Munaroh lahap banget makan soto lamongan, mungkin karena balas dendam tadi pagi sarapannya super pedas. Pada dasarnya semua makan dengan lahap bak belum makan selama tiga hari :p

Di kantin KM19 itu ada pelayannya yang (gerak-geriknya) mirip Olga. Nggak cuma satu, sampe Teh Ni bertanya-tanya, “Jangan-jangan bekas itu ya mereka?” Entah bekas apa maksudnya, hehe … Malah salah satu pelanggan ada yang bilang langsung ke si mas-mas pelayan yang (gerak-gerik dan) badannya mirip Olga, “Mas, mirip Olga.” Trus waktu mereka mau pergi, pamitan, “Dadah, Olgaaaa!”

Tiba di Bandung disambut hujan deras, mendarat di kantor sekitar pukul 16:25. Masih hujan dan saya nyari-nyari kresek besar untuk membungkus koper. Sambil nunggu jemputan ‘ojek cinta’, main-main di dark playground dulu. Suami menjemput sekitar pukul 17:25, sudah siap dengan helm, jas hujan, pembungkus ransel, dan kresek besar untuk koper saya. Tapi alhamdulillah, hujannya berhenti sebelum saya naik ke motor.

Mampir dulu ke Martabak Juragan dekat rumah dan tiba di rumah dengan selamat. Anak saya sedang tidur dan ketika bangun tampaknya bete melihat ibunya yang baru pulang setelah sekian lama menghilang. Hiks! Untungnya pundungnya nggak lama, hehe …

Sekian laporan perjalanan kali ini ūüôā

 

Nanas dan kawan-kawannya

WordPress mengubah tampilan Dashboard? Rasanya beda.

Tadi saya tiba-tiba terinspirasi untuk memasak Ayam Kuluyuk. Iya, baru pengen eksekusi sekarang padahal udah dari kapan gitu katanya pengen bikin Ayam Kuluyuk. Abis makan siang, saya mampir dulu ke Griyamart untuk membeli nanas dan mentimun. Saya ingat pernah melihat teman saya membeli nanas yang sudah dipotong-potong di Griyamart itu. Ternyata waktu saya ke sana, adanya nanas utuh. Males banget kan ya ngupas nanas itu. Jadi saya tanya aja mas-mas yang mangkal di dekat timbangan buah/sayuran sambil saya nimbang alpukat, “Ada nanas yang udah dipotong-potong nggak?” Lalu dia menjawab, “Belum ada. Tapi kalau mau, bisa dipotongin.” Hoo, bisa ya? Akhirnya saya minta tolong mas-mas yang tadinya sedang motongin melon itu untuk ngupasin dan motongin nanas. Dasar saya emang manusia ignorant, saya nggak ngerti gimana cara milih nanas, gak tau juga itu nanas harganya berapa, males nanya. Belakangan baru tau kalau nanas di situ dijual per buah (bukan per gram) Rp9250 dan tampaknya daging buahnya dipangkas cukup banyak. Yasuds, terlanjur.

Eniwei, gara-gara nungguin mas-mas itu ngupas dan motongin si nanas, saya jadi muter-muter dulu di situ. Ujug-ujug terinspirasi untuk mencari saus asam manis botolan (ada gitu?) di rak saus-sausan, gak ketemu. Liat mayonnaise sachet, kepikiran pengen beli buat salad, tapi gak jadi. Liat brokoli, pengen beli buat salad, gak jadi karena ngerasa harganya mahal. Liat cokelat Dove crispy dan hazelnut, almond & raisin, tergoda, beli masing-masing dua biji. Trus tiba-tiba pengen beli Ultra Milk cokelat, beli dua. Trus balik ke timbangan sayuran/buah, nanasnya belum selesai. Beredar lagi ke rak roti-rotian, ada promo Bread.Co roti kopi beli dua gratis satu. Sempet kepikiran beli, tapi gak jadi, trus akhirnya tergoda juga. Tiga roti kopi Bread.Co masuk keranjang dan AKHIRNYA nanasnya udah dikemas. Keranjang belanjaan sudah terasa sangat berat. Bahaya juga ya kalau bawa duit berlebih di dompet, berasa horang kayah, beli ini-itu gak pake mikir. Padahal dalam kondisi kenyang tuh perut saya.

Nyampe di ruangan, telapak tangan kesemutan dan lengan pegal karena belanjaannya berat :p

Lain kali kalau mau beli nanas mending ditongkrongin aja tuh mas-mas sampe selesai motongin nanasnya daripada bangkrut.

Ayam Kuluyuk

Saya pertama kali mengenal menu ini saat masih kuliah. Waktu itu baru saja dibuka sebuah rumah makan di dekat gerbang masuk perumahan. Setelah mencoba, ternyata rasanya cukup cocok di lidah saya yang menyukai makanan berbumbu asam-manis.

Tadi siang saya kembali mencoba menu ini di foodcourt BTC, di outlet¬†yang relatif baru dibuka dengan nama SAHABAT. Outlet (atau apa sih itu istilahnya, counter, warung, toko?) di posisi itu¬†lumayan sering berganti, entah karena tidak laku atau terlalu murah sehingga tidak sanggup membayar biaya sewanya. Saya menyebutnya sebagai posisi yang kurang hoki. Sebelum outlet baru ini ‘kembali’ tutup, saya beranikan diri untuk mencicipi salah satu menunya. Ya, si ayam kuluyuk itu.

Ayam Kuluyuk SAHABAT

Ayam Kuluyuk SAHABAT

Rasanya mirip dengan ayam kuluyuk yang pernah saya cicipi lebih dari 10 tahun lalu itu :p Ayam dipotong-potong lalu digoreng tepung, sausnya asam manis, ada potongan nanas, wortel, mentimun, bawang bombay dan sedikit cabe. Hiasannya sih standar: selembar selada dan irisan mentimun dan tomat. Ada tambahan saus pedas juga di wadah terpisah. Lalu tiba-tiba terpikir untuk mencari resepnya dan membuatnya sendiri di rumah, hmm …

Anyway, ada satu hal yang cukup mengecewakan. Awalnya saya bermaksud menyikat habis semua yang ada di piring, tapi ternyata daun seladanya sepertinya kurang bersih. Ada semacam butiran-butiran halus pasir di situ.

Bukan masalah uangnya sih, tapi …

…¬†itu kan bukan kesalahan saya.

Pekan lalu PNS di kantor saya sedang bersukacita menyambut tibanya Tukinem (bukan nama sebenarnya) yang telah ditunggu-tunggu sekitar enam bulan lamanya. Namun ada beberapa PNS yang sedikit berduka karena ternyata Tukinem belum tiba di rekeningnya padahal katanya pengiriman Tukinem berlangsung serentak. Hal ini ternyata menimpa kelompok PNS yang sama pada episode Tukinem sebelumnya. Apa penyebabnya? Ternyata beberapa nama PNS penerima Tukinem yang tersimpan di daftar yang digunakan sebagai acuan pengiriman Tukinem sedikit berbeda dengan nama PNS yang bersangkutan pada rekening masing-masing.

Bukan. Bukan salah huruf atau spasi, melainkan pencantuman gelar. Ya, pada daftar tercantum, misalnya, “Santi Sulistiani, S.Si” padahal di rekening tercantum tanpa gelar. Entah apa yang terjadi pada proses pengiriman Tukinem ini sehingga sistem menolak untuk mengirimkan Tukinem ke rekening tujuan. Maksud saya, kalau nomor dan nama pemilik rekening sudah cocok walaupun salah satunya tidak mencantumkan gelar pendidikan, pelis atuh lah! Kecuali kalau nama yang bersangkutan termasuk nama yang sangat klasik dan pasaran sekaligus super singkat tanpa nama belakang semacam Asep, Agus, Bambang, Joko, Budi, Andi, Anto, Nana, dan sebangsanya. Ada berapa Santi Sulistiani sih yang terdaftar sebagai nasabah di satu bank dengan nomor rekening yang hampir sama? Bisa saja ada lebih dari satu, maka alasan penghentian proses pengiriman¬†dapat dimaafkan. Gak mau juga kan Tukinem nyasar ke rekening orang lain gara-gara nomer rekening dan namanya mirip?

Lalu masalahnya di mana, Neng? Alhamdulillah,¬†saya tidak termasuk¬†korban penundaan Tukinem akibat perbedaan nama/gelar ini. Beberapa teman sayalah yang mengalaminya, untuk yang kedua kalinya dengan penyebab yang sama. Tampaknya pihak pemegang daftar nama tidak mau repot memperbarui daftar tersebut dengan nama yang sesuai dengan rekening sehingga peristiwa ini berulang menimpa orang-orang yang sama. Yang menjadi masalah adalah ketika para “korban” ini memeriksa jumlah nominal di rekening dan membandingkannya dengan jumlah pada daftar di bagian keuangan, ternyata ada selisih Rp20000,- Dan setelah saya bandingkan jumlah yg saya terima dengan tercantum pada daftar, ternyata ada selisih Rp10000,-

Usut punya usut, Rp10000,- itu adalah biaya pengiriman¬†ke rekening masing-masing. Lalu Tukinem yang kena potong Rp20000,- itu karena dihitung dua kali pengiriman¬†termasuk yang gagal di percobaan pertama akibat ketidaksesuaian nama pada daftar dengan nama pada rekening. Nah, kenapa para “korban” harus membayar biaya pengiriman¬†yang gagal itu padahal kesalahan terletak di … [entah siapa]?

(lanjut ke halaman 2?)

Pertanyaan KUA pada saat penataran pra-nikah

Haloooo …. wahai para calon pengantin!

Saya gatal¬†tiap buka statistik blog ini *garuk-garuk dulu* karena hampir setiap hari kata kunci yang dipakai pengunjung sehingga tiba di blog saya adalah seputar penataran pra-nikah, atau pertanyaan pada saat penataran pra-nikah, atau sebangsanya. Saking nggak PDnya gitu yah dengan penataran pra-nikah sehingga mencari contekan di internet? Hihihi … Dan saya pun semakin mengarahkan para pencari fakta mengenai penataran pra-nikah untuk semakin terdampar di blog saya ini dengan menulis judul demikian, hahahaha …

I know some of you might curious about this thing called penataran pra-nikah, tapi nyantai ajalah. Just be yourself and everything will be juuuuust fine. Akad yang telah direncanakan Insya Allah tidak akan terpengaruh oleh hasil penataran pra-nikah. Kalau yang ingin dicari adalah “pertanyaan pada saat penataran pra-nikah” maka saya hanya bisa kasih info bahwa waktu penataran pra-nikah hanya ditanya tanggal pernikahan orang tua saya dengan tanggal lahir kakak saya yang akan menjadi wali (karena ayah saya sudah tiada). Kenapa ditanya itu? Silahkan baca tulisan saya di¬†tautan ini.

Oya, ada lagi satu pertanyaan dari petugas KUA: Kapan hari terakhir calon pengantin wanita datang bulan? Nah lho! Macam pertanyaan dokter kandungan aja buat nentuin perkiraan kelahiran bayi :p

Katanya sih buat ngitung-ngitung barangkali pas hari-H ternyata pas tanggal datang bulan, kasian cenah pengantin prianya, hikhikhik. Tapi dulu sepupu saya juga nikah waktu datang bulan, gapapa juga kaleeeeee. Temen saya juga ada yang begitu, salah satu diva Indonesia juga ada yang begitu, hahahaha … melebar ke mana-mana jadinya.

Pertanyaan yang agak memalukan sih sebenarnya, menurut saya mah agak nggak penting juga. Masih banyak hal yang bisa dilakukan pada malam pertama kan? Or not? Baiklah …

Segitu tulisan gatalnya *garuk-garuk lagi* and¬†thank you for visiting ūüôā