Peneliti yang malas meneliti

Manusia macam apa saya ini? Lima tahun sama sekali nggak nulis makalah penelitian. Tadi waktu bikin tulisan untuk Buletin Cuaca Antariksa, konsentrasi saya teralihkan ke kegemaran saya memotong-motong gambar, melabeli, dan menggabung-gabungkannya. Saya selalu terkagum-kagum melihat aktivitas matahari yang menjilat-jilat ke angkasa.

Peristiwa filamen (panah kuning) dan flare Hyder berdurasi panjang (panah hitam) yang disertai oleh CME. Bagian atas adalah pengamatan korona matahari (panjang gelombang 171 Angstrom, bagian bawah adalah pengamatan kromosfer (panjang gelombang 304 Angstrom).

Peristiwa erupsi filamen (panah kuning) dan flare Hyder berdurasi panjang (panah hitam) yang disertai oleh CME. Bagian atas adalah pengamatan korona matahari (panjang gelombang 171 Angstrom), bagian bawah adalah pengamatan kromosfer (panjang gelombang 304 Angstrom).

Pada umumnya flare terjadi di atas daerah aktif atau grup bintik matahari. Flare Hyder atau flare tunabintik adalah flare yang terjadi bukan di atas daerah aktif atau grup bintik matahari. LDE (long duration event) adalah peristiwa flare yang berlangsung lebih dari satu jam [saya lupa referensinya di mana dan mengapa diambil satu jam untuk mengategorikannya sebagai LDE]. Saya juga pernah diberitahu bahwa flare LDE biasanya disertai oleh lontaran massa korona (CME), referensi yang itu juga belum pernah saya cari, hehe … Adududuh, parah banget sih peneliti yang satu ini ūüė¶

Di tulisan buletin itu juga saya menyinggung daerah aktif NOAA 12192 yang katanya adalah grup bintik terbesar dalam 3 siklus matahari terakhir. Grup bintik ini ternyata awet, muncul lagi di piringan matahari pada rotasi selanjutnya tanggal 13 November 2014. NOAA 12192 pun berganti nomor menjadi NOAA 12209. Gara-gara itu, konsentrasi saya teralihkan untuk melihat perjalanan daerah aktif ini sebagai NOAA 12209. Agak membosankan sih nontonin gambar fotosfer selama kurang lebih dua pekan. Saya sempat terpikir untuk melihat dinamikanya dalam panjang gelombang lain, tapi … “Sudahlah, fokus! Fokus!” Alhasil, saya hanya berhasil menulis artikel satu halaman termasuk empat gambar. Pfffftt!

Advertisements

Perjalanan dinas kali ini

Kamis, 13 Nov 2014

Jadwal pesawat maskapai singa lepas landas pukul 10:30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada penundaan, Alhamdulillah tiba di Padang tepat waktu, sekitar pukul 12:25. Nunggu bagasi lumayan lama, sambil nahan pipis karena takut terlewat. Padahal kan kalaupun tas saya tidak langsung diambil, nanti juga balik lagi muncul di conveyor-belt. Pegawai guest house sudah siap menjemput kami dengan mobil keren :p Ford Everest yang memang cocok dengan medan menuju Loka Kototabang. Kami mampir dulu di RM Lamun Ombak untuk makan siang. Saya memilih menu ati sapi, sayuran, dan udang balado. Saya foto udangnya demi pamer ke si Asep.

2014-11-13 13.44.54

Oya, di restoran padang juga ternyata ada sejenis karedok tapi isinya kol, mi, selada, kerupuk, emping.

Kami tiba di guest house sekitar pukul 5 sore. Capek, dari pagi belum bisa tidur enak gara-gara di pesawat duduk sebelahan kaprog, jaim. Nggak enaknya lagi, kursi di pesawat nggak bisa diubah sandarannya karena posisi saya tepat di depan jendela darurat.

Malamnya kami makan di restoran ayam penyet yang ada di halaman sebuah hotel dan menyajikan berbagai menu penyet: ayam, iga, tempe. Selain itu ada juga menu sop dan timbel. Saya memilih menu sop ayam kampung dan jeruk hangat. Ada cah kangkung juga tapi saya cuma sanggup makan sedikit karena pedas sekali. Saya baru tahu juga ternyata tempe penyet itu adalah tempe yang dihancurkan dan dicampur bumbu, mirip tutug tempe tapi tidak terlalu hancur.

Malam itu rencananya kami akan menguji peralatan pengamatan tapi ternyata langitnya tak kunjung cerah hingga pagi, gerimis tak henti-henti. Mulai pukul 1 pagi sampai subuh, saya bangun berkali-kali demi menanti langit cerah. Alhasil, ngantuk gak habis-habis.

Jumat, 14 Nov 2014

Hari ulang tahun anak saya. Ah, tiba-tiba kangen ingin memeluk si kecil mungil.

Pilihan menu sarapan pagi: lontong sayur (nangka) dan pical (a.k.a. pecel atau karedok a la padang). Saya pilih lontong sayur dan ternyata PEDAS. Tenggorokan saya mulai tidak nyaman dengan makanan yang seringnya kaya akan santan, minyak, dan cabe.

Pukul 9 pagi kami bertolak ke Loka dan mulai memasang teleskop.

Sayang sekali tidak bisa mencoba pengamatan menggunakan Coronado H-alpha karena tidak ada dudukan untuk menyambungkannya ke mounting Ioptron. Cuaca pun kurang kondusif, hanya berhasil mengambil beberapa foto matahari berhiaskan awan.

Menu makan siang: ayam goreng penyet dengan lalapan kol dan mentimun. Nasinya gede banget, saya berbagi dengan “Munaroh”.

Kami baru kembali ke guest house pukul 5 sore. Ngantuknyaaaa, padahal kerjanya sedikit. Mungkin capek nunggu langit cerah dan efek tidur yang kurang berkualitas. Malamnya makan masakan padang lagi, saya pilih ayam bumbu kuning (kaya santan dan minyak) dan jeruk hangat. Tadinya mau foto-foto di Jam Gadang sebelum kembali ke guest house tapi ternyata di sana gelap. Kami lanjut ke penjual durian, cuma ada satu penjual katanya di situ. Kami makan durian yang duri di kulitnya tidak tajam seperti kulit durian yang sering saya lihat. Salah satu dari kami malah mengira bahwa durinya sudah dipapas supaya tidak tajam (ngapain juga coba repot-repot nyukurin durian?). Satu kepala dihargai 70000 rupiah. Mahal tapi enak, apalagi kalau gretong, haha … Daging duriannya tebal, bijinya kecil. Kenyang, apalagi karena kami baru saja makan malam. Belakangan saya tahu kalau durian berduri tumpul itu namanya Durian Kamang (Tapi waktu saya browsing gambarnya, durinya tajam. Jangan-jangan salah info nih). Tidur malam lumayan sedikit gangguannya tapi kok tetep ngerasa ngantuk ya …

Sabtu, 15 Nov 2014

Ke Loka lebih pagi dengan harapan langit cerah sehingga urusan bisa cepat selesai. Berhasil merekam matahari menggunakan kamera Imaging Source dan ASI, nggak full-disk. Lagi-lagi menyayangkan Coronado yang belum bisa dipasang di mounting. Rasanya ingin membawa teleskop itu ke Bandung, padahal sudah punya H-alpha yang lebih besar :p Kami meninggalkan Loka sekitar pukul 11:30. Cari makan siang karena melewatkan sarapan pagi. Sempat makan roti dan cemilan sih tapi ya bukan sarapan namanya, hihi …

Tibalah kami di Itiak Lado Mudo (kalau nggak salah sih namanya itu, hehe …), disuguhi itik (a.k.a. bebek) dan ayam berlumuran sambal hijau. PEDAS, sodhara! Katanya menu ini sangat terkenal dan enak sampai orang kantor banyak yang pesan untuk dibawa ke Bandung. Di restoran ini juga ada aksi jual dedet air minum kemasan botol 600 ml (tidak ada minuman gratis semacam air bening/teh). Kalau dihitung-hitung, tiap orang kira-kira menghabiskan 50000 rupiah untuk nasi, bebek/ayam sambal hijau, acar mentimun (enak loh acarnya!), dan air minum yang dijual dedet tadi. Kata kaprog saya sih, ini mah di Bandung juga banyak yang murah. Cuma emang sih katanya sambelnya yang bikin enak, yang mana bagi saya tidaklah berpengaruh karena saya tidak suka makanan yang terlalu pedas. Ditambah lagi gigi saya yang langsung sakit karena my itiak is liat [baca: kebagian bebek yang alot]. Karena terkenal, restoran ini menyediakan layanan take away yang sudah dibekukan. Tapi sayang, nggak boleh kalau cuma mau beli satu potong. Minimal setengah ekor (2 potong) seharga 75000 rupiah.

Setelah berpedas-pedas ria, kami sempat melewati tempat wisata lobang jepang. Nggak mampir karena beberapa dari kami tidak tertarik. Perjalanan dilanjutkan ke Jam Gadang.

2014-11-15 12.35.55

Foto-foto sebentar, dipalak uda-uda berkostum Angry Bird yang ikutan nimbrung di sesi foto, belanja kerudung, mukena, baju koko di pasar atas dan sekitarnya, lanjut ke toko oleh-oleh “Ananda”. Ada sanjai Christine Hakim dan macam-macam cemilan khas Bukittinggi. Kembali ke guest house menjelang Ashar, tidur sampai Maghrib. Kayaknya nggak pernah cukup tidur ya di sana tuh :p

Tujuan makan malam: cafe sesuatu (lupa namanya). Jual nasi goreng, mi goreng, mi rebus, martabak mi, spageti, sop buah, salad buah, jus, dll. Kabid saya agak kurang semangat makan karena ternyata menu nasi+mi goreng pilihannya banyak sekali. Tadinya beliau mengira menunya seperti nasi mawut tapi ternyata nasi dan minya tidak dicampur. Saya memilih menu martabak mi –yang kalau di rumah disebutnya tamblag emih :p– dan jus nasir (buah naga + sirsak) tanpa es. Kembali ke mess untuk berkemas dan tidur sebisanya (istilah apa pula itu, tidur sebisanya? Pokoknya gitu deh …).

Minggu, 16 Nov 2014

Jadwal pesawat singa lepas landas pukul 10:35. Kami sudah berangkat dari guest house pukul 05:30. Ternyata langitnya cerah. Pukul 07:30 sudah tiba di warung pical dan lontong sayur. Huwedhyannn itu makanan, PEDAS banget! Munaroh nggak sanggup ngabisin picalnya karena terlalu pedas. Ternyata picalnya ada daun hijaunya (entah apa) dan toge, udah direbus. Kolnya sih tetep mentah. Jadi entah nih termasuk karedok atau lotek. Nya pical we ateuh :p Lontong sayurnya juga katanya pedas tapi enak, sayurnya: gulai pakis. Kami sudah tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 08:15. Wew, kepagian! Kapus sempat belanja roti randang dan bolu gulung durian, kalau tidak salah harganya masing-masing 63000 dan 57000 rupiah. Munaroh dan Teh Ni beli teh kotak seharga 10000 rupiah (haha, mahal nian! Lagian kok belanja gituan di bandara? Kaget kan jadinya). Daripada bengong, mending jeprat-jepret nggak jelas pake hape:

Kami baru masuk pesawat sekitar pukul 10:10. Ternyata delay sebentar. Baru lepas landas sekitar pukul 10:40. Baru nyadar bahwa ternyata pramugari maskapai singa mengenakan rok panjang tapi belahannya tinggi sekali sampai setengah paha, hoho …

Mendarat di Cengkareng sekitar pukul 12:30, nunggu bagasi lama banget padahal udah pada ngabisin waktu dulu (nungguin anggota rombongan lain yang) ngantre toilet. Baru bisa keluar bandara pukul 1 siang. Lapaaaaaar sodharra! Kami singgah di KM19 untuk makan siang. Saya memilih menu nasi timbel komplit dan jeruk hangat. Munaroh lahap banget makan soto lamongan, mungkin karena balas dendam tadi pagi sarapannya super pedas. Pada dasarnya semua makan dengan lahap bak belum makan selama tiga hari :p

Di kantin KM19 itu ada pelayannya yang (gerak-geriknya) mirip Olga. Nggak cuma satu, sampe Teh Ni bertanya-tanya, “Jangan-jangan bekas itu ya mereka?” Entah bekas apa maksudnya, hehe … Malah salah satu pelanggan ada yang bilang langsung ke si mas-mas pelayan yang (gerak-gerik dan) badannya mirip Olga, “Mas, mirip Olga.” Trus waktu mereka mau pergi, pamitan, “Dadah, Olgaaaa!”

Tiba di Bandung disambut hujan deras, mendarat di kantor sekitar pukul 16:25. Masih hujan dan saya nyari-nyari kresek besar untuk membungkus koper. Sambil nunggu jemputan ‘ojek cinta’, main-main di dark playground dulu. Suami menjemput sekitar pukul 17:25, sudah siap dengan helm, jas hujan, pembungkus ransel, dan kresek besar untuk koper saya. Tapi alhamdulillah, hujannya berhenti sebelum saya naik ke motor.

Mampir dulu ke Martabak Juragan dekat rumah dan tiba di rumah dengan selamat. Anak saya sedang tidur dan ketika bangun tampaknya bete melihat ibunya yang baru pulang setelah sekian lama menghilang. Hiks! Untungnya pundungnya nggak lama, hehe …

Sekian laporan perjalanan kali ini ūüôā

 

Nanas dan kawan-kawannya

WordPress mengubah tampilan Dashboard? Rasanya beda.

Tadi saya tiba-tiba terinspirasi untuk memasak Ayam Kuluyuk. Iya, baru pengen eksekusi sekarang padahal udah dari kapan gitu katanya pengen bikin Ayam Kuluyuk. Abis makan siang, saya mampir dulu ke Griyamart untuk membeli nanas dan mentimun. Saya ingat pernah melihat teman saya membeli nanas yang sudah dipotong-potong di Griyamart itu. Ternyata waktu saya ke sana, adanya nanas utuh. Males banget kan ya ngupas nanas itu. Jadi saya tanya aja mas-mas yang mangkal di dekat timbangan buah/sayuran sambil saya nimbang alpukat, “Ada nanas yang udah dipotong-potong nggak?” Lalu dia menjawab, “Belum ada. Tapi kalau mau, bisa dipotongin.” Hoo, bisa ya? Akhirnya saya minta tolong mas-mas yang tadinya sedang motongin melon itu untuk ngupasin dan motongin nanas. Dasar saya emang manusia ignorant, saya nggak ngerti gimana cara milih nanas, gak tau juga itu nanas harganya berapa, males nanya. Belakangan baru tau kalau nanas di situ dijual per buah (bukan per gram) Rp9250 dan tampaknya daging buahnya dipangkas cukup banyak. Yasuds, terlanjur.

Eniwei, gara-gara nungguin mas-mas itu ngupas dan motongin si nanas, saya jadi muter-muter dulu di situ. Ujug-ujug terinspirasi untuk mencari saus asam manis botolan (ada gitu?) di rak saus-sausan, gak ketemu. Liat mayonnaise sachet, kepikiran pengen beli buat salad, tapi gak jadi. Liat brokoli, pengen beli buat salad, gak jadi karena ngerasa harganya mahal. Liat cokelat Dove crispy dan hazelnut, almond & raisin, tergoda, beli masing-masing dua biji. Trus tiba-tiba pengen beli Ultra Milk cokelat, beli dua. Trus balik ke timbangan sayuran/buah, nanasnya belum selesai. Beredar lagi ke rak roti-rotian, ada promo Bread.Co roti kopi beli dua gratis satu. Sempet kepikiran beli, tapi gak jadi, trus akhirnya tergoda juga. Tiga roti kopi Bread.Co masuk keranjang dan AKHIRNYA nanasnya udah dikemas. Keranjang belanjaan sudah terasa sangat berat. Bahaya juga ya kalau bawa duit berlebih di dompet, berasa horang kayah, beli ini-itu gak pake mikir. Padahal dalam kondisi kenyang tuh perut saya.

Nyampe di ruangan, telapak tangan kesemutan dan lengan pegal karena belanjaannya berat :p

Lain kali kalau mau beli nanas mending ditongkrongin aja tuh mas-mas sampe selesai motongin nanasnya daripada bangkrut.

Ayam Kuluyuk

Saya pertama kali mengenal menu ini saat masih kuliah. Waktu itu baru saja dibuka sebuah rumah makan di dekat gerbang masuk perumahan. Setelah mencoba, ternyata rasanya cukup cocok di lidah saya yang menyukai makanan berbumbu asam-manis.

Tadi siang saya kembali mencoba menu ini di foodcourt BTC, di outlet¬†yang relatif baru dibuka dengan nama SAHABAT. Outlet (atau apa sih itu istilahnya, counter, warung, toko?) di posisi itu¬†lumayan sering berganti, entah karena tidak laku atau terlalu murah sehingga tidak sanggup membayar biaya sewanya. Saya menyebutnya sebagai posisi yang kurang hoki. Sebelum outlet baru ini ‘kembali’ tutup, saya beranikan diri untuk mencicipi salah satu menunya. Ya, si ayam kuluyuk itu.

Ayam Kuluyuk SAHABAT

Ayam Kuluyuk SAHABAT

Rasanya mirip dengan ayam kuluyuk yang pernah saya cicipi lebih dari 10 tahun lalu itu :p Ayam dipotong-potong lalu digoreng tepung, sausnya asam manis, ada potongan nanas, wortel, mentimun, bawang bombay dan sedikit cabe. Hiasannya sih standar: selembar selada dan irisan mentimun dan tomat. Ada tambahan saus pedas juga di wadah terpisah. Lalu tiba-tiba terpikir untuk mencari resepnya dan membuatnya sendiri di rumah, hmm …

Anyway, ada satu hal yang cukup mengecewakan. Awalnya saya bermaksud menyikat habis semua yang ada di piring, tapi ternyata daun seladanya sepertinya kurang bersih. Ada semacam butiran-butiran halus pasir di situ.

Bukan masalah uangnya sih, tapi …

…¬†itu kan bukan kesalahan saya.

Pekan lalu PNS di kantor saya sedang bersukacita menyambut tibanya Tukinem (bukan nama sebenarnya) yang telah ditunggu-tunggu sekitar enam bulan lamanya. Namun ada beberapa PNS yang sedikit berduka karena ternyata Tukinem belum tiba di rekeningnya padahal katanya pengiriman Tukinem berlangsung serentak. Hal ini ternyata menimpa kelompok PNS yang sama pada episode Tukinem sebelumnya. Apa penyebabnya? Ternyata beberapa nama PNS penerima Tukinem yang tersimpan di daftar yang digunakan sebagai acuan pengiriman Tukinem sedikit berbeda dengan nama PNS yang bersangkutan pada rekening masing-masing.

Bukan. Bukan salah huruf atau spasi, melainkan pencantuman gelar. Ya, pada daftar tercantum, misalnya, “Santi Sulistiani, S.Si” padahal di rekening tercantum tanpa gelar. Entah apa yang terjadi pada proses pengiriman Tukinem ini sehingga sistem menolak untuk mengirimkan Tukinem ke rekening tujuan. Maksud saya, kalau nomor dan nama pemilik rekening sudah cocok walaupun salah satunya tidak mencantumkan gelar pendidikan, pelis atuh lah! Kecuali kalau nama yang bersangkutan termasuk nama yang sangat klasik dan pasaran sekaligus super singkat tanpa nama belakang semacam Asep, Agus, Bambang, Joko, Budi, Andi, Anto, Nana, dan sebangsanya. Ada berapa Santi Sulistiani sih yang terdaftar sebagai nasabah di satu bank dengan nomor rekening yang hampir sama? Bisa saja ada lebih dari satu, maka alasan penghentian proses pengiriman¬†dapat dimaafkan. Gak mau juga kan Tukinem nyasar ke rekening orang lain gara-gara nomer rekening dan namanya mirip?

Lalu masalahnya di mana, Neng? Alhamdulillah,¬†saya tidak termasuk¬†korban penundaan Tukinem akibat perbedaan nama/gelar ini. Beberapa teman sayalah yang mengalaminya, untuk yang kedua kalinya dengan penyebab yang sama. Tampaknya pihak pemegang daftar nama tidak mau repot memperbarui daftar tersebut dengan nama yang sesuai dengan rekening sehingga peristiwa ini berulang menimpa orang-orang yang sama. Yang menjadi masalah adalah ketika para “korban” ini memeriksa jumlah nominal di rekening dan membandingkannya dengan jumlah pada daftar di bagian keuangan, ternyata ada selisih Rp20000,- Dan setelah saya bandingkan jumlah yg saya terima dengan tercantum pada daftar, ternyata ada selisih Rp10000,-

Usut punya usut, Rp10000,- itu adalah biaya pengiriman¬†ke rekening masing-masing. Lalu Tukinem yang kena potong Rp20000,- itu karena dihitung dua kali pengiriman¬†termasuk yang gagal di percobaan pertama akibat ketidaksesuaian nama pada daftar dengan nama pada rekening. Nah, kenapa para “korban” harus membayar biaya pengiriman¬†yang gagal itu padahal kesalahan terletak di … [entah siapa]?

(lanjut ke halaman 2?)

My dark playground: LINE POKOPANG!

Ok, inilah biang kerok yang¬†telah¬†menyita perhatian (baca: waktu) saya sejak tahun lalu …

Awalnya saya kira posisi blok dan Boni yang menyentuh blok di tengah itu selalu sama di setiap welcome screen. Ternyata tidak.

Awalnya saya kira posisi blok dan Boni yang menyentuh blok di tengah itu selalu sama di setiap welcome screen. Ternyata tidak.

Setelah welcome screen, ada tampilan peringkat …

Makes you want to compete with others. Tapi saya mah nyantei we ...

Makes you want to compete with others. Tapi saya mah nyantei we …

Setelah menyentuh tombol READY …

Dipilih, dipilih ...

Dipilih, dipilih …

Awalnya saya kurang tertarik dengan permainan ini, karena sering LOADING, lamaaaaaaa banget loadingnya … Yang paling menjengkelkan adalah ketika loading itu terjadi saat saya bakal dapat bonus¬†tapi kemudian batal karena akhirnya saya terpaksa harus mengulang dari awal …

loading

Saya juga kadang suka pamer …

pamer

Oya, kalau gak pengen dapet notifikasi di LINE chat, ubah aja settingnya di sini:

Screenshot_2014-01-03-21-38-26

Ini dia pose lebay Boni ketika kita mau keluar dari permainan sesat itu:

Screenshot_2014-04-03-14-31-01

Anyway, I hate the Indonesian version. Bahasanya aneh banget!