Ilmu

Dulu saya suka ikut-ikutan nonton serial Kungfu (atau lebih dikenal sebagai genre Wuxia yang baju dan riasan rambutnya emang gak ada di kehidupan sehari-hari, kecuali hobi cosplay) bareng kakak yang rajin pinjem video (Betamax. Iya, video kaset jadul itu!) di tempat penyewaan video. Ada satu adegan yang menurut saya ajaib sekali, yaitu ketika seorang pendekar dihilangkan ilmunya oleh pendekar lainnya (kalau tidak salah ingat sih itu gurunya). Bayangkan saja, hanya dengan satu gerakan sakti dari gurunya (seolah menarik sesuatu dari dalam tubuh muridnya) … jreng! Pendekar yang tadinya jago berkelahi tiba-tiba tidak bisa melancarkan satu jurus pun. Ketika diserang pun dia bahkan tidak bisa menangkis, jadi bego aja gitu seperti seonggok daging tak berdaya rakyat jelata.

Everything is possible in a movie, of course. Dalam kasus serial Kungfu ini, asalkan berlatih, pendekar bisa jumpalitan dengan lincah, bisa berkelahi dan mengalahkan musuh bahkan tanpa harus bersentuhan, bisa TERBANG, dan segala kebolehan sakti lainnya. Tapi adegan menghilangkan ilmu itu yaaaa … gimana ya? Yang namanya ilmu gak akan hilang sekejap kecuali orang itu amnesia (Duh, jadi sinetron ini mah), sedangkan pada film itu si (mantan) pendekar tidak amnesia. Atau amnesia sebagian? Duh, rumit sekali. Ilmu bisa hilang jika tidak digunakan untuk waktu yang lama, prosesnya tidak sekejap.

Anyway … Saya tiba-tiba teringat adegan film tadi gara-gara merasa telah melupakan salah satu ilmu yang dulu lumayan saya kuasai karena sudah lama tidak saya latih. Saya cukup menyesal dan solusinya hanyalah dengan melatihnya lagi. Tapi saya tidak ada motivasi, jadi … gimana ya?

Advertisements

Pagi-pagi butuh mood booster

Gusti, masih pagi sudah dua kali dapat kabar menyedihkan.

Daripada bengong di angkot, seperti kebanyakan orang, saya periksa ponsel barangkali ada berita atau tips berguna yang dibagikan teman-teman saya via Whatsapp. Di salah satu grup ada kiriman seperti ini:

Bapak bapak dan Ibu Ibu mulai dari sekarang. Bila mau ngambil uang di ATM tempat umum. Harap super hati hati terutama ATM yang ada rolingdornya.
Yang aman ngambilnya yang ada penjagaan SATPAM Semoga informasi ini bermanfaat. Bila tidak berkenan segera hapus saja.

yang didahului oleh sebuah video. Ketika saya buka videonya, duh, Gusti. Video itu merusak suasana hati saya. Tampaknya video itu diambil oleh kamera CCTV sebuah ruang ATM yang di bagian luar pintu kaca ATM terdapat pintu gulung (rolling door). Saya sih belum pernah melihat ATM dengan pintu gulung seperti itu kecuali yang berlokasi di bank yang bersangkutan, kadang tidak ada SATPAM yang berjaga di situ kalau hari libur. Semoga TKP di video itu bukan di Indonesia. Adegan diawali oleh seorang perempuan yang masuk ke ruang ATM untuk bertransaksi. Pada saat nasabah perempuan itu sedang mengaduk-aduk isi tasnya (mungkin mencari dompet/kartu ATM) tiba-tiba ada seorang pria yang masuk dan langsung menutup pintu gulung. Sempat terjadi perdebatan dan si pria mengeluarkan golok dari dalam tasnya. Korban sempat berusaha melarikan diri tapi tahu sendiri lah pintu ATM lebarnya segimana, apalagi pintu gulung di luarnya dalam keadaan tertutup. Saya sebenarnya tidak ingin melanjutkan menonton tapi penasaran juga akan apa yang terjadi selanjutnya. Lalu pelaku membawa korban ke pojok dekat mesin ATM (tapi masih tertangkap CCTV) dengan posisi pelaku membelakangi kamera. Adegan selanjutnya membuat perut saya mual, entah karena adegannya yang sadis atau efek belum sarapan dan menonton video dari layar ponsel yang kecil mungil di dalam angkot yang bergejolak. Pelaku terlihat meninggalkan korban yang tak berdaya di pojokan lalu melakukan gerakan seperti mengelap goloknya di sisi lain mesin ATM. Tidak jelas apa yang diambil pelaku dari korbannya, tidak jelas juga apa yang dilakukan pelaku terhadap korban sehingga terkulai di pojokan begitu, tapi adegan mengelap golok itu yang membuat saya bertanya-tanya, apakah korban masih hidup? Si pria kampret pelaku perampokan bersenjata itu kemudian dengan santainya keluar dari ruang ATM dan membiarkan pintu gulung tertutup.

Dulu saya bisa santai menonton film berdarah-darah, sekarang sudah tidak berani. Nah ini, rekaman CCTV, adegannya bikin perut mual. Kesal sekali melihat si pelaku yang tidak ragu menghabisi korbannya. Sakit jiwa! Apa yang harus kita lakukan ya ketika berada di posisi korban? Dan saya pun langsung menghapus video itu dari ponsel, khawatir dilihat anak saya.

Tiba di kantor (terlambat >30 menit, whiww!) saya mendapat kabar duka dari grup Whatsapp, salah satu dosen senior wafat pagi ini. Setahu saya memang beliau sudah rutin menjalani cuci darah, paling tidak dalam dua tahun terakhir (saya baru bertemu beliau lagi sekitar September 2015 setelah belasan tahun saya meninggalkan kehidupan sebagai mahasiswa). Ah, saya pun semakin sadar bahwa saya sudah semakin tua, sedang mengantre giliran selanjutnya.

Hey, mood booster, where are you?

Membuat beberapa paragraf dalam satu sel Spreadsheet OpenOffice

Tulisan saya ini termotivasi oleh dua hal:

1. Youtube

Bukan Youtube-nya sih, tapi salah satu video yang ada di situ. Kemarin saya menonton salah satu video yang diunggah oleh seorang youtuber yang cukup terkenal. Di video itu dia melakukan riset mengenai hasil pencarian yang diperoleh via internet (Google) jika menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan dengan jika menggunakan bahasa Inggris. Intinya sih dia sangat menyayangkan orang Indonesia yang sok nasionalis nggak mau belajar bahasa Inggris demi melestarikan bahasa Indonesia sehingga berimbas pada hasil pencarian via internet itu. Memang, ketika kita mencari informasi di internet dengan bahasa Inggris, hasilnya pasti luar biasa melimpah. Namun, ketika mencari informasi menggunakan bahasa Indonesia, kadang suka kesal sendiri. Hasilnya tidak terlalu banyak dan kadang hasil yang satu adalah salinan dari situs yang lain. Kopipes plek-plek. Belum lagi kalau hasilnya itu kopipes plek-plek dari Google translate. *istighfar*

Nah, karena video tersebut, saya berpikir, kenapa tidak kita perkaya saja internet dengan informasi-informasi berbahasa Indonesia untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Indonesia yang tidak/belum bisa menggunakan bahasa Inggris? Ya, terlepas dari sok nasionalis ataupun bukan.

2. Pekerjaan

Di kantor, ada satu kegiatan rutin yang salah satu langkahnya adalah mengisi isian dalam dokumen *.xls atau *.xlsx. Bukan masalah yang terlalu rumit jika hanya memasukkan angka atau tulisan yang singkat pada sel-sel spreadsheet itu. Yang membuat saya gemas dan berpikir “Kenapa sih gak pake MS Word aja biar lebih gampang?” adalah ketika isian satu sel berisi beberapa paragraf. Ketika ditekan Enter, kursornya malah pindah ke sel di baris berikutnya. Ctrl+Enter pun ternyata tidak membantu. Shift+Enter pun sama saja. Saya yang kurang bisa mengeksplorasi segala kebisaan Excel sering kesal sendiri ketika dihadapkan pada masalah seperti itu. Ditambah lagi, komputer yang saya gunakan ini tidak terpasang MS Office. Pake bajakan? No, thanks. *sok idealis*

Kesal banget sih kalau nggak tau caranya…

Jadi, gimana dong?

Awalnya saya hanya menyalin sel yang berisi banyak paragraf itu ke sel yang saya inginkan lalu mengeditnya. Kalau kata teman seruangan saya sih itu “cara bodoh”, but it works so far, haha … Di komputer yang saya gunakan sehari-hari di kantor, saya pasang OpenOffice yang fungsinya kurang lebih sama dengan MS Office. Bisa membuat dokumen teks (seperti MS Word), spreadsheet (seperti MS Excel), presentasi (seperti MS PowerPoint), dan sebagainya. Thanks to Google, ternyata masalah paragraf dalam sel spreadsheet dapat diatasi dengan langkah sederhana:

Ctrl+Alt+Enter

Solusi ini saya temukan dengan menggunakan kata kunci pencarian “paragraf excel”. Hasilnya cukup banyak. Hasil pertama yang saya pilih memberikan solusi Alt+Enter, tetapi ternyata tidak berhasil di OpenOffice. Setelah saya coba dengan menekan Ctrl selain Alt+Enter ketika saya ingin menambahkan baris baru pada sel spreadsheet, dan … *jreng* berhasil! Kenapa nggak kepikiran sebelumnya ya? Alhamdulillaah, berkurang satu beban hidup di dunia ini.

Kenapa tadi nyarinya gak pake kata kunci “paragraf openoffice“? Gak tau, refleks aja. Jadi, lain kali gunakanlah kata kunci yang spesifik. Pake OpenOffice tapi kata kunci pencariannya Excel, ya kurang nyambung. Dan ternyata gak rugi-rugi banget lah kalau nyarinya pake bahasa Indonesia. Saya pribadi sih kadang malah jadi lama kalau mau cari pake bahasa Inggris karena nggak langsung dapet padanan kata yang saya cari dalam bahasa Inggris. Sebelumnya pun ketika saya ada kesulitan dalam mengunakan OpenOffice, solusinya dapat saya temukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Saya sih kalau lagi males ya carinya yang berbahasa Indonesia saja, atau cari yang bahasa Inggris lalu kopipes ke Google translate.

Tapi memang, dulu saya pernah merasa gemas melihat mahasiswa yang mencari sumber referensi untuk tugas akhirnya menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya mencari referensi dengan kata kunci “kaitan bintik matahari dengan flare”, besar kemungkinan ketemunya makalah orang LAPAN lagi, haha … Coba gunakan kata kunci “solar flare related to sunspot evolution”, dijamin lieur karena saking banyaknya hasil pencarian, hihihi …

Bagi Anda yang punya tips bermanfaat, jangan ragu untuk membaginya di internet dalam bahasa Indonesia. Kalau bisa ya bagikan juga dalam bahasa Inggris supaya tipsnya mendunia, hehe …

Ya sudah, begitu saja. Adios permios.

Pertanyaan

Apakah …

  • Belajar sains
  • Belajar matematika
  • Belajar astronomi
  • Belajar ilmu duniawi lainnya

… akan ditanyakan di alam kubur/akhirat?

Jika tidak, apakah kemudian mempelajari hal-hal duniawi hanyalah sesuatu yang sia-sia?

My side-job as a hoax-slayer, bahahaha …

I just can’t help myself … setiap kali muncul pesan siaran alias broadcast message di grup WA yang sifatnya meresahkan kewarasan dan logika saya, saya selalu ingin berteriak,

Cik atuh lah, periksa dulu sebelum menyebarkan berita. Don’t be such a clicking monkey!”

Clicking monkey(s) adalah istilah yang saya temukan dari sebuah tulisan, definisinya kurang lebih adalah orang yang dengan mudah menekan tombol share pada sebuah berita yang ditemukan di internet walaupun belum jelas kebenarannya alias orang yang tidak ada upaya untuk mencari tahu kebenaran berita yang akan disebarkannya. Memang, mirip seperti monyet yang gak punya pikiran, asal pijit aja tanpa dipikir. Mungkin yang dipikirkan hanya “Wow, saya baru tahu nih! Semua orang juga perlu harus tahu!” tanpa bertanya “Benarkah berita ini?”

Berita bohong (or you used to call them HOAX) yang paling saya ingat sebagai berita bohong generasi pertama yang menggelitik hati nurani saya adalah berita bohong mengenai Mars yang akan tampak seukuran Bulan di langit, berita ini mulai menyebar sejak tahun 2003 (CMIIW) dan berulang setiap tahun pada bulan Agustus. Tanpa saya sadari, berita bohong itu sudah tidak ada lagi. Ya kaleee masih ada orang yang percaya.

Orang memang lebih suka berita-berita yang bombastis, menghebohkan, life-threatening, lalalala, you name it. Zaman sekarang, berita bohong semakin menggila saja. Dari soal politik (ah, gak aneh ya itu mah), kesehatan, agama, dan seterusnya. Apalagi siaran-siaran tersebut makin mudah menyebar karena akses internet semakin mudah. Dulu, mau akses internet harus nyalain komputer atau jalan ke warnet dulu, udah gitu mahal pula biayanya. Sekarang, jangan ditanya deh, berapa orang yang setiap harinya berselancar di dunia maya atau hanya sekedar memeriksa pesan di WA? Pagi, siang, sore, malam, mau tidur, bangun tidur, pas lagi tidur?

Tadi pagi saya membaca pesan mengenai kanker payudara dan kanker rahim dengan embel-embel kalimat “Sharing Untuk Para Wanita. (bila pria yang terima, tolong diteruskan ke wanita di sekitar anda).” di grup keluarga. Itu bukan pertama kalinya sih saya membaca pesan yang persis sama seperti itu, tapi hati ini (untuk yang kesekian kalinya) tergerak untuk mencari klarifikasinya. Dan benar saja, sebagian isi pesan tersebut adalah berita bohong. Langsung saja saya kirimkan klarifikasinya ke grup tersebut dengan harapan anggota grup yang lain minimal tidak ikut meneruskan pesan tersebut di grup lain.

Klarifikasi hasil temuan Google mengenai pesan berantai terkait kanker rahim.

Saking seringnya saya menyambi pekerjaan sebagai hoax-slayer di grup-grup WA, sampai ada salah seorang anggota grup yang meminta klarifikasi mengenai kebenaran sebuah berita (yang dia peroleh dari grup lain dan sebenarnya bisa dia cari klarifikasi sendiri melalui gawainya) kepada saya. “Bener gak nih beritanya, Neng Santi?” Err … pengennya sih saya jawab “Googling aja, Ceu” tapi tampaknya tidak akan berpengaruh. Seperti biasa saya cari di Google dan klarifikasinya tidak akan terlalu jauh di bawah hasil pencarian, dan saya siarkan lagi hasil temuan saya Google itu ke grup. Di lain waktu ada juga yang menanyakan info lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran BPJS Kesehatan (as if I was working for BPJS Kesehatan. Duh!) setelah saya mengklarifikasikan berita bohong mengenai kartu BPJS lama (ASKES) yang sudah tidak berlaku lagi.

Apa susahnya sih ya nyari di Google? Mungkin mereka taunya ponsel pintar itu hanya bisa untuk WA dan medsos lainnya, tidak ada perambah. Kalau alasannya adalah sibuk, errr … I’m sorry, I can’t accept that kind of excuse. Emang sih, lebih gampang pijit tombol share daripada tombol copy lalu paste di kolom search-nya Google (or simply in your goddamn browser’s address bar).

Saya teringat sebuah kisah (yang sebenarnya saya juga tidak tahu kebenarannya, hihi …) mengenai seseorang yang menebarkan fitnah mengenai saudaranya lalu menyesal tetapi tidak dapat menarik kembali ucapannya karena seperti kutipan di awal kisah tersebut: “Fitnah itu ibarat kapas yang ditiup angin, kita tidak akan bisa mengumpulkannya lagi jika sudah tersebar jauh entah kemana.”

Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan kisah tersebut … Bener juga sih! Berita bohong telah menyebar, the least thing we can do is stop spreading them. #tumpashoax

 

*apalah ghuwe ini, nulis dengan bahasa gado-gado tanpa memperhatikan struktur kalimat yang baik dan benar*

Pengen ngeblog …

… tapi bingung.

Kemarin sekilas mendengar berita di TV tentang wacana BPJS Kesehatan yang akan menghapuskan tanggungan terhadap 8 penyakit. Tadi pagi baru dapat kabar dari suami bahwa 8 penyakit yang dimaksud di antaranya adalah kanker, hemofili, talasemia, dan leukimia. Setelah saya cari-cari lagi, ternyata 4 penyakit lainnya adalah gagal ginjal, sirosis hati, stroke, dan penyakit jantung. Katanya kedelapan penyakit tersebut yang paling banyak menghabiskan biaya. Ya iya sih, yang namanya kanker kan nggak bakal sembuh dengan satu kali berobat. Yang namanya gagal ginjal harus rutin cuci darah. Penyakit parah semua itu.

Dulu saya pernah sekilas mendengar ceramah di radio yang begitu berapi-api mengatakan bahwa BPJS itu menganut sistem kapitalis,

“Orang kaya, turun dari mobil, berobat ke dokter pakai BPJS. Apa tidak malu?”

Kira-kira begitu katanya.

Awalnya saya tidak terlalu peduli soal ASKES (yang sekarang sudah berubah menjadi BPJS Kesehatan), terutama sebelum menikah. Toh saya paling malas untuk berkunjung ke dokter apalagi ke rumah sakit yang (tentu saja) berisi begitu banyak manusia (FYI, saya cenderung tidak menyukai keramaian). Malas antre, lalalalala …

Kalau saya sakit, saya lebih memilih mengunjungi klinik umum tanpa memanfaatkan fasilitas ASKES. Ke dokter umum kan tidak terlalu mahal dan Alhamdulillah saya masih mampu untuk berobat dengan biaya sendiri.

Setelah menikah dan hamil, mau tidak mau saya harus menemui dokter dalam rangka memeriksakan kehamilan. Duh, males banget dah. Daftarnya ngantre, ke dokternya ngantre, nebus resep obat ngantre. Saat hamil dan melahirkan (tahun 2012) adalah pertama kalinya saya memanfaatkan fasilitas ASKES. Lumayan terbantu walaupun tidak 100% ditanggung ASKES.

Saya kira saya akan seumur hidup membayar iuran ASKES (sekarang BPJS Kesehatan) secara cuma-cuma tanpa memanfaatkannya lagi (sok sehat atau sok kaya?). Tapi ternyata pada tahun 2014 anak saya terkena typhus dan Hbnya turun hingga 5,4 sehingga harus menginap di RS dan ditransfusi darah. Lima hari menginap di RS, tak perlu membayar sepeser pun karena menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Enak juga ya ternyata. Tolong ampuni saya karena tidak punya malu menggunakan fasilitas tersebut. Saya turun dari mobil tapi ada tulisannya “Margahayu-Ledeng”, dibilang orang miskin juga bukan.

Kalau dipikir-pikir, sejak diwajibkan untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan, orang-orang jadi tidak segan untuk menemui dokter ketika sakit. Entah itu “hanya” flu, gatal-gatal alergi, hingga penyakit paling berat. Dan makin hari, pelayanannya pun makin baik. Tidak terlalu banyak antre dan tidak terlalu banyak dokumen yang harus dibawa ketika akan berobat menggunakan fasilitas BPJS (berdasarkan pengalaman pribadi saya).

Wacana cost-sharing untuk 8 penyakit cukup menggemparkan dunia persilatan. Ya iyalah, yang harus rutin cuci darah, kemoterapi, transfusi darah, gimana coba? Kalau orang kaya sih tak masalah, orang tidak mampu pun kabarnya bakal ditanggung 100%. Nah, kalau orang yang tidak masuk ke kedua kelompok itu, gimana? Apakah jumlah orang miskin akan bertambah (atau malah berkurang karena tidak sanggup membiayai pengobatan sehingga meninggal dunia) jika wacana ini betul-betul direalisasikan?

Ah, lieur. Kalau apatis (berpikir bahwa semua orang pasti meninggal dunia sehingga pasrah menerima nasib. Eh, ini apatis atau putus asa. Doh, tambah lieur!), salah lagi.

Udah ah, yang penting jaga kesehatan aja. Banyak-banyak bersyukur dan berdoa.

*udah ngetik panjang-panjang malah jadi tambah bingung, ini tulisan intinya apa yak?*

Catatan hati seorang penumpang (yang pernah) setia angkot

Wahai para supir angkot, saya tahu tidak semua supir angkot kelakuannya sama. Tidak semua supir angkot sukanya:

  • Ngetem lama-lama, sehingga membuat penumpangnya terlambat tiba di tempat tujuan
  • Ngerokok di angkot, sehingga memaksa penumpangnya menjadi perokok pasif dan bahkan berpenyakit paru-paru atau kanker
  • Pasang tarif suka-suka, sehingga penumpang membayar dengan tidak ikhlas dan menggerutu bahkan mendoakan yang tidak baik
  • Ngomong kasar, sehingga penumpang ikut tersulut emosinya
  • Menyetir ugal-ugalan, sehingga penumpang dan pengguna jalan lainnya merasa jengkel

Tapi apa daya, saya kok seringnya ketemu sama supir yang seperti itu.

Saya paham sekali penyebab utama angkot sering ngetem lama-lama, pasang tarif suka-suka, mengebut, adalah kejar setoran. Apa lagi coba kalau bukan karena itu? Tapi marilah kita runut ke belakang. Kenapa angkot ngetem? Karena ingin angkotnya penuh dengan penumpang. Kalau penumpang banyak, setoran pun banyak. Tapi kalau dipikir lagi, penumpang tuh paling sebal sama kegiatan yang namanya ngetem. Kalau penumpangnya bebal macam saya, disabar-sabarin aja, ditungguin itu angkot mau ngetem berapa lamapun. Karena apa? Karena perjalananku panjang banget, Mang! Mau jalan kaki ya gempor, mau naik taksi ya mahal. Mang Supir sendiri yang suka bilang, “Kalau pengen cepet, naik taksi sana!” lama-lama penumpang beralih ke moda transportasi yang lain. Ada yang mulai mengkredit motor, ada yang nebeng teman, ada yang tetap naik angkot tapi stress setiap hari. “Gilaaaaa! Mau jam berapa juga dari rumah, kalo naik angkot itu nyampenya tetep aja telaaat!” Yang saya gak habis pikir juga, kadang ada supir yang suka emosi waktu penumpangnya membayar ongkos kurang dari tarif suka-suka si supir, sampai membuang/melempar uang si penumpang itu ke jalan. Udah mah setoran kurang, itu duit dibuang-buang. Logikanya di mana?

Nah, sekarang, sudah ada yang namanya ojek online, taksi online, apa-apa online (eh, kurang nyambung). Para penumpang angkot sekarang kadang lebih memilih untuk menggunakan jasa ojek/taksi online karena waktu tempuh yang lebih singkat, lebih nyaman, dan harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan pengorbanan waktu dan mental yang harus dialami jika menggunakan angkot. Saya bilang ‘kadang’ karena tak selamanya taksi dan ojek online itu memenuhi kebutuhan penumpang, misalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh ya boleh lah pakai angkot, 3000 rupiah saja. Daripada pesan ojek/taksi online, pesannya berapa menit, nunggunya berapa menit, belum lagi kalau pengemudinya nggak hapal jalan ke tempat penjemputan, bayarnyapun jarang 3000 rupiah, kecuali kalau ada promo yang bisa sampai gratis. Tapi ya mosok jarak dekat aja harus nunggu angkotnya ngetem?

Satu lagi, kalau mau tiap hari naik ojek/taksi online, lama-lama bangkrut juga. Promo sudah habis terpakai, ongkos ojek/taksi online jelas lebih mahal. Untuk saya pribadi yang setiap hari pasti bolak-balik rumah-kantor, inginnya sih naik ojek online, apa daya suami tak mengizinkan, inginnya naik taksi online, tiap hari mah bisa bangkrut. FYI, saya dari rumah ke kantor naik angkot hanya menghabiskan uang 8500-10000 rupiah, pulangnya 10000-11000 rupiah. Rata-rata 20000 rupiah per hari, tergantung mood supir (IYKWIM). Kalau naik ojek online, saya tidak tahu, kata teman-teman yang rumahnya searah sih bisa 30-40 ribu rupiah per hari, ini tergantung banyaknya permintaan (makin banyak yang pesan, makin mahal tarifnya). Taksi online? Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata 80000 per hari. Kalau tiap hari bisa barengan berempat sih ya mending naik taksi online aja, tapi yaaaa barengan siapa atuh?

Cuma satu harapan saya kepada para supir angkot: Hilangkan kebiasaan ngetem. Terserah deh Mang Supir mau ngerokok kek, ngomong kasar kek, kebut-kebutan kek. Kalau angkotnya nggak pake ngetem kan saya gak usah lama-lama mengalami penyiksaan itu.

Tapi kan, tapi kan, gimana bisa kejar setoran kalau nggak ngetem?

Gini loh, Mang Supir. Dulu aja penumpang pada berpaling dari angkot itu kenapa, karena Mang Supir suka pada ngetem lama-lama kan? Dan prosesnya itu tidak berjalan cepat. Mereka satu per satu meninggalkan jasa angkot, satu, satu, pelan, pelan, lama-lama ngetemnya tambah lama, penumpang makin kabur. Nah, coba deh semua supir angkot kompakan nggak pada ngetem. Berhentilah seperlunya, in syaa Allah penumpang pada balik naik angkot lagi. Tapi harus diingat juga, prosesnya nggak bakalan sekejap “tring!” begitu. Satu, satu, pelan, pelan, lama-lama angkotnya penuh terus deh tuh. Yang pada punya motor/mobil juga naik angkot karena naik motor/mobil bolak-balik jarak jauh tuh capek loh. Mending naik angkot, bisa liat-liat pemandangan, gak takut telat, nyaman, jalanan tidak terlalu penuh, lalalalala… Itu hanya harapan saya loh, Mang.

Setiap saya mengalami pengeteman semena-mena dari Mang Supir, saya selalu ngebatin “Pantes aja orang-orang pada naik moda transportasi online. Mikir atuh, Mang, jangan cuma bisanya demo-demo aja!” Terus terang, saya masih ingin setia sama angkot. Tapi kalau naik angkot selalu bikin saya stress, mungkin sudah saatnya saya nyari tebengan abadi belajar bawa motor sendiri.