Eksoplanet yang baru …

… saja saya karang kemarin.

Syahdan, di galaksi Ora-Ono, terdapat dua buah planet bernama Songong dan Songong-b yang mengorbit sebuah bintang katai bernama bintang Ego. Sebenarnya bintang Ego ini tidak hanya dikelilingi oleh planet Songong dan Songong-b, tapi baru dua planet ini saja yang sudah diteliti karakteristiknya. Orbit Songong dan Songong-b saling bersilangan, sehingga kadang-kadang planet Songong berjarak lebih dekat ke bintang Ego dan di waktu lain planet Songong-b berjarak lebih dekat ke bintang Ego.

Yang menarik adalah adanya makhluk hidup menyerupai manusia di kedua planet ini, kita sebut saja alien. Karakteristik alien di planet Songong adalah sebagai berikut:

  • Mereka dibagi menjadi kasta-kasta berdasarkan usia, jenjang pendidikan, jabatan, dan penampilan. Kasta tertinggi adalah alien dengan usia, jenjang pendidikan, dan jabatan tertinggi serta penampilan paling ‘menarik’. Semakin tinggi kastanya, semakin agunglah kedudukan dia sebagai penghuni planet. So, jangan macem-macem ya sama alien nenek-nenek cantik yang sekolahnya udah tinggi banget sampe ke langit dan jabatannya tinggi di sana.
  • Alien dari planet Songong sangat senang menindas manusia di planet Harmoni karena beranggapan bahwa manusia Harmoni berada jauuuuuh di bawah kasta mereka. Alien planet Songong merasa lebih berhak mendapatkan semua yang dimiliki manusia planet Harmoni, bahkan lebih. Jika alien planet Songong mendapati salah satu manusia planet Harmoni memiliki mobil misalnya, alien planet Songong akan mengajukan protes kepada penguasa galaksi Ora-Ono agar mobil tersebut menjadi miliknya atau meminta diberi bis bertingkat (Bandros aja sekalian yeee *terBandung)
  • Di planetnya sendiri pun alien berkasta tinggi senang menindas sesamanya, entah itu dengan alasan usia, jabatan, pendidikan, ataupun penampilan. Bahkan ada alien yang berani menindas sesama alien dengan kasta yang sama. Weleh-weleh.
  • Jangan berani-berani memanggil nama alien langsung jika usianya lebih tua walaupun hanya terpaut satu hari. Panggillah dengan sebutan semacam Abang, Kakak, Mbak, dsb. (dengan bahasa mereka tentunya). Kalau sudah terlanjur, terima nasib saja untuk menerima teguran keras darinya.
  • Di planet Songong juga ada semacam aturan yang kalau di Bumi istilahnya adalah sopan santun. Harus pandai berbasa-basi. Jika kita kurang sopan, alien planet Songong akan merasa tersinggung dan memberikan teguran keras. Padahal mereka sendiri juga sebenarnya kurang punya sopan santun. Well, mungkin beda standarnya, atau standar ganda seperti sepeda motor.
  • Kadang penguasa galaksi Ora-Ono pun tidak berdaya menghadapi alien planet Songong, hampir semua keinginan alien planet Songong akan dipenuhi. Biar cepet aja gitu kali.
  • Ada satu golongan alien planet Songong yang memiliki nafsu makan yang sangat besar dan sangat menyukai segala hal yang GRATIS. Mereka akan menggila jika ada makanan gratis, walaupun makanan itu kurang enak atau hampir kedaluarsa atau berasal dari alien yang kastanya di bawah mereka.

Alien planet Songong-b memiliki karakteristik yang serupa dengan alien planet Songong, tetapi tidak terlalu jelas mengenai kasta karena atmosfer planet ini cukup tebal sehingga sulit untuk dilakukan pengamatan yang lebih teliti. Alien planet Songong-b sangat bangga dengan kemampuannya dalam memahami bahasa asing (bahasa planet lain di galaksi lain) walaupun kalau diperhatikan lagi mereka baru bisa memahami saja, belum mahir dalam berbahasa asing. Perbendaharaan kata yang masih minim dan pengetahuan mengenai tata bahasa yang masih kurang memadai. Baru ngerti sedikit, udah ngerasa jago gitu deh. Alien planet Songong-b juga hobi menghina manusia planet Harmoni jika menurutnya manusia tersebut berada di bawah standarnya.

Kalau dianalogikan dengan yang ada di Bumi, alien planet Songong dan Songong-b ini dikategorikan sebagai makhluk delusional.

BTW, planet Harmoni adalah salah satu planet yang mengorbit bintang Damai di galaksi Dairy Path.

Sekian.

Advertisements

Kunjungan kedua ke dokter gigi

Yap, saya baru dua kali saja menemui dokter gigi untuk memeriksakan kesehatan gigi selama saya hidup. Waktu masih kecil suka ngintilin si Mamah sih ke dokter gigi tapi belum pernah benar-benar diperiksa gigi.

Kunjungan pertama saya ke dokter gigi sebagai orang dewasa adalah seperti yang saya ceritakan di “Penyakit misterius“. Pada saat itu saya merasa sangat tertipu karena ujug-ujug dirampok 300 ribu setelah dilukai dalam waktu sekian menit. Oke, lebay.

Kunjungan kedua ini saya lakukan dengan sangat hati-hati. Jadi, alasan utama saya memutuskan untuk menemui dokter gigi adalah “penemuan” lubang yang cukup signifikan di gigi geraham kiri-atas paling belakang. Saya cukup terguncang dengan penemuan tersebut karena saya merasa sudah sangat rajin menggosok gigi dan tidak mencurigai adanya kelainan di gigi belakang itu. Penemuan itu berawal dari kegiatan saya mengudap kacang arab. Saya pikir ada kacang yang nyelip di gigi paling belakang tapi begitu saya coba singkirkan “kacang yang terselip” itu, susah sekali. Sampai kemudian saya sadari bahwa itu adalah lubang gigi. Hiks!

Saya temui dokter gigi di klinik terdekat Rabu lalu (31/12/2014), dokternya cantik 😀

Saat dokter mulai memeriksa, dia menanyakan “Yang bolong gigi bawah atau atas, Bu?”

“Atas, Dok.”

“Tapi ini yang bawah juga banyak bolongnya.”

Duniaku runtuh … “Masak??”

Dan ternyata gigi gerahamku sebagian besar berlubang dengan rekor terparah memang si lubang yang baru saya temukan itu. Katanya, pada umumnya gigi geraham dewasa hanya tumbuh sampai dua buah tiap sisi. Tapi gigi saya tumbuh sempurna sampai masing-masing tiga buah. Good news? Not really.

“Tapi gigi ketiga ini biasanya sulit terjangkau sikat gigi sehingga mudah rusak. Terutama gigi atas, solusinya hanya dicabut, tidak bisa ditambal.”

Ngékk!

Katanya alat bornya sulit menjangkau sampai ke belakang sekali sehingga sulit untuk membersihkan si lubang untuk ditambal. “Kalaupun dipaksakan ditambal, kuatir kurang bersih. Nantinya sakit lagi, lebih merepotkan.”

Saya pernah beberapa kali merasakan ngilu sesaat di gigi kiri belakang, tapi saya kira hanya karena gigi sensitif saja. Makanya kaget betul ketika menyadari bahwa itu akibat gigi berlubang. I was cursing myself.

Dokter sempat mencoba memasukkan bor ke posisi gigi belakang itu, “Nah, segini, Bu, kira-kira. Pegal nggak, Bu?” Saya yang masih belum rela dicabut gigi sok kuat, “Nggak, Dok.”

Tapi kemudian dokter menyarankan saya untuk menambal gigi-gigi lain yang lebih mudah dijangkau. Dan sayapun setuju menambal tiga geraham kanan bawah setelah mengetahui perkiraan biayanya dan mengira-ngira isi dompet. “Satu gigi berkisar antara 125-150 ribu, tergantung besar lubangnya. Kalau yang parah sekali bisa sampai 200 ribu.” Gusti, nggak kapok ya dirampok dokter gigi? Karena masih kanyenyerian dokter gigi sebelumnya, saya iseng menanyakan biaya scaling ketika dokter mempersiapkan prosedur penambalan gigi. “Atas-bawah 250 ribu.” Masih lebih murah di situ, sodharra! Bener-bener ditipu deh saya!

Dokter menjelaskan bahwa proses penambalan menggunakan what-so-called “Light Curing”, dengan dua tahap pelapisan. Lapisan pertama untuk meredam rasa ngilu (yang mana sangat jarang saya rasakan sehingga tidak menyadari banyaknya lubang di gigi), lapisan kedua adalah tambalan utamanya. Setelah mangap cukup lama, dokter menyuruh saya merasakan apakah terasa ada ganjalan pada tambalan. Rahang saya terasa melayang, sulit menentukan ada ganjalan atau tidak. Dokter menyuruh saya menggigit-gigit dan mengunyah-ngunyah secarik kertas khusus berwarna ungu. Finishing touch and voila! Gigi saya terlihat aneh dengan tambalannya, but I like it, hehe …

Dokter menyarankan saya melakukan rontgen gigi jika benar-benar mantap untuk mencabut gigi belakang, “Untuk melihat giginya tumbuh normal atau miring. Kalau normal bisa saya cabut, kalau miring nanti saya rujuk ke dokter bedah.” Ngeri! “Kira-kira berapa biayanya tuh foto gigi?”

“Seratus sekian lah, nggak nyampe 200 ribu.”

Duh, rasakan deh akibatnya malas periksa gigi rutin!

Dokter sempat memberikan tips perawatan gigi sejak dini (karena sempat melihat saya membawa anak –yang kemudian nangis kejer waktu disuruh minggir dikit karena menghalangi dokter yang hendak memeriksa gigi saya). Katanya gigi anak itu biasanya yang rusak pertama kali adalah gigi depan-atas, lalu merembet ke belakang-atas, lalu belakang-bawah, dan akhirnya ke depan-bawah. Kenapa? Karena gigi yang paling tidak terlindungi pada saat proses meminum air susu (baik itu susu ibu maupun susu formula) adalah gigi depan atas. Gigi depan-bawah terlindungi oleh lidah. Solusinya adalah menggosok gigi anak setiap kali selesai menyusu, bisa menggunakan kain kasa atau kain biasa yang bersih dan terlebih dahulu dicelupkan pada air matang hangat. Sulit memang, karena bayi biasanya langsung tertidur setelah menyusu. Alhasil, gigi anak saya sudah rogés di bagian depan-atas mulai usia (saat saya menyadarinya) 1 tahun. Walaupun sepertinya sudah terlambat, saya sebisa mungkin memaksa anak saya untuk menggosok gigi sebelum tidur. Padahal setelah gosok gigi itu, dia masih minum susu dulu menjelang tidur, hehe …

Eniwei, tambalan gigi itu ternyata sudah mulai copot hari Minggu lalu (04/01/2015). Ada garansi nggak ya? Kakak saya sempat menyesalkan, kenapa saya rela membayar mahal padahal punya fasilitas BPJS? Saat itu saya pikir hanya akan menambal satu gigi saja, repot lah kalau harus ngantre di dokter umum untuk meminta rujukan dan antre lagi di rumah sakit. Tapi nasi sudah menjadi bubur, lain kali saya rela-relain deh ngantre demi gretongan :p

2014 in review

OK, whatever! :p

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 6,400 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Berbarislah dengan benar!

Ada satu hal yang selalu menggelitik hati nurani saya dan membuat saya ingin berteriak “Pelis atuh lah!” setiap kali tiba waktunya untuk mengikuti upacara bendera di kantor. Apakah itu?

Ada deh, moal beja-beja bisi comel :p

Dulu, waktu saya baru masuk kerja, setiap tanggal 17 selalu diadakan upacara bendera di kantor. Nggak lama-lama sih, paling juga cuma 15-20 menit. Eh, itu lama apa sebentar ya? Hehe … Sejak 2013, upacaranya cuma pas hari nasional aja, seperti 20 Mei, 28 Oktober, 10 November. Durasinya lebih lama daripada upacara bulanan.

Yang namanya upacara, pasti ada acara baris-berbaris kan ya. Kalau di kantor, barisan karyawan laki-laki tidak digabung dengan barisan karyawan perempuan. Pasukan perempuan di sebelah kanan, laki-laki di kiri. Tiap pasukan ada pemimpin pasukannya yang setiap sebelum upacara dimulai, menyiapkan barisan dengan aba-aba semacam “Siap grak!”, “Setengah lengan lencang kanan grak!”, “Istirahat di tempat grak!”, atau “Dua langkah ke kiri/kanan grak!”

Karena jumlah karyawan laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan, jumlah saf barisan laki-laki lebih banyak dari perempuan. Pasukan laki-laki terdiri dari 4 saf, sedangkan perempuan hanya 3. Berdasarkan ilmu baris-berbaris yang pernah saya pelajari ketika masih di bangku sekolah, biasanya jika ada anggota yang baru masuk ke barisan, dia mengambil posisi paling kiri/belakang. There is a reason why there are terms like “Lencang kanan” and “Lencang depan”. Ada yang tahu? Yap, karena posisi kanan-depan adalah poros yang tidak boleh berubah posisinya. Jadi kalau mau bikin barisan baru ya di belakang/kiri.

Perintah “lencang kanan” itu kalau barisannya berupa saf (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang), perintah “lencang depan” kalau barisannya berupa banjar (jumlah orang ke samping>jumlah orang ke belakang). Dua perintah itu efeknya sama saja, orang paling depan lencang kanan, orang paling kanan lencang depan, orang paling kanan-depan berdiri tegak dengan kedua tangan di samping badan.

Wait, kenapa saya jadi njelasin hal yang nggak nyangkut maksud dan tujuan tulisan saya? Hehe … maap.

Nah, kalau barisannya berupa saf, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling kiri. Kalau barisannya berupa banjar, orang yang baru datang dan ingin masuk barisan harus masuk ke barisan paling belakang. Zaman sekolah dulu sih biasanya barisnya 3-saf×n-banjar atau n-saf×3-banjar dengan n bebas, tapi kira-kira beginilah yang ada di pikiran saya kalau barisannya misalnya 4×7 (4 saf, 7 banjar –atas) atau 7×4 (7 saf, 4 banjar –bawah) dan ada orang yang mau masuk/keluar barisan:

Orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan bersaf. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Formasi ketika orang masuk/keluar barisan berbanjar. Bulatan coklat adalah poros, tanda panah menunjukkan arah hadap barisan.

Tapi yang terjadi di kantor khusus untuk barisan perempuan adalah sebagai berikut:

 Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Poros menghilang dan orang masuk dari manapun asalkan bukan dari kiri. (Ini masih versi rapinya sih, aslinya bisa lebih kacau lagi)

Yang bikin sakit hati adalah ketika saya sendiri yang menjadi orang yang mau masuk barisan itu karena datang terlambat (walaupun upacaranya belum dimulai). Bulatan hijau adalah barisan laki-laki, bulatan biru adalah barisan perempuan, bulatan merah adalah saya.

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya? !!: Sana ke kiri! Ngerusak barisan aja! Pelis atuh lah!

??: Aduh, udah penuh barisannya, masuk lewat mana ya?
!!: Sana ke kanan! Ngerusak barisan aja!
-Pelis atuh lah!-

Pelis! Saya ngerusak barisan?

Tapi saya tak sampai hati untuk menyampaikan segala teori baris-berbaris kepada ibu itu, kalo kata doktor kamseupay mah “not worthed!” Saya langsung meluncur ke posisi yang seharusnya menjadi poros barisan, whatever! Saya langsung berandai-andai bahwa semua karyawan di kantor diwajibkan untuk mengikuti pelatihan baris-berbaris dengan anggota TNI sebagai pelatihnya. Ketika saya diklat prajabatan, ada materi baris-berbaris sih, mungkin PNS yang masuk lebih dulu daripada saya sudah melupakan materi tersebut sehingga tega menghardik saya sebagai perusak barisan.

So please, pellliiiis!

Peneliti yang malas meneliti

Manusia macam apa saya ini? Lima tahun sama sekali nggak nulis makalah penelitian. Tadi waktu bikin tulisan untuk Buletin Cuaca Antariksa, konsentrasi saya teralihkan ke kegemaran saya memotong-motong gambar, melabeli, dan menggabung-gabungkannya. Saya selalu terkagum-kagum melihat aktivitas matahari yang menjilat-jilat ke angkasa.

Peristiwa filamen (panah kuning) dan flare Hyder berdurasi panjang (panah hitam) yang disertai oleh CME. Bagian atas adalah pengamatan korona matahari (panjang gelombang 171 Angstrom, bagian bawah adalah pengamatan kromosfer (panjang gelombang 304 Angstrom).

Peristiwa erupsi filamen (panah kuning) dan flare Hyder berdurasi panjang (panah hitam) yang disertai oleh CME. Bagian atas adalah pengamatan korona matahari (panjang gelombang 171 Angstrom), bagian bawah adalah pengamatan kromosfer (panjang gelombang 304 Angstrom).

Pada umumnya flare terjadi di atas daerah aktif atau grup bintik matahari. Flare Hyder atau flare tunabintik adalah flare yang terjadi bukan di atas daerah aktif atau grup bintik matahari. LDE (long duration event) adalah peristiwa flare yang berlangsung lebih dari satu jam [saya lupa referensinya di mana dan mengapa diambil satu jam untuk mengategorikannya sebagai LDE]. Saya juga pernah diberitahu bahwa flare LDE biasanya disertai oleh lontaran massa korona (CME), referensi yang itu juga belum pernah saya cari, hehe … Adududuh, parah banget sih peneliti yang satu ini 😦

Di tulisan buletin itu juga saya menyinggung daerah aktif NOAA 12192 yang katanya adalah grup bintik terbesar dalam 3 siklus matahari terakhir. Grup bintik ini ternyata awet, muncul lagi di piringan matahari pada rotasi selanjutnya tanggal 13 November 2014. NOAA 12192 pun berganti nomor menjadi NOAA 12209. Gara-gara itu, konsentrasi saya teralihkan untuk melihat perjalanan daerah aktif ini sebagai NOAA 12209. Agak membosankan sih nontonin gambar fotosfer selama kurang lebih dua pekan. Saya sempat terpikir untuk melihat dinamikanya dalam panjang gelombang lain, tapi … “Sudahlah, fokus! Fokus!” Alhasil, saya hanya berhasil menulis artikel satu halaman termasuk empat gambar. Pfffftt!

Perjalanan dinas kali ini

Kamis, 13 Nov 2014

Jadwal pesawat maskapai singa lepas landas pukul 10:30 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta. Tidak ada penundaan, Alhamdulillah tiba di Padang tepat waktu, sekitar pukul 12:25. Nunggu bagasi lumayan lama, sambil nahan pipis karena takut terlewat. Padahal kan kalaupun tas saya tidak langsung diambil, nanti juga balik lagi muncul di conveyor-belt. Pegawai guest house sudah siap menjemput kami dengan mobil keren :p Ford Everest yang memang cocok dengan medan menuju Loka Kototabang. Kami mampir dulu di RM Lamun Ombak untuk makan siang. Saya memilih menu ati sapi, sayuran, dan udang balado. Saya foto udangnya demi pamer ke si Asep.

2014-11-13 13.44.54

Oya, di restoran padang juga ternyata ada sejenis karedok tapi isinya kol, mi, selada, kerupuk, emping.

Kami tiba di guest house sekitar pukul 5 sore. Capek, dari pagi belum bisa tidur enak gara-gara di pesawat duduk sebelahan kaprog, jaim. Nggak enaknya lagi, kursi di pesawat nggak bisa diubah sandarannya karena posisi saya tepat di depan jendela darurat.

Malamnya kami makan di restoran ayam penyet yang ada di halaman sebuah hotel dan menyajikan berbagai menu penyet: ayam, iga, tempe. Selain itu ada juga menu sop dan timbel. Saya memilih menu sop ayam kampung dan jeruk hangat. Ada cah kangkung juga tapi saya cuma sanggup makan sedikit karena pedas sekali. Saya baru tahu juga ternyata tempe penyet itu adalah tempe yang dihancurkan dan dicampur bumbu, mirip tutug tempe tapi tidak terlalu hancur.

Malam itu rencananya kami akan menguji peralatan pengamatan tapi ternyata langitnya tak kunjung cerah hingga pagi, gerimis tak henti-henti. Mulai pukul 1 pagi sampai subuh, saya bangun berkali-kali demi menanti langit cerah. Alhasil, ngantuk gak habis-habis.

Jumat, 14 Nov 2014

Hari ulang tahun anak saya. Ah, tiba-tiba kangen ingin memeluk si kecil mungil.

Pilihan menu sarapan pagi: lontong sayur (nangka) dan pical (a.k.a. pecel atau karedok a la padang). Saya pilih lontong sayur dan ternyata PEDAS. Tenggorokan saya mulai tidak nyaman dengan makanan yang seringnya kaya akan santan, minyak, dan cabe.

Pukul 9 pagi kami bertolak ke Loka dan mulai memasang teleskop.

Sayang sekali tidak bisa mencoba pengamatan menggunakan Coronado H-alpha karena tidak ada dudukan untuk menyambungkannya ke mounting Ioptron. Cuaca pun kurang kondusif, hanya berhasil mengambil beberapa foto matahari berhiaskan awan.

Menu makan siang: ayam goreng penyet dengan lalapan kol dan mentimun. Nasinya gede banget, saya berbagi dengan “Munaroh”.

Kami baru kembali ke guest house pukul 5 sore. Ngantuknyaaaa, padahal kerjanya sedikit. Mungkin capek nunggu langit cerah dan efek tidur yang kurang berkualitas. Malamnya makan masakan padang lagi, saya pilih ayam bumbu kuning (kaya santan dan minyak) dan jeruk hangat. Tadinya mau foto-foto di Jam Gadang sebelum kembali ke guest house tapi ternyata di sana gelap. Kami lanjut ke penjual durian, cuma ada satu penjual katanya di situ. Kami makan durian yang duri di kulitnya tidak tajam seperti kulit durian yang sering saya lihat. Salah satu dari kami malah mengira bahwa durinya sudah dipapas supaya tidak tajam (ngapain juga coba repot-repot nyukurin durian?). Satu kepala dihargai 70000 rupiah. Mahal tapi enak, apalagi kalau gretong, haha … Daging duriannya tebal, bijinya kecil. Kenyang, apalagi karena kami baru saja makan malam. Belakangan saya tahu kalau durian berduri tumpul itu namanya Durian Kamang (Tapi waktu saya browsing gambarnya, durinya tajam. Jangan-jangan salah info nih). Tidur malam lumayan sedikit gangguannya tapi kok tetep ngerasa ngantuk ya …

Sabtu, 15 Nov 2014

Ke Loka lebih pagi dengan harapan langit cerah sehingga urusan bisa cepat selesai. Berhasil merekam matahari menggunakan kamera Imaging Source dan ASI, nggak full-disk. Lagi-lagi menyayangkan Coronado yang belum bisa dipasang di mounting. Rasanya ingin membawa teleskop itu ke Bandung, padahal sudah punya H-alpha yang lebih besar :p Kami meninggalkan Loka sekitar pukul 11:30. Cari makan siang karena melewatkan sarapan pagi. Sempat makan roti dan cemilan sih tapi ya bukan sarapan namanya, hihi …

Tibalah kami di Itiak Lado Mudo (kalau nggak salah sih namanya itu, hehe …), disuguhi itik (a.k.a. bebek) dan ayam berlumuran sambal hijau. PEDAS, sodhara! Katanya menu ini sangat terkenal dan enak sampai orang kantor banyak yang pesan untuk dibawa ke Bandung. Di restoran ini juga ada aksi jual dedet air minum kemasan botol 600 ml (tidak ada minuman gratis semacam air bening/teh). Kalau dihitung-hitung, tiap orang kira-kira menghabiskan 50000 rupiah untuk nasi, bebek/ayam sambal hijau, acar mentimun (enak loh acarnya!), dan air minum yang dijual dedet tadi. Kata kaprog saya sih, ini mah di Bandung juga banyak yang murah. Cuma emang sih katanya sambelnya yang bikin enak, yang mana bagi saya tidaklah berpengaruh karena saya tidak suka makanan yang terlalu pedas. Ditambah lagi gigi saya yang langsung sakit karena my itiak is liat [baca: kebagian bebek yang alot]. Karena terkenal, restoran ini menyediakan layanan take away yang sudah dibekukan. Tapi sayang, nggak boleh kalau cuma mau beli satu potong. Minimal setengah ekor (2 potong) seharga 75000 rupiah.

Setelah berpedas-pedas ria, kami sempat melewati tempat wisata lobang jepang. Nggak mampir karena beberapa dari kami tidak tertarik. Perjalanan dilanjutkan ke Jam Gadang.

2014-11-15 12.35.55

Foto-foto sebentar, dipalak uda-uda berkostum Angry Bird yang ikutan nimbrung di sesi foto, belanja kerudung, mukena, baju koko di pasar atas dan sekitarnya, lanjut ke toko oleh-oleh “Ananda”. Ada sanjai Christine Hakim dan macam-macam cemilan khas Bukittinggi. Kembali ke guest house menjelang Ashar, tidur sampai Maghrib. Kayaknya nggak pernah cukup tidur ya di sana tuh :p

Tujuan makan malam: cafe sesuatu (lupa namanya). Jual nasi goreng, mi goreng, mi rebus, martabak mi, spageti, sop buah, salad buah, jus, dll. Kabid saya agak kurang semangat makan karena ternyata menu nasi+mi goreng pilihannya banyak sekali. Tadinya beliau mengira menunya seperti nasi mawut tapi ternyata nasi dan minya tidak dicampur. Saya memilih menu martabak mi –yang kalau di rumah disebutnya tamblag emih :p– dan jus nasir (buah naga + sirsak) tanpa es. Kembali ke mess untuk berkemas dan tidur sebisanya (istilah apa pula itu, tidur sebisanya? Pokoknya gitu deh …).

Minggu, 16 Nov 2014

Jadwal pesawat singa lepas landas pukul 10:35. Kami sudah berangkat dari guest house pukul 05:30. Ternyata langitnya cerah. Pukul 07:30 sudah tiba di warung pical dan lontong sayur. Huwedhyannn itu makanan, PEDAS banget! Munaroh nggak sanggup ngabisin picalnya karena terlalu pedas. Ternyata picalnya ada daun hijaunya (entah apa) dan toge, udah direbus. Kolnya sih tetep mentah. Jadi entah nih termasuk karedok atau lotek. Nya pical we ateuh :p Lontong sayurnya juga katanya pedas tapi enak, sayurnya: gulai pakis. Kami sudah tiba di Bandara Minangkabau sekitar pukul 08:15. Wew, kepagian! Kapus sempat belanja roti randang dan bolu gulung durian, kalau tidak salah harganya masing-masing 63000 dan 57000 rupiah. Munaroh dan Teh Ni beli teh kotak seharga 10000 rupiah (haha, mahal nian! Lagian kok belanja gituan di bandara? Kaget kan jadinya). Daripada bengong, mending jeprat-jepret nggak jelas pake hape:

Kami baru masuk pesawat sekitar pukul 10:10. Ternyata delay sebentar. Baru lepas landas sekitar pukul 10:40. Baru nyadar bahwa ternyata pramugari maskapai singa mengenakan rok panjang tapi belahannya tinggi sekali sampai setengah paha, hoho …

Mendarat di Cengkareng sekitar pukul 12:30, nunggu bagasi lama banget padahal udah pada ngabisin waktu dulu (nungguin anggota rombongan lain yang) ngantre toilet. Baru bisa keluar bandara pukul 1 siang. Lapaaaaaar sodharra! Kami singgah di KM19 untuk makan siang. Saya memilih menu nasi timbel komplit dan jeruk hangat. Munaroh lahap banget makan soto lamongan, mungkin karena balas dendam tadi pagi sarapannya super pedas. Pada dasarnya semua makan dengan lahap bak belum makan selama tiga hari :p

Di kantin KM19 itu ada pelayannya yang (gerak-geriknya) mirip Olga. Nggak cuma satu, sampe Teh Ni bertanya-tanya, “Jangan-jangan bekas itu ya mereka?” Entah bekas apa maksudnya, hehe … Malah salah satu pelanggan ada yang bilang langsung ke si mas-mas pelayan yang (gerak-gerik dan) badannya mirip Olga, “Mas, mirip Olga.” Trus waktu mereka mau pergi, pamitan, “Dadah, Olgaaaa!”

Tiba di Bandung disambut hujan deras, mendarat di kantor sekitar pukul 16:25. Masih hujan dan saya nyari-nyari kresek besar untuk membungkus koper. Sambil nunggu jemputan ‘ojek cinta’, main-main di dark playground dulu. Suami menjemput sekitar pukul 17:25, sudah siap dengan helm, jas hujan, pembungkus ransel, dan kresek besar untuk koper saya. Tapi alhamdulillah, hujannya berhenti sebelum saya naik ke motor.

Mampir dulu ke Martabak Juragan dekat rumah dan tiba di rumah dengan selamat. Anak saya sedang tidur dan ketika bangun tampaknya bete melihat ibunya yang baru pulang setelah sekian lama menghilang. Hiks! Untungnya pundungnya nggak lama, hehe …

Sekian laporan perjalanan kali ini 🙂