Tag Archives: angkot

Pagi-pagi butuh mood booster

Gusti, masih pagi sudah dua kali dapat kabar menyedihkan.

Daripada bengong di angkot, seperti kebanyakan orang, saya periksa ponsel barangkali ada berita atau tips berguna yang dibagikan teman-teman saya via Whatsapp. Di salah satu grup ada kiriman seperti ini:

Bapak bapak dan Ibu Ibu mulai dari sekarang. Bila mau ngambil uang di ATM tempat umum. Harap super hati hati terutama ATM yang ada rolingdornya.
Yang aman ngambilnya yang ada penjagaan SATPAM Semoga informasi ini bermanfaat. Bila tidak berkenan segera hapus saja.

yang didahului oleh sebuah video. Ketika saya buka videonya, duh, Gusti. Video itu merusak suasana hati saya. Tampaknya video itu diambil oleh kamera CCTV sebuah ruang ATM yang di bagian luar pintu kaca ATM terdapat pintu gulung (rolling door). Saya sih belum pernah melihat ATM dengan pintu gulung seperti itu kecuali yang berlokasi di bank yang bersangkutan, kadang tidak ada SATPAM yang berjaga di situ kalau hari libur. Semoga TKP di video itu bukan di Indonesia. Adegan diawali oleh seorang perempuan yang masuk ke ruang ATM untuk bertransaksi. Pada saat nasabah perempuan itu sedang mengaduk-aduk isi tasnya (mungkin mencari dompet/kartu ATM) tiba-tiba ada seorang pria yang masuk dan langsung menutup pintu gulung. Sempat terjadi perdebatan dan si pria mengeluarkan golok dari dalam tasnya. Korban sempat berusaha melarikan diri tapi tahu sendiri lah pintu ATM lebarnya segimana, apalagi pintu gulung di luarnya dalam keadaan tertutup. Saya sebenarnya tidak ingin melanjutkan menonton tapi penasaran juga akan apa yang terjadi selanjutnya. Lalu pelaku membawa korban ke pojok dekat mesin ATM (tapi masih tertangkap CCTV) dengan posisi pelaku membelakangi kamera. Adegan selanjutnya membuat perut saya mual, entah karena adegannya yang sadis atau efek belum sarapan dan menonton video dari layar ponsel yang kecil mungil di dalam angkot yang bergejolak. Pelaku terlihat meninggalkan korban yang tak berdaya di pojokan lalu melakukan gerakan seperti mengelap goloknya di sisi lain mesin ATM. Tidak jelas apa yang diambil pelaku dari korbannya, tidak jelas juga apa yang dilakukan pelaku terhadap korban sehingga terkulai di pojokan begitu, tapi adegan mengelap golok itu yang membuat saya bertanya-tanya, apakah korban masih hidup? Si pria kampret pelaku perampokan bersenjata itu kemudian dengan santainya keluar dari ruang ATM dan membiarkan pintu gulung tertutup.

Dulu saya bisa santai menonton film berdarah-darah, sekarang sudah tidak berani. Nah ini, rekaman CCTV, adegannya bikin perut mual. Kesal sekali melihat si pelaku yang tidak ragu menghabisi korbannya. Sakit jiwa! Apa yang harus kita lakukan ya ketika berada di posisi korban? Dan saya pun langsung menghapus video itu dari ponsel, khawatir dilihat anak saya.

Tiba di kantor (terlambat >30 menit, whiww!) saya mendapat kabar duka dari grup Whatsapp, salah satu dosen senior wafat pagi ini. Setahu saya memang beliau sudah rutin menjalani cuci darah, paling tidak dalam dua tahun terakhir (saya baru bertemu beliau lagi sekitar September 2015 setelah belasan tahun saya meninggalkan kehidupan sebagai mahasiswa). Ah, saya pun semakin sadar bahwa saya sudah semakin tua, sedang mengantre giliran selanjutnya.

Hey, mood booster, where are you?

Advertisements

Catatan hati seorang penumpang (yang pernah) setia angkot

Wahai para supir angkot, saya tahu tidak semua supir angkot kelakuannya sama. Tidak semua supir angkot sukanya:

  • Ngetem lama-lama, sehingga membuat penumpangnya terlambat tiba di tempat tujuan
  • Ngerokok di angkot, sehingga memaksa penumpangnya menjadi perokok pasif dan bahkan berpenyakit paru-paru atau kanker
  • Pasang tarif suka-suka, sehingga penumpang membayar dengan tidak ikhlas dan menggerutu bahkan mendoakan yang tidak baik
  • Ngomong kasar, sehingga penumpang ikut tersulut emosinya
  • Menyetir ugal-ugalan, sehingga penumpang dan pengguna jalan lainnya merasa jengkel

Tapi apa daya, saya kok seringnya ketemu sama supir yang seperti itu.

Saya paham sekali penyebab utama angkot sering ngetem lama-lama, pasang tarif suka-suka, mengebut, adalah kejar setoran. Apa lagi coba kalau bukan karena itu? Tapi marilah kita runut ke belakang. Kenapa angkot ngetem? Karena ingin angkotnya penuh dengan penumpang. Kalau penumpang banyak, setoran pun banyak. Tapi kalau dipikir lagi, penumpang tuh paling sebal sama kegiatan yang namanya ngetem. Kalau penumpangnya bebal macam saya, disabar-sabarin aja, ditungguin itu angkot mau ngetem berapa lamapun. Karena apa? Karena perjalananku panjang banget, Mang! Mau jalan kaki ya gempor, mau naik taksi ya mahal. Mang Supir sendiri yang suka bilang, “Kalau pengen cepet, naik taksi sana!” lama-lama penumpang beralih ke moda transportasi yang lain. Ada yang mulai mengkredit motor, ada yang nebeng teman, ada yang tetap naik angkot tapi stress setiap hari. “Gilaaaaa! Mau jam berapa juga dari rumah, kalo naik angkot itu nyampenya tetep aja telaaat!” Yang saya gak habis pikir juga, kadang ada supir yang suka emosi waktu penumpangnya membayar ongkos kurang dari tarif suka-suka si supir, sampai membuang/melempar uang si penumpang itu ke jalan. Udah mah setoran kurang, itu duit dibuang-buang. Logikanya di mana?

Nah, sekarang, sudah ada yang namanya ojek online, taksi online, apa-apa online (eh, kurang nyambung). Para penumpang angkot sekarang kadang lebih memilih untuk menggunakan jasa ojek/taksi online karena waktu tempuh yang lebih singkat, lebih nyaman, dan harga yang tidak jauh berbeda dibandingkan pengorbanan waktu dan mental yang harus dialami jika menggunakan angkot. Saya bilang ‘kadang’ karena tak selamanya taksi dan ojek online itu memenuhi kebutuhan penumpang, misalnya untuk jarak yang tidak terlalu jauh ya boleh lah pakai angkot, 3000 rupiah saja. Daripada pesan ojek/taksi online, pesannya berapa menit, nunggunya berapa menit, belum lagi kalau pengemudinya nggak hapal jalan ke tempat penjemputan, bayarnyapun jarang 3000 rupiah, kecuali kalau ada promo yang bisa sampai gratis. Tapi ya mosok jarak dekat aja harus nunggu angkotnya ngetem?

Satu lagi, kalau mau tiap hari naik ojek/taksi online, lama-lama bangkrut juga. Promo sudah habis terpakai, ongkos ojek/taksi online jelas lebih mahal. Untuk saya pribadi yang setiap hari pasti bolak-balik rumah-kantor, inginnya sih naik ojek online, apa daya suami tak mengizinkan, inginnya naik taksi online, tiap hari mah bisa bangkrut. FYI, saya dari rumah ke kantor naik angkot hanya menghabiskan uang 8500-10000 rupiah, pulangnya 10000-11000 rupiah. Rata-rata 20000 rupiah per hari, tergantung mood supir (IYKWIM). Kalau naik ojek online, saya tidak tahu, kata teman-teman yang rumahnya searah sih bisa 30-40 ribu rupiah per hari, ini tergantung banyaknya permintaan (makin banyak yang pesan, makin mahal tarifnya). Taksi online? Berdasarkan pengalaman saya, rata-rata 80000 per hari. Kalau tiap hari bisa barengan berempat sih ya mending naik taksi online aja, tapi yaaaa barengan siapa atuh?

Cuma satu harapan saya kepada para supir angkot: Hilangkan kebiasaan ngetem. Terserah deh Mang Supir mau ngerokok kek, ngomong kasar kek, kebut-kebutan kek. Kalau angkotnya nggak pake ngetem kan saya gak usah lama-lama mengalami penyiksaan itu.

Tapi kan, tapi kan, gimana bisa kejar setoran kalau nggak ngetem?

Gini loh, Mang Supir. Dulu aja penumpang pada berpaling dari angkot itu kenapa, karena Mang Supir suka pada ngetem lama-lama kan? Dan prosesnya itu tidak berjalan cepat. Mereka satu per satu meninggalkan jasa angkot, satu, satu, pelan, pelan, lama-lama ngetemnya tambah lama, penumpang makin kabur. Nah, coba deh semua supir angkot kompakan nggak pada ngetem. Berhentilah seperlunya, in syaa Allah penumpang pada balik naik angkot lagi. Tapi harus diingat juga, prosesnya nggak bakalan sekejap “tring!” begitu. Satu, satu, pelan, pelan, lama-lama angkotnya penuh terus deh tuh. Yang pada punya motor/mobil juga naik angkot karena naik motor/mobil bolak-balik jarak jauh tuh capek loh. Mending naik angkot, bisa liat-liat pemandangan, gak takut telat, nyaman, jalanan tidak terlalu penuh, lalalalala… Itu hanya harapan saya loh, Mang.

Setiap saya mengalami pengeteman semena-mena dari Mang Supir, saya selalu ngebatin “Pantes aja orang-orang pada naik moda transportasi online. Mikir atuh, Mang, jangan cuma bisanya demo-demo aja!” Terus terang, saya masih ingin setia sama angkot. Tapi kalau naik angkot selalu bikin saya stress, mungkin sudah saatnya saya nyari tebengan abadi belajar bawa motor sendiri.

Saya yang tidak mengenal diri sendiri ini …

Kemarin sewaktu pulang kerja kantor, di angkot Kalapa-Sukajadi yang sedang berhenti di perempatan Pasteur-Cipaganti, ada salah seorang penumpang yang bertanya,

  • “Ini belok kanan?”
  • Saya, “Nggak, lurus.”
  • Dia, “Lurus sampe mana?”
  • Saya, ” … ” [loading …]
  • Dia, “Borromeus?”
  • Saya, ” … ” [loading …]
  • Dia, “Gasibu?”
  • Saya, ” … errr, nggak. Nanti ke sana … Wastukancana.”
  • Dia, “Oh, Wastu.”

Lampu merahnya lumayan lama, saya sempat berpikir, “Lah, ngapain dia nanya ini angkot belok kanan apa nggak? Kan nggak boleh belok kanan dari sini mah.” Jangan-jangan dia itu maksudnya nanya belok kanan di perempatan selanjutnya yang mana jawabannya seharusnya adalah IYA. Duh, jadi orang kok lemot sih ghuweeeh? Am I being too detailed, or strict? Jadi parno sendiri, jangan-jangan dia mikir “Nih emak-emak eror kali ya? Katanya lurus padahal belok ke Wastu.”

Lampu hijau, angkot melaju. Penumpang tadi nanya lagi,

  • “Nanti lewat BEC nggak?”
  • Saya, “Harus jalan dikit.”
  • Dia, “Tapi lewat BEC kan? Wastu kan?”
  • Saya, “Nggak lewat di depannya, harus jalan lagi sedikit.”
  • Dia, “Oh … “

Lagi-lagi ngerasa DOH, kenapa nggak langsung bilang IYA aja sih? Supir angkot juga kalo ditanya kayak gitu pasti langsung jawab iya. Parno lagi, jangan-jangan dia mikir lagi, “Duh, emak-emak eror!” Lagi-lagi bertanya, am I being too detailed? Or just paranoid?

Sebut saja babi -bukan makhluk sebenarnya.

Tadinya mau nulis ini di status FB aja, tapi berhubung nggak mau dituduh eksis di FB maka saya urungkan niat saya itu and post it here instead, hehe …

Cuma mau laporan pandangan mata aja dari perjalanan saya pulang kerja kemarin. Just like everyday sih … Angkotnya ngetem, jalanan macet, penumpang ada yang naik, ada yang turun, ada yang serius memandangi dan meggulir/mengetik di ponsel/talenan interaktifnya, ada yang telponan pake talenan interaktif, goyang-goyang sendiri atau bahkan nyanyi-nyanyi sendiri karena telinganya terhubung dengan gadgetnya, ya gitu deh biasanya tiap hari.

Di depan Griya kadang-kadang ada penumpang yang naik ke/turun dari angkot yang saya tumpangi. Saya tidak terlalu memperhatikan karena waktu itu sedang sibuk chatting dengan dua sahabat saya melalui ponsel, sampai pada suatu titik saya mendengar suara plastik kemasan yang dibongkar dengan cukup berisik dari arah penumpang yang duduknya berhadapan dengan saya. Setelah saya perhatikan, suara itu muncul karena seorang ibu berjilbab membongkar kemasan teh celup. Nah, heran dong, ngapain si ibu ngebongkar kemasan teh celup di angkot? Apakah dia hendak menyeduh teh di angkot? Unlikely. Sambil pura-pura tidak melihat, saya perhatikan. Setelah si ibu merobek plastik luar kemasan teh celup lalu dia membuka kardusnya dan mengeluarkan bungkusan seperti aluminium foil yang mengemas teh celup. Aih, teh celup doang kemasannya berlapis-lapis begitu! Saya kira ibu itu bakal merobek bungkus mengkilap itu untuk mengeluarkan salah satu kantung teh celup untuk kemudian diseduh, tapi ternyata saya salah. Teh celup yang hanya terbungkus aluminium foil itu kemudian diletakkan di dalam kresek belanjaan Griya si ibu lalu kardus beserta bungkus plastik luarnya disembunyikan di bawah jok si ibu di angkot. Ternyata di bawah jok si ibu sudah ada kardus kosong kemasan susu bubuk dan ketika saya perhatikan lagi kresek belanjaan si ibu, sepertinya di situ juga ada susu bubuk yang hanya terbungkus kantong aluminium foil. I was likeWhat?? Gak bisa ya nunggu sampe rumah untuk buang sampah? Atau di rumahnya gak punya tempat sampah? Atau di lingkungan sekitar rumahnya tidak tersedia tempat sampah?”

Ingin rasanya saya ngomong “Bu, di rumahnya gak ada tempat sampah ya?” atau “Bu, ini angkot, bukan tempat sampah” atau “Bu, kardus bekas biar saya aja yang buang kalo Ibu gak punya tempat sampah”, tapi saya hanya diam dan berulang kali bergantian melirik si ibu-kresek belanjaan-kardus kosong di bawah jok si ibu. Lalu saya teringat baru saja membeli roti untuk cemilan di angkot karena biasanya sore-sore saya suka kelaparan. Saya segera memakan roti itu lalu dengan sangat demonstratif melipat platik pembungkus roti yang sudah kosong lalu memasukkannya ke dalam tas dengan maksud agar si ibu melihat bahwa saya tidak membuang sampah sembarangan sehingga si ibu sadar. Tapi si ibu tidak memperhatikan :p

Yaaa namanya juga usaha, hihihi … Jadi gak usah tersinggung ya kalau ada yang bilang bahwa Bandung itu kota para babi karena pemandangan barusan bukan baru saya saksikan sekali atau dua kali, melainkan sudah sangat sering sekali seumur hidup saya. Entah itu anak kecil, remaja, orang tua, bahkan orang tua juga ada yang menyuruh anaknya yang masih kecil untuk membuang sampah di dalam angkot atau “Lempar aja keluar, Dek!”

 I used to be one of those pigs who “hid” their trash under their seats or tossed them anywhere, maybe I’m still one of them because I never had that courage to tell those pigs to pick up the litter they’ve thrown in front of me.

Kenapa…?

Kenapa saya selalu pake rok kalo ngantor?

Jadi gini loh ceritanya… Waktu baru pertama masuk kerja, koleksi celana panjang saya semuanya berbahan jeans atau at least terlihat seperti jeans yang udah tau sendiri dong, kurang sopan kalo dipake kerja kantoran. Jaman kuliah sih saya justru jarang banget pake rok karena saya pikir pake rok itu ribet dan gak praktis. Emang ‘ribet’ tuh beda ya ma ‘gak praktis’? :p Ya gitu lah pokoknya, hampir setiap hari saya ke mana-mana pake celana panjang yang bahannya gaya mahasiswa banget, nyantei-nyantei cuek getoh! Zaman kuliah dan pengangguran, saya cuma punya tiga rok: abu-abu [tapi bukan rok SMA ya], coklat, dan biru donker [bukan rok SMP juga karena rok SMP saya selutut]. Saya pake rok kalo mau ketemu dosen pembimbing atau pas mau seminar/sidang tugas akhir. Kadang pake juga kalo udah bosen pake celana panjang, which is jarang banget. Pernah saya pake rok waktu ujian lisan kuliah LabAs karena katanya dosennya suka mahasiswi yang feminin, hihiy! Nah, karena koleksi celana panjang saya yang nggak banget itu jadinya pas masuk kerja saya terpaksa pake rok, di-rolling aja tuh tiga rok walaupun seringnya gak matching ma baju atasan atau jilbabnya. Oh ya, baru inget, jilbab saya dulu warnanya putih semua, paling banter warna krem lah. Payah betul lah koleksi pakaian saya. Saya mulai nambah koleksi rok dengan rok hitam waktu mau Diklat Prajabatan, itu juga terpaksa karena katanya harus pake bawahan hitam dan dengar-dengar sih perempuan gak boleh pake celana panjang.

FYI, saya jarang banget nambahin koleksi celana panjang atau rok karena susah banget nemuin celana panjang/rok yang bener-bener pas, entah itu ukuran, warna, atau modelnya. Paling sering sih karena produk yang ada di pasaran tuh sempit-sempit. Rok paling banyak dibikinin ma kakak saya, kalo beli tuh seringnya agak ngatung dan sempit yang akhirnya cuma jadi penunggu lemari.

Karena hampir setiap hari saya ngantor pake rok, orang-orang di kantor mengenal saya sebagai pengguna setia rok. Bahkan pernah ada bapak-bapak yang pernah ngomongin saya, katanya

“Santi gak pernah pake celana ya?”

err…padahal kan kalo saya keluar rumah pas libur kerja ya pake celana panjang. Trus, pas acara mancing bareng temen-temen kantor saya pake celana panjang, gak terlalu banyak yang ngeuh. Ya iyalah, mereka pasti lebih fokus dengan pancingan dan makan-makannya daripada merhatiin baju saya :p

Tibalah pada suatu titik ketika rok-rok yang saya punya rasanya sudah tidak cocok dengan baju manapun dan rok hitam yang selalu jadi andalan untuk padanan atasan manapun… rusak resletingnya! Terpaksalah tampil dengan celana panjang ke kantor… dan orang-orang pun takjub luar biasa dengan perubahan saya.

“Tumben San pake celana panjang?”

Menurut saya sih biasa aja, tapi dengan pertanyaan-pertanyaan orang-orang koq lama-lama jadi risih, serasa udah bikin dosa besar. Besok-besoknya saya paksain pake rok lagi walaupun mismatch, tapi kadang saya sengajain pake celana panjang ke acara kondangan orang kantor. Eh, malah disangka orang lain.

“Teh Santi?? Kirain Ayu”

Ooooke… whatever, ditambah lagi waktu itu saya mulai berani pake jilbab warna-warni. Soalnya sih ada jilbab murah yang pakenya gak susah, hoho…I love jilbab paris walaupun kainnya tipis. Gara-gara pake jilbab warna-warni juga orang-orang di kantor pada komentar, tapi ya masa bodoh, selama itu bukan komentar jelek. Risih-risih dikit sih ya biasa, lama-lama juga mereka terbiasa melihat saya yang tidak selalu berjilbab putih cuma ya soal rok ini sepertinya agak susah karena saya kadang risih sendiri kalau pake celana panjang ke kantor :p

What’s the moral of the story? Ga ada sih, cuma pengen semacam klarifikasi aja kalo saya gak pernah bermaksud membangun image sebagai roker alias pengguna setia rok ataupun sebaliknya. I am just me, saya masih suka juga pake celana panjang dan saya baru kesampean pake jilbab warna-warni setelah mengenal jilbab paris, hahah… Comfort is very important, you know. Lanjut? [Silahkan klik halaman selanjutnya]

Excited teenagers always keep me awake

Salah satu hal yang saya suka ketika sedang menumpang angkot bersama ABG adalah ketika mereka membicarakan hal-hal absurd sehingga membuat saya tidak mengantuk lagi di angkot. Contohnya kemarin sore ketika dua perempuan berseragam putih abu-abu yang duduk di depan saya bersemangat mengobrolkan berbagai hal yang tidak berkaitan dengan pelajaran sekolah. Soal teman bimbelnya lah, BBMnya yang pending lah, ini lah, itu lah. Tibalah kami di area macet di Jalan Buah Batu yang di pinggirnya terdapat penjual durian dengan tulisan “Durian Rp10000”, lalu terjadilah dialog antara kedua siswi SMA itu,

A: “Eh beli tuh, duren cuma 10 ribu, murah banget”

B: “Iya murah banget, dari Palembang”

A: “Bukannya itu dari Sumatera?”

B: “Iya. Di sana duren kayak gitu harganya seribuan”

A: “Masa?? Kalo gitu kamu beli aja duren Palembang itu dua biji aja, trus kamu bawa ke Sumatera trus dijual. Langsung kaya deh!”

B: “Lah, durennya kan dari Palembang. Ngapain bawa durennya ke sana buat dijual, kan murah di sana?”

A: “Tadi kamu bilang di sana harganya 900 ribu kan”

B: “Seribu Viii, seribu”

A: “Engga ah, tadi kamu bilang 900 ribu”

B: “Seribu. Gila aja duren 900 ribu, siapa yang mau beli?””

A: “Ah, iya ya… Seribu ya? Murah banget, kecil-kecil gitu sih”

Tadinya pengen ikutan nimbrung ngasitau kalo Palembang itu adanya di Sumatera, tapi takut salah kalo ternyata ada tempat lain bernama Palembang di pulau selain Sumatera :p Dan saya sempat pengen nimbrung juga waktu si A ngira harga durennya 900 ribu, tapi ya sudahlah… Yang penting sore itu saya gak ketiduran di angkot 😀