Tag Archives: belanja

Kisahku ber-Tokopedia

Duh, judulnya agak kurang kreatif ya, mirip dengan judul sebelumnya. Tulisan ini bukan iklan, apalagi endorse. Aku mah apa atuh

Syahdan, kemarin saya membeli pulsa di Tokopedia. Saya memang sudah terbiasa membeli pulsa di situ karena sering ada promo semacam diskonlah, cashbacklah, apalah, apalah. Maklumlah, emak-emak modis, MOdal DISkon. Saya sudah terbiasa pula menggunakan e-Pay BRI sebagai metode pembayaran tiap bertransaksi di Tokopedia.

Pertama, saya mengisi pulsa 50.000 rupiah, tidak ada masalah. Transaksi e-Pay berhasil, status di Tokopedia pun berhasil. Lalu saya ingin mengisi pulsa ke nomor lain yang biasa digunakan bersama suami untuk internetan sejumlah 100.000 rupiah. Setelah saya login dengan memasukkan nama pengguna dan kata sandi di halaman e-Pay BRI, saya baru teringat bahwa nomor seluler yang saya tuju itu belum didaftarkan ulang ke 4444. Karena (setahu saya) sudah lewat tenggat waktu pendaftaran, saya khawatir pulsa yang saya masukkan malah tidak dapat dipakai gara-gara nomornya sudah diblokir. FYI, nomor itu memang sudah agak lama tidak saya gunakan. Jadi, saya daftarkan dulu nomor tersebut, ternyata masih bisa, lho.

Selanjutnya saya ulangi proses pembelian pulsa di Tokopedia dengan e-Pay BRI. Karena saya sudah terlalu terbiasa dengan segala proses, saya kurang terlalu memperhatikan notifikasi yang ditampilkan pada layar komputer, langsung klik OK, OK, OK. Biasanya ketika membeli pulsa di Tokopedia dengan metode pembayaran e-Pay BRI, Tokopedia akan mengarahkan saya ke laman login e-Pay. Setelah memasukkan nama pengguna dan kata sandi lalu mengeklik tombol Submit, layar akan menampilkan isian kata sandi dan nomor token. Nomor token dikirim melalui SMS beberapa saat setelah login e-Pay BRI. Lalu transaksi e-Pay akan selesai setelah memasukkan token dan muncul pemberitahun bahwa transaksi berhasil (dilengkapi dengan rincian transaksi yang dapat dicetak sebagai arsip). Selanjutnya layar akan kembali menampilkan halaman Tokopedia yang menyatakan bahwa transaksi sudah berhasil dan tidak lama kemudian (atau bahkan sesaat setelah transaksi e-Pay BRI berhasil) pulsa sudah masuk ke nomor tujuan.

Nah, pada kasus saya kemarin, saya kurang memperhatikan apakah e-Pay BRI berhasil atau tidak, saya langsung klik OK (Bukan “Print” karena memang biasanya begitu). Begitu kembali ke halaman Tokopedia, di situ tertulis kira-kira (lagi-lagi saya kurang memperhatikan) bahwa transaksi tidak dapat dilanjutkan. Saya langsung memeriksa saldo BRI saya, ternyata sudah terpotong seharga pulsa tersebut. Setelah dicek di nomor tujuan, pulsa belum masuk. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah “Aduh, males banget dah ngurusinnya ke BRI.” karena biasanya pengurusannya tidak bisa dilakukan secara daring. Kalaupun mau lewat call center, saya sayang pulsa. Kalau ingin hemat pulsa, saya harus mendatangi kantor BRI di jam kerja. Pepatah time is money itu memang benar adanya. Kalau mau ke kantor BRI, saya harus izin keluar kantor. Jatah keluar kantor hanya 60 menit, tidak kurang, tidak lebih. Kalau saya keluar kantor lebih dari itu, tunjangan kinerja saya akan dipotong 2%. Antrean di bank kan tidak dapat diduga. Terakhir kali saya ke sana untuk mengurus masalah internet banking saja menghabiskan waktu sekitar 60 menit (termasuk waktu perjalanan bolak-balik kantor-bank, menunggu antrean, dan proses penyelesaian masalah di bank) dalam kondisi bank sepi, pengantre di layanan konsumen hanya 4-5 orang (lupa).

Demi menghindari pemotongan tunjangan kinerja, saya coba dulu mengajukan keluhan kepada layanan konsumen Tokopedia. Ketika saya mau mengajukan keluhan, di situ sudah ada pilihan invoice transaksi yang mana yang akan dikeluhkan. Ada dua invoice transaksi pulsa 100.000 ke nomor yang sama dengan status yang berbeda, satu berstatus dibatalkan, satu lagi menunggu pembayaran. Bingung deh mau pilih yang mana, karena saya tidak yakin invoice mana yang memotong saldo BRI saya. Saya pilih invoice berstatus dibatalkan karena invoice lainnya memunculkan pilihan yang tidak sesuai dengan keluhan saya. Saya pilih transaksi belum berhasil dan menulis:

saya membayar menggunakan epay BRI. saldo bri saya sudah terpotong tetapi tokopedia menyatakan transaksi gagal

dan langsung dijawab (beberapa informasi saya ganti dengan tanda bintang demi keamanan):

Hai S**** S*********,

Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.

Berdasarkan pemeriksaan, status transaksi Anda dengan nomor invoice IVR/20180315/XVIII/III/4******* di tanggal 15 March 2018 jam 08:43 WIB saat ini telah dibatalkan. Transaksi Anda di sistem kami tidak berhasil dan dana tidak akan dikurangkan.

Silahkan mencoba mengulang pesanan Anda.

Terima kasih dan semoga dapat dimengerti.

Duh, gawat. Saya tidak menyimpan bukti transaksi e-Pay BRI dan tidak ada fasilitas pengarsipan di e-Pay BRI. Beberapa saat kemudian ada surel masuk dari BRI yang memberitahukan transaksi sejumlah itu. Biasanya memang ada pemberitahuan seperti itu ke surel saya setiap bertransaksi internet banking. Anehnya, transaksi pulsa 50.000 tidak ada pemberitahuannya ke surel. Keterangan yang tercantum di situ kurang rinci tetapi itu satu-satunya bukti yang bisa saya berikan kepada pihak Tokopedia. Saya kirimkan cuplikannya ke Tokopedia dengan harapan mereka dapat melacaknya.

Bp./Ibu. S**** S*********,
Berikut ini adalah informasi transaksi yang telah Anda lakukan di BRI Internet Banking:
Tanggal, Jam         : 15-Mar-2018 09:27:55
Jenis Transaksi     : eCommerce
Nominal             : IDR ******
No. Referensi         : 2********
Status             : Sukses
Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi anda. Untuk informasi
lebih lanjut, silakan menghubungi kami melalui fasilitas [Sentra Pesan]
di menu [Layanan Tambahan] pada BRI Internet Banking atau melalui
BRI Call Center di nomor 14017 atau 62-21-14017 jika anda berada.
di luar negeri.
Dengan senang hati kami akan melayani anda.
Terima kasih.
Hormat Kami,
Bank BRI
Surat ini dihasilkan oleh komputer dan tidak perlu dijawab kembali
ke alamat email di atas.

Sementara itu saya juga mencoba menghubungi layanan nasabah yang tersedia di internet banking BRI,

Hari ini (15 Maret 2018) saya membeli pulsa Tri nomor 08******** melalui Tokopedia dengan metode pembayaran e-Pay BRI sejumlah Rp*****. Pada halaman e-Pay disebutkan bahwa transaksi berhasil (dan saldo BRI saya sudah dipotong sejumlah tersebut) tetapi di Tokopedia disebutkan bahwa transaksi gagal sehingga pulsa tidak masuk ke nomor tersebut. Ke manakah uang saya sejumlah Rp***** tersebut? Atas perhatian dan kerja samanya yang baik, saya ucapkan terima kasih.

Sekitar dua jam kemudian, ada balasan dari Tokopedia:

Hai S****,

Perkenalkan saya Ulya siap membantu Anda hari ini.

Mohon maaf atas kendala mengenai pembayaran Anda.

Terkait dana pembayaran Anda, mohon kesediaannya untuk melampirkan bukti mutasi rekening Anda terlebih dahulu yang menunjukkan dana terdebit ke Tokopedia agar dapat kami bantu melakukan pengecekan lebih lanjut.

Kami tunggu informasi selanjutnya dari Anda.

Terima kasih.

Saya langsung mengirimkan cuplikan rekening koran hari itu, kurang dari tiga jam kemudian sudah ada balasan lagi:

Hai S****,

Terima kasih atas infomasi yang Anda berikan.

Perihal dana pembayaran Anda senilai Rp *****, saat ini masih belum kami terima. Mohon kesediaannya menunggu terlebih dahulu maksimal 1×24 jam hari kerja sejak Anda melakukan pembayaran.

Apabila dalam waktu yang ditentukan pengembalian dana belum Anda terima, silakan menghubungi kami kembali melalui Layanan Pengguna ini.

Terima kasih.

Saya tidak terpikir utntuk memeriksa balasan dari BRI karena memang saya tidak terlalu banyak berharap, hehe… Tapi keesokan harinya saya periksa, ternyata BRI membalas beberapa menit setelah saya mengajukan keluhan,

Selamat pagi Ibu S**** S*********,

Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang Ibu alami. Mohon kesediaan Ibu melengkapi data-data berikut :

Detail komplain : : (salah nominal/ pembayaran belum diterima toko/merchant, dst-nya)
Jenis trx : 
Nama toko/merchant : 
Respon transaksi :
Nominal transaksi : (nominal yang ditransfer dan yang seharusnya, jika salah bayar)
Keterangan : (saldo sudah terdebet, merchant belum/sudah terima pembayaran nsb)

Demi menjaga kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi, kami sarankan Ibu untuk selalu berhati-hati atas informasi yang mengatasnamakan Bank BRI. Bank BRI tidak pernah meminta data pribadi nasabah baik melalui SMS, Telepon, Email, Media Sosial maupun Media lainnya. Untuk menghindari kejahatan perbankan selalu lakukan pergantian PIN ATM, PIN Mobile Banking dan Password Internet Banking secara periodik.

Terima kasih

Salam,

Nety
Customer Service Bank BRI

Eta geura, kurang lengkap gimana lagi coba keluhan yang saya sampaikan? Tapi mungkin memang SOPnya begitu, saya ikuti saja.

Sekitar pukul 11 pagi tadi (16 Maret 2018), pengembalian dana dari Tokopedia sudah masuk ke akun TokoCash saya. Hore! GOD JOB TOKOPEDIA! Makin percaya deh sama kamyu…

Respon dari BRI? Saya periksa barusan (16 Maret 2018, 14.54 WIB) belum ada balasan lagi. Malah tadi sempat terjadi “kerusuhan” di kantor akibat isu skimming nasabah BRI. Tadinya saya mau nulis tentang kehebohan di kantor tadi tapi kok malah nyerita Tokopedia, hihi …

Update. Ternyata BRI membalas keluhan saya pada tanggal 19 Maret 2018 pukul 11.24 WIB:

Selamat siang Ibu S**** S*********,

Kami informasikan pelaporan Ibu sudah kami terima dan akan ditindaklanjuti. Jika transaksi dinyatakan gagal, saldo yang berkurang akan kami kreditkan kembali ke rekening Ibu. Hasil laporan akan diinformasikan melalui pesan singkat ke nomor ponsel Ibu yang tertera di laporan.

Adapun nomor laporan Ibu adalah 16273420.

Demi menjaga kenyamanan dan keamanan dalam bertransaksi, kami sarankan Ibu untuk selalu berhati-hati atas informasi yang mengatasnamakan Bank BRI. Bank BRI tidak pernah meminta data pribadi nasabah baik melalui SMS, Telepon, Email, Media Sosial maupun Media lainnya. Untuk menghindari kejahatan perbankan selalu lakukan pergantian PIN ATM, PIN Mobile Banking dan Password Internet Banking secara periodik.

Terima kasih

Salam,

Nety
Customer Service Bank BRI

Demikian.

Advertisements

Nanas dan kawan-kawannya

WordPress mengubah tampilan Dashboard? Rasanya beda.

Tadi saya tiba-tiba terinspirasi untuk memasak Ayam Kuluyuk. Iya, baru pengen eksekusi sekarang padahal udah dari kapan gitu katanya pengen bikin Ayam Kuluyuk. Abis makan siang, saya mampir dulu ke Griyamart untuk membeli nanas dan mentimun. Saya ingat pernah melihat teman saya membeli nanas yang sudah dipotong-potong di Griyamart itu. Ternyata waktu saya ke sana, adanya nanas utuh. Males banget kan ya ngupas nanas itu. Jadi saya tanya aja mas-mas yang mangkal di dekat timbangan buah/sayuran sambil saya nimbang alpukat, “Ada nanas yang udah dipotong-potong nggak?” Lalu dia menjawab, “Belum ada. Tapi kalau mau, bisa dipotongin.” Hoo, bisa ya? Akhirnya saya minta tolong mas-mas yang tadinya sedang motongin melon itu untuk ngupasin dan motongin nanas. Dasar saya emang manusia ignorant, saya nggak ngerti gimana cara milih nanas, gak tau juga itu nanas harganya berapa, males nanya. Belakangan baru tau kalau nanas di situ dijual per buah (bukan per gram) Rp9250 dan tampaknya daging buahnya dipangkas cukup banyak. Yasuds, terlanjur.

Eniwei, gara-gara nungguin mas-mas itu ngupas dan motongin si nanas, saya jadi muter-muter dulu di situ. Ujug-ujug terinspirasi untuk mencari saus asam manis botolan (ada gitu?) di rak saus-sausan, gak ketemu. Liat mayonnaise sachet, kepikiran pengen beli buat salad, tapi gak jadi. Liat brokoli, pengen beli buat salad, gak jadi karena ngerasa harganya mahal. Liat cokelat Dove crispy dan hazelnut, almond & raisin, tergoda, beli masing-masing dua biji. Trus tiba-tiba pengen beli Ultra Milk cokelat, beli dua. Trus balik ke timbangan sayuran/buah, nanasnya belum selesai. Beredar lagi ke rak roti-rotian, ada promo Bread.Co roti kopi beli dua gratis satu. Sempet kepikiran beli, tapi gak jadi, trus akhirnya tergoda juga. Tiga roti kopi Bread.Co masuk keranjang dan AKHIRNYA nanasnya udah dikemas. Keranjang belanjaan sudah terasa sangat berat. Bahaya juga ya kalau bawa duit berlebih di dompet, berasa horang kayah, beli ini-itu gak pake mikir. Padahal dalam kondisi kenyang tuh perut saya.

Nyampe di ruangan, telapak tangan kesemutan dan lengan pegal karena belanjaannya berat :p

Lain kali kalau mau beli nanas mending ditongkrongin aja tuh mas-mas sampe selesai motongin nanasnya daripada bangkrut.

Kenapa…?

Kenapa saya selalu pake rok kalo ngantor?

Jadi gini loh ceritanya… Waktu baru pertama masuk kerja, koleksi celana panjang saya semuanya berbahan jeans atau at least terlihat seperti jeans yang udah tau sendiri dong, kurang sopan kalo dipake kerja kantoran. Jaman kuliah sih saya justru jarang banget pake rok karena saya pikir pake rok itu ribet dan gak praktis. Emang ‘ribet’ tuh beda ya ma ‘gak praktis’? :p Ya gitu lah pokoknya, hampir setiap hari saya ke mana-mana pake celana panjang yang bahannya gaya mahasiswa banget, nyantei-nyantei cuek getoh! Zaman kuliah dan pengangguran, saya cuma punya tiga rok: abu-abu [tapi bukan rok SMA ya], coklat, dan biru donker [bukan rok SMP juga karena rok SMP saya selutut]. Saya pake rok kalo mau ketemu dosen pembimbing atau pas mau seminar/sidang tugas akhir. Kadang pake juga kalo udah bosen pake celana panjang, which is jarang banget. Pernah saya pake rok waktu ujian lisan kuliah LabAs karena katanya dosennya suka mahasiswi yang feminin, hihiy! Nah, karena koleksi celana panjang saya yang nggak banget itu jadinya pas masuk kerja saya terpaksa pake rok, di-rolling aja tuh tiga rok walaupun seringnya gak matching ma baju atasan atau jilbabnya. Oh ya, baru inget, jilbab saya dulu warnanya putih semua, paling banter warna krem lah. Payah betul lah koleksi pakaian saya. Saya mulai nambah koleksi rok dengan rok hitam waktu mau Diklat Prajabatan, itu juga terpaksa karena katanya harus pake bawahan hitam dan dengar-dengar sih perempuan gak boleh pake celana panjang.

FYI, saya jarang banget nambahin koleksi celana panjang atau rok karena susah banget nemuin celana panjang/rok yang bener-bener pas, entah itu ukuran, warna, atau modelnya. Paling sering sih karena produk yang ada di pasaran tuh sempit-sempit. Rok paling banyak dibikinin ma kakak saya, kalo beli tuh seringnya agak ngatung dan sempit yang akhirnya cuma jadi penunggu lemari.

Karena hampir setiap hari saya ngantor pake rok, orang-orang di kantor mengenal saya sebagai pengguna setia rok. Bahkan pernah ada bapak-bapak yang pernah ngomongin saya, katanya

“Santi gak pernah pake celana ya?”

err…padahal kan kalo saya keluar rumah pas libur kerja ya pake celana panjang. Trus, pas acara mancing bareng temen-temen kantor saya pake celana panjang, gak terlalu banyak yang ngeuh. Ya iyalah, mereka pasti lebih fokus dengan pancingan dan makan-makannya daripada merhatiin baju saya :p

Tibalah pada suatu titik ketika rok-rok yang saya punya rasanya sudah tidak cocok dengan baju manapun dan rok hitam yang selalu jadi andalan untuk padanan atasan manapun… rusak resletingnya! Terpaksalah tampil dengan celana panjang ke kantor… dan orang-orang pun takjub luar biasa dengan perubahan saya.

“Tumben San pake celana panjang?”

Menurut saya sih biasa aja, tapi dengan pertanyaan-pertanyaan orang-orang koq lama-lama jadi risih, serasa udah bikin dosa besar. Besok-besoknya saya paksain pake rok lagi walaupun mismatch, tapi kadang saya sengajain pake celana panjang ke acara kondangan orang kantor. Eh, malah disangka orang lain.

“Teh Santi?? Kirain Ayu”

Ooooke… whatever, ditambah lagi waktu itu saya mulai berani pake jilbab warna-warni. Soalnya sih ada jilbab murah yang pakenya gak susah, hoho…I love jilbab paris walaupun kainnya tipis. Gara-gara pake jilbab warna-warni juga orang-orang di kantor pada komentar, tapi ya masa bodoh, selama itu bukan komentar jelek. Risih-risih dikit sih ya biasa, lama-lama juga mereka terbiasa melihat saya yang tidak selalu berjilbab putih cuma ya soal rok ini sepertinya agak susah karena saya kadang risih sendiri kalau pake celana panjang ke kantor :p

What’s the moral of the story? Ga ada sih, cuma pengen semacam klarifikasi aja kalo saya gak pernah bermaksud membangun image sebagai roker alias pengguna setia rok ataupun sebaliknya. I am just me, saya masih suka juga pake celana panjang dan saya baru kesampean pake jilbab warna-warni setelah mengenal jilbab paris, hahah… Comfort is very important, you know. Lanjut? [Silahkan klik halaman selanjutnya]

Yang nggak bisa masak nggak usah belanja?

Lama-lama rasanya gaya ngeblog saya makin aneh, kaku-kaku ga jelas gitu bahasanya. Bakat nyerita muter-muter ga karuan juga makin menjadi-jadi. Ampun deh Gusti!

Tadi siang saya agak mabal setelah jam istirahat. Belanja ke Griya Pasteur, beli apel kesukaan, roti, dan sebagainya. Namanya juga swalayan dekat kantor, peluang bertemu dengan teman kantor sangatlah besar. Biasa saja sih sebenarnya, say hi tiap ketemu teman kantor. Tapi tadi itu ada satu hal yang lumayan luar biasa… Ada seorang ibu yang awalnya menyapa,

“Eh ada Santi. Belanja?”

Ya eyyalaaah belanja, masak mau bantuin renovasi, hehe… Lalu saya jawab saja seadanya sambil tersenyum. Lalu si ibu melanjutkan pertanyaan,

“Emangnya Santi masak sendiri ya?”

Membuat saya berpikir dan bertanya-tanya dalam hati,

Emangnya yang belanja ke Griya itu cuma orang-orang yang masak sendiri?

sambil kebingungan mencari jawaban dan akhirnya yang keluar hanyalah…

“Err… eh… ini mah… eh…cuma…”

Asli bingung, karena yang saya beli waktu itu bukan bahan buat dimasak dan memerlukan keahlian khusus untuk dinikmati. Ada apel, roti tawar, mi instan, serap air, sikat gigi, selai arbein, kapur barus… coba, yang bisa dimasak paling cuma mi instan aja. Dan di tengah kebingungan itu pun si ibu masih nyamber,

“Oh, di rumahnya sama Mamah sih ya?”

Apa hubungannya ya? Ibu saya juga sebenarnya di rumah sudah jarang memasak. Tapi yaa sudahlah, entah tampang saya ini memang terlihat tidak pandai memasak atau bagaimana.