Tag Archives: editor

Menjadi editor amatiran …

… ternyata ada gunanya juga, wekawekaweka …

Jadi, (ujug-ujug kesimpulan aja …) sejak awal tahun 2018 saya diberi kehormatan untuk menjadi salah satu editor buletin triwulanan yang diterbitkan kantor saya tercinta. Saya memang pernah berkeinginan menjadi seorang editor karena saya suka terganggu jika membaca tulisan yang mengandung banyak kesalahan penulisan.

Tolong ya, kata depan di itu tidak digabungkan dengan kata di belakangnya. Yang digabung itu imbuhan di-.

Kira-kira begitulah salah satu jeritan hati saya ketika menemukan tulisan semena-mena semacam “di tulis dibuku”. Padahal kalau ngeblog, bahasanya suka-suka, haha …

Sejak kemarin saya sudah mulai mendapatkan kiriman bahan suntingan dari koordinator buletin dan langsung ingin saya selesaikan karena saya tidak ingin teringat tugas editor ini ketika sedang mengerjakan pekerjaan lain yang lebih memusingkan. Seperti biasa, saya sesekali membuka KBBI dan mencari pedoman penulisan beberapa kata yang kurang saya hapal. Dan seperti biasa, saya selalu mendapatkan pengetahuan baru mengenai tata bahasa ketika sedang menyunting naskah. Edisi kali ini ada beberapa hal yang cukup mencengangkan bagi saya alias baru tau banget!

Saya baru tahu bahwa dalam KBBI tidak ada kata iregularitas sebagai serapan dari kata bahasa Inggris ‘irregularity’. Kata iregularitas cukup sering saya dengar di lingkungan pekerjaan saya, rasanya normal-normal saja, padahal ternyata tidak ada di KBBI. Saya coba cari-cari lagi di KBBI dengan berbagai variasi penulisan, mulai dari ireguler, iregular, irreguler, irregular, hasilnya nihil padahal di situ ada definisi untuk kata ‘reguler’. Terjemahan paling mendekati hanyalah ‘ketidakteraturan’ untuk ‘iregularitas’ dan ‘tak teratur’ untuk ‘iregular’.

Terkait kata tak pada ‘tak teratur’ juga ternyata ada kaidah penulisan yang baru saya ketahui. Saya tidak sengaja menemukan penjelasannya di blog bindos (yang langsung saya follow karena sepertinya bermanfaat untuk menunjang tugas editor) sebagai berikut:

Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan.
Misalnya:
taklaik terbang (dirangkai)
taktembus cahaya (dirangkai)
tak bersuara (dipisah)
tak terpisahkan (dipisah)

Karena saya tidak langsung percaya, saya coba cari lagi penjelasan serupa yang bersumber dari PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) (dulu EYD/Ejaan Yang Disempurnakan). Belum sempet ketemu yang saya cari, malah nemu PUEBI daring yang katanya ramah-gawai. Lumayan … Dulu baru nemu pdf-nya aja. Karena sudah agak malas mencari, saya anggap penjelasan bindos tadi sudah sahih, hehe …

Satu hal yang sering membuat saya bingung adalah penulisan tanda hubung pendek (-) dan tanda hubung panjang (–). Setelah saya cari tahu, ternyata tanda hubung pendek itu namanya tanda hubung aja, tanda minus di papan kunci. Sedangkan tanda hubung panjang itu adalah tanda pisah yang kalau di MS Word akan muncul otomatis ketika mengetik tanda minus tanpa dirangkaikan dengan karakter lain. Ketik <spasi>-<spasi> maka tanda minus akan berubah menjadi lebih panjang. Saya juga baru tahu bahwa tanda pisah ada dua macam, yaitu tanda pisah en yang lebih panjang dari tanda hubung dan tanda pisah em yang lebih panjang lagi dari tanda pisah en. Pusing yee … Untuk penggunaannya bisa dilihat di PUEBI. Dulu saya kira penulisan tanda pisah serupa dengan tanda kurung yang harus didahului spasi sebelum tanda pisah ‘buka’ dan diakhiri spasi setelah tanda pisah ‘tutup’. Ternyata, sama seperti tanda hubung, penulisan tanda pisah tidak diapit oleh spasi. Semakin menarik saja karena biasanya teman-teman saya menuliskan tanda hubung di antara spasi terutama ketika menuliskan rentang waktu atau tanggal, misalnya:

Pukul 17.30 – 19.45 WIB
Tanggal 12 – 05 – 2018
Selama tanggal 15 – 17 Februari 2018

Itu salah, sodara-sodara! Seharusnya

Pukul 17.30-19.45 WIB
Tanggal 12-05-2018
Selama tanggal 15-17 Februari 2018

Dan perlu diperhatikan juga, penulisan waktu yang benar dalam bahasa Indonesia adalah menggunakan tanda titik, bukan titik-dua seperti penulisan dalam bahasa Inggris (ini juga baru saya ketahui beberapa tahun ke belakang). Lebih jauh lagi, untuk penulisan rentang yang benar adalah

Acara ini diadakan mulai pukul 17.30 hingga 19.45 WIB.
Acara ini diadakan pukul 17.30-19.45 WIB.
Peristiwa tersebut berlangsung mulai tanggal 15 hingga 17 Februari 2018.
Peristiwa tersebut berlangsung tanggal 15-17 Februari 2018.

bukan seperti ini:

Acara ini diadakan mulai pukul 17.30-19.45 WIB.
Peristiwa tersebut berlangsung sejak tanggal 15-17 Februari 2018.

Terlihatkah bedanya? Cek PUEBI, hihi …

Kadang teman-teman saya menggunakan tanda pisah yang diapit spasi untuk menuliskan rentang waktu bahkan menyatakan tanda minus. Ini mungkin terpengaruh oleh cara penulisan internasional. Penulisan tanda minus untuk rumus atau nilai matematis belum saya temukan caranya dalam bahasa Indonesia. Saya gunakan saja pedoman dari taut ini bahwa tanda minus dituliskan tanpa spasi jika diikuti angka (untuk menyatakan nilai/besaran tertentu) dan diapit spasi jika digunakan untuk menuliskan persamaan (serupa dengan operator lain seperti tanda tambah, kali, bagi, dan sama-dengan).

Satu lagi, penggunaan tanda tilde (~) yang menyatakan perkiraan/kisaran nilai tertentu. Pake spasi atau nggak, hayooo? Kata di Wikipedia, tanda tilde tidak diikuti spasi untuk menyatakan kisaran, misalnya “~8 MHz” yang dibaca “kira-kira/sekitar 8 megahertz”.

Sekian hasil pencarian saya. Terima kasih.

Advertisements